Dia bukan Ibuku
Penulis: Lili Aksara.
Risa Nur Zainap, seorang gadis berumur 16 tahun.
Ia adalah anak dari Ibu Sartika dan Pak Aditia.
Namun, ayahnya—Aditia—telah meninggal dunia, jadi Risa hanya tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya, yaitu Syariq.
Meski begitu, Risa, ibu, dan adiknya tidak hidup kekurangan.
Karena meski ayahnya telah tiada, Risa dan keluarganya tetap hidup berkecukupan.
Sebelum tiada, Pak Aditia memang meninggalkan harta warisan untuk anak-anak dan istrinya.
Pagi itu, Risa sedang membantu ibunya di dapur.
Kedua Ibu dan anak tersebut sangat dekat.
Mereka berbincang hangat, sudah seperti layaknya sahabat, tidak kaku.
"Risa, tolong kamu bangunin Syariq. Kok ya belum bangun-bangun dia? Ini udah siang," pinta Bu Sartika.
"Iya, Bu. Bentar, biar Risa bangunin," jawab Risa sembari berdiri dari duduknya.
Risa berjalan ke kamar adiknya yang pintunya masih tertutup rapat.
"Syariq, kamu udah bangun?" tanya Risa sebelum membuka pintu.
Risa hanya ingin memastikan saja, takutnya Syariq sudah bangun.
Karena tak ada jawaban, Risa pun akhirnya membuka pintu kamar sang Adik.
Ceklek.
Benar saja, rupanya Syariq masih tidur lelap.
Risa mengguncangkan tubuh Syariq agar dia segera membuka matanya.
"Bangun, Riq, udah siang nih," ucap Risa.
"Nanti aja, Kak," jawab Syariq.
"Kamu itu jangan sulit di bangunin, dong. Ini udah siang," ucap Risa kesal.
"Iya, Kak, aku bangun nih," jawab Syariq.
"Udah sana ke kamar mandi, Ibu lagi masak, tuh. Bentar lagi kita makan," imbuh Risa seraya berlalu pergi.
"Adikmu udah bangun?" tanya Bu Sartika.
"Udah, Bu, ini Syariq udah bangun," rupanya Syariq sendiri yang menjawab.
***Bu Sartika telah selesai memasak.
Dengan sigap, Risa segera membantu ibunya untuk menata piring-piring ke atas meja makan.
"Ayo segera dimakan, Ibu udah laper, nih. Jangan lupa, baca doa dulu," ucap Bu Sartika
Mereka pun menyantap makanan itu dengan lahap.
"Andai aja Ayah masih ada ya, Bu," ucap Syariq.
"Iya, Nak. Tapi, ayahmu sudah bahagia di sana," jawab Bu Sartika.
"Ayah cepet banget perginya ya, Bu," ucap Risa sedih.
"Iya. Itu takdir Ayah kamu. Allah lebih sayang sama beliau," jawab Bu Sartika.
"Kak Risa, nggak kerasa ya kita udah segede ini," ucap Syarik.
"Iya, Riq. Dulu, pas kita kecil, kamu itu jahil banget sama aku," jawab Risa sambil terkekeh.
"Dih, enggak ya. Kakak itu yang jahil, suka ambil ciki aku," ucap Syariq.
"Hahaha, aku kan mau juga, nyobain gitu," jawab Risa.
"Kalian ini ada-ada aja. Dulu, kalian itu sering berantem tahu," ucap Bu Sartika.
"Iya ya, tapi Syariq itu yang ngajakin main berantem-beranteman," kata Risa.
"Hahaha, iya ya, dulu kita suka main batman," ucap Syariq.
Mereka mengenang masa kecil Risa dan Syariq yang sangat menyenangkan.
Tentu saja masa itu tak akan terulang lagi.
"Sa, nanti kita ke cafe Mela Ceria, ya," ucap Bu Sartika.
"Hah, emangnya mau apa, Bu?" Risa tampak heran dengan ajakan sang Ibu.
"Pokoknya nanti kamu tahu sendiri. Iya kan, Riq?" ujar Bu Sartika, tak lupa meminta persetujuan putra bungsunya.
