Ada orang-orang yang menyimpan luka mereka di dalam laci, terkunci rapat, lalu kuncinya dibuang ke laut. Namun aku menyimpan lukaku pada lembar-lembar kertas, dan anehnya, aku tidak pernah benar-benar ingin menguncinya. Aku ingin seseorang membaca, meski tak satu pun dari mereka tahu bahwa yang mereka baca adalah tentangku.
Namaku Anaya. Aku seorang penulis, atau begitulah orang-orang menyebutku setelah buku kesebelasku terbit. Tapi aku tahu apa diriku yang sebenarnya: seseorang yang tidak pernah bisa berbicara langsung tentang apa yang ia rasakan, lalu menemukan bahwa kertas tidak pernah memotong pembicaraan, tidak pernah pergi di tengah cerita.
Aku menulis bukan karena aku pandai merangkai kata-kata. Aku menulis karena ada hal-hal dalam hidupku yang terlalu rumit untuk diucapkan, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Jadi aku memilih untuk menulisnya. Aku mengubahnya dengan sebutan tokoh lain, kota lain, dan nama yang lain. Tapi yang merasakan semua itu, selalu aku.
---
Aku bertemu Gaharu pada bulan yang tidak akan pernah aku tulis tanggalnya, sebab beberapa hal terlalu sakral untuk dijadikan angka. Waktu itu aku sedang duduk di sudut sebuah toko buku tua, mencari satu judul yang sudah lama tidak dicetak ulang, dan dia berdiri di rak sebelah, membaca punggung buku satu per satu seperti sedang membaca punggung tangan seseorang yang ia sayangi.
"Kamu mencari sesuatu, atau menghindar dari sesuatu?" tanyanya, tanpa menoleh.
Aku ingat aku tertawa, bukan karena pertanyaannya lucu, tapi karena ia tepat. Aku sedang menghindar. Dari tenggat tulisan, dari telepon ibu yang menanyakan kapan aku akan "berhenti main-main dengan tulisan dan mencari pekerjaan yang benar," dari diriku sendiri yang akhir-akhir ini terlalu sering menulis tentang kesepian seolah itu adalah satu-satunya bahasa yang aku kuasai dengan baik.
Gaharu punya cara berbicara yang membuat orang merasa didengar tanpa harus menjelaskan apa pun. Ia tidak banyak bertanya "kenapa", ia lebih sering bertanya "lalu, bagaimana rasanya?" Dan aku, yang seumur hidup menulis tentang perasaan orang lain, baru sadar betapa jarang ada orang yang menanyakan hal itu kepadaku secara langsung.
Kami mulai bertukar buku. Lalu bertukar cerita. Lalu, entah kapan tepatnya, kami mulai bertukar diam—diam yang nyaman, diam yang tidak perlu diisi dengan apa-apa karena keduanya sudah cukup mengerti.
Aku menulis tentang dia di banyak cerita setelah itu, meski selalu dengan nama yang berbeda. Tapi siapa pun yang membaca tulisanku dengan teliti akan menemukan pola yang sama yaitu, laki-laki yang datang membawa pertanyaan-pertanyaan sederhana, dan tanpa sadar membongkar kamar-kamar dalam diriku yang sudah lama aku terkunci.
---
Aku belajar satu hal dari Gaharu, sesuatu yang tidak pernah diajarkan di bangku mana pun: bahwa cinta tidak selalu datang sebagai badai. Kadang ia datang sebagai hujan gerimis yang turun pelan-pelan, yang baru kamu sadari ketika sudah membasahi seluruh tubuhmu, ketika kamu mencoba berlindung dan menyadari payungmu sudah lama bocor.
Aku menyayanginya dengan cara yang mungkin tidak biasa untuk kebanyakan orang—aku menyayanginya melalui tulisan, lebih sering daripada melalui kata-kata langsung. Aku menulis surat-surat yang tidak pernah aku kirim, menyimpannya dalam folder bernama "Untuk Tidak Dikirim," sebuah folder yang isinya semakin penuh setiap bulan.
Aku pikir, mungkin begitu cara aku mencintai, dengan menulis cinta itu lebih banyak daripada mengucapkannya, sebab kata-kata yang terucap bisa salah ditafsirkan, sementara tulisan bisa aku ulang, aku perbaiki, aku sempurnakan sebelum dunia membacanya. Tapi cinta bukan tulisan. Cinta tidak menunggu draf kedua.
Gaharu pernah berkata, "Anaya, kamu menulis tentang perasaanmu dengan sangat indah, tapi kamu jarang mengatakannya langsung padaku."
Aku tidak menjawab waktu itu. Aku hanya menulis jawabannya nanti, sendirian, di kamar, dengan lampu yang sengaja aku redupkan supaya air mata yang jatuh tidak terlalu kentara, meski tidak ada siapa-siapa yang melihatnya selain diriku sendiri.
