Warn! Cerita ini berunsur Bromance, Hurt, Comfort, dan angst...
Mohon maaf jika ada kesamaan alur itu murni ketidaksengajaan!!! Dont copy my story!
--------------
— "And what the hell were we? Tell me we weren't just friends..."
-------
Gerimis tipis khas Bandung malam itu bikin suhu di sekitaran warung kopi pinggir jalan daerah Dago terasa makin dingin. Suasana sepi. Hanya ada suara petir samar dari kejauhan dan desis pelan dari rokok yang baru saja disulut.
Aaron Frederick mengembuskan asap rokoknya kasar ke udara. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya kosong.
Cowok dengan jaket parka hitam khas anak pencinta alam itu kelihatan kusut. Sebagai ketua pramuka di SMA mereka, Aaron terkenal sebagai cowok tangguh, jago berantem, dan punya otak jenius yang selalu bisa diandalkan dalam kondisi darurat apa pun. Tapi malam ini, kejeniusannya menguap entah ke mana. Otaknya mendadak lemot, macet total, cuma karena satu nama yang dari tadi muter-muter di kepalanya: Rendra Lawerence.
Di sebelahnya, duduk seorang cowok dengan jaket tebal berlapis-lapis. Wajahnya pucat, kontras banget sama Aaron yang kelihatan tegap. Rendra, Ketua OSIS kebanggaan sekolah mereka, sedang sibuk merapatkan syalnya. Rendra nggak sebodoh itu, dia cukup pintar buat mengimbangi jalan pikiran Aaron yang sering melompat-lompat. Tapi, fisik Rendra adalah kelemahannya. Sejak kecil, tubuhnya ringkih dan dia punya asma akut yang sewaktu-waktu bisa kambuh kalau dia kecapekan atau kedinginan.
"Aar, demi Tuhan matiin ga rokok lu. Sesek nih," tegur Rendra pelan, suaranya agak serak. Dia batuk kecil, tangannya otomatis meraba kantong jaket, memastikan inhaler-nya ada di sana.
Aaron menoleh. Tanpa babibu, dia langsung mematikan rokoknya ke asbak tanah liat di meja kayu. "Sori. Lagian lu ngapain sih nekat keluar malam-malam gini? Bandung lagi dingin banget, Ren. Kalau asma lu kambuh, siapa yang repot? Gue juga yang disalahin bokap lu."
Rendra terkekeh pelan, meskipun kedengarannya agak dipaksakan. "Gue bosen di rumah, Aar. Lagian kan ada lu. Lu kan pahlawan gue yang selalu siap sedia."
Kalimat terakhir Rendra berniat bercanda, tapi entah kenapa malah terasa seperti tusukan jarum di dada Aaron. Pahlawan. Sahabat. Cuma sebatas itu.
Aaron mengepalkan tangannya di dalam saku jaket.
Perlahan, dia mendekatkan posisinya ke Rendra, mencoba membagi kehangatan tubuhnya yang lebih tegap buat menghalau angin malam. Rendra menerima itu dengan santai, menyandarkan sedikit bahunya ke bahu Aaron tanpa beban. Bagi Rendra, ini hal biasa antar sahabat. Tapi bagi Aaron, setiap sentuhan fisik dari Rendra adalah siksaan manis yang bikin dia makin tenggelam dalam perasaan bersalah.
"Ren," panggil Aaron rendah.
"Hm?" Rendra menoleh, manik matanya yang jernih menatap Aaron polos.
"Gue mau nanya hal serius. Dan gue butuh lu jawab jujur," kata Aaron, matanya menatap lekat-lekat ke manik mata Rendra, mencari celah sekecil apa pun di sana.
Rendra menaikkan sebelah alisnya, agak heran melihat muka Aaron yang mendadak tegang. "Nanya apaan? Tumben amat muka lu kayak mau ngajak tawuran anak sebelah."
Aaron menarik napas panjang, menahan
sesak yang mendadak menyerang dadanya sendiri. "And what the hell were we? Tell me we weren't just friends..."
Suasana mendadak hening. Suara tetesan gerimis yang menghantam atap terpal warung kopi terasa makin keras. Rendra terpaku. Senyum tipis yang tadinya menghiasi wajah pucatnya perlahan pudar. Dia menatap Aaron, mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut cowok jenius di sebelahnya.