"Iya, kita ada surprise buat Kakak," sahut Syariq sembari mengangguk-angguk, membenarkan ucapan ibunya.
Risa menjadi sangat penasaran saat itu.
"Iya deh, nanti kita ke cafe itu," kata Risa pada akhirnya.
***Risa dan keluarganya telah menyelesaikan sarapan pagi mereka.
Seperti biasa, Risa membantu ibunya membereskan peralatan bekas mereka makan.
"Bu, Bibi kapan ya pulang dari kampungnya?" tanya Risa.
Yang Risa tanyakan itu adalah Bi Lia, pembantunya yang saat ini sedang pulang kampung.
"Ibu juga nggak tahu, Ris. Kayaknya, Bi Lia besok baru pulang," jawab Bu Sartika.
"Emang Bibi ngapain sih pulang kampung?" tanya Risa.
"Nggak tahu, Ris, katanya sih, anaknya sakit," jawab Bu Sartika.
***Setelah selesai membereskan peralatan makannya, Risa berpamitan untuk pergi ke ruang TV.
"Risa menyalakan TV, berniat untuk menonton acara vaforitnya.
Saat itu, Syariq datang menghampirinya.
"Kakak!" panggilnya.
"Iya, kenapa, Riq?" tanya Risa.
Syariq hanya menghela nafas panjang.
"Aku lagi pusing, Kak," jawab Syariq.
"Pusing kenapa?" tanya Risa penasaran.
"PR dari sekolah banyak banget, belum lagi aku juga harus latihan basket," kata Syariq.
"Cobalah kamu itu atur waktu, Riq," saran Risa.
"Aku udah coba, Kak. Tapi, susah," jawab Syariq.
"Nggak susah kok, asalkan kamu mau berusaha. Jangan terlalu ngepush diri kamu sendiri, Syariq. Kalau kamu udah ngerasa capek ya udah, istirahat dulu aja. Kamu bisa melakukan distraksi," ucap Risa.
"Distraksi itu apa, Kak?" Syariq tak mengerti.
"Distraksi itu mengalihkan sejenak pikiran kita dari hal-hal yang bikin mumet. Kalau kamu nggak lagi ngerjain PR atau latihan basket, kamu bisa nyoba baca buku sebentar, atau nonton film," ucap Risa menjelaskan.
"Iya juga, ya? Aku akan coba deh, Kak," jawab Syariq.
"Nah, gitu dong. Hidup itu dibawa santai aja, Riq," ucap Risa.
"Hehe iya, Kak," jawab Syariq.
"Gimana, adeknya Kakak ini udah punya pacar atau belum?" tanya Risa.
"Ih, apaan sih Kakak ini? Ya belumlah, lagian kayak Kakak udah punya pacar aja," Syariq tertawa.
"Belum sih, nanti aja kalau Kakak," jawab Risa.
Risa dan Syariq tertawa bersama karena obrolan konyol mereka.
***Jam menunjukan pukul 10.00.
Hari ini adalah hari Minggu, tentu saja Risa tak bersekolah.
Di hari Minggu ini, Risa juga bisa menghabiskan waktunya untuk membantu sang Ibu beberes rumah.
"Ris, kamu tolong bantu masukin cucian ke dalam mesin cuci ya!" perintah Bu Sartika.
"Siap, Bu," jawab Risa.
Risa melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Rupanya, cucian-cucian itu sudah ada di kamar mandi.
Namun, Risa merasakan ada sesuatu yang aneh, tapi entah apa itu.
Mata Risa tertuju pada gumpalan rambut yang ada di lantai kamar mandi.
"Eh, ini rambut siapa, ya? Kayaknya rambut aku nggak rontok, deh," gumam Risa.
Risa merasa aneh sebenarnya, tapi gadis cantik itu masih berpikiran positif saja.
"Mungkin, ini rambutnya Ibu yang rontok sedikit," pikir Risa.
Risa mengambil segayung air, lalu menyiram rambut yang berada di lantai itu dengan air yang ia ambil.
Setelahnya, Risa menjalankan apa yang diperintahkan oleh sang ibu untuk memasukan baju-baju yang kotor ke dalam mesin cuci.
