Disklaimer: Ini adalah karya fabel.
Di sebuah hutan yang sangat indah, terdapat para hewan dan tumbuhan yang hidup berdampingan. Hutan ini sangatlah aman. Tidak ada pemburu yang berani datang kemari karena penguasa hutan ini adalah seekor singa. Jadi, para pemburu pun enggan datang kemari karena takut dengan singa tersebut.
Pohon-pohon di hutan ini amatlah lebat. Namun, meskipun begitu, pohon tersebut tidak pernah menghalangi matahari untuk bersinar menerangi hutan.
Di antara para penghuni hutan, ada seekor gajah yang sangat sombong. Gajah ini memang masih remaja. Jadi, sikapnya masih begitu kekanak-kanakan.
Karena memiliki tubuh yang begitu besar melebihi penghuni hutan lain, gajah merasa bahwa ia bisa menandingi singa yang merupakan raja penguasa hutan.
Di suatu pagi yang cerah, gajah sedang duduk seorang diri di sungai, menikmati angin yang sesekali membelai wajahnya.
Kala ia sedang duduk, tiba-tiba datanglah seekor tupai yang menghampirinya. Tupai itu pun menyapa gajah.
"Hai, Gajah! Sedang apa engkau di sini?" tanya Tupai.
"Hai, Tupai! Aku sedang menikmati udara saja. Kalau kau sendiri, untuk apa kemari?" tanya Gajah.
"Aku ingin minum. Jadi, aku datang kemari," jawab Tupai.
"Oh, kalau begitu, cepatlah pergi, Tupai! Aku sedikit malas melihat makhluk kecil sepertimu," ucap Gajah dengan angkuhnya.
"Apa maksudmu, Gajah? Sungai ini diperuntukkan bagi seluruh penghuni hutan. Kau tidak bisa melarang aku untuk ke sini," jawab Tupai.
"Aku tidak peduli. Kelak jika aku sudah dewasa nanti, aku akan menjadi penguasa hutan. Jadi, kalian semua harus menuruti aku," ucap Gajah dengan sombongnya.
"Janganlah bersikap seperti itu, Gajah! Singa adalah penguasa hutan ini. Jika ia mendengar engkau seperti itu, bisa saja ia marah," jawab Tupai masih berusaha mengingatkan.
"Aku tidak peduli! Yang jelas, aku ingin menantangnya!" kata gajah dengan suara keras.
"Ya sudahlah, terserahmu saja. Jangan salahkan aku, ya. Kalau misalnya singa mendengar percakapan kita dan dia marah padamu," ucap Tupai lalu pergi meninggalkan Gajah seorang diri.
Gajah tidak peduli dengan apa yang Tupai katakan. Ia masih tetap bersantai di sana.
Tanpa Gajah sadari, di balik semak-semak, ada seekor ayam yang mendengar percakapan mereka.
Ayam ini adalah anak buah Raja Singa.
Ia memang sering diperintahkan untuk berkeliling menyusuri hutan.
Ayam pun tersenyum, lalu berlari menemui raja singa.
Setelah ayam sampai di gua tempat Raja Singa tinggal, ia pun langsung menghadap kepada Raja Singa.
Raja Singa yang awalnya sedang tertidur pulas langsung membuka mata saat ayam membangunkannya.
"Ada apa, Ayam? Kau mengganggu aku saja!" ucap Raja Singa dengan sangat marah.
"Maafkan aku, Raja Singa, tetapi aku memiliki informasi untukmu," jawab Ayam dengan sedikit takut.
"Baiklah, cepat katakan informasi itu!" perintah Raja Singa.
Saat tadi aku berkeliling hutan, aku tak sengaja mendengar percakapan Gajah dan Tupai. Gajah berkata kalau ia akan menantangmu untuk bertarung, karena ia ingin menjadi penguasa hutan," ucap Ayam memberitahu.
"Apa? Berani-beraninya dia menantangku? Dia pikir dia siapa? Akulah penguasa hutan yang sesungguhnya."
Raja Singa begitu marah mendengar Gajah yang berani-beraninya menantang dia.
"Ampun, Raja Singa, tapi sebaiknya engkau meladeni tantangan itu. Jika engkau tidak meladeninya, maka pasti penghuni hutan akan mencemooh dirimu," ucap Ayam.
"Hahaha, tentu saja, Ayam. Aku akan segera mengumumkan kepada seluruh penghuni hutan tentang aku yang ingin bertarung dengan Gajah," jawab Singa.
Berita tantangan dari gajah menyebar dengan cepat ke seluruh hutan.
Singa pun sudah mengumumkan bahwasanya ia akan melakukan pertarungan dengan gajah esok hari, karena tidak memungkinkan apabila mereka bertarung di hari itu juga.