"Aar... lu ngomong apa sih?" Rendra mencoba tertawa kecil, tapi garing. "Ya kita sahabat lah. Lu tahu sendiri dari dulu kita selalu bareng-bareng. Lu yang selalu jagain gue kalau gue ambruk di sekolah, gue yang selalu bantuin lu bikin laporan pramuka yang numpuk itu. Kita sahabat terbaik."
"Sahabat terbaik nggak cium kening sahabatnya pas dia lagi sekarat di rumah sakit, Ren!" potong Aaron, suaranya meninggi, menahan gejolak emosi yang sudah dia pendam berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. "Sahabat terbaik nggak bakal ngerasa dunianya mau runtuh setiap kali lihat sahabatnya sesak napas dan hampir mati! Gue peduli sama lu melebihi apa pun di dunia ini, Ren. Dan lu cuma mengategorikan semua ini sebagai... sahabat?"
Rendra tersentak. Dia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan intens Aaron yang penuh dengan luka. Dada Rendra mulai naik turun secara tidak teratur. Udara dingin Bandung malam itu ditambah tekanan emosional mendadak dari Aaron membuat paru-parunya mulai menyempit.
"Aar, stop..." bisik Rendra, suaranya mulai putus-putus. "Lu tahu... gue nggak bisa..."
"Nggak bisa apa, Ren? Nggak bisa balas perasaan gue atau lu sengaja pura-pura bodoh selama ini?!" Aaron makin frustrasi. Di satu sisi, dia tahu dia egois karena mendesak Rendra yang penyakitan. Tapi di sisi lain, ketidakpastian ini membunuhnya perlahan. Aaron selalu dianggap jenius dalam segala hal taktis dan akademis, tapi di depan Rendra dan perasaannya sendiri, Aaron merasa seperti orang paling tolol sedunia.
"Gue... uhuk... gue nggak pernah minta lu buat... ngerasa kayak gini, Aaron," Rendra memegangi dadanya yang makin menyempit. Napasnya terdengar mencicit, suara mengi khas penderita asma mulai terdengar jelas di telinga Aaron.
Mendengar suara itu, kepanikan langsung menyambar otak Aaron. Sifat protektifnya langsung mengambil alih ego yang tadinya membakar dadanya. "Ren? Sori, sori... jangan panik. Mana inhaler lu?"
Aaron dengan cekatan meraba kantong jaket Rendra, mengambil botol inhaler kecil, lalu mengocoknya dengan cepat. Dia mengarahkan corong inhaler itu ke mulut Rendra. "Ayo, pasang mulut lu. Isap yang dalam. Satu... dua... tiga, pencet!"
Pshht.
Rendra menghirup obat itu dengan mata terpejam erat, tangannya mencengkeram kuat lengan jaket Aaron sampai buku-buku jarinya memutih. Aaron merengkuh tubuh ringkih Rendra, membawa cowok itu ke dalam pelukannya, mencoba menyalurkan kehangatan semaksimal mungkin.
"Napas pelan-pelan, Ren. Ikutin gue. Tarik... buang... sori, sori banget gue egois," bisik Aaron berulang kali di telinga Rendra, suaranya bergetar hebat. Ketakutan terbesar Aaron bukanlah penolakan Rendra, melainkan kehilangan Rendra untuk selamanya dari dunia ini.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, napas Rendra mulai agak stabil, meskipun tubuhnya masih lemas dan gemetar. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Aaron, mendengarkan detak jantung Aaron yang berdegup sangat kencang. Rendra tahu seberapa besar Aaron menyayanginya, dia tidak buta. Tapi bagi Rendra, batas itu harus tetap ada.
"Aar," panggil Rendra lirih, matanya masih terpejam.
"Ya? Masih sesak? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" Aaron sudah bersiap-siap mau menggendong Rendra. Biarpun Rendra bisa bela diri dasar buat jaga diri, dalam kondisi fisik drop begini, Rendra sama sekali nggak berdaya.
"Nggak usah... udah mendingan," Rendra menahan lengan Aaron. Dia membuka matanya, menatap Aaron dengan pandangan mata yang penuh rasa bersalah sekaligus ketegasan yang menyakitkan. "Gue nggak pernah pura-pura bodoh, Ron. Gue tahu semuanya. Gue tahu arti tatapan lu, gue tahu arti perhatian lu yang berlebihan."
Aaron tertegun. "Terus... kenapa lu diam aja?"