***Jarum jam telah bertengger ke angka 13.00.
Risa sedang berada di balkon kamarnya, menikmati hembusan angin yang sesekali membelai wajahnya.
Balkon itu terasa sejuk, meski udara di luar panas membakar kulit.
Sesekali, Risa melihat ponselnya, melihat-lihat sosial media miliknya.
Teng!
Ponsel yang berada di tangan Risa berbunyi singkat, pertanda adanya pesan masuk.
Dengan segera, Risa membuka aplikasi hijau itu.
Rupanya, yang mengirimkan pesan itu adalah Nafisah—sahabat Risa sedari kecil.
Nafisah: [Hai, Ris, kamu apa kabar?]
Risa: [Kabar aku baik, kamu sendiri gimana?]
Nafisah: [Kabar aku juga baik, sih]
Risa: [Oh, syukurlah]
Nafisah: [Nanti kamu ke cafe Mela Ceria, ya]
Risa: [Ini pada kenapa, sih? Ibuku juga nyuruh aku ke sana]
Risa mengirimkan pesan itu dengan wajah heran.
Nafisah: [Udah, kamu dateng aja, Ris. Kita ada surprise buat kamu]
Risa: [Iya, deh, aku datang nanti)
Risa menyimpan ponselnya kembali, dan memutuskan untuk tidur terlebih dahulu, karena gadis itu merasa sangat mengantuk.
***Jam menunjukan angka 15.00.
Risa bangun dengan riang.
Gadis itu beranjak ke kamar mandi, ia akan bersiap-siap untuk pergi ke cafe Mela Ceria bersama ibu dan adiknya.
"Eh, Kak Risa. Kirain belum bangun," sapa Syariq.
"Udah, Riq, ini aku mau ke kamar mandi dulu," jawab Risa.
Risa mengambil handuknya, lalu masuk ke kamar mandi.
Byur!
Segayung air menyiram tubuh Risa.
"Fuuuh, sangat segar," gumam Risa.
***Lima belas menit berlalu, Risa keluar dari kamar mandi.
Gadis itu berjalan ke kamarnya.
Risa merasa rumahnya berbeda hari itu.
Rumah itu terasa sunyi, hampa, dan mencekam.
"Ini kenapa sih? Apa cuma perasaanku aja, ya?" batin Risa.
Risa mempercepat langkahnya, hingga gadis itu tiba di kamar.
"Risa, kamu udah selesai belum?" Bu Sartika bertanya dari luar kamar.
"Bentar, Bu, nanti aku nyusul," jawab Risa.
***Setelah selesai memakai pakaian, Risa berjalan ke luar dari kamarnya.
Rupanya, ibu dan adiknya telah menunggu Risa.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Risa.
"Iya, ayo" jawab Bu Sartika.
"Kamu yang nyetir, ya, Riq," kata Bu Sartika.
"Iya, Bu," jawab Syariq.
Pemuda itu memang sudah bisa membawa mobil sendiri, karena dulu dirinya sempat diajarkan oleh sang ayah.
Meskipun hanya ke tempat yang dekat saja, karena ia belum memiliki surat izin mengemudi.
Setelah mengunci pintu, merekapun langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil membelah jalanan yang ramai, karena banyak orang-orang yang pulang bekerja.
Syariq melajukan mobil itu dengan kecepatan santai, agar mereka bisa melihat-lihat jalanan kota.
Jarak dari rumah Risa ke cafe Mela Ceria hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, karena memang akses yang diperlukan dari desa untuk sampai ke perkotaan itu cukup mudah.
Jadi, tak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di cafe itu.
Syariq memarkirkan mobil di parkiran cafe yang sepi.
Tapi, pandangan Risa tertuju pada semua motor dan mobil yang terparkir di halaman cafe Mela Ceria, karena itu adalah kendaraan milik teman-temannya.
Risa, Bu Sartika, dan Syariq berjalan memasuki cafe.
"happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you!"
Terdengar lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh teman-teman dan keluarga Risa.
Risa tersenyum bahagia.
Ia baru menyadari, bahwasanya hari ini ia berulang tahun.
