Ini bukan cerita gue langsung… Tapi dari tetangga depan rumah gue, namanya Mas Sutrisno. Dia driver ojol yang biasanya terkenal paling santai, bermulut somber, dan hobi bercanda kalau lagi nongkrong malam-malam di teras rumah gue.
Tapi tadi malam, aura Sutrisno beda total.
Dia datang merayap dengan motornya tanpa suara mesin yang digas—seolah-olah dia takut memecah kesunyian malam. Pas turun, dia duduk di kursi bambu tanpa mengucap salam, wajahnya sekuyu mayat semalam, matanya cekung memandang lantai semen.
Gue yang lagi asyik ngopi langsung peka. “Kenapa, Mas Tris? Anyep orderan?”
Sutrisno pelan-pelan menggeleng. Lehernya seakan kaku. Dia menoleh ke arah gue, tatapannya kosong, lalu berbisik dengan nada yang bikin bulu kuduk gue langsung berdiri instan.
“Gue baru aja lolos dari maut, Man… Gue dapet orderan yang nggak masuk akal.”
Dia jeda bentar, tangannya yang memegang korek api gemetar hebat sampai beberapa kali gagal menyalakan rokoknya.
“Lokasinya di pinggir jalan tembusan dekat alas (hutan) jati, sepi banget. Di maps namanya… Mie Ayam Pak Kromo.”
Gue langsung mikir keras. Lah, di pinggir hutan jati mana ada warung mie ayam? Daerah situ kan terkenal angker, bekas pembuangan mayat zaman dulu, dan malam hari nggak pernah ada lampu jalan.
“Pas gue sampai sana…” suara Sutrisno makin parau, “Gerobaknya beneran ada, Man. Gerobak kayu tua, ringkih, kayak udah rapuh dimakan usia. Tulisan di papannya ‘Mie Ayam Pak Kromo Semenjak 1982’. Lampu bohlamnya kuning redup, berkedip-kedip seakan mau mati. Tapi yang aneh… di sekeliling gerobak itu sepi. Nggak ada tanda-tanda manusia.”
“Terus lo ngapain, Mas?” tanya gue memajukan posisi duduk, makin penasaran.
“Gue panggil-panggil. ‘Kulonuwun… Pak, Paket… Mie Ayam!’ berkali-kali, tapi tetep hening. Suara angin yang tadinya berisik di sela pohon jati mendadak ilang total. Pas gue udah ngerasa ada yang nggak beres dan jempol gue mau neken tombol cancel di layar HP…”
Sutrisno menahan napasnya, matanya mendadak melotot mengingat momen itu.
“…tiba-tiba hawa di tengkuk gue berubah jadi sedingin es. Udah ada orang berdiri tepat di belakang punggung gue. Deket banget sampai gue bisa denger suara napasnya yang berat dan berlendir.”
Gue refleks merinding disko. Bayangan berdiri sendirian di dekat hutan jati malam-malam dan diposisikan seperti itu langsung bikin perut gue mulas.
“Gue balik badan pelan-pelan,” lanjut Sutrisno, suaranya naik satu oktav karena ketakutan yang tersisa. “Mukanya… Gusti Allah, pucat kayak kain kafan yang basah. Matanya melotot putih semua, cuma ada titik hitam kecil di tengahnya yang nggak fokus. Kulit pipinya tegang, robek di bagian sudut bibir hingga memperlihatkan barisan gigi kehitaman. Dia nggak nanya ramah layaknya penjual, dia cuma mendesis kaku: ‘Mau berapa?’”
“Ya… ya karena panik dan saking takutnya, gue sebutin aja sesuai pesanan di aplikasi. Dua porsi bungkus,” kata Sutrisno sambil akhirnya berhasil menyalakan rokoknya. Isapannya dalam, tapi tangannya masih tremor.
“Pas dia mulai balik badan dan masak… di situ bau busuk langsung menyerang hidung gue, Man.”
“Bau apa? Bau bangkai?” tebak gue tegang.
Sutrisno menatap mata gue lekat-lekat dalam kegelapan teras.
“Bukan cuma bangkai. Bau tanah basah kuburan yang baru digali, bercampur amis darah segar yang kental. Dan yang bikin gue mau gila…” Sutrisno menurunkan suaranya sampai hampir tak terdengar, “…dia nggak pake serokan besi buat ngangkat mi dari panci air mendidih itu. Dia celupin tangan tuanya yang kurus kering langsung ke dalam air yang lagi bergolak. Kulitnya nggak melepuh, malah uap mi-nya hitam pekat. Pas dia ngambil potongan daging, gue ngelihat dengan mata kepala gue sendiri, di bawah sela-sela gerobak itu menjulur dua tangan pucat lain yang penuh dengan lumpur, seolah membantu dia dari dalam tanah!”
