Suasana malam di kampung halaman saya sewaktu kecil selalu menyisakan kesunyian yang mencekam, terutama jika jarum jam sudah melewati pukul dua belas. Rumah kami bergaya semi-panggung khas pedesaan Jawa Barat, dengan dinding bilik bambu di beberapa bagian dan halaman belakang yang langsung menghadap ke kebun pisang yang rimbun serta pepohonan rumbia yang tinggi. Pada masa itu, sekitar awal tahun 2000-an, penerangan jalan masih sangat minim. Jika malam telah tiba, satu-satunya sumber cahaya luar hanyalah rembulan atau lampu neon lima watt yang dipasang di teras depan. Sisanya adalah kegelapan pekat yang seolah siap menelan siapa saja yang berani melangkah keluar rumah.
Saat itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Karena usia yang masih kecil dan rasa takut yang sering kali mendominasi jika harus tidur sendirian, saya masih terbiasa tidur satu kamar dengan Bapak dan Emak. Kamar kami tidak terlalu besar, hanya berisi sebuah kasur kapuk berukuran nomor satu yang diletakkan langsung di atas lantai beralas tikar pandan. Di atas kasur itulah kami bertiga berbagi ruang. Posisi tidur saya selalu tetap dan tidak pernah berubah: tepat berada di tengah-tengah, diapit oleh Bapak di sebelah kanan dan Emak di sebelah kiri. Posisi ini selalu berhasil membuat saya merasa aman, seolah-olah tidak ada satu pun bahaya atau makhluk mengerikan di dunia ini yang bisa menyentuh saya selama dua pelindung utama saya berada di sisi kanan dan kiri.
Namun, malam itu takdir seperti ingin menguji batas keberanian seorang anak kecil yang penakut ini. Semuanya bermula dari kejadian di belakang rumah kami. Salah seorang tetangga dekat yang rumahnya hanya terpisah oleh bentangan kebun pisang kecil sedang hamil tua. Sejak sore, desas-desus di kalangan ibu-ibu kampung sudah terdengar bahwa usia kandungannya telah memasuki bulan kesembilan dan tinggal menunggu hari. Benar saja, menjelang larut malam, suasana di luar rumah mendadak riuh rendah. Ada suara langkah kaki yang terburu-buru, deru mesin mobil bak terbuka yang dipaksa melaju di jalanan berbatu, serta sayup-sayup suara rintihan menahan sakit. Tetangga kami itu ternyata hendak melahirkan dan kondisinya mendesak sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit daerah yang jaraknya cukup jauh dari kampung.
Proses evakuasi darurat di tengah malam itu sempat membuat seisi kampung terjaga sejenak. Bapak bahkan sempat keluar kamar untuk memastikan apa yang terjadi di luar, sebelum akhirnya kembali masuk setelah mobil yang membawa tetangga kami itu melesat pergi membelah kegelapan malam. Setelah rombongan pengantar itu berangkat menuju rumah sakit, atmosfer di sekitar pemukiman langsung berubah secara drastis. Keadaan mendadak menjadi sangat sepi. Kesunyian yang tercipta setelah keriuhan itu terasa begitu pekat dan menekan, seolah-olah seluruh kehidupan di kampung kami ikut dibawa pergi oleh mobil tersebut. Tidak ada lagi suara obrolan tetangga, tidak ada lagi langkah kaki. Yang tersisa hanyalah deru angin malam yang menggoyang dedaunan pisang di belakang rumah, menciptakan bayangan-bayangan hitam yang bergerak patah-patah di balik tirai jendela kamar.
Melihat situasi yang sudah kembali aman, kami sekeluarga pun memutuskan untuk kembali melanjutkan tidur. Perlahan tapi pasti, rasa kantuk yang berat mulai menggelayuti kelopak mata. Bapak dan Emak yang kelelahan setelah beraktivitas seharian penuh langsung terlelap dengan cepat. Suara dengkur halus Bapak beradu dengan napas teratur Emak, menjadi sebuah melodi latar yang menemani malam yang kian larut. Saya pun sempat terayun ke dalam dunia mimpi, menikmati kehangatan berada di antara kedua orang tua saya.
Entah telah berapa lama saya tertidur, dan saya sama sekali tidak tahu jam berapa saat itu karena di dalam kamar tidak ada jam dinding. Namun yang pasti, suasana saat itu sudah berada di puncak keheningan malam—waktu di mana konon batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi sangat tipis. Di tengah ketidaksadaran itu, saya tiba-tiba terbangun. Proses terbangunnya saya malam itu tidak terjadi secara perlahan, melainkan seperti disentak paksa oleh sesuatu yang tidak kasatmata. Saya membuka mata secara penuh, langsung berhadapan dengan kegelapan langit-langit kamar.
