Malam itu, Calista duduk termenung di sudut kamarnya. Di tangannya, selembar kertas putih berisikan pengumuman kelulusan di universitas impiannya bergoyang pelan.
Ia senang sekali bisa lulus di universitas itu. Namun, di bawah nama lengkapnya, tertulis nominal angka yang membuat dadanya seketika sesak. Angka yang bagi sebagian orang mungkin biasa, tapi bagi seorang anak yang hanya hidup berdua dengan ibunya, itu adalah angka yang sangat besar.
Ia bingung harus ke mana lagi untuk mencari uang sebanyak itu. Pikirannya mulai berkecamuk, "Apa aku enggak usah lanjut kuliah aja, ya?"
Namun, ia tahu pasti ibunya akan menentang keras pemikiran itu. Ibunya selalu berkata, "Nak, kejarlah pendidikanmu agar kamu tidak akan direndahkan oleh siapa pun." Mengingat perkataan sang ibu justru membuat air matanya menetes tanpa bisa dicegah.
Hati anak mana yang tidak sakit jika harus menjadi parasit untuk ibunya sendiri? Ia juga ingin membahagiakan wanita paruh baya itu. Tapi apalah daya, ia hanyalah gadis remaja yang masih mencari jati diri dan merasa tidak berdaya.
"Yah, kalau Ayah ada di sini, pasti Caca enggak akan seberantakan ini, kan? Kenapa Ayah bisa menghidupi putri Ayah yang lain, tapi menghidupi Caca, Ayah enggak bisa?" bisik Calista entah kepada siapa, menatap langit-langit kamar yang temaram. Ada rasa perih yang teramat dalam setiap kali mengingat penolakan ayahnya.
"Ca, kamu udah tidur?"
Suara parau sang ibu tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamar. Calista tersentak. Ia hanya terdiam membisu. Bukan bermaksud durhaka karena tak membalas pertanyaan sang ibu, tapi ia tidak mau ibunya mendengar suara seraknya dan tahu bahwa ia sedang menangis saat ini.
Mendengar tidak ada jawaban atau pergerakan dari sang putri, Anita—ibu Calista—melangkah pergi meninggalkan pintu kamar anaknya dan masuk ke kamarnya sendiri.
Mengetahui sang ibu sudah menjauh, pertahanan Calista runtuh total. Tangisannya pecah, semakin kencang namun tetap berusaha ia redam dengan bantal. Di tengah isak tangis yang menyesakkan dada, ingatan Calista mendadak terlempar ke masa lalu. Kenangan masa kecil saat keluarganya masih utuh, saat sosok yang dulu ia sebut pelindung itu belum pergi.
"Caca, gimana sekolahnya, Sayang?" tanya sang Ayah malam itu, mengusap lembut rambut putri kecilnya yang baru berusia tujuh tahun.
"Caca senang, Ayah! Caca bisa ketemu sama banyak teman baru," jawab Calista kecil dengan mata berbinar-binar.
Melihat senyuman tulus sang putri, sang ayah tertawa kecil, memeluknya erat seolah dunia baik-baik saja. "Anak Ayah harus pintar, ya. Biar nanti bisa jadi orang hebat."
Kenangan masa kecil itu manis sekali, tapi justru membuat keadaan sekarang terasa makin menyakitkan untuk Calista.
"Ayah, Caca kan juara satu di kelas, jadi Caca mau sepeda, bisa?" tanya gadis kecil itu dengan wajah polosnya. Saat pembagian rapor pagi tadi, Calista memang dinyatakan sebagai juara pertama di kelasnya.
"Boleh dong, Sayang. Apa sih yang enggak buat putri Ayah ini," ujar sang ayah sembari mencubit gemas pipi chubby sang putri. Hal itu membuat tawa renyah Calista menggema di seluruh penjuru rumah.
Setelah mengingat kenangan manisnya saat ia kecil, ingatan Calista terlembar saat ia menduduki banguku kelas 6 SD. Masa yang seharusnya ia gunakan untuk belajar mati-matian agar bisa masuk ke sekolah menengah pertama impiannya. Namun, di tengah ambisi kecilnya itu, Calista justru mendapat kabar bahwa sang ibu dilarikan ke rumah sakit.
