Pukul 22.30 malam, aku masih duduk di depan meja kerja kecil di dalam kamar studio yang aku sewa di gang belakang pasar lama. Layar komputer ku menyala terang, menampilkan rancangan poster untuk acara musik indie yang akan digelar dua minggu lagi—proyek pertama yang benar-benar besar dan profesional yang pernah aku terima sejak memutuskan untuk menjadi desainer grafis dua tahun yang lalu. Di sebelah komputer, ada sebuah kotak kayu kecil yang sudah aku buka—di dalamnya ada cincin tunangan yang masih bersinar dan surat panjang yang sudah aku baca berkali-kali.
“Aku tahu kamu sedang mengejar impian mu, Rina. Tapi sudah dua tahun kita tidak bisa bertemu dengan benar-benar tenang. Aku sudah tua dan orang tuaku sudah mulai menekan untuk segera menikah. Apakah kamu benar-benar ingin terus seperti ini? Apakah impian mu lebih penting daripada kita berdua?”
Suara itu masih jelas terdengar di telingaku—suara Denis, pacarku yang sudah bersamaku selama lima tahun, saat kita bertemu di kafe dekat rumahnya seminggu yang lalu. Wajahnya yang biasanya penuh dengan senyum itu tampak pucat dan penuh dengan kesedihan. Dia memberikan kotak kayu itu padaku dan bilang bahwa dia akan memberiku waktu sampai akhir bulan untuk memutuskan—antara tetap bersama dia dan menikah seperti yang sudah kita rencanakan, atau melanjutkan mengejar impian ku untuk menjadi desainer yang sukses dan mungkin harus melepaskan cinta yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun.
Aku mengeluarkan cincin tunangan dari dalam kotak dan memegangnya dengan hati-hati. Cincin itu adalah hadiah dari Denis saat ulang tahun ku yang ke-23—dia berkata bahwa cincin itu adalah janji bahwa suatu hari nanti kita akan memiliki rumah dan keluarga yang bahagia bersama. Saat itu, aku merasa seperti wanita paling bahagia di dunia. Tapi sejak aku memutuskan untuk mengambil kelas desain dan kemudian menyewa studio kecil untuk memulai usaha sendiri, waktu yang kita habiskan bersama semakin berkurang.
“Aku hanya butuh waktu sebentar saja, Den,” kataku saat itu dengan suara yang lembut. “Setelah aku mendapatkan beberapa proyek besar dan usaha ku mulai stabil, kita bisa fokus pada kita berdua lagi. Kamu bisa kan menungguku?”
Denis hanya menggeleng perlahan dan menangis dengan senyum pahit. “Berapa lama lagi, Rina? Sudah dua tahun aku menunggu, dan kamu selalu bilang ‘lagi sebentar’. Aku mencintaimu dan mendukung impian mu, tapi aku juga punya impian sendiri—mempunyai keluarga yang hangat, punya anak-anak yang lucu, punya seseorang yang selalu ada di sisiku saat aku butuhkan.”
Aku menutup mata dan mencoba mengingat bagaimana awal mula hasrat ku terhadap desain. Saat aku masih SMA, aku selalu menjadi orang yang bertanggung jawab untuk membuat dekorasi kelas dan poster acara sekolah. Aku suka melihat bagaimana warna dan bentuk bisa menyampaikan pesan dan membuat orang merasa senang atau tergerak. Tapi ketika waktunya memilih jurusan kuliah, aku memilih jurusan ekonomi seperti yang diinginkan orang tuaku—mereka bilang bahwa jurusan itu lebih aman dan akan memberikan pekerjaan yang stabil di masa depan.
Setelah lulus kuliah dan bekerja di perusahaan keuangan selama setahun, aku merasa seperti hidup ku hampa dan tidak ada makna. Aku merasa seperti orang yang tersesat di dalam dunia yang bukan milik ku. Akhirnya, aku memberitahu orang tuaku bahwa aku ingin berhenti bekerja dan belajar desain—meskipun mereka tidak terlalu mendukung, mereka akhirnya menyetujui dengan syarat aku harus bisa merawat diriku sendiri.
Itu adalah keputusan yang paling sulit tapi juga paling benar yang pernah aku buat dalam hidup ku. Aku bekerja keras setiap hari, belajar dari berbagai sumber, membuat portofolio dengan cermat, dan perlahan tapi pasti mulai mendapatkan proyek-proyek kecil dari teman dan kenalan. Setiap kali aku menyelesaikan sebuah proyek dan melihat hasil karyaku dipajang atau digunakan oleh orang lain, rasanya seperti aku sedang hidup dengan benar dan sesuai dengan apa yang sudah ditakdirkan untukku.
