Malam di kawasan kos-kosan sekitar kampus selalu punya atmosfernya sendiri. Ketika jarum jam bergeser melewati angka sebelas, riuh rendah suara kendaraan di jalan raya perlahan surut, digantikan oleh jangkrik yang mengerik di balik semak dan desau angin yang mempermainkan daun-daun mangga. Mayoritas penghuni kos—yang rata-rata mahasiswa tingkat akhir atau pekerja kantoran muda—biasanya sudah mematikan lampu kamar, hanyut dalam mimpi atau sekadar bergulir di media sosial hingga terlelap. Namun, tidak dengan kamar nomor 07. Kamar yang berada persis di sebelah kamarku. Kamar itu dihuni oleh seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran bernama Panji. Kita semua tahu, atau setidaknya pernah mendengar, mitos dan realitas tentang betapa mengerikannya kesibukan seorang anak kedokteran. Jadwal kuliah yang padat dari pagi hingga sore, praktikum laboratorium yang menguras otak, ujian beruntun setiap minggu, hingga tumpukan buku teks tebal yang kalau ditumpuk bisa menyamai tinggi meja belajar. Bagi Panji, waktu dua puluh empat jam sehari rasanya tidak pernah cukup. Siklus hidupnya terbalik. Siang hari badannya berada di kampus, mengejar dosen dan menghafal anatomi tubuh manusia. Maka, satu-satunya waktu yang tersisa bagi dia untuk menjadi manusia normal yang merawat tempat tinggalnya adalah malam hari. Jauh larut malam. Ini sama sekali bukan cerita horor tentang hantu penunggu kos, bukan tentang kuntilanak yang tertawa di atas plafon, atau genderuwo yang mengetuk jendela. Ini adalah cerita tentang realitas yang saking ganjil dan dinginnya, justru bisa membuat bulu kudukmu merinding saat membayangkannya.
Pada awalnya, aku sempat merasa terganggu. Bayangkan saja, ketika kamu sudah berada di fase setengah sadar antara tidur dan terjaga—sekitar jam dua belas malam—tiba-tiba terdengar suara gesekan kain pel yang basah menerpa lantai keramik. Srek... srek... srek... Konsisten, ritmis, dan tenang. Panji sedang mengepel kamarnya. Aku melirik jam dinding. Angka menunjukkan pukul 00.15 WIB. Di saat orang lain melepaskan lelah, dia baru memulai ritual domestiknya. Bau karbol wangi aroma pinus seringkali menyusup lewat celah bawah pintu kamarku, memberi tanda bahwa pemuda di sebelahku sedang membersihkan dunianya yang sempit. Sori ya, Bro, kalau semalem agak berisik, kata Panji keesokan harinya saat kami kebetulan berpapasan di depan dispenser umum. Wajahnya lesu, kantung matanya menghitam, mirip panda yang kurang tidur, tapi senyumnya tetap ramah. Santai, Pan. Cuma gue sempat mikir, lo nggak capek apa ngepel jam segitu? tanyaku sambil menenggak air putih. Panji tertawa kecil, tawa yang terdengar garing dan lelah. Mau gimana lagi? Tadi pagi gue masuk jam tujuh, pulang jam enam sore. Sampai kos langsung ketiduran karena pusing habis ujian tentamen. Pas bangun jam sebelas malem, kepala agak segeran, tapi liat kamar berantakan banget. Kalau nggak dibersihin sekarang, besok-besok bakal jadi sarang kecoak.