Rendra menghela napas berat, uap dingin keluar dari mulutnya. "Karena gue tahu diri, Aar. Lihat gue. Tubuh gue cacat. Gue penyakitan sejak kecil. Hari ini gue bisa duduk di sini sama lu, tapi besok atau lusa? Bisa jadi gue lagi kritis di ICU, atau bahkan udah nggak ada di dunia ini. Umur gue nggak ada yang tahu, Aaron."
Air mata Rendra menetes, melewati pipinya yang pucat. "Lu cowok jenius, lu punya masa depan yang cerah, lu kuat, lu jagoan. Lu pantes mendapatkan seseorang yang bisa nemenin lu lari, bukan seseorang yang cuma bisa lu gandeng sambil lu takuti kapan dia bakal mati. Kalau gue egois dan nerima perasaan lu... gue cuma bakal ninggalin luka yang lebih dalam buat lu pas gue pergi nanti. Jadi gue mohon... stay as my best friend. Cuma itu cara biar gue bisa terus ada di dekat lu tanpa perlu nyakitin lu lebih jauh."
Mendengar penjelasan Rendra, hati Aaron serasa dihantam gada besi. Sakitnya luar biasa, sampai-sampai dia kesulitan buat bernapas. Angst yang teramat sangat menyelimuti atmosfer di antara mereka berdua. Aaron merasa bodoh karena mengira Rendra tidak punya perasaan, padahal Rendra justru memikirkan masa depannya jauh melampaui apa yang dia bayangkan.
Aaron menangkup wajah pucat Rendra dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Dia menghapus air mata di pipi Ketua OSIS-nya itu dengan ibu jarinya.
"Lu mikir kejauhan, Rendra Lawerence," kata Aaron dengan suara serak, matanya sendiri sudah berkaca-kaca. "Gue nggak peduli seberapa lama waktu yang lu punya. Gue nggak peduli kalau besok lu harus masuk rumah sakit lagi. Yang gue peduliin itu sekarang. Lu yang ada di depan gue saat ini."
Rendra menggeleng pelan, melepaskan tangan Aaron dari wajahnya dengan lembut. "Tapi gue peduli, Aaron. Gue peduli sama lu. Tolong, jangan buat gue merasa bersalah karena udah hidup dan bikin lu menderita kayak gini."
Kata-kata itu mengunci mulut Aaron rapat-rapat. Dia kalah. Kejeniusannya tidak bisa menemukan argumen apa pun buat membalas kalimat Rendra. Kenyataan bahwa Rendra sakit-sakitan adalah dinding tebal yang tidak bisa dihancurkan hanya dengan modal cinta remaja.
Gerimis di Dago semakin menderu, berubah menjadi hujan yang cukup deras. Aaron menghela napas panjang, menelan bulat-bulat semua rasa sesak dan ego yang sempat meledak tadi. Dia melepaskan jaket parkanya yang tebal, lalu menyampirkannya ke tubuh Rendra, membungkus cowok itu agar tidak terkena sisa angin malam yang makin menusuk tulang.
"Gue anter lu balik," kata Aaron akhirnya, nadanya kembali datar tapi sarat akan perhatian. Ini adalah bentuk comfort terbaik yang bisa dia berikan sekarang, meskipun hatinya sendiri hancur berkeping-keping.
Rendra tidak menolak.
Dia membiarkan Aaron menuntunnya berjalan menuju motor yang terparkir di bawah keteduhan pohon. Sepanjang perjalanan membelah jalanan Bandung yang basah malam itu, Rendra memeluk pinggang Aaron erat dari belakang, menyembunyikan wajah pucatnya di punggung kokoh Aaron.
Aaron merasakan pelukan itu. Dia tahu, status mereka mungkin tidak akan pernah berubah. Mereka akan tetap menjadi 'sahabat' di mata dunia, dan mungkin di mata Rendra. Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, Aaron berjanji akan tetap menjadi tameng terkuat buat Rendra, terlepas dari apa pun status membingungkan yang mengikat mereka. Karena bagi Aaron, mencintai Rendra bukan tentang memiliki, tapi tentang memastikan cowok rapuh itu tetap bisa bernapas dan tersenyum di dunia yang kejam ini.
Sebab, jawaban dari pertanyaan "And what the hell were we?" malam itu sudah terjawab dengan sangat jelas, meskipun tidak pernah terucap secara resmi: Mereka adalah dua jiwa yang saling terikat oleh rasa sakit, yang satu terlalu takut untuk memulai karena kematian membayangi, dan yang satu terlalu bodoh untuk berhenti karena terlanjur mencintai.
