Bab 1: Buku Harian Tua di Loteng
Liburan sekolah baru berjalan tiga hari ketika Arga mulai merasa bosan.
Desa tempat tinggal kakeknya berada di kaki pegunungan yang jauh dari keramaian kota. Tidak ada pusat perbelanjaan, bioskop, atau tempat bermain. Hanya hamparan sawah, sungai yang jernih, dan pegunungan hijau yang menjulang di kejauhan.
Setiap pagi, Arga membantu kakeknya menyiram tanaman atau memberi makan ayam. Namun, menjelang siang, ia sering kebingungan mencari kegiatan.
"Kalau bosan, coba bersihkan loteng," kata Kakek sambil tersenyum.
"Loteng?" tanya Arga.
"Iya. Sudah lama tidak ada yang membereskannya."
Arga menghela napas pelan. Membersihkan loteng terdengar jauh dari kata menyenangkan.
Meski begitu, ia tetap mengambil sapu dan naik ke loteng melalui tangga kayu di belakang rumah.
Begitu pintu loteng terbuka, debu beterbangan di udara.
Ruangan itu dipenuhi berbagai barang lama: koper usang, radio tua, bingkai foto hitam putih, dan beberapa peti kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
Arga mulai memindahkan barang-barang sambil sesekali memperhatikan benda-benda unik yang ditemukannya.
Di sudut ruangan, matanya tertuju pada sebuah peti kayu kecil yang tertutup kain lusuh.
Peti itu tampak berbeda dari yang lain.
Di permukaannya terdapat ukiran seekor elang dengan sayap terbentang lebar.
Arga berjongkok dan membersihkan debu yang menempel.
"Aneh. Kenapa Kakek menyimpan ini?" gumamnya.
Peti itu tidak terkunci.
Saat dibuka, Arga menemukan sebuah buku harian tua dengan sampul kulit berwarna cokelat.
Di bagian depan tertulis nama pemiliknya.
Milik Jaya Sembiring, 1984.
Jaya Sembiring adalah nama kakeknya.
Dengan penuh rasa penasaran, Arga membuka halaman pertama.
Tulisan tangan kakeknya terlihat rapi meski tinta beberapa bagian sudah mulai memudar.
"Jika suatu hari buku ini ditemukan, bacalah dengan bijak. Tidak semua rahasia harus diumumkan kepada dunia."
Arga mengernyitkan dahi.
Ia membalik halaman berikutnya.
Sebagian besar isi buku itu menceritakan perjalanan Kakek saat masih muda, ketika ia sering menjelajahi pegunungan bersama teman-temannya.
Namun, pada halaman-halaman terakhir, tulisan kakek berubah menjadi lebih singkat dan serius.
"Kami menemukan sebuah gua yang tidak tercatat dalam peta desa."
"Pintu masuknya tersembunyi di balik tebing air terjun."
"Ukiran elang menjadi penunjuk jalan."
Jantung Arga berdegup lebih cepat.
Ia terus membaca.
"Di dalam gua terdapat sesuatu yang sangat berharga. Bukan emas atau permata, melainkan bukti sejarah yang harus dijaga."
Di sela-sela halaman buku harian itu, terselip selembar kertas tua yang sudah menguning.
Arga membukanya perlahan.
Ternyata itu adalah peta.
Pada peta tersebut terdapat jalur menuju pegunungan, lengkap dengan simbol-simbol aneh yang belum pernah dilihatnya.
Di sudut kanan bawah, terdapat gambar seekor elang.
Tepat di bawahnya tertulis:
"Gua Batu Elang."
Tiba-tiba, lantai kayu di belakang Arga berderit.
Arga terkejut dan segera menoleh.
Ternyata Kakek berdiri di ambang pintu loteng.
Wajahnya terlihat terkejut melihat buku harian yang ada di tangan Arga.
"Kamu menemukannya," kata Kakek pelan.
Arga mengangguk.
"Kakek, apa itu Gua Batu Elang?"
Kakek tidak langsung menjawab.
Ia melangkah mendekat dan memandangi peta tua itu cukup lama.
Tatapannya seolah kembali ke masa puluhan tahun yang lalu.
"Itu bukan tempat untuk bermain-main," ucapnya akhirnya.
"Tapi Kakek pernah ke sana, kan?"
Kakek menghela napas panjang.
"Ya."
"Apa yang ada di dalam gua itu?"
Kakek terdiam.
Untuk sesaat, hanya suara angin dari celah jendela loteng yang terdengar.
Kemudian, Kakek menatap Arga dengan serius.
"Jika kamu benar-benar ingin tahu jawabannya, kamu harus berjanji satu hal."
"Janji apa?"
"Jangan pernah pergi ke sana sendirian."
Arga mengangguk cepat.
Namun, rasa penasarannya justru semakin besar.
