Pagi yang cerah, mentari menyinari setiap sudut kota pias. Sinar mentari membawa kehangatan bagi penghuni kota pias.begitu cepat waktu berputar, mentari yang tadi bersinar sangat terik kini menyisakan sinar yang hangat. Mentari perlahan tenggelam dibalik sebuah gedung pengadilan lama yang telah kusam dimakan oleh waktu, gedung itu menjadi saksi hukum nya kota pias. Namun kini telah hampir sepenuh nya di tinggalkan. Didalamnya menyisakan bayang bayang panjang diruang kerja baswara. Seorang lelaki paruh baya berkepala abu abu itu duduk terpaku menatap meja kerjanya yang penuh dengan berkas berkas tua. Di atas permukaan kayu jati yang mulai lecet dimakan usia, sebuah benda kayu berkilau di bawah lampu temaram yang menggantung di plafon ruangan.Palu sidang. Sebuah alat sederhana yang terbuat dari kayu pilihan, namun selama tiga puluh tahun terakhir ini telah menjadi simbol kuasanya yang paling absolut. Mulai esok hari, ia resmi memasuki masa pensiun sepenuhnya. Ia bukan lagi seorang hakim agung yang dihormati di mata hukum negara. Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia tahu sebuah kebenaran mutlak: seorang hakim sejati tidak pernah benar-benar bisa menanggalkan jubah keadilannya begitu saja.Baskara melangkah keluar dari gedung yang telah membesarkan namanya itu dengan langkah yang sengaja diperlambat. Ia pulang ke rumah tuanya yang terletak di pinggiran kota yang sepi dan jauh dari hiruk-pikuk pusat pemerintahan. Rumah itu sangat sunyi, sebuah tempat yang seolah menjadi refleksi dari seluruh jalan hidupnya yang kaku, disiplin, dan penuh dengan rahasia-rahasia hukum yang terkunci rapat. Ia menyeduh secangkir teh hangat, lalu duduk santai di kursi rotan yang berada di teras depan rumahnya. Angin malam berembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi yang menenangkan pikiran.Saat itulah, pandangan matanya yang tajam menangkap sebuah pemandangan yang mengusik ketenangannya. Seorang pemuda berpakaian kemeja kusut tampak duduk sendirian di halte bus yang berada tepat di seberang jalan rumahnya. Kepala pemuda itu tertunduk sangat dalam, dan sesekali bahunya berguncang pelan menahan tangis. Baskara sangat mengenali gestur tubuh seperti itu. Sepanjang kariernya, ia telah melihat ratusan orang dengan posisi tubuh yang sama. Itu adalah gestur tubuh yang khas dari seseorang yang sedang diadili dengan kejam oleh isi pikirannya sendiri, terjebak di antara rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa.Insting lamanya sebagai penegak keadilan seketika bangkit kembali tanpa bisa dicegah. Baskara meletakkan cangkir tehnya, melangkah keluar melewati pagar besi rumahnya, menyeberangi jalanan aspal yang sepi, lalu dengan perlahan duduk di samping pemuda asing tersebut."Malam yang teramat dingin untuk dihabiskan seorang diri di halte ini," ucap Baskara dengan nada suara yang sangat lembut namun berwibawa.Pemuda itu tersentak kaget, dengan terburu-buru menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan lengan baju yang agak kotor. Namanya Dimas. Wajah pemuda itu tampak sangat kusut, menyiratkan kelelahan batin dan stres yang amat sangat berat. Dimas sama sekali tidak tahu siapa sosok lelaki tua yang duduk di sampingnya saat ini; ia hanya melihat seorang kakek tua berpenampilan rapi yang ramah dan tidak berbahaya. Entah karena rasa keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya atau karena wibawa tenang yang dipancarkan oleh karisma Baskara, Dimas mulai membuka suara dan bercerita. Kisah yang ia sampaikan sebenarnya terdengar klise bagi Baskara, namun efeknya selalu saja berakhir tragis bagi orang kecil.Dimas adalah seorang akuntan muda yang baru bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang distribusi pangan. Tiga hari yang lalu, ia secara tidak sengaja menemukan sebuah kejanggalan laporan keuangan yang sangat besar dalam sistem komputer mereka. Atasan langsungnya ternyata telah memanipulasi data distribusi untuk menimbun berton-ton beras subsidi milik pemerintah. Beras itu kemudian sengaja ditahan agar harganya melonjak, lalu dijual secara ilegal dengan harga yang