Aku memperhatikan Aya, yang sedang fokus mengerjakan tugasnya.
Hari ini Dia nampak berbeda. Bukan lebih cantik atau apa, karena Dia selalu lebih di mataku.
Di ruangan, hanya ada Kami berdua. Biasanya jika seperti ini, Aya akan memilih keluar ruangan sebentar, atau menyumpal telinganya dengan headphone. Aku tahu, itu Dia lakukan untuk menghindari ku. Dia masih berbicara seperti biasanya, saat ada orang lain. Namun saat Kami berdua saja, Dia bungkam.
Tahukah Kamu, Ay? Aku berduka atas hal itu.
Hari ini, Aya masih di ruangan, padahal dari pagi sampai siang ini, hanya Kami berdua yang ada di ruangan. Dia juga tidak menyumpal telinganya dengan headphone.
"Are you ok, Ay?"
Suara ketikan jemari Naya menghilang. Ruangan menjadi sunyi. Hanya dengung AC yang sedang berusaha mendinginkan ruangan.
Wajahnya mendongak. Dia menatapku. Sebentar, lalu kembali tampak sibuk.
Aku kecewa. Tetapi masih berusaha.
Aku berdiri, dan mendekat ke meja nya.
Aku memutar kursinya agar Dia menghadap ke Aku.
Aku bersimpuh, dan memaksanya menatap dalam mataku.
Jemarinya yang terasa dingin, ku genggam erat.
"Jangan begini, Mas .. ".
Suaranya terdengar lemah.
"Aku nggak pernah bilang mau ninggalin Kamu, Aya.."
"Kamu tau kan? Aku selalu memperhatikan Kamu, Aku nunggu Kamu mau bercerita ke Aku, tentang Kamu atau tentang Kita.."
Mata Naya mengembun. Sepertinya pertahanannya akhirnya runtuh.
Dia menangis.
Aku dengan sigap berdiri dan menariknya ke dalam pelukanku.
Tangannya melingkar di pinggangku, dan wajahnya tenggelam di perut ku.
Ay, Aku selalu siap mendengarkan Kamu.
Aku tidak mengatakan apapun, sengaja menunggu nya berbicara. Atau jika Dia tidak berbicara, bagiku sudah cukup. Cukup bahwa Aku tahu, kalau sebenarnya Kami masih merasakan yang sama.
Sepuluh menit berlalu, Naya mengurai pelukan. Aku mengambil beberapa helai tissue, dan menyodorkan ke Aya.
Dia menerimanya, dan menghapus air matanya.
"Terimakasih.."
"Dengan senang hati, Ay ".
Kami pada akhirnya berbicang. Untuk pertama kalinya setelah berbulan - bulan, Kami akhirnya berbincang dari hati ke hati.
Aku tidak menyiakan kesempatan. Aku bercerita apa yang ingin Aku ceritakan. Dan pada akhirnya, Aya pun bercerita bagaimana kehidupannya selama ini.
Mendengar kisahnya, Aku turut bersedih.
"Kenapa tidak bercerita, Ay? Kenapa membiarkan diri Kamu menderita sendirian? Sedangkan ada Aku yang selalu nunggu Kamu di depan pintu ".
Naya menatapku.
"Dan kenapa Kamu biarin Aku tiap hari nya ngerasa bersalah ke istri Kamu, Mas?"
Itulah kebodohanku, Ay. Harusnya Aku bercerita.
Hari itu merupakan titik balik hubunganku dan Naya. Aku sudah membulatkan tekadku, untuk melepaskan wanita dari Bumiku yang lain. Aku ingin bahagian setelah bertahun - tahun terombang ambing. Dipermainkan, dan menjadi tameng bagi penghianatannya.
"Kita hadapi bersama, Aku selalu di samping Kamu, Ay.. ingat itu ".
***
"Denger - denger, Janda di kantor nambah"
Aku mulai mendengar Rando mengoceh. Lelaki tapi suka bergosip itu, memang pemberi informasi ke Kami para lelaki yang memiliki tongkrongan di belakang kantor.
