Bab 1
Pikiran Erik benar-benar hanya dipenuhi oleh keselamatan anak haramnya. Namun, pernahkah pria itu memikirkan bahwa Zia lahir prematur? Sejak kecil, putri mereka itu selalu lemah dan sering sakit-sakitan.
Bagaimana mungkin tubuh ringkih Zia bisa bertahan setelah kehilangan satu ginjalnya?
Lampu ruang operasi yang menyala merah bagaikan pedang yang bergantung tepat di atas kepala Vanya. Suaranya bergetar hebat.
"Erik, anak haram itu memang anakmu, tapi apa Zia bukan anakmu juga?!"
"Aku mohon sama kamu, suruh mereka hentikan operasinya, ya?"
Di akhir kalimatnya, air mata Vanya luruh berjatuhan ke lantai.
Erik yang merasa îba mengecup sudut mata istrinya yang basah, tetapi dekapannya sama sekali tidak mengendur.
"Vanya, kamu tenang aja. Cuma kehilangan satu ginjal, Zia nggak bakal kenapa-napa kok."
Vanya benar-benar kecewa mendengarnya. Dia memberontak sekuat tenaga, lalu menggigit bagian antara ibu jari dan telunjuk Erik dengan amat keras.
Bahkan hingga rasa anyir darah tercecap di mulut Vanya, Erik tidak melepaskan cengkeramannya, tetap mengunci tubuh wanita itu di tempatnya tanpa bergeming.
Entah berapa lama waktu telah berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.
Dokter keluar dari sana, membawa sebuah kotak khusus sambil berjalan terburu-buru menůju lantai atas.
Wajah Erik langsung berubah gembira.
Dia seketika melepaskan cengkeramannya, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa.
Vanya langsung berlari tertatih-tatih menerobos masuk ke dalam ruang operasi.
Melihat putri kecilnya terbaring di atas meja operasi dengan wajah yang pucat, rasa bersalah yang teramat sangat seketika datang menggulung dan menenggelamkan perasaannya.
"Zia, maafin Ibu. Ibu datang terlambat, maafin Ibu."
Zia membuka matanya dengan lemah.
Tangan mungilnya berusaha terangkat, mengusap pipi Vanya.
"Ibu, Ayah bilang, dia mau ajak aku ke taman hiburan? Tapi, kenapa aku malah di rumah sakit? Apa Zia nakal dan bikin Ayah marah?!!
Mendengar suara putrinya yang kebingungan, hati Vanya terasa seperti diiris-iris. Tenggorokannya tercekat, tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.
Bagaimana bisa dia mengatakan kepada putrinya yang baru berusia lima tahun itu bahwa dia sama sekali tidak salah? Kenyataan pahitnya adalah, Erik, ayahnya sendiri, saat ini hanya memedulikan anak haramnya dan tidak ada lagi tempat untuk Zia di hatinya.
Kenyataan sekejam itu, mana mungkin bisa ditanggung oleh anak sekecil Zia?
Kesedihan di mata Zia tampak makin dalam dan air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Tapi, kata Ayah, Ayah paling sayang sama Zia dan Ibu? Katanya Ayah nggak bakal pernah marah sama kita berdua."
Vanya tidak sanggup lagi menahannya.
Tangisnya pecah seketika.
Dulu, orang yang paling Erik cintai memang hanya dia dan Zia. Namun, sekarang, semuanya sudah berubah.
Erik dikenal sebagai sosok pebisnis
yang bertangan dingin dan tak tersentuh di dunia korporat. Sementara Vanya, istrinya yang juga merupakan teman masa kecilnya, adalah satu-satunya pengecualian tempat Erik mencurahkan seluruh kelembutannya.
Hanya karena Vanya mengeluh tidak enak badan, Erik rela membatalkan kerja sama bernilai ratusan miliar malam itu juga, lalu terbang kembali dari luar negeri demi bisa merawat Vanya langsung di sisi ranjang.
Hanya karena Vanya memandangi sebuah barang antik beberapa detik lebih lama, Erik akan mengerahkan segala cara untuk menemukan pemiliknya, bahkan rela membayar jauh di atas harga pasaran demi membelinya.
Begitu Vanya hamil, Erik makin memanjakannya, menuruti apa pun yang dia inginkan.
Orang-orang bilang, pernikahan kalangan elite pada akhirnya akan merenggang dan berujung pada kebohongan masing-masing.
Akan tetapi, saat itu Vanya sangat percaya bahwa dia dan Erik adalah pengecualian.
Sampai akhirnya, saat usia kandungannya menginjak tujuh bulan, dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri pria itu sedang tidur bersama dengan seorang mahasiswi.
Hari itu, Vanya yang syok berat sampai mengalami kontraksi. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa melahirkan Zia secara prematur.
Erik berlutut di sisi ranjang rumah sakit. Pria yang biasanya selalu angkuh itu menampar wajahnya sendiri berkali -kali dengan keras. Dengan pipi yang merah dan bengkak, dia memohon ampun pada istrinya, "Vanya, aku dijebak orang. Kamu harus percaya sama aku, aku nggak pernah ada niat sedikit pun buat khianatin kamu."
