Lampu-lampu hias yang bergelantungan di langit-langit tenda pernikahan itu masih menyala. Harusnya, malam itu menjadi malam yang paling membahagiakan bagi keluarga kami di Majene, Sulawesi Barat. Harusnya, aroma pandan dan melati yang menyeruak dari pelaminan menjadi pengantar tidur yang nyenyak bagi Kak Suparman, yang besok paginya akan mengucap janji suci di depan penghulu untuk menikahi Kak Evi Sahira.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk mematahkan hati manusia. Hanya dalam satu kejapan mata, sehari sebelum hari bahagianya, Kak Suparman pergi untuk selamanya. Sebuah kecelakaan tragis—sengatan listrik saat mempersiapkan dekorasi—merebutnya dari kami.
Di sinilah kisah ini bermula. Sebuah kisah tentang air mata yang belum kering, tentang sebuah janji yang harus ditepati, dan tentang saya, seorang adik yang rela menyerahkan seluruh hidupnya demi menyeka air mata orang-orang yang dicintainya.
Bagian 1: Kakak yang Menjadi Lentera Hidupku
Bagi orang lain, Suparman mungkin hanya seorang pemuda biasa di kampung ini. Namun bagiku, dia adalah pahlawan tanpa jubah. Sejak ayah kami tiada, Kak Suparman-lah yang melipat lengan bajunya, bekerja membanting tulang tanpa pernah mengeluh, demi memastikan perut kami tidak kelaparan dan sekolahku tetap berjalan.
Aku ingat betul bagaimana telapak tangannya yang kasar sering mengusap kepalaku.
"Belajar yang rajin, Dek. Biar Kakak saja yang capek kerja kasar. Kamu harus punya masa depan yang lebih baik," katanya suatu sore, sambil menyerahkan sisa uang upah harian yang dijaganya ketat-ketat di dalam saku celananya yang kumal.
Jasa Kak Suparman tidak akan pernah bisa kuhitung, bahkan jika aku menghabiskan seluruh sisa umurku untuk mengingatnya. Dia rela menunda kebahagiaannya sendiri bertahun-tahun demi mengutamakan kebutuhanku. Dia memakai baju yang itu-itu saja hingga warnanya memudar, hanya agar aku bisa membeli seragam sekolah baru. Kasih sayangnya begitu tulus, begitu besar, hingga mengakar kuat di dalam dadaku. Aku selalu berjanji dalam hati, suatu hari nanti, aku akan membahagiakan Kak Suparman. Aku akan membalas semua jasanya.
Ketika dia datang kepadaku dengan wajah berseri-seri beberapa bulan lalu, menceritakan tentang gadis pilihan hatinya, Evi Sahira, aku adalah orang pertama yang melompat kegirangan. Aku melihat binar bahagia yang jarang sekali muncul di matanya. Kakakku akhirnya menemukan tambatan hati. Dia akhirnya akan berbahagia.
Namun, mengapa takdir sekejam ini?
Bagian 2: Hari yang Lumpuh
Sehari sebelum pernikahan, rumah kami sudah ramai oleh tetangga yang membantu mempersiapkan segala hal. Sesuai tradisi Mandar di Majene, riuh rendah tawa dan kesibukan memasak memenuhi udara. Kak Suparman terlihat begitu bersemangat. Dia ingin memastikan segala sudut tempat pernikahannya nanti tampak sempurna untuk Evi.
Lalu, petaka itu datang tanpa permisi.
Sebuah kabel telanjang, jepitan arus yang salah, dan jeritan yang membelah langit sore. Aku berlari sekuat tenaga, namun yang kutemukan adalah tubuh kakakku yang sudah terkulai lemah akibat sengatan listrik. Kami melarikan beliau ke puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit dengan kepanikan yang membakar dada. Aku terus menggenggam tangannya yang mulai mendingin, membisikkan doa-doa yang terputus oleh tangis.
"Kak, bangun... besok Kakak mau nikah. Kakak tidak boleh pergi dulu..."
Tepat di hari itu, napas terakhir Kak Suparman berembus. Malaikat maut menjemputnya di waktu yang paling tidak terduga. Dunia seolah runtuh. Ibu pingsan berkali-kali, histeris memeluk kain kafan yang mulai membalut tubuh tegap yang biasanya melindungi kami.