"Siapa emang?"
"Naya.."
"Hah? Naya yang di tim satu? Tim nya si Harsa donk !"
Namaku ikut tercatut. Aku mengangkat bahu. Enggan berkomentar.
Aku sudah tahu, seperti yang diceritakannya, Aya memilih berpisah, demi menjaga kewarasan.
"Padahal masih muda ya, astagaa.."
Padi berkomentar.
Cerita berlanjut tentang Aya. Benar - benar ya mereka ini, kalo menguliti orang sampai tuntas banget.
"Pas banget sudah di tim satu, ada duda dan janda ! "
Rando tertawa ngakak. Dan entah kenapa itu membuatku ikut tertawa. Kami berlima tertawa. Tawa ku berbeda, bukan karena status Aya. Tetapi karena Aku dan Aya di sebutkan dalam kalimat yang sama. Bahkan hanya seperti itu saja bisa membuatku membuncah.
Aku meninggalkan tongkrongan dan kembali ke ruangan. Aku melihat Aya ada di meja nya. Dia menoleh ke pintu, dan begitu melihatku, senyumannya terbit. Walaupun senyum kecil, namun Aku sangat jelas menangkapnya.
"Nanti mau jalan?".
Aku mengirim pesan. Aku tidak menunggu balasan. Aku menunggunya merespon. Kami saling menatap. Dia mengangguk kecil. Syukurlah, Dia setuju.
Ini akan menjadi kencan pertama kami, setelah titik balik waktu itu.
Malam harinya, Aku menjemput dia ke rumahnya.
Aya masih bersiap. Karena Aku memang datang lebih awal.
"Laju nya Kamu datang, Mas ! ".
Naya melongokan kepalanya dari balik pintu. Aku tertawa kecil.
"Ini kencan pertama kita. Mana mungkin Aku mau nunggu lama "
Aku bisa mendengar Aya tertawa. Padahal Aku serius.
Karena penasaran, Aku masuk ke kamar Naya. Dia sedang bercermin. Sepertinya sedang memakai bedak.
"Aku belum sempat beberes kamar, Mas".
Aya melirikku. Aku bisa melihatnya sedang menatapku dari cermin.
Aku mendekat dan memeluknya dari belakang.
Rasanya sangat nyaman bisa bersandar di punggungnya.
Aya meletakkan bedak yang tadi dipegang. Dia berbalik, dan pada akhirnya Kami saling berhadapan.
Aku melihat Aya semakin cantik setiap harinya. Bahkan jika dia tidak menggunakan makeup sekalipun, Dia tetap cantik.
Kami saling menatap lama. Dia tersenyum.
"Jadi jalan nggak nih?". Tanya Aya, meledekku.
Kalimat itu terdengar seperti mantra. Aku menangkup wajahnya, dan mendaratkan bibirku ke bibirnya yang berkilau karena lipgloss.
Seperti ribuan voltase mengenaiku, tubuhku rasanya seperti terbang.
Aku semakin memperdalam pertemuan bibir kami.
Naya tidak menolaknya. Dan ini adalah pertama kalinya, Aku dan Dia berciuman.
Aku melepas pagutan beberapa detik, memberi kesempatan Aya mengambil nafas, sebelum kembali memperdalam ciuman.
Malam itu, Aku dan Aya tidak jadi jalan. Kami pada akhirnya mengarungi lautan cinta yang luas, dan hanya ada Kami berdua.
"Kapan Kamu mau menikah sama Aku, Ay?".
Kami saling berpelukan di ranjang.
Dia menatapku, sambil tersenyum.
"Memangnya, Kamu udah siap?".
"Beneran?".
Aya tersenyum.
"Besok Aku bakalan urus. Serius ini Kamu mau kan?".
Aku memastikan lagi. Aya mengangguk.
"Terimakasih, Sayang...".
Terimakasih sudah mau menerimaku menjadi bagian dari perjalananmu, Ay.. Aku pastikan Kita adalah pasangan terakhir masing - masing.
Harsa dan Naya ~