Ketika kesadaran saya mulai terkumpul, saya mendapati posisi Bapak dan Emak masih sama. Mereka sudah berada di fase tidur yang sangat lelap, tipe tidur yang sangat nyenyak hingga getaran kecil pun tidak akan mampu mengusik mereka. Ruangan itu sangat sunyi, begitu sunyi sampai-sampai saya bisa mendengar suara detak jantung saya sendiri yang mulai berpacu lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Hawa dingin yang tidak biasa mulai merayap masuk, menembus selimut kain tipis yang membungkus tubuh saya. Kulit ari di sekujur tubuh saya mendadak meremang, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat saya terpaku, tidak berani menggerakkan satu pun jari tangan atau kaki.
Lalu, apa yang paling saya takuti di dunia ini akhirnya terjadi. Keheningan malam yang sakral itu mendadak pecah berkeping-keping. Dari arah yang sangat dekat, tepat di samping telinga saya, terdengar sebuah suara. Itu adalah suara seorang wanita yang sedang tertawa. Tapi, itu bukanlah tawa yang biasa. Suaranya melengking tinggi, nyaring, dan begitu kencang hingga rasanya getaran suara itu mampu menggetarkan gendang telinga saya secara langsung. Nada tawanya terdengar sangat gembira, namun menyimpan aura kebencian, kepuasan yang gila, dan kengerian yang teramat sangat.
*HI HI HI...*
Suara itu meledak persis di sebelah kanan kepala saya, seolah-olah entitas pemilik suara itu sedang membungkuk di atas tubuh Bapak, mencondongkan wajahnya yang mengerikan tepat di samping telinga saya, dan menumpahkan tawa jahanamnya di sana. Detik itu juga, seluruh darah di dalam tubuh saya rasanya berhenti mengalir. Jantung saya berdegup begitu kencang hingga menciptakan rasa sakit di dada. Saya tahu persis suara siapa itu. Di kalangan masyarakat kampung kami, suara tawa melengking dengan nada seperti itu hanya dimiliki oleh satu sosok legendaris yang paling dihindari: Mbak Kuntilanak. Sosok hantu wanita berambut panjang dengan gaun putih bernoda darah, yang konon sering kali muncul di sekitar tempat orang yang baru melahirkan atau keguguran. Keberadaan tetangga yang melahirkan malam itu tampaknya telah mengundang kehadirannya ke sekitar rumah kami.
Ketakutan yang teramat sangat membuat tubuh saya terkunci total. Saya mengalami apa yang sering disebut orang sebagai ereup-ereup atau ketindihan, namun kali ini semua pancaindra saya berfungsi dengan sangat tajam. Saya bisa merasakan hembusan angin dingin yang seolah keluar bersamaan dengan suara tawa tersebut, menerpa pipi saya. Di tengah kepanikan yang memuncak, saya melirik ke arah Bapak dan Emak melalui sudut mata, berharap salah satu dari mereka atau orang rumah lainnya akan bergerak, terbangun, atau setidaknya berdeham untuk mengusir sosok tak diundang ini.
Namun, kenyataan yang saya hadapi justru menambah kengerian situasi. Bapak tetap berbaring diam, napasnya tetap teratur dan dalam. Emak pun tidak menunjukkan tanda-tanda terusik sedikit pun, padahal suara tawa itu begitu kencang dan memekakkan telinga. Logika sederhana seorang anak SD saat itu langsung menyimpulkan satu hal yang mengerikan: suara ini tidak menggema di ruang kamar secara fisik. Suara ini dikunci dan diarahkan secara khusus hanya ke dalam indra pendengaran saya. Makhluk itu sengaja mengisolasi saya, memastikan bahwa hanya akulah satu-satunya manusia di rumah ini yang harus menanggung teror tawanya yang mengerikan.
HI HI HI...
Tawa kedua kembali terdengar, kali ini nadanya terdengar lebih panjang dan bergelombang, seolah dia sedang mengejek ketidakberdayaan saya yang hanya bisa terbaring kaku di tengah-tengah dua orang dewasa yang tak mampu menolong. Pikiran saya mulai membayangkan wujudnya yang mengerikan bergelantung di plafon kamar atau berdiri tepat di atas bantal kami dengan rambut menjuntai kebawah, menutupi wajahnya yang hancur. Air mata dingin mulai merembes di sudut mata saya. Rasa takut yang sedari tadi menumpuk di dada kini telah mencapai puncaknya, berubah menjadi sebuah titik jenuh yang aneh. Ketika ketakutan seorang manusia sudah melewati batas maksimalnya, terkadang yang muncul berikutnya bukanlah kepasrahan, melainkan sebuah lonjakan emosi yang tak terduga: kemarahan yang meledak-ledak.