Tepatnya, hari ini gadis itu berulang tahun yang ke 17.
"Ya ampun, aku bener-bener nggak nyangka. Makasih ya, guys," ucap Risa seraya meneteskan air mata, karena ia sangat terharu.
"Sama-sama, Ris. Udah, ayo kamu potong kuenya dulu," jawab Liana.
Risa mengangguk, lalu berjalan untuk meniup lilin dan juga potong kue.
Lilin sudah menyala, Risa pun memanjatkan doa sebelum lilim ia tiup.
Fuuuh.
Risa meniup lilin yang berangka 17 itu.
Setelahnya, Risa memotong kue.
"Nah, kamu mau ngasih potongan kue pertama buat siapa?" tanya Deliana—teman Risa.
"Buat ibuku," jawab Risa.
Risa pun menyerahkan potongan kue itu pada ibunya.
Bu Sartika tersenyum kala menerima potongan kue itu.
Selanjutnya, Risa menyerahkan potongan kedua pada Syariq, lalu pada teman-temannya.
"Serius, aku lupa kalau ini hari ulang tahunku," kata Risa.
"Aneh banget kamu, Ris, masa hari ulang tahun kamu sendiri lupa," ucap Nafisah.
"Nggak tahu, Na, aku beneran nggak nyangka banget," jawab Risa.
"Tapi, ini sebenernya idenya si Syariq, dia yang booking cafe ini juga," ucap Liana.
"Wiiih, makasih ya, Riq," ucap Risa.
"Sama-sama, Kak," Syariq tersenyum.
Teman-teman Risa yang hadir ke cafe itu adalah Liana, Nafisah, Deliana, Derisa, dan Nazma.
Mereka adalah sahabat dekat Risa.
Ya, boleh di bilang teman sekaligus sahabat.
"Eh, tapi beneran ya, suasana cafe ini indah banget," ucap Derisa.
Memang benar, cafe itu indah sekali.
Banyak bunga cantik yang tersebar.
Suasananya juga sangat adem, jadi cocok sekali jika mereka nongkrong di cafe itu.
***Hari beranjak malam ketika Risa, Syariq, dan ibunya juga pulang dari cafe Mela Ceria.
Sama, kali ini pun Syariq yang mengemudikan mobil mereka.
"Bu, itu kenapa muka Ibu pucet banget? Ibu kecapekan, ya?" tanya Syariw.
Risa yang juga ikut mendengar pertanyaan adiknya, ia pun kini juga memperhatikan wajah ibunya.
Benar saja, wajah bu Sartika memang sangat pucat.
"Ibu nggak papa. Sudah, cepat jalankan mobilnya!" perintah Bu Sartika.
Namun, ada yang berbeda dengan suara wanita itu kali ini.
Suaranya tampak lebih dingin, serak, dan tegas.
Namun, Risa dan Syariq tidak menghiraukan hal itu.
Pikir mereka, Bu Sartika hanya sedang lelah dan ingin cepat-cepat pulang saja.
Mobil itu kembali melaju membelah jalanan kota yang masih ramai, padahal hari telah malam.
Itulah Jakarta, tak pernah tidur.
Semakin malam, justru lebih banyak orang yang berjualan.
Ada yang berjualan sate, nasi goreng, soto, macam-macam pokoknya.
"Bu, apa nggak sebaiknya kita makan dulu? Kan kita belum makan," ucap Risa.
"Iya, berhenti saja di penjual nasi goreng itu," jawab Bu Sartika.
Syariq mendengar percakapan kakak dan juga ibunya.
Memang benar. Tak jauh dari situ, ada kedai nasi goreng.
Syariq pun menghentikan mobil di penjual nasi goreng tersebut.
Namun, entah mengapa, Risa merasakan pundaknya sangat berat.
Padahal, hari ini ia membawa tas kecil, harusnya tak seberat itu.
"Kok pundak aku berat banget ya, Bu," keluh Risa.
"Paling kamu kecapekan aja, Ris, udahlah nggak usah banyak drama," Bu Sartika menjawab dengan ketus.
"Ibu kenapa sih?" batin Risa heran.
Risa, Syarik, dan Bu Sartika berjalan memasuki warung makan itu.