Antaran Ghaib ke Rumah Mati
Sutrisno menceritakan kalau saat itu kakinya benar-benar seperti dipaku ke bumi. Jangankan lari, buat teriak pun tenggorokannya tercekat. Setelah bungkusan mie ayam itu selesai diikat dengan tali rafia merah yang kusam, Pak Kromo menyodorkannya. Kontak fisik tak sengaja antara jari Sutrisno dan tangan Pak Kromo terasa seperti menyentuh es balok yang membeku di kamar mayat.
“Sesuai aplikasi tunai, gue kasih uang lima puluh ribu. Dia terima, terus dia tersenyum lebar banget sampai kulit pipinya mengeluarkan cairan hitam kental. Begitu bungkusan di tangan, motor gue yang tadinya mati mendadak bisa distarter. Gue langsung tancap gas tanpa berani ngelihat spion.”
Namun, penderitaan Sutrisno belum selesai. Aplikasi ojol itu mengarahkan titik pengantaran ke sebuah rumah tua bergaya kolonial Belanda yang terbengkalai di samping rumah sakit mangkrak. Namanya di aplikasi hanya tertera huruf misterius: "X".
“Pagar besinya gembokan rantai karatan, Man. Pas gue chat kalau gue udah sampai, gembok itu hilang sendiri dan pagarnya terbuka lambat… Kreeeeek… bunyi besi bergeser bikin ngilu jantung.”
Mengikuti instruksi di chat, Sutrisno melangkah gemetar menembus ilalang setinggi pinggang di halaman rumah mati itu. Dia menaruh bungkusan plastik tersebut di atas meja kayu teras yang berdebu tebal.
Tok… Tok… Tok…
Suara ketukan dari balik jendela kaca besar di samping pintu membuat Sutrisno melompat mundur. Di balik kaca yang kotor, berdiri siluet hitam tinggi besar—tingginya nggak wajar, hampir tiga meter sampai kepalanya menekuk menyentuh langit-langit teras. Dua titik merah menyala dari matanya menembus kegelapan, menatap tajam ke arah Sutrisno.
Sebuah suara ghaib langsung menggema di dalam kepala Sutrisno, bukan lewat telinga: “Matur nuwun…” disusul suara pekikan kuntilanak yang melengking lirih di kejauhan.
Sutrisno lari kesetanan. Dia melompati pagar besi tanpa peduli celananya robek, lalu menggeber motor matic-nya sekencang mungkin menuju rumah gue.
Sisa Teror yang Tertinggal
“Gue kira semuanya selesai pas gue berhasil keluar dari area itu, Man,” kata Sutrisno, napasnya memburu menceritakan bagian akhir ini. “Gue mampir ke pom bensin depan buat nenangin diri sekaligus mau bayar bensin. Pas gue buka dompet…”
Sutrisno menarik dompet kulitnya dari saku. Dengan tangan gemetar, dia menjatuhkan isinya ke atas meja teras rumah gue.
Plak.
Bukan lembaran uang rupiah yang keluar.
Di atas meja gue sekarang tergeletak tiga lembar daun kamboja kering yang layu, lengkap dengan noda tanah makam yang masih basah dan berbau harum bercampur busuk yang menyengat. Di permukaan daun itu, ada sisa cairan lendir hitam yang perlahan menetes ke meja gue.
“Gue langsung buka handphone buat mastiin, Man. Dan lo lihat ini…” Sutrisno menyodorkan layar HP-nya ke depan muka gue.
Gue melihat layar itu dengan mata melotot. Di menu riwayat pesanan ojolnya, orderan keenam atas nama "Mie Ayam Pak Kromo" dengan tujuan rumah kosong itu sama sekali tidak ada. Riwayatnya bersih, pesanan terakhir yang tercatat adalah pesanan kelima pada jam sepuluh malam tadi. Seolah-olah, satu jam terakhir yang dialami Sutrisno ditarik masuk ke dalam dimensi ghaib yang tidak tercatat oleh teknologi manusia.
Tepat saat gue memandangi daun kamboja itu, angin malam di teras rumah gue mendadak mati total. Suasana berubah menjadi hening, sepi sepi-sepinya.
Lalu, dari arah jalanan gelap di depan rumah gue, perlahan hidung kami berdua mencium aroma ganjil yang tipis namun pekat memenuhi udara bebas...
Bau tanah kuburan yang basah bercampur amis daging busuk.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara roda gerobak kayu tua yang berjalan pelan di atas aspal kering: Kreeeeek… Kreeeeek… mendekat ke arah rumah gue.