Entah dari mana datangnya keberanian gila itu, atau mungkin itu adalah bentuk mekanisme pertahanan diri terakhir dari jiwa seorang anak kecil yang enggan ditindas oleh rasa takut. Rasa hormat dan tata krama yang biasanya tertanam kuat di dalam diri saya mendadak luntur, digantikan oleh rasa dongkol yang luar biasa karena tidur nyenyak saya diganggu dengan cara yang sangat tidak sopan. Di dalam benak saya, ketakutan itu bermutasi menjadi amarah yang panas. Menggunakan bahasa Sunda yang sangat kasar—jenis kosakata yang jika saya ucapkan sehari-hari di depan Emak pasti akan membuat mulut saya ditampar dengan gagang sapu—saya memaki sosok tak kasatmata itu di dalam hati. Saya mengumpulkan seluruh sisa energi psikis saya, memfokuskan pikiran saya tepat ke arah sumber suara, dan melontarkan ancaman dengan penuh penekanan.
"Lamun sia sakali deui masih seserian ngabarakatak kitu, ku aing bejakeun ka bapak aing!"(Kalau kamu sekali lagi masih tertawa terbahak-bahak seperti itu, sama saya bakal diadukan ke bapak saya!)
Kata sia (kamu/lu) dan aing (saya/gua) dalam tingkatan bahasa Sunda kasar (gondang/kasar pisan) saya hamburkan tanpa ampun di dalam batin, lengkap dengan penyebutan sosok Bapak sebagai ancaman pamungkas. Bagi saya saat itu, Bapak adalah sosok tertinggi, terkuat, dan paling menakutkan yang bisa mengalahkan apa saja, termasuk hantu sekalipun. Saya menantangnya dengan keyakinan penuh bahwa jika dia berani tertawa sekali lagi, saya akan benar-benar memaksa Bapak bangun untuk menghajarnya.
Ajaibnya, tepat setelah kalimat makian kasar itu selesai saya gaungkan di dalam hati, suara tawa melengking yang ketiga yang baru saja hendak dimulai langsung terputus di tengah jalan.
HI HI... dan senyap.
Suasana mendadak menjadi hening seketika, persis seperti sebuah tombol mute pada televisi yang ditekan secara tiba-tiba. Keheningan yang datang setelah makian dalam hati itu terasa sangat aneh. Ada kesan bahwa sosok hantu wanita itu terkejut, atau mungkin tersinggung dan merasa harga dirinya sebagai makhluk halus runtuh karena digertak dengan bahasa yang begitu kasar oleh seorang anak kecil yang sedang gemetaran di bawah selimut. Dia benar-benar berhenti, seolah-olah dia memiliki kemampuan untuk membaca dan mendengar setiap bait amarah yang bergejolak di dalam isi kepala saya.
Bersamaan dengan hilangnya suara tawa tersebut, hawa dingin yang menekan dada saya perlahan-lahan mulai memudar. Rasa kaku yang mengunci persendian tubuh saya berangsur-angsur lenyap, menyisakan aliran kehangatan tubuh Bapak dan Emak yang kembali bisa saya rasakan di sisi kanan dan kiri. Yang paling aneh dari seluruh rangkaian kejadian malam itu adalah apa yang terjadi berikutnya pada psikologis saya. Alih-alih tetap terjaga hingga pagi karena trauma atau terus-menerus merasa waswas melihat ke sekeliling kamar, rasa takut saya justru menguap sepenuhnya tanpa bekas setelah berhasil "menang" dalam adu gertak tersebut. Rasa kantuk yang sangat berat kembali menyerang dengan begitu cepat, seolah-olah otak saya secara otomatis menghapus sisa-sisa adrenalin yang sempat melonjak. Saya memejamkan mata dengan rileks, membalikkan posisi tubuh membelakangi arah suara tadi, dan kembali tertidur dengan sangat nyenyak hingga fajar menyingsing dan suara kokok ayam jantan membuyarkan sisa-sisa malam.
Keesokan paginya, saat sinar matahari yang hangat mulai menerobos masuk lewat celah-celah bilik bambu dan aroma kopi hitam buatan Emak sudah tercium dari arah dapur, saya terbangun dengan perasaan yang segar. Kejadian semalam langsung melintas di pikiran saya seperti sebuah potongan film. Saat sarapan bersama di meja makan, saya sempat menceritakan kejadian itu kepada Bapak dan Emak dengan menggebu-gebu, namun tentu saja bagian di mana saya memaki menggunakan bahasa Sunda yang sangat kasar sengaja saya sensor demi keselamatan saya sendiri. Bapak hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala, menganggapnya sebagai mimpi buruk akibat suasana gaduh tetangga yang melahirkan, sementara Emak hanya menyuruh saya untuk selalu membaca doa sebelum tidur agar tidak diganggu lagi oleh hal-hal serupa.
Namun bagi saya, pengalaman malam itu bukanlah sekadar bunga tidur atau ilusi pendengaran belaka. Itu adalah sebuah pengalaman nyata yang sangat membekas, sebuah bukti bahwa terkadang, rasa takut yang paling besar sekalipun bisa ditundukkan jika kita berani membalasnya dengan sebuah ketegasan—bahkan jika ketegasan itu harus berupa makian kasar seorang anak SD di dalam hati yang berhasil membuat sosok misterius penunggu malam terbungkam seribu bahasa.