Ia tidak menyadari bahwa di luar rumah, dari balik pagar bambu, seseorang sedang memperhatikan jendela loteng dengan saksama.
Orang itu mengenakan topi gelap dan membawa teropong kecil.
Saat melihat peta tua di tangan Arga, ia tersenyum tipis.
Lalu, diam-diam pergi meninggalkan rumah.
Tanpa disadari Arga dan Kakek, rahasia Gua Batu Elang ternyata bukan hanya milik mereka.
Petualangan besar baru saja dimulai.
Chapter 2: Simbol Elang di Air Terjun
Malam itu, Arga hampir tidak bisa tidur.
Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan tentang Gua Batu Elang. Apa sebenarnya peninggalan bersejarah yang dimaksud Kakek? Mengapa gua itu harus dirahasiakan? Dan siapa orang misterius yang mengintip dari balik pagar tadi sore?
Keesokan paginya, Arga membantu Kakek menyapu halaman.
"Kakek," katanya hati-hati, "bolehkah aku mendengar cerita tentang gua itu?"
Kakek meletakkan sapunya.
"Dulu, sekitar empat puluh tahun lalu, Kakek dan tiga sahabat Kakek menemukan sebuah lorong tersembunyi di balik Air Terjun Sipiso."
"Mereka mencari harta karun?" tanya Arga.
Kakek tertawa pelan.
"Tidak. Kami hanya anak-anak desa yang suka menjelajah."
"Lalu, apa yang Kakek temukan?"
Wajah Kakek kembali serius.
"Sesuatu yang tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah."
Sebelum Arga sempat bertanya lagi, Kakek berdiri.
"Kalau kamu memang ingin mengetahui kisahnya, ajak teman-temanmu. Ingat pesan Kakek, jangan pernah pergi sendirian."
Siang harinya, Arga mengundang tiga sahabatnya ke rumah.
Mereka adalah Nisa, gadis cerdas yang selalu membawa buku catatan ke mana pun; Bima, anak paling kuat dan paling berani di desa; serta Sari, yang gemar memotret alam dengan kamera pemberian ayahnya.
Di ruang tamu, Arga membentangkan peta tua di atas meja.
Mata Bima langsung berbinar.
"Petualangan sungguhan?"
Nisa memperhatikan peta dengan saksama.
"Tunggu. Simbol ini seperti penanda arah."
Sari menunjuk gambar air terjun.
"Kalau ini benar Air Terjun Sipiso, kita bisa mencapainya dalam dua jam berjalan kaki."
Arga mengangguk.
"Kita hanya akan melihat lokasinya. Tidak masuk ke gua sebelum mendapat izin Kakek."
Mereka sepakat berangkat keesokan pagi.
Udara pegunungan terasa sejuk ketika mereka memulai perjalanan.
Masing-masing membawa tas kecil berisi air minum, makanan ringan, senter, tali, dan jas hujan.
Jalur menuju Air Terjun Sipiso melewati hutan pinus yang rimbun.
Burung-burung berkicau dari balik pepohonan, sementara sinar matahari menembus sela-sela daun.
"Aku merasa seperti tokoh dalam film petualangan," kata Bima sambil tertawa.
"Selama kamu tidak tersesat, kita aman," balas Nisa.
Setelah hampir dua jam berjalan, mereka mulai mendengar suara gemuruh air.
Tak lama kemudian, Air Terjun Sipiso terlihat di depan mata.
Airnya jatuh deras dari tebing setinggi puluhan meter.
Kabut tipis terbentuk di sekitarnya.
Indah sekaligus menakjubkan.
Sari segera mengangkat kameranya.
"Aku harus memotret ini."
Sementara itu, Nisa membuka peta.
"Menurut peta, kita harus mencari simbol elang."
Mereka menyusuri tepian tebing dengan hati-hati.
Beberapa menit kemudian, Bima memanggil mereka.
"Hei! Kemari!"
Di balik semak-semak, terdapat batu besar yang tertutup lumut.
Pada permukaannya terlihat ukiran seekor elang dengan sayap terkembang.
Sama persis seperti simbol pada peti kayu dan peta.
"Berarti kita berada di jalur yang benar," kata Arga pelan.
Ia memperhatikan sekeliling.
Di belakang batu itu terdapat jejak kaki yang masih baru.
Nisa berjongkok dan memeriksanya.
"Ini bukan jejak kita."
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Artinya ada orang lain yang datang ke sini."
Tiba-tiba, terdengar suara ranting patah dari balik pepohonan.
Krek!
Mereka semua menoleh ke arah suara itu.
Namun, tidak ada siapa pun di sana.
Hanya deretan pohon pinus yang bergoyang tertiup angin.
Bima menelan ludah.
"Aku harap itu cuma monyet."
Arga menggenggam peta erat-erat.
Entah siapa yang mengikuti mereka, satu hal sudah pasti.
Mereka tidak sendirian di pegunungan itu.
Bersambung