Miami tidak pernah benar-benar dingin, tetapi bagi Elizabeth, kehangatan kota ini terasa seperti demam yang membusuk.
Kepindahannya dari Washington DC bukan sebuah awal yang baru, melainkan sekadar pembuangan. Di rumah, atmosfer selalu mencekam. Ayahnya adalah bayangan dingin yang meledak dalam makian, sementara ibunya adalah kurator kesedihan yang mengabaikan keberadaan Elizabeth. Elizabeth bukan gadis gila. Dia tidak mengidap gangguan mental klinis yang terdaftar di buku medis. Dia hanya seorang introvert yang terlempar ke dalam jurang kesepian yang teramat dalam. Hidupnya hancur bukan karena dentuman besar, melainkan karena retakan-retakan kecil setiap hari yang dibiarkan tanpa penanganan. Semua ini terjadi tentu tak jauh dari masalah ekonomi.
Di sekolah barunya, Elizabeth adalah hantu sebelum ia benar-benar mati. Tubuhnya ada di baris belakang kelas, tetapi keberadaannya tak pernah diakui.
Sampai suatu siang di kantin yang bising, sekelompok siswi di meja depan berbisik-bisik tentang sebuah nama: Carmen Winstead.
“Dia didorong ke dalam lubang got oleh teman-temannya,” bisik salah satu siswi, matanya melebar teatrikal. “Wajahnya hancur. Dan kalau kau membaca ceritanya tapi tidak memercayainya, Carmen akan datang. Dia akan menyeretmu ke lubang got yang sama.”
Hal itu seakan menjadi undangan tersendiri bagi Elizabeth.
Malam itu, sebuah anomali terjadi di rumah. Ayah dan ibunya duduk di meja makan tanpa ada piring yang terbang. Tidak ada teriakan. Ibunya bahkan menawarkan sepotong pai dengan suara yang luar biasa lembut—sebuah pemandangan yang justru terasa asing dan mengerikan bagi Elizabeth. Kelembutan yang mendadak itu tidak menenanginya; itu justru membuat rongga dadanya terasa kosong. Mati rasa.
Membutuhkan sesuatu untuk memicu adrenalinnya, untuk membuktikan bahwa dirinya masih bernapas, Elizabeth membuka laptop. Dia mencari nama Carmen Winstead, membaca setiap detail teks kutukan itu dengan sengaja. Dia tampak ingin menantangnya. Elizabeth belum pernah melihat hantu seumur hidupnya, dan malam ini, di tengah kesunyian rumah nan palsu, dia menginginkan hiburan yang berbeda.
Tentu dampaknya bukan hanya kiasan belaka.
Alam seolah memberi izin kepada sosok tersebut untuk bertindak.
Satu minggu setelah malam itu, Elizabeth mulai mencium aroma air got yang payau dan besi berkarat di kamar. Awalnya samar, lalu mengental. Di sekolah, perundungan terhadap dirinya mulai bergeser dari pengabaian menjadi agresi fisik yang nyata. Buku-bukunya dibuang ke tempat sampah, lokernya dicoret-coret dengan tulisan “Sapi Perah Washington”, dan puncaknya, seseorang sengaja menyenggolnya hingga dia tersungkur di lorong lantai dua.
Saat dia bangkit, lututnya berdarah, dan seluruh koridor menertawakannya. Di ujung lorong yang ramai itu, Elizabeth melihatnya.
Di batas antara area terang dan sudut koridor yang lampunya mati…
… berdiri seorang gadis. Pakaiannya kotor oleh lumpur hitam. Wajahnya tertutup rambut panjang yang basah dan lengket. Lorong itu begitu gelap di ujung sana hingga sosoknya hampir tak nampak, menyatu dengan bayangan dinding. Namun, di sela-sela untaian rambut yang menjuntai, samar-samar Elizabeth bisa melihat kulit pipinya yang terkoyak ditarik ke atas.
Gadis itu sedang tersenyum. Sebuah senyuman yang terlalu lebar, statis, dan kosong.
Elizabeth berkedip.
Sosok itu hilang.
Hanya ada gema tawa dari murid-murid yang menganggap penderitaannya sebagai lelucon.
Malamnya, rumah berubah menjadi neraka kembali. Ayahnya mengamuk, memecahkan vas bunga tepat di samping kepala Elizabeth. Ibunya hanya menangis di sudut ruangan, mengunci diri. Elizabeth berlari ke kamar, mengunci pintu, dan merosot ke lantai.
Dadanya sesak.
Kamar itu serasa menjepitnya dari empat sisi.
“Untuk apa aku bertahan?” bisikan itu muncul dari dalam kepalanya sendiri.