jauh lebih tinggi ke pasar gelap demi meraup keuntungan pribadi yang fantastis. Dimas dengan tegas menolak ketika diperintahkan untuk menandatangani laporan keuangan palsu tersebut. Namun, reaksi dari sang atasan sangat di luar dugaannya. Atasannya justru berbalik mengancamnya dengan kejam. Jika Dimas berani melaporkan kecurangan ini kepada pihak berwajib atau jajaran direksi, sang atasan telah menyiapkan skenario matang untuk memfitnah Dimas sebagai pelaku tunggal utama dari penggelapan tersebut. Semua bukti digital dan jejak transaksi telah direkayasa sedemikian rupa dengan akun pribadi Dimas untuk menjebak pemuda malang itu tanpa ampun."Jika saya memilih untuk diam, ribuan masyarakat miskin di luar sana akan kelaparan karena harga beras yang terus melonjak tinggi," bisik Dimas dengan suara yang sangat bergetar menahan tangis. "Namun jika saya berani bicara jujur, saya yang akan diseret masuk ke dalam penjara. Ibu kandung saya saat ini sedang sakit keras di rumah dan membutuhkan pengobatan rutin, Pak. Jika saya sampai dipenjara, siapa lagi yang akan merawat dan membiayai obat-obatannya? Saya benar-benar tidak memiliki pilihan lain yang menyelamatkan keduanya. Dunia ini terasa sangat tidak adil bagi orang seperti saya."Baskara mendengarkan setiap bait cerita itu dengan saksama tanpa memotong sepatah kata pun. Pikirannya seketika melayang kembali ke masa-masa kejayaannya di dalam ruang sidang yang dingin dan formal. Di dalam ruangan megah itu, hukum pidana adalah sebuah kepastian yang kaku, hitam di atas putih tanpa celah toleransi. Pasal demi pasal undang-undang dibacakan dengan lantang, bukti-bukti otentik ditimbang dengan cermat, dan keputusan nasib seseorang diambil lewat sebuah ketukan palu kayu yang keras menggema. Tok! Tok! Tok! Bersalah atau bebas dari tuntutan. Prosesnya tampak sangat sederhana di mata publik, namun di mata Baskara, keputusan-keputusan itu sering kali terasa sangat kering dari rasa kemanusiaan dan keadilan moral yang sesungguhnya.Kini, di sebuah halte bus yang remang-remang dan berdebu ini, Baskara kembali dihadapkan pada sebuah dilema moral yang sama persis. Namun ada satu perbedaan besar yang sangat mendasar kali ini. Ia tidak lagi memiliki jubah hitam hakim yang megah. Ia tidak lagi memegang sebuah palu sidang dari kayu jati untuk mengakhiri sebuah perdebatan pelik. Ia hanyalah seorang manusia biasa, seorang warga negara sipil tanpa kekuasaan hukum formal apa pun di tangannya."Anak muda," kata Baskara setelah keheningan yang cukup lama memisahkan mereka berdua. "Hukum yang dibuat oleh manusia sering kali memiliki celah yang sangat lebar. Orang-orang jahat yang memiliki kecerdasan tinggi dan kekuasaan sering kali bisa menggunakan celah hukum itu untuk melindungi diri mereka sendiri, sementara orang-orang jujur yang tidak berdaya justru terjebak dan menjadi korban di dalamnya. Saya sangat memahami rasa takut yang saat ini mencengkeram hatimu."Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?"tanya Dimas dengan tatapan mata yang penuh keputusasaan yang mendalam. "Apakah saya harus menyerah pada keadaan dan ikut berdosa dengan menandatangani kebohongan itu?"Baskara menatap lurus ke dalam sepasang mata Dimas yang tampak nanar dan lelah. "Keadilan sejati tidak selalu harus lahir dari dalam ruang sidang yang megah dan ber-AC. Kadang-kadang, keadilan yang sesungguhnya justru lahir dari sebuah keberanian kecil di tempat-tempat yang paling gelap dan tidak terduga. Kamu tadi mengatakan bahwa kamu tidak memiliki pilihan lain, bukan? Tapi sebenarnya kamu keliru, Dimas. Kamu memiliki pilihan itu. Kamu hanya sedang merasa sangat takut pada konsekuensi berat yang akan mengikutinya."Baskara kemudian merobek selembar kertas putih dari buku catatan kecil bersampul kulit yang selalu ia bawa di dalam saku kemejanya. Ia mengambil pena, lalu menuliskan sebuah nama lengkap beserta sebuah nomor telepon pribadi di atasnya. Itu adalah nomor kontak dari seorang mantan jaksa idealis yang terkenal sangat jujur, yang kini memilih memimpin sebuah lembaga bantuan hukum independen non-profit, yang juga merupakan