--------------------------
Enam tahun berlalu, tapi hawa dingin Bandung di malam hari masih terasa sama di kulit Aaron Frederick. Bedanya, malam ini Aaron tidak lagi memakai jaket parka hitam kumal khas anak pramuka SMA. Dia memakai setelan jas rapi, rambutnya tertata klimis, dan di dalam tas punggungnya ada sebuah map beludru berisi piagam penghargaan sebagai Lulusan Terbaik Fakultas Hukum dari salah satu universitas top di Jakarta.
Aaron berhasil.
Cowok yang dulu dicap cuma modal otot, jago berantem, dan suka merokok itu kini bertransformasi menjadi calon penegak hukum yang disegani. Alasan Aaron mengejar gelar itu cuma satu: dia ingin membuktikan pada dunia, dan terutama pada Rendra Lawerence, kalau kejeniusannya tidak sia-sia. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa sukses demi masa depan mereka berdua.
Tiga tahun lalu, setelah drama melelahkan dan perdebatan panjang di bawah guyuran hujan Dago, Rendra akhirnya menyerah. Keteguhan Aaron runtuh juga oleh pertahanan ego Rendra. Kalimat Shawn Mendes dalam lagu Treat You Better sering kali berputar di otak Aaron saat itu. I know I can treat you better than he can. Dan dalam kasus ini, 'dia' yang dimaksud Aaron adalah takdir dan rasa tidak percaya diri Rendra. Aaron meyakinkan Rendra bahwa penyakit bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Rendra akhirnya menerima perasaan Aaron, mengubah status 'sahabat' itu menjadi ikatan kasih sayang yang sah, meskipun mereka harus terpisah jarak setelah lulus SMA. Rendra memilih kuliah Farmasi di Bandung agar bisa mempelajari obat-obatan untuk tubuhnya sendiri, sementara Aaron berjuang di Jakarta.
Malam ini, tanggal 23 Juni, bertepatan dengan hari ulang tahun Rendra yang ke-24, Aaron kembali ke Bandung tanpa memberi kabar. Dia sengaja. Dia ingin memberikan kejutan terbesar. Sesuai janji lama mereka yang pernah diucapkan di atas Flyover Pasupati, mereka harus bertemu kembali di sana saat keduanya sudah berhasil menggenggam impian masing-masing.
Aaron menghentikan taksinya di dekat jembatan ikonik Kota Bandung itu. Angin malam berembus kencang, menggoyang kabel-kabel pancang Pasupati yang megah. Aaron berdiri di trotoar jembatan, tersenyum lebar sambil memandangi lampu-lampu kota Bandung yang gemerlap di bawahnya.
"Gue balik, Ren. Sesuai janji kita," bisik Aaron pada angin malam.
Dia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat: 'Gue di Pasupati. Tempat biasa. Sini dong, gue punya kejutan buat lu.'
Sepuluh menit berlalu. Tidak ada balasan.
Dua puluh menit. Tetap hening.
Aaron mulai merasa tidak tenang.
Biasanya, Rendra tidak pernah selama ini membalas pesannya, apalagi ini hari ulang tahunnya. Khawatir asma Rendra kambuh karena cuaca Bandung yang sedang ekstrem, Aaron memutuskan untuk langsung naik ojek online menuju rumah Rendra di kawasan perumahan daerah sejuk di utara Bandung. Di sepanjang jalan, dada Aaron berdegup kencang. Perasaan tidak enak mendadak merayap, mencekik lehernya perlahan.
Begitu ojek berhenti di depan pagar rumah Rendra, jantung Aaron serasa berhenti berdetak.
Rumah itu tidak sepi, tapi justru terlalu ramai untuk ukuran tengah malam. Ada bendera kuning kecil yang terpasang di tiang listrik depan pagar, bergoyang lambat ditiup angin. Beberapa kerabat dan tetangga masih duduk di kursi-kursi plastik di halaman rumah dengan wajah-wajah lesu penuh duka.
Aaron turun dari motor dengan kaki yang mendadak lemas seperti jeli. Dunianya serasa berputar 180 derajat. Otak jenius hukumnya mendadak lumpuh total. Dia menolak mencerna apa yang dilihat oleh matanya sendiri.
"Nggak mungkin..." bisik Aaron. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Dia melangkah terhuyung-huyung memasuki halaman rumah. Ibunda Rendra, yang matanya sudah sembap dan merah, menoleh ke arah pintu saat mendengar langkah kaki Aaron. Begitu melihat sosok jangkung kekasih anaknya itu, tangis sang ibu pecah lagi.