Alasan itu masuk akal. Sangat rasional. Namun, kebiasaan malam Panji tidak berhenti di situ. Minggu berikutnya, aku terbangun karena kandung kemihku penuh. Saat aku berjalan melintasi lorong kos menuju kamar mandi luar sekitar pukul tiga pagi, suasana sangat mencekam. Dingin merayap dari lantai semen. Di tengah kesunyian yang absolut itu, tiba-tiba terdengar suara berisik yang sangat spesifik dari arah kamar mandi dalam milik Panji. Kopyok... kopyok... kopyok... sreeet... Suara baju yang dikucek dengan bertenaga, diikuti suara bilasan air yang mengguyur lantai. Jam tiga pagi. Di saat embun sedang tebal-tebalnya di luar, Panji sedang mencuci baju-baju kuliahnya, mungkin termasuk jas laboratorium putihnya yang legendaris itu. Ada rasa ngeri yang subtil ketika mendengarnya. Sesuatu yang membuat merinding bukan karena takut pada makhluk halus, melainkan ngeri membayangkan isi kepala dan tekanan mental seperti apa yang membuat seorang manusia bisa berfungsi dengan begitu mekanis di jam-jam yang sakral bagi keheningan. Dia bergerak seperti robot yang diprogram untuk bersih-bersih hanya ketika dunia di sekitarnya sudah mati. Setiap malam, aku terbiasa mendengar ritme hidup Panji: jam satu malam suara sapu lidi menggores lantai, jam dua malam suara geseran lemari atau tumpukan buku, jam tiga pagi suara sikat baju. Dia hidup dalam sunyi, ditemani bayang-bayangnya sendiri dan tumpukan tugas kedokteran yang membubung tinggi.
Suatu malam di akhir pekan, Panji tampaknya memiliki sedikit waktu bernapas. Kami tidak sengaja bertemu di angkringan depan gang kos sekitar jam sebelas malam. Dia sedang memesan susu jahe hangat dan beberapa tusuk sate usus. Wajahnya tidak seganas biasanya, meski gurat kelelahan itu sudah seperti tato yang permanen di wajahnya. Kami mengobrol tentang banyak hal ringan, hingga akhirnya obrolan kami mengerucut pada mata kuliahnya yang paling terkenal di kalangan anak non-kedokteran: Anatomi. Lebih spesifiknya, tentang praktikum bedah kadaver—mayat manusia asli yang diawetkan dengan formalin untuk dijadikan media belajar mahasiswa kedokteran. Gue selalu penasaran, Pan, kataku sambil menyulut rokok. Anak kedokteran itu pas pertama kali liat kadaver, ada rasa takutnya nggak sih? Maksud gue, itu kan mantan manusia. Tubuh orang yang pernah hidup. Panji menyeruput susu jahenya perlahan. Tatapannya mendadak kosong, menembus kegelapan jalan raya di depan kami. Takut secara mistis? Awalnya mungkin ada, karena doktrin film horor ya, jawab Panji tenang. Tapi pas lo udah masuk lab, bau formalin yang menyengat itu langsung menghancurkan semua fantasi horor lo. Bau itu bikin mual, perih di mata, dan fokus lo cuma satu: gimana cara ngafalin letak saraf, pembuluh darah, sama otot sebelum waktu praktikum habis. Lo nggak punya waktu buat takut.
Dia mengambil jeda, memutar-mutar gelas susunya. Tapi... ada satu kejadian pas semester lalu. Kejadian yang kalau gue inget-inget lagi sekarang, emang bikin merinding. Bukan karena setannya, tapi karena... ya, lo dengerin aja sendiri. Aku membenarkan posisi dudukku, mendadak tertarik. Waktu itu kelompok gue dapet kadaver baru. Maksudnya baru diturunkan dari bak penyimpanan formalin, Panji memulai ceritanya dengan suara yang merendah, membuat suasana angkringan yang sepi terasa makin dingin. Kadavernya seorang pria, paruh baya. Kulitnya sudah mengeras, warnanya keabu-abuan karena efek pengawet. Kami sudah melakukan doa bersama sebelum mulai, ritual wajib demi menghormati beliau yang mendonasikan tubuhnya untuk ilmu pengetahuan. Aku mengangguk-angguk, membayangkan ruangan laboratorium yang dingin, berlantai tegel putih, dengan meja-meja besi tahan karat tempat mayat-mayat telentang pasrah. Tugas kelompok gue hari itu adalah melakukan insisi—pembedahan—di area dada untuk membuka rongga dada, lanjut Panji. Gue yang pegang pisau bedah waktu itu. Teman-teman kelompok gue megang buku panduan sama pinset. Suasana lab agak bising karena ada sekitar sepuluh kelompok lain yang juga lagi sibuk.