Begitu menggoda.
Begitu damai.
Silet di dalam kotak obat di kamar mandi seolah memanggil-manggil namanya.
Bruk!
Suara itu datang dari dalam lemari pakaiannya. Seperti sesuatu yang berat dan basah dijatuhkan dari atas.
Elizabeth reflek menahan nafas. Bau busuk air limbah mendadak menyengat hidungnya, begitu pekat hingga membuatnya mual.
Dia bangkit dengan perlahan, langkah kakinya tanpa suara di atas karpet. Tangannya yang gemetar terulur menyentuh gagang pintu lemari.
Menariknya perlahan.
Krieeek…
Lemari itu kosong. Hanya terdapat gantungan baju yang bergoyang pelan.
Elizabeth menghembuskan nafas panjang, pundaknya merosot lega. Dia berbalik memunggungi lemari, menutup matanya sejenak untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Satu...
Dua...
Tiga…
Empat…
Lima…
…
“AAAHHH!!”
Sebuah tangan dengan kuku-kuku yang tercabut dan kulit busuk mencengkeram wajah Elizabeth dari arah langit-langit kamar!
Bersamaan dengan itu, suara jeritan melengking yang memekakkan telinga merobek kesunyian malam.
Elizabeth menjerit hancur, terlempar ke belakang hingga punggungnya menghantam tempat tidur. Matanya membelalak liar menatap langit-langit.
…
Kosong.
Hanya ada noda air berbentuk lingkaran hitam yang meneteskan cairan berbau anyir tepat ke atas dahinya.
Hari-hari berikutnya adalah siksaan psikologis yang sistematis. Elizabeth tidak tahu mana yang lebih merusak: siksaan dari teman-teman sekolahnya yang terus mengatasnamakan “bercanda”, dinginnya rumah yang hancur, atau sosok Carmen yang kian mendekat.
Setiap kali Elizabeth berada di titik terendah—saat dia menangis di bilik toilet sekolah setelah seragamnya disiram air kotor, atau saat dia menatap botol obat tidur di kamarnya—Carmen selalu ada.
Carmen akan berdiri di pantulan cermin yang buram. Carmen akan merangkak dari kolong tempat tidurnya dengan suara tulang yang patah—krek, krek, krek. Carmen tidak pernah menyerangnya secara fisik setelah malam itu. Dia hanya... menonton. Menonton dengan senyuman terkoyak yang seolah berkata: “Sebentar lagi, kau akan menjadi sepertiku.”
“Pergi..,” bisik Elizabeth malam itu, meringkuk di sudut kasur sambil memeluk lututnya. Air matanya mengalir deras. “Tolong, pergilah…”
Sosok di ujung kamar itu bergeming. Kulit wajah Carmen yang hancur karena tergesek dinding beton got tampak berkilau di bawah cahaya bulan. Namun, ada sesuatu yang aneh…
Setiap kali Elizabeth merasa ingin menyerah dan mengakhiri hidupnya, kemunculan Carmen yang mengerikan justru memicu insting purbanya untuk bertahan hidup. Rasa takut yang hebat itu memompa adrenalinnya, memaksanya untuk tetap terjaga, memaksanya untuk terus berlari, memaksanya untuk tidak mati dulu.
Kematian Carmen Winstead adalah akibat dari pembullyan yang keji. Dan kini, Elizabeth mengalami pola yang sama. Dipermalukan, diasingkan, dihancurkan hingga tak bersisa.
Puncaknya terjadi di malam badai. Di sekolah tadi siang, rahasia terbesar Elizabeth—sebuah jurnal pribadi berisi curahan hatinya tentang keluarganya yang retak dan keinginannya untuk menghilang—difoto dan disebarkan di grup angkatan. Dia menjadi bahan olok-olok nasional di sekolahnya.
Di rumah, benturan fisik antara kedua orang tuanya tak lagi bisa dihindari. Elizabeth mengunci diri di kamar mandi bawah tanah, tempat tergelap di rumah itu. Di tangannya…
… sebilah pisau dapur terasa begitu dingin dan berat.
“Aku tidak kuat lagi,” tangisnya pecah. Suaranya serak, tenggelam oleh suara guntur di luar. “Aku ingin pulang. Tapi aku tidak punya rumah.”
Dia menempelkan mata pisau itu ke pergelangan tangannya. Kulitnya yang pucat bergetar.
Tetes...
Tetes…
Air mulai merembes dari sela-sela ubin lantai kamar mandi. Bukan air bersih, melainkan air hitam pekat yang membawa aroma lumpur, karat, dan kematian.
