Hujan turun sejak sore.
Reza duduk sendirian di dalam apartemennya yang sempit. Lampu ruang tamu tidak dinyalakan, menyisakan cahaya televisi yang berkedip-kedip menerangi ruangan.
Di layar, seorang pembawa berita sedang berbicara.
Reza tidak mendengarkan, tatapannya kosong menatap layar.
Jari-jarinya sibuk memutar cincin perak yang melingkar di jari manis kirinya.
Sudah satu tahun.
Tepat satu tahun sejak kecelakaan itu. Setahun sejak hidupnya berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak lagi terasa seperti hidup.
Suara benturan masih sering muncul dalam tidurnya.
Suara kaca pecah, jeritan, lalu kegelapan.
Reza memejamkan matanya erat, mencoba untuk melupakan memori-memori lama yang terus menghantuinya.
Seketika suara itu datang lagi.
BRAK!
Ia tersentak hingga cangkir kopi di meja hampir terjatuh. Napasnya memburu.
"Dasar..." gumamnya sambil mengusap wajah.
Matanya terasa panas. Mungkin sudah tiga malam ia hampir tidak tidur.
Ponselnya bergetar, ia dengan cepat menoleh. Tampak ada sebuah pesan masuk, dari sahabatnya.
Max
[Lu masih hidup?]
Reza hanya mendengus kecil membacanya, lalu mengetik layar ponselnya untuk membalas.
Reza
[Nggak tau.]
Balasan dari Max datang beberapa detik kemudian.
Max
[Hadeh...]
[Besok masih bisa bertahan kan? Gue traktir.]
Reza menatap layar cukup lama, lalu mematikannya tanpa membalas.
Ia hanya tidak ingin bertemu siapapun.
Belakangan ini, bertemu dengan sesiapa terasa jauh lebih melelahkan daripada kesendirian.
Keesokan harinya, ia tetap pergi. Tentu bukan karena ingin, melainkan karena sahabatnya itu memang keras kepala.
Mereka duduk di sebuah warung kopi kecil di dekat kantor lama Reza.
"Habis ini gue traktir," kata Max. "Gue masih bisa bayar sendiri." Balas Reza sambil menyesap kopinya.
"Masalahnya bukan itu."
"Lalu?"
"Masalahnya lu kelihatan kayak mayat hidup." Gerutu Max, memutar bola matanya sambil menyeruput minumannya.
Reza hanya terkekeh hambar. "Yah, terima kasih."
Max lalu mencondongkan tubuh, menyipitkan matanya sambil bertanya: "Jangan bilang lu masih mimpiin soal kecelakaan hari itu?"
Pertanyaan itu membuat senyum Reza menghilang.
Ia menatap cairan hitam di dalam cangkirnya. "...Masih." balasnya setelah terdiam sejenak
"Masih ke psikolog dong?"
"Benar..."
"Masih lihat orang itu?" Pertanyaan Max kali ini membuat Reza membeku, perlahan ia mengangkat kepala.
"Lu masih inget?"
"Ya jelas gue ingat." Max menghela napas. Ia jelas bingung harus melakukan apa di kondisi seperti ini. "Lu cerita soal itu hampir setiap minggu."
Reza menggigit bibir. "Kadang gue mikir dia nyata."
"Tapi serius, dia selalu aja keliatan sama."
"Karena otak lu ciptain gambaran yang sama!" Balas Max sambil memijit pelipisnya.
"..." Reza tidak menjawab, tatapannya justru berpindah ke jendela.
Dan saat itulah tubuhnya menegang.
Di seberang jalan, tampak seorang pria sedang berdiri di bawah halte.
Pria itu mengenakan kemeja abu-abu, wajahnya pucat pasi. Disertai dengan luka panjang di dahinya. Tatapannya kosong.
Jantung Reza langsung berdebar keras. "...Itu dia!"
"Apa?" Tanya Max sambil menoleh ke belakang.
"Itu dia!"
Pria itu masih berdiri di sana, sambil terus memandang lurus ke arah mereka.
Reza langsung bangkit dari kursinya, membuat Max kaget, "Raka! Mau kemana?!"
Namun saat ia berlari keluar—
Halte itu kosong tanpa ada seseorang seperti yang dilihatnya.
Ia hanya melihat beberapa orang yang sedang menunggu bus.
Reza berdiri di bawah gerimis. Dadanya naik turun, ia tahu apa yang dilihatnya, dan ia tidak mungkin salah.