Di sudut lain, berita ini sampai ke telinga keluarga Kak Evi Sahira. Di hari yang seharusnya dipenuhi rias pengantin dan senyum simpul, Kak Evi duduk bersimpuh di kamarnya dengan air mata yang mengalir deras, menghapus riasan tipis yang belum sempat sempurna. Undangan sudah tersebar, makanan sudah dimasak, tenda sudah berdiri tegak. Dan yang paling menyakitkan, kehormatan dan nama baik sebuah keluarga besar kini berada di ujung tanduk di tengah duka yang mencekam.
Bagian 3: "Biarkan Aku yang Menggantikan, Kak"
Malam setelah jenazah Kak Suparman dimakamkan, rumah kami berubah menjadi sunyi yang mencekam. Di antara sisa asap lilin dan aroma tanah kuburan yang masih basah, kedua belah pihak keluarga duduk berkumpul. Suasana begitu berat. Isak tangis Ibu yang tersendat-sendat memecah keheningan.
Pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan begitu saja. Beban sosial, adat, dan rasa malu di masyarakat Mandar bukanlah perkara kecil. Terlebih, rasa sayang keluarga kami kepada Kak Evi sudah sangat mendalam. Namun, bagaimana mungkin melanjutkan pernikahan tanpa ada pengantin pria?
Di saat itulah, wajah Kak Suparman yang tersenyum terbayang di pelupuk mataku. Aku mengingat setiap tetes keringatnya yang jatuh demi menghidupiku. Aku mengingat impian-impiannya yang terkubur bersama jasadnya di dalam tanah.
Jika Kak Suparman masih ada di sini, apa yang paling dia inginkan? Dia pasti ingin menjaga nama baik Ibu, dia pasti ingin wanita yang dicintainya tidak menanggung malu dan kesedihan yang berlarut.
Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku sesak, namun keyakinan ini mendadak mengalir seperti arus deras di dalam darahku. Aku menatap Ibu, lalu menatap orang tua Kak Evi.
"Biar... biar saya yang menggantikan Kak Suparman untuk menikahi Kak Evi," ucapku, lirih namun tegas.
Seketika, ruangan itu senyap. Ibu menatapku dengan mata yang sembab, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu yakin, Nak? Ini bukan perkara main-main. Ini urusan seumur hidup," bisik seorang tetua adat.
Aku mengangguk perlahan. Air mataku jatuh, namun bukan karena ragu. Aku melakukannya demi baktiku pada almarhum Kak Suparman. Ini adalah satu-satunya dan hal terakhir yang bisa kulakukan untuk membalas jutaan kebaikannya. Aku rela menyerahkan masa mudaku, rencana masa depanku, dan ego remajaku. Aku akan menjaga wanita yang dicintainya. Aku akan memikul tanggung jawab yang ditinggalkannya. Aku ingin Kak Suparman tersenyum di alam sana, melihat bahwa adiknya tidak membiarkan impiannya hancur berantakan.
Bagian 4: Kursi Kosong Sang Penghulu
Keesokan harinya, suasana di lokasi pernikahan sangatlah ganjil. Tidak ada tabuhan rebana yang bertalu-talu penuh kegembiraan. Yang ada hanyalah bisik-bisik tetangga dan raut wajah tegang.
Aku duduk di hadapan meja akad nikah, mengenakan pakaian pengantin yang sedianya dijahit untuk tubuh Kak Suparman. Bajunya sedikit longgar di badanku, seolah mengingatkanku betapa besarnya tanggung jawab dan 'sepatu' yang harus kupakai mulai hari ini. Di sebelahku, duduk Evi Sahira. Wajahnya tertutup cadar tipis, namun bahunya yang berguncang hebat menceritakan betapa hancur hatinya. Dia kehilangan kekasihnya, dan kini harus menikah dengan adik dari pria yang dicintainya.
Namun, ujian hari itu belum selesai.
Saat waktu akad tiba, kursi untuk Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) daerah setempat tetap kosong. Petugas KUA tidak hadir di acara tersebut. Kabar itu datang bak petir di siang bolong bagi keluarga kami yang sudah terlanjur didera duka.
Pihak KUA menjelaskan bahwa secara administratif, mereka tidak bisa menghadiri atau mengesahkan pernikahan ini pada hari itu juga. Calon mempelai pria yang terdata di berkas resmi adalah almarhum Suparman, dan beliau telah dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, berkas-berkas atasku—sang adik yang menggantikan—sama sekali belum ada yang masuk atau dilengkapi. Secara hukum negara, pernikahan ini belum bisa dicatatkan saat itu juga.