Panji menarik napas dalam. Gue mulai menyayat kulit di sepanjang garis dada. Kulit kadaver itu tebal dan liat, rasanya kayak memotong kulit sepatu yang basah. Tekanannya harus pas. Pas mata pisau gue baru berjalan sekitar beberapa sentimeter, tiba-tiba... plop. Plop kenapa? tanyaku, penasaran. Mata kadaver itu terbuka, kata Panji datar. Aku tertegun. Rokok di tanganku gantung di udara. Maksud lo? Terbuka gimana? Terbuka. Sempurna. Kedua kelopak matanya yang tadinya terpejam rapat, tiba-tiba terangkat ke atas. Bola matanya yang sudah keruh dan putih karena efek jenuh formalin itu menatap lurus ke langit-langit laboratorium. Tepat di depan muka gue yang lagi merunduk menyayat dadanya. Bulu kudukku langsung berdiri sekejap. Rasanya ada angin dingin yang mendadak lewat di tengkukku. Anjir, Pan. Terus lo pada teriak? Kabur? Panji menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, sebuah senyuman khas orang yang sudah terbiasa melihat hal-hal ekstrem hingga akal sehatnya mengunci semua emosi spontan. Ngak. Kami nggak kabur. Anak kedokteran nggak boleh kabur cuma karena hal kayak gitu, ujar Panji. Temen sekelompok gue, cewek, cuma sempat narik napas dalem karena kaget. Dosen pembimbing yang lagi keliling langsung nyamperin meja kami karena denger suara pinset jatuh dari tangan temen gue yang satu lagi.
Terus dosen lo bilang apa? Itu... nggak hidup lagi kan? tanyaku bodoh. Ya nggaklah, Panji terkekeh. Di situlah bedanya anak kedokteran sama orang awam. Kami dilatih untuk selalu mikir rasional, objektif, dan berbasis ilmiah. Begitu matanya buka, otak gue langsung berputar mencari diagnosis kausalitas, bukan mikir soal kutukan atau hantu. Dosen gue cuma meriksa sebentar, lalu bilang, 'Ini biasa. Teruskan insisinya. Posisi sayatan kamu tadi merangsang tendon atau sisa jalur saraf yang mengontrol otot mata. Karena ada tekanan mekanis dari pisau kamu, ototnya menegang dan menarik kelopak mata.' Singkatnya, itu cuma stimulasi saraf mekanis akibat tekanan pisau bedah gue. Panji memakan sate ususnya dengan santai, seolah baru saja menceritakan kejadian kucing melompat dari pagar. Jadi, murni karena saraf? tanyaku memastikan, mencoba meredakan debar jantungku sendiri yang mendadak berpacu. Iya, secara medis dan rasionalitas ilmu anatomi, itu adalah penjelasan yang paling sahih. Ketika tubuh mati diawetkan, beberapa jaringan memang bisa mengalami kekakuan atau ketegangan instan kalau dapet trigger mekanis yang pas di jalurnya. Jadi, itu cuma reaksi biologis sisa dari sebuah mesin tubuh yang sudah mati.
Aku mengembuskan napas lega. Gila ya. Penjelasan ilmiah emang selalu bisa bikin tenang. Iya, secara teori, timpal Panji, suaranya mendadak berubah agak berat. Dia menatap sisa susu jahenya yang mulai mendingin. Maksud lo? Panji menatapku langsung ke dalam mata. Di bawah remang-remang lampu jalan, matanya yang kurang tidur itu terlihat sangat serius. Yang bikin gue merinding sampai sekarang bukan fakta bahwa mata itu terbuka karena hantu, Bro. Tapi fakta bahwa pikiran gue—dan pikiran semua orang di lab itu—sudah berubah jadi sangat dingin dan mekanis. Kami melihat mata manusia yang sudah mati terbuka di depan wajah kami, dan reaksi pertama kami adalah menganalisisnya sebagai kerusakan mesin atau stimulasi mekanis. Panji menjeda kata-katanya. Suasana di sekitar angkringan terasa semakin sunyi, hanya ada suara wajan bapak penjual yang sesekali berdentang. Coba lo bayangin, lanjut Panji dengan nada suara yang berbisik. Gue tetep ngelanjutin motong dada orang itu setelah gue tutup lagi matanya pakai tangan gue yang dilapisi sarung tangan karet. Tangan gue menyentuh kelopak matanya yang dingin dan kaku, memaksanya merem lagi, lalu gue balik megang pisau dan nerusin kerjaan gue: membelah dagingnya, memotong tulang rusuknya dengan gergaji kecil, mengeluarkan jantungnya yang sudah keras untuk ditimbang.