"Silakan, mau pesan apa?" tanya penjual nasi goreng, yang tampak masih muda.
"Nasi goreng 3, Mas. Kalau minumnya ... es lemon tea aja," jawab Risa.
"Oh, iya, Mbak. Ditunggu, ya," imbuh penjual nasi goreng itu.
"Bu, Kakak, tadi kok aku lihat sesuatu yang aneh ya pas lagi nyetir?" ucap Syarik.
"Yang aneh apa, toh, Riq?" tanya Risa.
"Kayak ada kain putih yang lompat-lompat gitu, tapi nggak tahu apa," jawab Syariq.
"Bagus, artinya dia sudah tahu kita," ucap bu Sartika pelan, tapi masih dapat terdengar jelas oleh kedua anaknya.
"Maksud Ibu apa?" Syariq tak mengerti.
"Tidak, tidak ada," jawab Bu Sartika.
***Jam beranjak ke angka 22.00.
Risa telah tiba di rumahnya beberapa menit lalu.
Malam itu, Risa masih terjaga, gadis itu sedang bermain ponsel.
Tak, tak, tak.
Saat Risa masih asyik dengan ponselnya, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dari luar kamarnya.
"Itu siapa ya?" batin Risa.
Tapi, saat itu Risa tak memikirkan suara itu.
Ia pikir, mungkin ibunya sedang mengerjakan sesuatu.
Karena memang, Bu Sartika sering memakai sandal, meski itu didalam rumah sekalipun.
Ceklek.
Terdengar suara pintu depan terbuka.
Karena merasa penasaran, akhirnya Risa pun membuka tirai jendela kamarnya, untuk mengintip kondisi di luar.
Mata Risa terbelalak tatkala melihat ibunya berjalan dengan membawa pisau di tangan.
Risa hampir saja menjerit, namun, gadis itu segera menutup mulutnya dengan tangan.
"I-itu bukan Ibu," ucap Risa tergagap.
Lalu, Bu Sartika tampak berjalan keluar dari halaman rumah.
Risa yang melihat hal itu, ia merasa khawatir pada sang ibu.
Dengan tangan gemetar, Risa mengetikan pesan pada Syariq—adiknya.
Risa: [Riq, kamu lihat Ibu, kan?]
Syariq: [Iya, Kak, aku lihat dari jendela. Ibu ... Ibu bawa pisau,]
Risa: [Sini, kamu dateng ke kamar Kakak. Bawa jaket sama senter, kita harus ngikutin Ibu,]
Tok, tok, tok.
Risa mendengar pintu kamarnya yang diketuk sangat pelan.
Ceklek.
Rupanya, yang datang adalah Syariq.
Remaja itu datang dengan membawa senter yang cukup besar.
"Ayo, Kak, keburu ibu pergi," bisik Syariq.
Risa hanya mengangguk.
Dengan langkah mengendap-endap, mereka berjalan mengikuti Bu Sartika.
Untung saja, mereka belum kehilangan jejak Bu Sartika.
Setelah diikuti beberapa saat, ternyata Bu Sartika berjalan ke kandang kambing milik Pak Hariadi, juragan kaya di desa itu.
Desa Ci Asih bukanlah desa terpencil.
Desa ini ramai dengan segala fasilitasnya.
"Apa yang akan Ibu lakukan ya, Riq?" Risa tampak sangat ketakutan.
"Entahlah, Kak, kita lihat saja dari sini," jawab Syariq.
Sreeet.
"Aaaa!" Risa tak kuasa melihat ibunya menusukan pisaunya ke arah salah 1 kambing.
Gadis itu bahkan sampai terjungkal ke belakang.
Ibu Sartika menoleh. Tatapan matanya tajam penuh amarah.
"Beraninya kalian menggangguku!" seru Bu Sartika.
"Sadar, Bu. Ini kami, anak Ibu," ucap Syariq.
Risa segera berdiri, dengan air mata yang sudah menggenang di pipi.
"Kenapa Ibu jadi seperti ini?" tanya Risa.
Namun, Bu Sartika tak menjawab.