"Aaron..." panggil ibunya Rendra lirih, langsung berlari dan memeluk Aaron erat.
"Kamu baru sampai, Nak? Rendra... Rendra udah nggak ada, Ron..."
Hantaman itu terlalu keras. Aaron membatu. Badannya kaku. "Tante... bercanda kan? Rendra cuma lagi tidur di dalam kan? Hari ini dia ulang tahun, Tante. Gue ke sini mau ngerayain ulang tahun dia. Gue bawa piagam kelulusan gue..." Suara Aaron bergetar hebat, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya.
"Rendra pergi tiga hari lalu, Aaron. Tepat di hari ulang tahunnya..." ucap sang ibu di sela tangisnya. "Serangan asma akut malam itu parah banget, dan fisiknya udah nggak kuat lagi menahan komplikasinya. Dia... dia titip ini buat kamu."
Sang ibu melepaskan pelukannya, lalu menyerahkan sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua dan sebuah surat yang permukaannya agak berkerut.
Aaron menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Dia tidak sanggup masuk ke dalam rumah. Dia tidak sanggup melihat ruang tamu yang kini kosong tanpa tawa Rendra. Aaron melangkah mundur, lalu duduk bersimpuh di teras rumah Rendra, mengabaikan tatapan iba dari orang-orang di sekitarnya.
Dengan napas yang memburu karena duka, Aaron membuka lipatan surat dari Rendra. Tulisan tangan Rendra yang rapi, yang dulu sering menghiasi laporan-laporan OSIS, kini terpampang di depan matanya.
-------------
Untuk Aaron Frederick, tameng terkuat gue.
Aar, kalau lu lagi baca surat ini, artinya ketakutan terbesar gue dulu akhirnya kejadian juga. Maaf ya, gue ingkar janji buat ketemu lu di Pasupati. Maaf gue nggak bisa nunggu lu lebih lama lagi.
Selama tiga tahun ini, demi Tuhan, gue bahagia banget bisa jadi pacar lu. Lu membuktikan kata-kata lu kalau lu bisa jagain gue. Tapi tubuh gue khianat, Aar. Farmasi yang gue pelajari ternyata tetap nggak bisa nemuin obat buat memperpanjang umur gue di samping lu.
Gue tahu lu pasti lagi nangis sekarang. Jangan ngerasa bodoh lagi ya? Lu itu cowok paling jenius yang pernah gue kenal. Selamat atas kelulusan lu, Jaksa hebat gue. Di dalam kotak itu, ada hadiah ulang tahun dari gue buat lu, sekaligus hadiah kelulusan lu.
Terima kasih udah memperlakukan gue dengan sangat baik selama ini, bahkan jauh lebih baik dari apa yang pantas gue terima. Jangan berhenti melangkah ya, Aaron? Hidup lu masih panjang. Biar gue yang istirahat duluan di Bandung.
I love you, Aaron. Always.
-----------
Air mata Aaron menetes deras, membasahi kertas surat itu hingga tintanya agak kabur. Dia membuka kotak kayu tersebut. Di dalamnya, ada sebuah syal rajutan tangan berwarna hitam—warna kesukaan Aaron—dan sebuah inhaler kosong milik Rendra yang sudah dibersihkan, dengan tulisan kecil di permukaannya: 'Penjaga napas gue sekarang udah pensiun. Makasih ya, Ron.'
Aaron mendekap syal dan surat itu ke dadanya. Tangisnya pecah tanpa suara di teras rumah itu. Dia meraung dalam diam, merasakan dadanya seolah dirobek paksa dari dalam. Rasa sakit (hurt) ini berkali-kali lipat lebih menyiksa daripada luka fisik akibat tawuran masa SMA-nya dulu. Kejeniusannya sama sekali tidak berguna menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling dia cintai telah terkubur di dalam tanah sejak tiga hari lalu.
Malam semakin larut. Setelah menguatkan diri dan berpamitan pada ibu Rendra, Aaron berjalan kaki sendirian membelah jalanan Bandung. Langkahnya membawanya kembali ke atas Flyover Pasupati. Suasana jembatan sudah sangat sepi.
Aaron memakai syal hitam pemberian Rendra di lehernya. Hangat, tapi terasa menyakitkan. Dia berdiri di tepi pagar pembatas jembatan, tempat mereka dulu sering tertawa bersama sembari menikmati angin malam.