Mendengar hal itu, bisik-bisik di luar tenda semakin riuh. Ada yang mencemooh, ada yang memandang kasihan. Namun, keputusan telah bulat. Di hadapan tokoh agama, imam kampung, dan para saksi dari kedua belah pihak keluarga, pernikahan ini tetap harus dilangsungkan secara agama terlebih dahulu demi menyelamatkan keadaan dan menunaikan hajat yang tertunda.
Aku menjabat tangan wali nikah dengan gemetar. Di dalam benakku, aku tidak sedang melihat wajahku sendiri. Aku melihat bayangan Kak Suparman berada di sebelahku, menguatkan pundakku.
Dengan satu napas, di bawah saksi langit Majene yang mendung, aku mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikahnya Evi Sahira binti..."
Suaraku bergetar di akhir kalimat, menyatu dengan isak tangis Ibu dan para kerabat yang pecah di dalam ruangan. Sah. Di mata Tuhan dan di mata adat kami, kini aku telah menjadi suami dari wanita yang kemarin adalah calon kakak iparku.
Bagian 5: Meniti Hikmah di Balik Badai
Setelah para tamu perlahan pulang dan malam kembali merayap di tanah Majene, rumah kami kembali sepi. Tidak ada malam pertama yang penuh tawa romantis. Kami berdua, aku dan Kak Evi—yang kini harus kubiasakan memanggilnya dengan sebutan istri—duduk di ruang tengah yang berantakan oleh sisa kursi lipat.
Kami berdua adalah dua manusia yang sama-sama kehilangan. Dia kehilangan belahan jiwanya, dan aku kehilangan sandaran hidupku. Kami dipersatukan bukan oleh rajutan cinta masa muda, melainkan oleh rasa hormat, pengorbanan, dan bakti yang mendalam kepada satu nama: Suparman.
Aku menatapnya yang masih menunduk seolah menatap lantai yang kosong.
"Kak... maaf, maksudku, Evi," ujarku terbata-bata. "Aku tahu aku bukan Kak Suparman. Aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya di hatimu. Aku pun tahu, aku belum sehebat dia dalam mencari nafkah dan menjagamu."
Aku menarik napas sejenak, menahan air mata yang mendesak keluar.
"Tapi aku berjanji, demi nama baik Kak Suparman, demi baktiku padanya yang sudah menghidupiku sejak kecil, aku akan menjaga dirimu seumur hidupku. Aku akan bekerja keras sepertinya. Aku tidak akan membiarkanmu terlantar. Mari kita jalani takdir ini sama-sama."
Evi perlahan mengangkat wajahnya. Di balik sisa air mata yang mengering di pipinya, ada seulas senyum tipis yang dipaksakan—sebuah tanda terima kasih atas kerelaan hati seorang adik yang mengorbankan masa depannya demi sebuah kehormatan.
Penutup: Doa yang Mengangkasa
Pernikahan kami mungkin bermula dari sebuah tragedi yang menyayat hati. Pernikahan kami mungkin sempat terhambat oleh urusan administrasi KUA yang belum lengkap. Namun, kami percaya bahwa catatan di atas kertas bisa diurus kemudian hari, sementara catatan niat baik di hadapan Allah telah tertulis dengan tinta emas.
Setiap malam, saat aku menatap sajadah tempatku berdoa, aku selalu menyelipkan nama Kak Suparman di dalamnya.
“Kak, lihatlah dari sana. Adik kecilmu ini sekarang sudah dewasa. Aku sudah menepati janjiku untuk menjagamu, dengan cara menjaga apa yang paling kamu cintai di dunia ini. Tenanglah di sana, Kak. Jasamu akan terus hidup lewat caraku memperlakukan istrimu.”
Waktu akan terus berjalan di Majene. Kami akan melengkapi berkas-berkas yang kurang, kami akan mendaftarkan pernikahan ini secara sah di mata hukum negara. Dan yang terpenting, kami akan belajar untuk saling menyayangi, bukan sebagai pelampiasan atas kehilangan, melainkan sebagai bentuk ibadah tertinggi.
Manusia hanya bisa berencana dengan seindah-indahnya, namun ketetapan Allah-lah yang mutlak terjadi. Di balik air mata, di balik ketidakhadiran penghulu hari itu, dan di balik pergantian mempelai yang tak lazim ini, semoga ji ada hikmah kebaikan di balik pernikahan ini. Semoga Tuhan merahmati jalan baru yang kami tempuh atas dasar bakti, cinta, dan ketulusan yang tiada tara. Amin.