Sebab saat itu hari sudah begitu siang, matahari juga sudah bersinar dengan sangat terik.
***
Saat ini gajah sudah berada di rumahnya.
Ia sudah pulang dari sungai ketika seekor sapi mendatangi gajah.
Sapi tersebut adalah teman gajah, dan ia tampaknya khawatir dengan keselamatan temannya tersebut.
"Wahai Gajah, tidakkah engkau ingin membatalkan pertarungan itu? Jika engkau meminta maaf kepada Raja Singa, aku rasa dia akan memaafkanmu," ucap sapi.
"Hahaha. Aku memang ingin bertarung dengan Raja Singa. Dan tentu saja aku pasti menang," jawab Gajah percaya diri.
"Ya sudahlah kalau itu yang engkau inginkan. Pesanku, berhati-hatilah nanti. Jangan lengah ketika menghadapi Raja Singa," ucap sapi.
"Iya, kau tenang saja. Dan terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," jawab Gajah.
Gajah memang dekat dengan sapi, apalagi ukuran tubuh sapi tidak terlalu jauh berbeda dari dirinya. Hanya saja, gajah memang senang sekali mengejek makhluk-makhluk kecil.
***
Keesokan harinya, Gajah dan Singa sudah berdiri saling berhadap-hadapan.
Para penghuni hutan yang lain pun sudah berkumpul untuk menyaksikan pertarungan mereka.
"Gajah, berani juga engkau datang kemari, ya. Rupanya kau tidak takut denganku," ucap Singa.
"Tentu saja aku tidak takut padamu. Bukankah aku yang menantangmu sebelumnya?" jawab Gajah dengan santai.
"Hahaha, baiklah kalau begitu, pertarungan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Singa.
"Aku ingin kita berkelahi, Singa. Siapa yang kalah, maka dia tidak boleh mengusik yang menang. Jika aku kalah, maka aku tidak akan ingin menjadi penguasa hutan lagi," jawab Gajah.
"Baiklah, aku setuju. Dan jika aku menang, maka engkau boleh menjadi penguasa hutan ini," ucap Singa.
Singa dan gajah pun mulai memasang kuda-kuda.
Gajah berlari, menghantamkan kaki depannya ke perut singa.
Buagh.
Tubuh Singa sedikit terhuyung, namun ia tidak jatuh.
Singa melompat tinggi, cakarnya yang tajam menggores kaki Gajah.
Kraaash.
Suara robekan kulit itu terdengar mengerikan.
Gajah merasakan kaki depannya begitu sakit, darah mengucur dengan deras.
Namun, ia belum menyerah.
Kaki depannya yang lain, yang tidak terluka, kembali ia hantamkan ke dada Singa, membuat tubuh besar itu rubuh ke tanah.
Gajah terengah-engah, ia kembali berdiri tegak.
Singa kembali bangkit, kakinya menggaruk tanah mencari pijakan.
Para hewan lain menahan napas, ikut merasa tegang akibat menyaksikan pertarungan kedua makhluk raksasa itu.
Singa sudah kembali berdiri kokoh, ia menerjang Gajah, menggigit leher Gajah yang memiliki kulit tebal itu.
"Aaaargh!" Gajah meraung marah, ia mencengkram Singa dengan belalainya, membanting Singa dengan sekuat tenaga.
Debaman keras terdengar. Debu beterbangan ke segala arah. Para penghuni hutan yang menonton dari kejauhan refleks mundur beberapa langkah, jantung mereka berdebar menyaksikan dua raksasa hutan itu saling beradu.
Singa belum menyerah, tubuh itu kembali berdiri, walau tidak sekokoh tadi.
Grrrrhh!" Raungan itu menggetarkan hutan, membuat para penghuni hutan yang menonton menjadi ketakutan.
Singa langsung mencakar kaki depan Gajah, lalu ia gigit dengan sangat kuat.
Singa merasakan pertahanan Gajah melemah, lalu ia mendorong tubuhnya ke samping.
Braaak.
Tubuh Gajah ambruk, menghantam tanah dengan kedua kaki depannya yang berlumuran darah.
Gajah terbaring, ia menatap Singa dari bawah.
Kali ini, sudah tak ada sorot kesombongan di matanya.
"Maafkan aku, Raja Singa. Aku mengaku kalah," ucap Gajah lemah.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Ingat, jangan menantang aku lagi," jawab Singa.
Gajah pun menyadari, meskipun ia memiliki tubuh besar, namun itu bukanlah alasan untuk menantang hewan lain.
Pertarungan itu akan selalu dikenang oleh para penghuni hutan, dan sebagai pengingat untuk Gajah.