Aaron mengeluarkan piagam kelulusan terbaiknya dari dalam tas. Dia mengangkat kertas berhargaberwarna emas itu ke arah langit malam Bandung yang pekat tanpa bintang.
"Ren! Lihat! Gue lulusan terbaik!" teriak Aaron, suaranya parau, bersaing dengan deru angin malam. "Gue nepatin janji gue! Tapi lu di mana, bajingan?! Kenapa lu ninggalin gue sendirian di sini?!"
Air matanya mengalir lagi tanpa bisa dibendung. Aaron merosot, duduk bersandar di pagar pembatas jembatan, memeluk lututnya sendiri. Di tengah kesunyian malam Pasupati, Aaron mencoba mencari ketenangan (comfort) dari sisa-sisa memori Rendra yang tertinggal di syal yang melingkari lehernya. Aroma khas parfum Rendra yang lembut masih samar-samar tercium di sana, seolah-olah cowok ringkih itu sedang memeluknya dari belakang untuk menenangkannya.
Aaron tahu, mulai besok dia harus kembali ke Jakarta. Dia harus melanjutkan hidupnya dan menjadi jaksa yang hebat seperti yang diimpikan Rendra. Status mereka kini dipisahkan oleh dua dunia yang berbeda.
Tapi di jembatan Pasupati malam ini, Aaron berjanji pada dirinya sendiri: hatinya akan tetap tinggal di Bandung, terkunci rapat bersama kenangan tentang seorang Ketua OSIS penyakitan yang pernah mengajarinya cara mencintai dengan tulus.
Jawaban dari tajuk cerita mereka dulu kini berganti makna. Mereka bukan lagi sekadar teman, bukan lagi sekadar kekasih yang terpisah jarak. Mereka adalah dua bagian dari satu janji yang abadi, yang kian terkunci rapat di bawah dinginnya langit malam Bandung.
------------------------------
Lima tahun setelah malam kelam di Jembatan Pasupati, Aaron Frederick kini dikenal sebagai salah satu jaksa muda paling tegas dan brilian di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Perawakannya makin matang, sorot matanya tajam, dan dia tidak lagi menyentuh rokok sama sekali sejak hari di mana dia memakai syal hitam rajutan Rendra.
Aaron sukses besar, persis seperti yang diprediksikan oleh mendiang kekasihnya.Namun, ada satu kebiasaan Aaron yang tidak pernah berubah. Setiap kali dia memenangkan kasus besar atau merasa otaknya terlalu penuh oleh tekanan pekerjaan, Aaron akan mengambil kunci mobilnya dan berkendara selama tiga jam membelah tol menuju Bandung.
Sore itu, Bandung sedang teduh. Aaron melangkah pelan memasuki area pemakaman umum di daerah dataran tinggi yang sejuk. Di tangannya ada sebuket bunga krisan putih dan sebuah benda kecil yang selalu dia bawa di dalam saku jasnya: inhaler kosong milik Rendra.Aaron berlutut di samping batu nisan yang bersih tanpa debu. Ditulis dengan bening di sana: Rendra Lawerence.
"Hai, Ren," sapa Aaron lembut. Tangannya mengusap permukaan batu nisan yang dingin. "Gue menang kasus lagi minggu ini. Anak-anak pramuka zaman kita dulu juga baru aja bikin acara reuni, mereka semua nanyain lu. Gue bilang, lu lagi istirahat di tempat yang paling nyaman."
Aaron tersenyum tipis, jenis senyuman yang hanya dia perlihatkan saat berada di dekat Rendra. Dia meletakkan inhaler kosong itu di atas makam."Gue nepati janji gue buat terus maju, Ren. Gue nggak berhenti melangkah. Tapi lu harus tahu, setiap langkah yang gue ambil sekarang, itu karena gue tahu lu selalu ngawasin gue dari atas sana. Makasih ya, udah pernah ngasih gue kesempatan buat membuktikan kalau gue bisa memperlakukan lu dengan baik, meskipun waktunya singkat."Angin sore Bandung berembus pelan, menggoyang dedaunan pohon di sekitar makam.
Aaron memejamkan mata, merasakan sensasi sejuk yang familier. Dia tahu, Rendra tidak benar-benar pergi. Rendra hidup di dalam setiap memori, setiap keberhasilan, dan setiap detak jantung Aaron yang masih terus berjuang di dunia ini.
.....
The End....
-----~
Thanks for reading! Dont forget to like yawww!!! Thanks for u all support!!!