---
Kami berpisah bukan karena ada yang mengkhianati siapa, dan bukan karena cinta yang habis. Kami berpisah karena ada saat di mana dua orang yang saling menyayangi menyadari bahwa jalan mereka, untuk alasan yang sulit dijelaskan dengan rapi, tidak lagi sejajar. Gaharu pergi ke kota lain untuk pekerjaan yang ia perjuangkan bertahun-tahun, dan aku, aku yang selalu menulis tentang keberanian orang lain untuk melepaskan—ternyata tidak cukup berani untuk meminta dia tetap tinggal, atau untuk berkata bahwa aku akan ikut.
Hari kami berpisah, kami tidak bertengkar. Kami hanya duduk di kafe yang sama tempat kami pertama kali benar-benar mengenal satu sama lain, memesan minuman yang sama, dan berbicara dengan suara yang lebih tenang daripada yang aku kira sanggup aku keluarkan.
"Aku akan baik-baik saja," kataku, lebih untuk menenangkan diriku sendiri daripada dia.
"Aku tahu," jawabnya. "Kamu selalu menemukan cara untuk baik-baik saja. Itu yang membuatku sayang, dan juga, kadang, yang membuatku khawatir."
Aku tidak menulis tentang perpisahan itu selama berbulan-bulan. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada luka yang terlalu segar untuk dijadikan kalimat. Aku takut, jika aku menuliskannya terlalu cepat, aku hanya akan mengabadikan rasa sakitnya, bukan apa yang ia ajarkan padaku.
---
Waktu berjalan, seperti biasa ia berjalan, tanpa peduli apakah hati kita sudah siap atau belum. Aku kembali menulis, perlahan, dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi menulis untuk menyembunyikan sesuatu dari dunia. Aku menulis untuk menemukan, satu per satu, bagian dari diriku yang sempat aku titipkan pada orang lain, pada Gaharu, pada tempat-tempat yang kami kunjungi bersama, pada buku-buku yang kami beli berdua di toko itu.
Aku belajar bahwa menyayangi diri sendiri bukan berarti berhenti menyayangi orang yang sudah pergi. Itu berarti belajar membawa kenangan tanpa harus dibebani olehnya, seperti membawa buku favorit dalam tas berat, tapi bukan beban, sebab kita memilih untuk tetap membawanya.
Beberapa bulan setelah perpisahan kami, aku menulis sebuah cerita pendek yang akhirnya aku beri judul sama dengan apa yang selalu aku rasakan tapi tak pernah berani aku ucapkan, tentang seseorang yang pergi bukan karena tidak cinta, tapi karena cinta saja, ternyata, tidak selalu cukup untuk menyatukan dua arah yang berbeda.
Cerita itu aku tutup dengan kalimat yang aku tulis ulang tujuh kali sebelum akhirnya aku biarkan begitu saja, tanpa diperbaiki lagi, bahwa kadang kita tidak kalah dalam cinta, kita hanya menyelesaikannya dengan cara yang lebih tenang daripada yang kita bayangkan.
---
Sekarang, ketika aku menulis tentang Gaharu, aku tidak lagi menulis dengan luka di dada. Aku menulis dengan rasa terima kasih, kepada seseorang yang pernah mengajarkanku bahwa menjadi didengar adalah salah satu bentuk cinta yang paling jujur, dan bahwa melepaskan, jika dilakukan dengan utuh, bisa menjadi bentuk cinta yang lain lagi.
Aku masih menulis surat-surat yang tidak pernah aku kirim. Tapi sekarang folder itu aku beri nama baru: "Untuk Diriku yang Dulu." Sebab aku sadar, mungkin sejak awal, surat-surat itu tidak pernah benar-benar ditujukan untuk Gaharu. Surat-surat itu ditujukan untuk perempuan yang masih belajar bagaimana caranya berkata "aku menyayangimu" tanpa harus menunggu draf kedua, tanpa harus menunggu sampai semua kata terasa sempurna.
Aku masih bertemu banyak manusia setelah Gaharu, di toko buku, di kereta, di antara baris-baris komentar pembaca yang mengatakan bahwa cerita-ceritaku membuat mereka merasa tidak sendirian. Aku belajar dari setiap dari mereka. Aku belajar bahwa setiap orang membawa luka yang berbeda, namun bahasa yang sama yaitu, keinginan untuk didengar, untuk diingat, untuk tidak menghilang begitu saja dari dunia tanpa jejak.
Dan barangkali, itulah alasan aku menulis. Bukan untuk menjadi penulis yang hebat. Bukan untuk dikenal. Tapi untuk meletakkan, satu per satu, perasaan yang tidak memiliki nama, ke tempat yang lebih aman daripada hatiku sendiri, ke dalam kalimat, ke dalam cerita, ke dalam dunia yang mungkin tidak akan pernah tahu bahwa setiap tokoh yang aku ciptakan, sedikit banyak, adalah aku yang sedang belajar untuk terus hidup.
Aku Anaya. Dan ini bukan cerita tentang Gaharu, atau tentang patah hati, atau tentang kehilangan.
Ini cerita tentang seseorang yang belajar, melalui semua itu, untuk akhirnya berdamai, dengan cinta yang pernah ada, dengan perpisahan yang tidak pernah benar-benar disengaja siapa pun, dan dengan dirinya sendiri, yang ternyata, sepanjang waktu, juga layak untuk disayangi sepenuh hati yang ia berikan kepada orang lain.