Malamnya, ia kembali bermimpi.
Namun, kali ini lebih jelas. Lampu jalan, aspal yang basah, hujan, dan sebuah setir.
Tangannya sendiri sedang menggenggam setir—
"Hah!!"
Reza terbangun dengan napas tersengal, ia menatap lurus ke jam.
Jam menunjukkan pukul tiga lewat.
Ia bangkit menuju dapur, tangannya gemetar saat mengambil segelas air.
Sebelum ia meneguk minumannya, ia dibuat membeku.
Di ruang tamu, seseorang terlihat sedang duduk di sofa.
Pria itu, pria yang sama dilihatnya dari halte, sedang duduk diam menatap televisi yang mati.
Reza menjatuhkan gelasnya.
PRAANG!
Pecahan kaca berserakan. Namun pria itu tidak bergerak. Ia tidak menoleh maupun berkedip.
"Siapa kau?" Sahut Reza, suaranya bergetar.
Tetapi pria itu tidak memberi sebarang balasan.
"Apa maumu?!" Tanya Reza sekali lagi.
Akhirnya, pria itu perlahan menoleh. Tatapannya kosong, tatapan yang penuh lelah.
Seperti seseorang yang sudah lama menunggu.
Lalu bibirnya bergerak, "Kau tidak ingat?"
Reza membeku, "...Apa?"
"Kau tidak ingat??"
Tanya pria itu lagi, dengan nada yang ditinggikan.
Lampu ruang tamu tiba-tiba berkedip. Sekali, hingga dua kali.
Saat kembali normal, sofa itu terlihat kosong.
Tidak ada bekas dudukan sama sekali di sofanya. Seolah memang tidak ada seorangpun yang pernah duduk di tempat itu.
~
Dua hari berlalu dengan alur yang sama. Namun hari ini berbeda, karena Reza akan mendatangi psikolognya.
Dokter Maya mendengarkan dengan tenang. "Menurut Anda dia nyata?" tanya Reza.
"Sejujurnya tidak, dan kenyataannya sangat tidak memungkinkan." Balas Dokter Maya sambil tersenyum tipis.
"...Kenapa?"
"Karena tidak ada bukti bahwa dia nyata." Ucap Dokter Maya. Mendengar itu, Reza hanya tertawa pendek. "...Kalau begitu saya gila?"
"Saya tidak mengatakan itu." Dokter Maya menutup buku catatannya.
"Trauma berat bisa membuat pikiran melakukan banyak hal untuk melindungi diri."
"Melindungi?"
"Kadang otak mengubur sesuatu yang terlalu menyakitkan."
Reza mengernyit. "Maksud Anda?"
Dokter Maya tidak langsung menjawab. "Reza, apa yang Anda ingat dari malam kecelakaan?"
"Mobil? Hujan..." Ujarnya, namun pikiran Reza langsung terasa kosong untuk mengingat yang selanjutnya.
Ia terdiam. Rasanya aneh, sangat aneh. Karena setelah itu, tidak ada apa-apa dalam ingatannya.
Hanya... Kosong.
Seolah sebagian ingatannya dipotong begitu saja...
Malam itu Reza membuka kembali dokumen kecelakaan yang selama ini ia simpan.
Foto-foto berserakan di meja. Laporan polisi, sketsa lokasi, serta keterangan saksi.
Ia membaca satu per satu. Lalu berhenti di sebuah halaman, matanya terpaku pada sebuah gambar.
Mobilnya dan kendaraan lain.
Untuk pertama kalinya ia memperhatikan sesuatu yang selama ini terlewat.
Posisi mobil, bekas benturan, arah kerusakan, dan darah di wajahnya mendadak hilang.
"Tidak..." Ia menatap foto itu lebih dekat, lebih tajam, "...Tidak mungkin."
Jika dirinya korban...
Mengapa mobilnya berada di jalur berlawanan?
Malam itu juga mimpi datang lagi, namun kali ini bukan mimpi.
Melainkan kenangan.
Potongan-potongan gambar menghantam kepalanya tanpa ampun.
Telepon berdering.
Suara seseorang berteriak dari seberang sambungan, perasaan marah.
Kemarahan yang begitu besar hingga tangannya gemetar.
Pedal gas diinjak lebih dalam, jarum kecepatan naik, dengan hujan yang semakin deras.
Lampu kendaraan lain muncul dari depan, lalu—
BRAKKKK!
Reza terjatuh dari kursi, Napasnya memburu.