sahabat lama perjuangan Baskara semasa muda dulu."Hubungi orang ini besok pagi-pagi sekali," ujar Baskara sambil menyerahkan robekan kertas itu ke tangan Dimas. "Dia tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi badai hukum ini sendirian tanpa arah. Dia memiliki kemampuan dan strategi hukum yang sangat cerdas untuk membalikkan semua bukti rekayasa digital yang ditujukan kepadamu."Dimas menerima lembaran kertas kecil tersebut dengan tangan yang masih gemetar hebat. Secercah harapan kecil yang baru tampak mulai terpancar dari dalam bola matanya yang tadinya redup. "Tapi... bagaimana jika rencana ini tetap gagal? Bagaimana jika pada akhirnnya saya tetap harus berakhir di balik jeruji besi penjara?"Baskara tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman bijak yang penuh dengan asam garam pengalaman hidup yang panjang. "Ada dua jenis pengadilan yang berjalan di dunia ini, Dimas. Pertama adalah pengadilan formal keduniawian yang diisi oleh hakim dengan palu sidangnya. Di tempat itu, kamu bisa saja menang atau kalah hanya karena permainan kata-kata dan kelihaian argumen pengacara. Namun yang kedua adalah pengadilan hati nurani. Di dalam pengadilan suci itu, kamulah yang bertindak sebagai hakimnya sendiri, dan tidak akan pernah ada satu pun palu di dunia ini yang bisa mengubah atau memukul mundur sebuah kebenaran sejati."Baskara bangkit berdiri dari kursi halte, lalu menepuk bahu anak muda it dengan kehangatan seorang ayah."Jika kamu terpaksa harus masuk ke dalam penjara karena mempertahankan sebuah kebenaran, kepalamu akan tetap ting tegak berdiri dengan terhormat, dan jiwamu akan tetap merasa bebas merdeka. Namun, jika kamu berhasil bebas di luar sana karena memilih ikut berbuat jahat dan diam, seumur hidupmu kamu akan selalu terpenjara di dalam ruang penyesalan batin yang sangat menyiksa. Putuskanlah malam ini, bertindaklah sebagai hakim tertinggi atas jalan hidupmu sendiri."Dimas benar-benar terpaku diam seribu bahasa mendengar rentetan kata-kata emas itu. Kalimat-kalimat sederhana namun bertenaga dari orang tua misterius itu seolah meruntuhkan seluruh dinding ketakutan tebal yang selama tiga hari ini mengurung jiwanya. Ia memandangi kertas di genggamannya dengan erat, lalu menatap punggung Baskara yang mulai berjalan menjauh dengan tatapan penuh rasa hormat yang amat mendalam. "Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih atas pencerahannya."Baskara hanya mengangguk pelan tanpa menoleh kembali, lalu melangkah mantap menyeberangi jalan untuk masuk ke dalam rumahnya. Di bawah sorotan lampu jalanan yang remang, bayangan tubuh tuanya tampak berdiri dengan sangat tegapdan kokoh.Keesokan harinya berjalan dengan sangat cepat. Sore harinya, Baskara mendapatkan sebuah pesan singkat dari sahabat lamanya di lembaga bantuan hukum. Dimas ternyata benar-benar datang pagi-pagi sekali dengan membawa seluruh salinan data asli yang sempat ia gandakan secara rahasia ke dalam sebuah diska lepas sebelum seluruh akses sistemnya dikunci oleh sang atasan. Berkat bukti otentik yang sangat kuat itu, tim hukum langsung bergerak cepat melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian pusat secara senyap. Hasilnya sangat luar biasa; sang atasan yang korup sama sekali tidak berkutik dan langsung ditangkap ketika polisi melakukan penggerebekan mendadak di gudang penimbunan beras ilegal miliknya sore itu juga. Nama baik Dimas sepenuhnya bersih dari segala macam tuduhan palsu berkat langkah hukum yang sangat taktis dan cepat.Baskara kembali duduk santai di teras rumahnya, menikmati secangkir teh sore yang hangat sembari memandangi langit senja yang berwarna kemerahan. Di dalam ruang kerja pribadinya, sebuah palu sidang yang terbuat dari kayu jati tua kini telah tersimpan dengan sangat rapi di dalam sebuah kotak kaca pajangan. Benda mati itu kini telah resmi pensiun dari tugas-tugas dunianya, sama persis seperti sang pemilik.Namun, Baskara tersenyum penuh arti karena ia menyadari satu hal yang pasti bahwa keadilan sejati tidak memerlukan adanya palu seorang hakim pun ia tetap akan punya sisi keadilannya.