Elizabeth mendongak. Di dalam bathtub yang kosong, sesosok tubuh perlahan bangkit. Terdengar suara air yang teraduk parah. Carmen Winstead berdiri di sana. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Wajahnya yang hancur kini berada hanya beberapa senti dari wajah Elizabeth. Senyumannya melebar, memperlihatkan deretan gigi yang patah.
Namun, saat Elizabeth menatap langsung ke dalam mata Carmen yang hitam pekat tanpa selaput putih itu, dia tidak melihat kebencian. Dia melihat pantulan dirinya sendiri.
Gadis kesepian dari Washington. Gadis yang tidak juga diinginkan di Miami. Gadis yang sedang memegang pisau.
“Apakah kau ingin mereka menang?” sebuah suara—atau mungkin hanya gema di dalam kepalanya—terdengar. Bukan suara monster yang seperti yang dibayangkan, melainkan suara seorang gadis remaja yang ketakutan. “Jika kau mati di sini, mereka yang mendorongmu tidak akan pernah menangis untukmu. Mereka akan melupakanmu dalam tiga hari.”
Elizabeth gemetar hebat.
Pisau di tangannya terlepas, berdenting keras di atas ubin.
…
Pada saat yang sama, sosok Carmen Winstead perlahan memudar, meleleh menjadi genangan air biasa yang terserap ke dalam lubang pembuangan kamar mandi. Kamar mandi itu mendadak hening….
Hanya ada suara napas Elizabeth yang memburu, berat, dan hidup.
Pagi berikutnya, Miami terasa sedikit lebih terang, meski mendung belum sepenuhnya hilang. Elizabeth berdiri di depan cermin wastafel kamar mandinya. Lingkaran hitam di bawah matanya masih jelas, tetapi ada binar yang berbeda di sana. Dia masih hidup. Dia memilih untuk tetap hidup.
Dia berjalan ke lorong sekolah dengan kepala yang tegak untuk pertama kalinya. Ketika para pembully berbisik dan tertawa melihatnya lewat, Elizabeth tidak lagi menunduk. Dia memandang mereka lurus-lurus, hingga mereka sendiri yang salah tingkah dan memalingkan wajah.
Pembullyan hanya memiliki kekuatan jika korbannya menyerahkan eksistensinya untuk dihancurkan. Dan Elizabeth menolak untuk menyerah.
Namun, malam harinya, saat Elizabeth sedang membersihkan meja belajarnya, dia menemukan sesuatu. Sebuah amplop putih kusam tergeletak di bawah tumpukan buku tuanya. Amplop itu lembap, menyebarkan bau samar air got yang sudah sangat dia kenal.
Dengan jantung yang berdebar, dia membuka amplop itu. Di dalamnya ada secarik kertas yang basah, ditulis dengan tinta hitam yang meleleh di beberapa bagian.
Tulisan itu berbunyi:
Terima kasih karena telah memilih untuk terus bertarung. Sampaikan ceritaku, agar mereka tahu aku pernah ada. – C.
Elizabeth terpaku. Matanya menatap tulisan tangan itu dengan campur aduk.
Sebuah kengerian psikologis yang halus mendadak merayap di tengkuknya. Dia meraba dadanya yang berdegup kencang. Dia menatap ke sudut kamarnya yang gelap, lalu beralih menatap pantulan dirinya di jendela malam.
Apakah Carmen Winstead benar-benar hantu dari sebuah kutukan urban legend yang datang melintasi negara bagian untuk menyelamatkannya dari kegelapan? Ataukah, selama ini, Carmen hanyalah manifestasi psikologis dari alam bawah sadar Elizabeth sendiri? Sebuah alter-ego mengerikan yang diciptakan oleh jiwanya yang kesepian, sebuah mekanisme pertahanan diri yang ekstrem agar dia tetap memiliki alasan untuk merasa takut, tetap memompa adrenalin, dan tetap berjuang mati-matian agar tidak bunuh diri?
Apakah surat di tangannya ini nyata, ataukah dia sendiri yang menulisnya dalam keadaan disosiatif saat mentalnya hancur malam itu?
Elizabeth tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, karena yang ia cari bukanlah jawaban, melainkan hasil yang nyata.
Dia melipat kertas lembap itu, memasukkannya ke dalam saku, dan berjalan menuju jendela.
Di luar, jalanan Miami yang basah oleh sisa hujan tampak berkilau. Di bawah sana, sebuah lubang got di tepi jalan terlihat gelap dan sunyi, menyembunyikan rahasia yang terkunci rapat di dalam surga yang bisu. Elizabeth tersenyum tipis, sebuah senyuman yang samar, misterius, dan bertahan lama di kegelapan malam.
THE END
EVENT RUMAH MENULIS