Air matanya mengalir begitu saja. Ia ingat, ia akhirnya ingat.
"Aku..." Suaranya pecah, "Aku yang menabrak?"
Kalimat itu terasa seperti pisau. Selama setahun, selama satu tahun penuh.
Ia percaya bahwa dirinya adalah korban, padahal kenyataannya? Ia salah.
Dirinyalah penyebab kecelakaan itu, dirinyalah yang kehilangan kendali, dirinyalah yang memasuki jalur berlawanan.
Dan pria yang selama ini menghantuinya...
Adalah orang yang tewas malam itu.
Terdengar suara kursi bergeser, Reza perlahan mengangkat kepala.
Pria itu berdiri di ujung ruangan. Terlihat lebih jelas dari sebelumnya, lebih nyata, luka di dahinya terlihat menghitam.
Namun yang paling membuat Reza takut adalah ekspresinya.
Pria itu tidak marah, tidak juga membenci ataupun mengancam. Ia hanya terlihat sedih, aangat sedih.
"Maaf..." bisik Reza.
Namun ia tidak mendapat jawaban. "Maaf..." Air matanya semakin deras, "Aku tidak ingat..."
Pria itu melangkah mendekat, selangkah lagi hingga nyaris tidak ada ruang untuk bernafas diantara mereka, "Tapi sekarang kau sudah mengingatnya, bukan?"
~
Hari-hari berikutnya menjadi kabur, Reza berhenti menjawab telepon, keluar rumah dan berhenti membuka tirai.
Ia hanya duduk di ruang tamu dan berbicara kepada seseorang yang tidak dapat dilihat orang lain.
Kadang ia meminta maaf, kadang menangis, juga kadang tertawa tanpa alasan.
Tetangganya mulai khawatir, Max beberapa kali datang, namun pintu tidak pernah dibuka.
"Reza!"
Tok! Tok! Tok!
"Gue tahu lu di dalam!" Tidak ada jawaban sama sekali, hanya keheningan.
Seminggu kemudian, polisi akhirnya membuka apartemen itu.
Ruangan terlihat berantakan.
Foto-foto kecelakaan menempel di dinding.
Dokumen berserakan di lantai, dan di atas meja terdapat sebuah buku catatan.
Halaman pertama hanya berisi satu kalimat.
"𝗔𝗸𝘂 𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁."
Halaman berikutnya juga sama, dan halaman setelahnya, ratusan kali, hingga ribuan kali.
Aku ingat.
Aku ingat.
Aku ingat.
Aku mengingatnya.
𝗔𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮𝗻𝘆𝗮.
Pada halaman terakhir terdapat tulisan yang jauh lebih rapi.
Seolah ditulis saat pikirannya sedikit lebih tenang.
"Selama setahun aku membenci orang yang menghancurkan hidupku. Aku mencarinya dalam mimpi. Dalam bayangan, di dalam wajah pria yang selalu mengikutiku. Tapi ternyata aku tidak sedang diburu, aku hanya sedang diingatkan."
Di bawahnya terdapat satu kalimat terakhir.
"Ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan melupakan."
...
Sehari sebelum hari di mana Reza ditemukan meninggal...
Ia akhirnya memberanikan diri untuk menghirup aroma luar dari jendela apartemennya, menatap jalan yang dipenuhi kerumunan di bawahnya.
"Kenapa?... Kenapa aku tidak dipenjara?... Kenapa aku tidak mendapat hukuman?..." Gumamnya penuh tanda tanya.
"Kenapa?..." Suaranya semakin bergetar, air matanya perlahan mengalir keluar dari mata lelahnya yang merah akibat tidak tidur.
"...Kenapa?"
Ia menggenggam erat rambutnya, nafasnya memburu tak karuan. "Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa???"
Ia hanya bisa menunduk, memeluk kedua lututnya erat sambil terisak di tangisnya...
Hingga di malam hari di hari tubuhnya ditemukan—
Ia duduk di jendela apartemennya, tersenyum menatap ke bawah dengan air mata berlinang membasahi pipinya.
"Aku telah membunuh orang yang tak bersalah, dan aku telah merepotkan orang sekitarku. Aku memang seharusnya mati."
"Aku tidak pantas hidup..."
"...Benar." balas 'korban' yang berada di sampingnya.
"Dunia ini tidak adil. Membiarkan pelaku hidup tanpa diberi hukuman."
"Sebaiknya akhiri saja..."
Bruk...
.
.
.
Event GC Rumah Menulis
Tema 3 & 4