Namun, keputusan itu juga membuat hubungan ku dengan Denis semakin tertekan. Dia bekerja sebagai guru di sekolah dasar dekat rumahnya—jam kerjanya tetap dan dia memiliki rutinitas yang teratur. Sementara itu, aku sering bekerja hingga larut malam dan terkadang harus pergi ke luar kota untuk bertemu klien atau menghadiri acara seni. Kita jarang bisa bertemu, bahkan jarang bisa berbincang dengan tenang karena aku selalu lelah atau sedang memikirkan proyek yang sedang berjalan.
Aku melihat ke arah dinding studio ku yang penuh dengan karya-karyaku—poster, brosur, desain kemasan, bahkan beberapa lukisan yang aku buat saat merasa inspirasi. Di sudut dinding paling jauh, ada foto besar yang menunjukkan aku dan Denis saat liburan ke pantai tiga tahun yang lalu—kita sedang tersenyum lebar dengan latar belakang laut biru yang jernih. Itu adalah salah satu momen paling bahagia dalam hidup ku.
Suara dering telepon membuatku terkejut dari pemikiran ku yang dalam. Itu adalah telepon dari klien acara musik indie itu—Pak Adi yang menjadi ketua panitia. “Halo Rina,” suaranya ceria terdengar dari sisi lain telepon. “Kita sudah melihat rancangan poster mu dan sangat suka dengan hasilnya! Bahkan ada beberapa perusahaan besar yang tertarik untuk menjadi sponsor acara ini dan mereka menyebutkan bahwa desain mu adalah salah satu alasan utama mereka tertarik. Kita ingin menawarkan kamu untuk menjadi desainer utama untuk semua materi promosi acara ini, termasuk untuk acara tahun depan jika sukses. Apakah kamu mau?”
Aku merasa seperti ada arus kegembiraan yang mengalir ke seluruh tubuh ku. Ini adalah kesempatan besar yang aku tunggu-tunggu selama ini—kesempatan untuk menunjukkan bakat ku pada khalayak yang lebih luas dan mungkin bisa membuat nama ku dikenal di dunia desain. Tapi saat aku ingin mengatakan ya, wajah Denis dan suratnya yang penuh dengan kesedihan muncul di benak ku.
“Pak Adi, bisakah aku memberikan jawaban besok hari?” tanya aku dengan suara yang sedikit gemetar. “Aku perlu sedikit waktu untuk mempertimbangkannya.”
Setelah aku mematikan telepon, aku meraih pena dan kertas, mulai menulis surat untuk Denis. Aku ingin memberitahunya tentang kesempatan besar yang baru saja aku dapatkan, tapi juga ingin memberitahunya bahwa aku mencintainya dengan sepenuh hati dan tidak ingin kehilangannya. Aku ingin menjelaskan bahwa aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya atau mengabaikannya—aku hanya terlalu fokus pada impian ku yang sudah lama aku sembunyikan.
“Aku tahu kamu sudah tidak sabar lagi menunggu, Den,” tulisku dengan tangan yang gemetar. “Aku tidak bisa meminta kamu untuk menunggu lebih lama lagi. Tapi aku juga tidak bisa berhenti mengejar impian ku yang sudah membuat hidup ku memiliki makna. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jika kamu harus memilih antara cinta yang ada dan impian yang belum tercapai, mana yang akan kamu pilih?”
Aku menulis sampai air mata mulai menetes dan merusak tulisan ku di atas kertas. Aku menyimpan surat itu di dalam amplop dan menulis nama Denis di bagian depan. Aku akan mengirimkannya besok pagi, bersama dengan cincin tunangan yang aku kembalikan—karena aku merasa tidak berhak memegangnya jika aku tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan dan butuhkan.
Pukul 01.00 pagi, aku kembali duduk di depan komputer ku dan melihat rancangan poster yang sudah aku buat. Setiap garis dan warna di dalamnya adalah bagian dari diriku, dari impian dan hasrat yang sudah lama aku sembunyikan. Tapi di sisi lain, aku melihat foto aku dan Denis yang terpampang di dinding—cinta dan kebahagiaan yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun juga adalah bagian penting dari diriku.
“JIKA KAMU HARUS MEMILIH ANTARA CINTA YANG ADA DAN IMPIAN YANG BELUM TERCAPAI, MANA YANG AKAN KAMU PILIH?” bisikku perlahan sambil menatap layar komputer yang sudah mulai membeku karena tidak ada gerakan. Dan meskipun aku masih tidak tahu jawaban pasti dari pertanyaan itu, aku merasa bahwa akhirnya aku harus membuat keputusan yang sulit ini—keputusan yang mungkin akan membuat salah satu bagian dari diriku terluka, tapi keputusan yang harus aku buat untuk bisa hidup dengan jujur pada diri sendiri dan pada orang yang aku cintai.