Terdengar kicauan burung dan sinar matahari mulai masuk dari jendela kamarku.
Suara kicauan burung itu terkalahkan Dengan suara emak dan bapak yang saling berteriak.
Suara Ribut itu terus terjadi setiap hari. Masalah yang ada dirumah terus berlarut-larut. Sementara itu tubuhku kian mengurus akibat sakit yang aku derita.aku tak masalah jika tubuhku tak sekuat orang lain. Hatiku sakit melihat orang yangku sayangi bertengkar.
Malam mulai datang, suasana sunyi mulai terasa walaupun semua keluarga berada dirumah, mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Aku masuk dalam kamar dan mulai menangis,Tangisku pecah tak tertahan lagi. Aku mengambil buku diary yang kusimpan di bawah bantal. Aku tuliskan semua keluhanku, sudah cukup lama aku Baru sadar air mataku membasahi buku itu yang membuat tulisannya tak bisa dibaca.Aku mulai tertidur sambil memegang pena ditanganku.
Tak terasa pagi sudah datang, suara rumah tampak sunyi tak seperti biasanya. Aku keluar dari kamar, dan hanya melihat emak dan abang yang sedang duduk dimeja makan,Lalu aku mendekati mereka.dengan nada suara yang serak aku bertanya kepada emak. " Emak kemana bapak? ". Raut wajah emak dan abang mulai berubah. " Udah jangan tanyain bapak lagi " ucap Abang lalu ia pergi kerja.
"Makan dulu, baru siap-siap ". Ucap emak dengan raut wajah sedih dan mata sembab, emak mulai berjalan memasuki kamar.
Aku duduk dimeja makan dengan termenung, melihat sekeliling ruangan dan melihat rumah begitu berantakan tak seperti biasa rapi dan bersih.
" Dek udah selesai sarapan, sana siap-siap" ucap emak dalam kamar.
Mendengar suara emak lalu aku bangkit dari kursi yang aku duduki dan masuk kedalam kamar mandi. 30 menit aku habiskan untuk bersiap-siap, Lalu aku berpamitan kepada emak.Dengan langkah perlahan aku keluar rumah menuju garasi untuk mengambil sepedaku. Perlahan aku menaiki sepeda itu dan mengayungnya pelan.
Saat diperjalanan aku melihat bapak yang sedang duduk ditoko kecil pinggiran jalan bersama bapak-bapak yang seumurannya dan seorang wanita berumur kisaran 25 th.
Aku turun dari sepeda dan menghampiri bapak, mulutnya mengeluarkan aroma alkohol. Bapak tampak sudah mabuk dan mulai memeluk wanita tadi dan ia mencaci-maki emak ,aku ,dan abang. Mendengar itu aku berlari kearah sepeda yang aku parkir diseberang jalan.aku menggayung Sepeda itu dengan cepat , air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Aku pergi menuju arah danau dengan pakaian sekolah, tak kuhiraukan ibu-ibu yang sedang mencuci baju disana.
Aku turun dari sepeda, aku berlari sekencang-kencangnya. Tak terlaluku memperhatikan jalan aku sudah berdiri didepan pohon besar dengan rumah diatas pohon itu.Aku menaiki anak tangga satu persatu yang ada dipohon itu.betapa indahnya pemandangan dari sana. Aku mulai berteriak melepaskan semua kesedihanku.
Terdengar dari bawah ada seorang peria yang bicara.
" Dunia Emang kejam ". aku terkejut mendengar suara itu.Aku mulai melihat kebawah , ada seorang anak laki-laki yang seumuran denganku yang sedang berusaha menakiki rumah pohon itu.
" Kamu siapa ? " Tanyaku .
" Kamu gak perlu tau siapa aku ". Ucapnya sambil tersenyum.
" Aku tau kamu punya masalah dan semua orang pasti punya masalah, dunia lagi ngajarin kamu bagaimana cara hidup. Hidup sesungguhnya bukan tentang bahagia atau sedih yang sedang dirasa melainkan tentang sebagimana kamu kuat dan iklas menjalani takdir ".
Ucap peria itu dan lalu ia pergi meninggalkanku disana . Mendengar kata peria itu aku terdiam memikirkan apa inti dari ucapannya.
Menjelang berapa saat aku melihat jam tangan yang aku pakai sudah pukul 07.45 aku buru-buru turun dari rumah pohon itu dan mulai mencari sepeda yang aku tinggali . Aku mengayunya secepat mungkin agar bisa datang sekolah.
Bel sekolah mulai berbunyi, gerbangnya sudah hampir tertutup, aku menambah kecepatan sepeda yang aku naiki . Untung masih keburu , aku masih bisa masuk kedalam sekolah. Aku memarkirkan sepedaku , badan dan seragam yang aku pakai basah bercucuran keringat. Aku tak menghiraukannya lagi, aku terus berlari menuju kelas. Saat dilorong aku tak sengaja menabrak seorang laki-laki .
" Bisa gak Lo jalannya hati-hati" ucapnya dengan keras.
”maaf aku gak sengaja ” ucapku sambil menunduk.
Laki-laki itu mulai berjalan pergi menuju kelas yang sama denganku. Aku mengikutinya dari belaka. Untung belum ada guru yang datang mengajar. Aku duduk di kursi yang biasa aku duduki, napasku masih terengah-engah .
Aku memikirkan ucapan bapak tadi pagi, memang ucapnya selalu menyakitkan. Namun kali ini lebih menyakitkan, keluargaku memang dari dulu tidak pernah akur . Bapak salama ini memang tidak bisa diandalkan. Emak sajalah yang selalu mengurusi aku dan abang dari kami kecil. Emak mencari uang dengan menjual tanaman hias dirumah sambil mengasuh kami.