Karena sudah kalap, wanita paruh baya itu mendekatkan pisaunya pada Risa.
"Jangan, Buuu!" teriak Risa seraya berusaha menghindar.
Tak puas dengan pisau, Bu Sartika melemparkan pisau itu ke sembarang arah, lalu mencekik leher Risa.
Syariq yang melihat kakaknya dicekik, ia segera berusaha menarik ibunya.
Namun, anehnya, tenaga Bu Sartika kuat sekali.
Beruntungnya, saat itu para warga mulai berdatangan.
"T ... Tolong ... Le-lelepaskan," ucap Risa terbata.
"Ayo cepat tarik Bu Sartika!" seru salah seorang bapak-bapak.
Segera saja, beberapa warga menarik Bu Sartika agar menjauh, dan ada juga warga yang memanggilkan kyai untuk mengobati Bu Sartika.
Selama beberapa warga memanggil kyai, Bu Sartika masih meronta-ronta.
Dengan penuh perjuangan, para warga memegangi Bu Sartika.
***Hingga setelah 15 menit, Kyai Hasim bersama beberapa warga pun datang.
Sementara itu, Risa sudah ditenangkan oleh para ibu-ibu.
"Ya Allah, ini sudah parah," gumam Kyai Hasim.
Kyai Hasim melantunkan ayat suci Al-quran seraya memercikan air doa pada tubuh Bu Sartika.
"Hahaha, kau tak bisa membunuhku, tua bangka," ucap Bu Sartika dengan suara berat.
"Jangan kamu merasuki tubuh wanita ini, wahai jin kafir!" seru Kyai Hasim.
Dengan ilmu yang ia miliki, Kyai Hasim menyerang jin yang merasuki Ibu Sartika dengan tenaga dalam yang ia miliki, supaya jin itu bisa pergi.
"Allahu Akbar!" Kyai Hasim mengirimkan tenaga dalamnya pada jin yang merasuki tubuh Bu Sartika.
Seketika itu, asap kehitaman keluar dari mulut Bu Sartika, dan langsung membumbung tinggi ke atas.
Karena jin itu sedang merasuki tubuh manusia, alhasil kekuatan bertarungnya sedikit melemah.
Bu Sartika jatuh tak sadarkan diri setelah jin yang merasukinya pergi.
Setelah para warga memindahkan tubuh Bu Sartika ke tempat yang aman, Syariq dan Risa berjalan mendekati Kyai Hasim.
"Assalamualaikum, Pak Kyai," ucap Risa dan Syariq kompak.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Duduklah, Nak, aku tahu apa yang ingin kalian bicarakan," jawab Kyai Hasim.
Saat itu, mereka sedang duduk di masjid.
Sementara itu, para warga ada yang mengurus kambing milik Pak Hariadi.
"Pak Yai, sebenarnya apa yang terjadi pada ibu kami?" tanya Risa.
"Ibu kalian itu punya ilmu hitam, Risa. Dia punya penjaga gaib, penjaganya ini berupa siluman harimau betina. Tapi, ibu kalian sudah ingin berubah. Dia berusaha melepas ilmu hitamnya. Tapi, penjaga gaibnya itu malah marah, dan berniat menguasai tubuh ibu kalian," jelas Kyai Hasim.
"Ya Allah, selama ini kami tak tahu soal ibu kami yang punya ilmu hitam," ucap Syariq.
"Hanya almarhum Pak Aditia yang tahu. Dan memang, ibu kalian itu pandai menyembunyikan ilmunya," jawab Kyai Hasim.
"Apakah ada cara supaya harimau itu tidak marah lagi, Pak Yai?" tanya Risa.
"Tadi, sosok jin itu hanya saya buat pergi sebentar, karena kekuatan jin itu lumayan tinggi," jawab Kyai Hasim.
"Jangan kalian bermain-main dengan hal gaib, Syariq, Risa. Karena barang siapa yang memiliki ilmu hitam dan bersekutu dengan jin kafir, maka konsekuensinya besar. Nanti, saya akan berusaha merukiah Bu Sartika," ucap Kyai Hasim.
"Baiklah. Terima kasih, Pak Kyai," jawab Risa.
Tamat.