Aku menelan ludah. Rasa merinding yang kurasakan kali ini berbeda. Ini bukan ngeri karena takut setan, tapi ngeri membayangkan hilangnya batasan rasa kemanusiaan demi sebuah ilmu. Di saat itu gue mikir, kata Panji, suaranya nyaris tak terdengar. Apakah demi menjadi seorang penyembuh, kami harus mengorbankan sebagian dari rasa ngeri kami sebagai manusia? Kami dilatih untuk tidak merasakan apa-apa saat memotong-motong tubuh manusia. Kami membedah mereka di jam satu siang, lalu jam satu siang lewat lima belas menit kami sudah bisa makan nasi padang dengan tangan yang sama, tanpa merasa mual sedikit pun. Panji berdiri dari duduknya, merogoh saku celana pendeknya untuk mengambil uang dan membayar makanan. Yuk, balik. Udah jam dua belas lewat. Gue harus beres-beres kamar dulu sebelum tidur, ajaknya santai.
Kami berjalan kembali ke kosan dalam keheningan. Kata-kata Panji tentang pikiran mekanis itu terus berputar-putar di kepalaku. Sesampainya di kos, aku langsung masuk ke kamar, mengunci pintu, dan merebahkan diri di kasur. Namun, rasa kantukku mendadak hilang entah ke mana. Otakku terus membayangkan visualisasi yang diceritakan Panji tadi: sebuah ruang laboratorium yang sunyi, bau tajam formalin yang menusuk hidung, sebilah pisau bedah yang membelah kulit dada yang liat, dan sepasang mata keruh yang tiba-tiba terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit. Dan hal yang paling mengerikan adalah respons dari manusia di sekitarnya yang hanya menganggapnya sebagai simulasi saraf. Sebuah logika yang teramat dingin.
Sekitar jam satu pagi, dari balik dinding kamar sebelah, suara ritual malam Panji kembali terdengar. Srek... srek... srek... Dia sedang menyapu kamarnya. Aku berbaring di kegelapan, mendendangkan keheningan sambil mendengarkan suara sapu itu dengan seksama. Di dalam benakku, aku tidak bisa tidak menghubungkan dua hal: tangan yang beberapa bulan lalu menutup mata kadaver yang terbuka secara paksa itu, kini sedang memegang gagang sapu di sebelah kamarku, bergerak maju mundur dalam kesunyian malam. Dua jam kemudian, tepat pukul tiga pagi, suara itu berubah. Kopyok... kopyok... kopyok... sreeet... Panji sedang mencuci baju di kamar mandinya. Suara air yang mengguyur lantai terdengar sangat konsisten di tengah keheningan malam yang pekat. Aku berguling di atas kasur, menatap langit-langit kamarku sendiri. Rasa merinding kembali merayap di dadaku, bukan karena aku takut Panji membawa hantu dari laboratorium anatomi ke kosan ini. Sama sekali bukan.
Aku merinding karena aku menyadari sesuatu yang jauh lebih nyata: di sebelah kamarku, ada seorang manusia hidup yang saking sibuk dan tertekannya oleh tuntutan dunia kedokteran, telah mengubah dirinya menjadi sebuah entitas yang bergerak dengan logika yang teramat dingin. Jam biologisnya hancur, emosinya terlatih untuk tidak bergetar bahkan saat berhadapan dengan kematian, dan dia mencuci bajunya di jam tiga pagi dengan ketenangan yang sama seperti saat dia membedah dada seorang mati. Suara bilasan air dari kamar Panji perlahan berhenti menjelang subuh, digantikan oleh suara tarikan napas panjang yang samar dari balik dinding. Dia mungkin akhirnya merebahkan tubuhnya yang kelelahan di atas kasur, siap untuk bangun kembali tiga jam kemudian, kembali ke laboratorium, kembali berhadapan dengan tubuh-tubuh tanpa nyawa yang siap distimulasi sarafnya. Dan aku, di kamarku yang hangat, hanya bisa terdiam memeluk guling, merinding menyadari betapa sunyi dan dinginnya dunia yang harus dijalani oleh orang-orang yang mempersiapkan diri untuk menyelamatkan nyawa manusia.