Calista kecil berlari dengan napas memburu sepanjang koridor rumah sakit yang berbau obat tajam. Air matanya sudah mengalir sejak dari sekolah. Di dalam ruangan bernomor 204, ia melihat ibunya terbaring lemah dengan selang infus menancap di punggung tangan. Wajah wanita itu pucat pasi, matanya sembap, dan pandangannya kosong menatap langit-langit.
"Tante, Ibu sakit apa?" tanya Calista lirih pada tetangganya yang mengantar sang ibu ke rumah sakit.
Tetangga itu menghela napas panjang, menatap Calista dengan tatapan iba yang amat dalam. "Ibumu syok, Ca. Tadi... ibumu tidak sengaja melihat ayahmu di terminal. Ayahmu sedang mengemas barang-barang ke dalam mobil bersama wanita lain dan seorang anak kecil."
Dunia Calista kecil serasa runtuh seketika. Kata-kata tetangganya seperti petir di siang bolong.
"Ayah... pergi?" bisik Calista, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ayahmu sudah menikah lagi secara diam-diam, Ca. Dia pergi meninggalkan kota ini untuk hidup bersama keluarga barunya. Ibumu yang tidak sengaja melihat mereka langsung jatuh pingsan di jalan," lanjut tetangga itu dengan nada pelan, mencoba menyaring kenyataan pahit agar tidak terlalu menghancurkan hati anak berusia dua belas tahun itu. Tapi terlambat, luka itu sudah tertanam.
Calista melangkah kecil mendekati brankar ibunya. Saat merasakan kehadiran sang putri, Anita menoleh. Tanpa kata, wanita paruh baya itu memeluk tubuh kecil Calista dengan sisa-sisa tenaganya. Mereka menangis bersama dalam diam di atas ranjang rumah sakit yang dingin.
Malam itu, di usia yang masih sangat muda, Calista dipaksa dewasa oleh keadaan. Janji sepeda baru, tawa renyah di penjuru rumah, dan sosok ayah yang hangat, semuanya menguap digantikan oleh rasa benci dan kecewa yang mendalam. Sejak hari itu, ayahnya tidak pernah kembali, tidak pernah memberi kabar, dan tidak pernah membiayai sepeser pun kehidupan Calista.
Luka itu kian diperparah beberapa bulan setelahnya. Saat memasuki jenjang SMP, desakan ekonomi memaksa Calista memberanikan diri menghubungi sang ayah. Dengan tangan bergetar, ia menelepon untuk meminta sedikit bantuan biaya demi membeli seragam dan perlengkapan sekolah yang baru. Namun, bukan untaian kata hangat yang didapat Calista, melainkan penolakan dingin dan bentakan kasar yang dihadiahkan sang ayah sebelum sambungan telepon diputus sepihak.
Sambutan dingin dari pria yang paling ia harapkan kehadirannya itu meninggalkan goresan trauma yang amat dalam. Kenyataan bahwa ia dianaktirikan oleh darah dagingnya sendiri selalu berhasil membuat dada Calista sesak, bahkan hingga detik ini.
Isak tangis Calista mereda perlahan, menyisakan kekosongan yang hampa. Ia menarik napas berat, memaksa kesadarannya kembali menapak pada lantai kamar tidurnya yang dingin. Kilas balik masa lalu itu menguap, berganti dengan kesunyian malam yang mencekam.
Calista menurunkan bantal yang menutupi wajahnya, menatap nanar langit-langit kamar yang temaram. Lembaran kertas pengumuman universitas di sampingnya kini tampak seperti sebilah pisau yang siap mengoyak sisa-sisa ketahanannya.
Luka masa lalu, penolakan sang ayah, dan impitan ekonomi saat ini berkumpul menjadi satu badai besar di kepalanya. Semua itu seolah berbisik, merayu raganya yang lelah untuk berhenti berjuang. Ia merasa terjebak di jalan buntu. Melangkah maju ke bangku kuliah berarti melihat punggung ibunya semakin membungkuk menahan beban biaya, sementara mundur dan bekerja berarti menghancurkan satu-satunya impian sang ibu yang ingin melihatnya sukses.
"Kalau kehadiranku hanya mendatangkan penderitaan untuk Ibu, dan penolakan dari Ayah... untuk apa aku masih ada di dunia ini?" bisik pikiran gelap itu lagi, kali ini terasa jauh lebih nyata dan dingin dari malam-malam sebelumnya. Tatapan mata Anatya mendadak kosong, tertuju pada sudut kamarnya yang gelap, menimbang-nimbang sebuah keputusan akhir yang paling mengerikan.