Keluargaku sekarang makin berantakan semenjak orang tuaku tahu kalau aku sakit. Sakit yang aku derita belum diketahui pasti . Tubuhku kian hari kian kurus,makan pun tak selera. Terkadang kepalaku sakit, dan mataku kunang-kunang.ketika aku sekolah tak jarang aku sulit mengikuti pelajaran.
Bel istirahat mulai terdengar, semua teman sekelasku mulai keluar kelas. Aku juga mulai keluar kelas , aku mulai berjalan meju taman sekolah . Suasana taman tampak ramai dengan murid-murid yang lagi makan,bermain,bercerita,atau sekedar duduk. Hatiku terasa lebih lega melihat pemandangan ini, lalu aku duduk disebuah kursi taman dan lalu aku makan-makanan yang sudah aku bawa dari rumah.
Selesai aku makan kepalaku mulai terasa sakit perlahan penglihatanku mulai kabur . Aku pejamkan sebentar mataku, kemudian aku mengambil obat dari saku baju.
Obat itu langsungku telan. Perlahan penglihatanku mulai kembali seperti semula. perlahan aku berjalan menuju kelas untuk istirahat. Bel kemudian berbunyi , satu persatu teman kelasku masuk. Aku tak pernah bisa bermain dengan mereka . Waktu semester lalu aku sempat memiliki satu teman cewek tapi dia sudah pindah sekolah karena ikut ayahnya pindah kerja. Temanku itu sajalah yang mau berteman denganku . Karena masalah kesehatanku ini. Teman yang lain mengira sakitku adalah sakit yang menular dan berbahaya. Tak jarang juga aku sering diejek .
Waktu pulang sekolahpun tiba , aku masih berada dikelas menanti semua orang agar pulang dulu. Aku tak mau mereka tergagu karena keberadaanku.karen aku merasa bosan menunggu dikelas aku pergi jalan-jalan mengelilingi sekolah.hawanya hangat namun masih ada angin . Terlihat sekelompok burung yang hinggap disebuah pohon, mereka bermain dan bernyanyi dengan merdu. Suara itu sangat bahagia seakan tak ada masalah yang ada dan tak ada badai yang menerpa.
Pikiranku mulai kacau akan hal- hal yang terngiang dan terus aku pikirkan.
Kapan aku bisa bahagia?
Kenapa hidupku tak berwarna?
Kenapa aku tak mati saja?
Aku ingin ayah yang sayang padaku?
Air mataku menetes ke bawah rumput yang aku injak.
Dari belakangku ada seseorang yang bertanya " Neng gak pulang " ucap pak satpam.
" Ini mau pulang pak " sambil membelakangi satpam itu dan mengusap air mata dari pipiku.
" Sana pulang jepet neng ini udah mau magrip " ucap satpam itu .
Aku membalikkan tubuhku kehadapan satpam itu dan tersenyum mengangguk. Satpam itu pun pergi untuk berkeliling lagi . Aku pun berjalan kearah parkiran dan mengambil sepedaku.
aku pulang kerumah dengan rasa takut , hatiku gelisah . Aku pun sampai rumah, di garasi aku melihat motor bapak dan terdengar suara benda jatuh dari rumah.
Aku mengintip dari jendela teryata emak yang melempari bapak dengan piring . Bapak mengakat tangannya dan hampir menampar emak untung bisa ditangkis oleh abang.
" Udah pak, jangan sakitin emak lagi, sebaiknya bapak pergi dari kehidupan kita. Cari aja kebahagiaan bapak diluar sana". Teriak Abang dengan raut wajah marah.
Emak hanya menangis mendengar ucapan Abang.
"Dasar anak setan,persis kayak ibuknya.baik saya akan pergi dari kehidupan kalian. Muali hari ini saya ceraikan kamu wanita sialan". Kata bapak marah dan lalu keluar pintu.
Didepan pintu teras bapak melihatku berdiri memandanginya dengan air mata yang melinang dan raut wajah yang memerah kesal.
Dengan berani aku mengeluarkan semua kekecewaanku padanya." Saya sadar sekarang orang yang sayang sama saya juma emak dan abang. Bapak juma orang asing dalam hidup saya yang cuma numpang nama dipanggil bapak. Anda gak pantas dipanggil bapak atau ayah dari siapapun.
Saya harap Anda gak pernah muncul di kehidupan kami lagi." Ucapku marah.
Mendengar hal itu bapak pergi meninggalkan kami tanpa rasa bersalah .
Emak dan abang memelukku dari belakang .
Suasana menjadi hening, tak ada suara, hanya air mata yang terus mengalir. Langit mulai galap keheningan itu masih terasa, waktu berjalan dengan lambat, hari terasa mencekam bagiku.
Waktu terus berjalan sudah 5 th kepergian bapak dari rumah . Sekarang aku sudah kuliah dan tubuhku kian menyembuh dari sakit yang kuderita . Abang juga sudah menikah dengan wanita yang ia cintai dan memiliki 1 orang putra. Abang sangat menyayangi anak dan istrinya, ia lebih baik dari bapak. Emak pun sudah bisa melupa bapak dan sudah bisa berdamai dengan masa lalunya.
Aku sadar sekarang tak semua di dunia ini harus diperjuangkan terkadang ada saatnya untuk menyerah .
belajarlah hidup iklas dan menerima takdir,tak semua harus dimiliki .