Melihat putri mereka yang baru saja lahir, hati Vanya pun melunak.
Erik kemudian memberikan sejumlah uang kepada mahasiswi itu untuk menyuruhnya pergi jauh, lalu kembali melanjutkan perannya sebagai suami dan ayah yang baik.
Sampai akhirnya sebulan yang lalu, Vanya tidak sengaja melihat Erik sedang menggandeng seorang anak laki-laki bersama seorang wanita.
Wajah anak laki-laki itu benar-benar cetakan sempurna dari Erik versi kecil!
Wanita itu langsung melindungi bocah itu di balik punggungnya, menatap Vanya dengan pandangan keras kepala.
"Bu Vanya, Noah cuma anak aku, Nadia Armani, seorang. Dia nggak bakal pernah merebut perusahaan Keluarga Gunawan dari putrimu."
Wajah Erik seketika menunjukkan kepanikan yang jarang sekali terlihat.
Dia langsung memeluk Vanya erat-erat dan berusaha menjelaskan semuanya.
"Vanya, dia itu mahasiswi dari malam lima tahun lalu itu, malam saat aku dijebak obat perangsang."
Saat itulah Vanya baru mengetahui bahwa insiden lima tahun lalu ternyata membuat Nadia hamil.
Wanita itu memilih melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian.
Belum lama ini, Nadia membawa anak itu ke Grup Gunawan untuk dokter yang bisa ke sini buat menyelamatkannya."
Tubuh Vanya gemetar hebat saat dia merogoh ponselnya dengan raut wajah yang luar biasa panik.
"Aku telepon dia sekarang!"
Vanya terus mencoba hingga 18 kali panggilan, tetapi teleponnya sama sekali tidak diangkat.
Vanya masih belum menyerah. Dia kembali menekan tombol panggil untuk ke-19 kalinya.
Telepon itu akhirnya diangkat.
"Erik, Zia ...."
'Tiiiiiiiitt!
Semua layar monitor medis mendadak berubah menjadi satu garis lurus, memekikkan suara alarm yang melengking panjang.
Vanya seketika membeku di tempatnya. Dia menatap kosong ke arah putrinya yang kini terbaring kaku di atas meja operasi.
Dari seberang telepon, terdengar suara Erik yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Vanya, tadi Noah baru aja selesai operasi. Operasinya sukses besar, dia udah nggak apa-apa sekarang."
"Kenapa telepon sampai berkali-kali begini? Apa Zia udah bangun dan nyariin aku? Aku ke sana sekarang, ya."
Vanya memejamkan matanya, suaranya terdengar serak.
"Nggak usah."
Baik Zia maupun dirinya, tidak akan pernah membutuhkan Erik lagi.
*****
Bab 2
Perawat itu menatap Vanya dengan tatapan iba. Dia mencabut semua kabel instrumen medis lalu melangkah pergi, memberikan ruang bagi ibu yang baru saja kehilangan anaknya itu.
Begitu pintu ruang operasi tertutup rapat, seluruh kekuatan di tubuh Vanya seakan terkuras habis. Dia mendadak ambruk dan terduduk lemas di lantai. Tatapan matanya kosong, menyisakan kesunyian yang mematikan.
Bayangan saat Zia baru lahir yang masih begitu mungil, saat Zia pertama kali bisa memanggilnya Ibu, saat Zia pertama kali bisa berdiri ....
Segala kenangan masa lalu terus berputar di benak Vanya, hingga akhirnya ingatan itu terpaku pada sosok Zia yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi di atas meja operasi yang dingin.
Rasa sakit yang teramat sangat menjalar hingga meremukkan seluruh dadanya, tetapi kini dia bahkan tidak bisa mengeluarkan setetes air mata pun.
Entah berapa lama waktu telah berlalu, Vanya perlahan bangkit berdiri. Dia mendekap tubuh dingin Zia ke dalam pelukannya, lalu menimangnya dengan lembut, persis seperti saat dia menidurkan putrinya itu sewaktu bayi.
"Zia, Ibu bawa kamu pergi dari şini."
Kedua kakinya terasa begitu berat bagai dihujani timah. Setiap langkah yang diambilnya terasa sangat sulit dan menyiksa.
Tepat di depan pintu ruang operasi, Vanya berpapasan dengan Erik yang datang dengan tersenyum lebar.
"Vanya, Noah udah keluar dari ruang operasi dengan selamat. Aku ke sini mau jenguk Zia.",
Selamat?
Vanya menggigit bibirnya kuat-kuat, hatinya terasa sangat perih hingga membuatnya sesak napas.
Keselamatan anak haram pria itu harus dibayar mahal dengan nyawa Zia!
"Zia nggak butuh Ayah yang nggak sayang sama dia."
Senyum Erik seketika membeku dj wajahnya, gurat penyesalan dan kepedihan samar mulai terpancar di wajahnya.
"Vanya, mana mungkin aku nggak sayang sama Zia? Dia itu anak perempuan paling berharga buat aku, putri kecil yang selalu aku jaga sepenuh hati."
"Kalau bisa, aku bahkan rela gantiin dia buat nanggung semua rasa sakit di dunia ini. Zia cuma perlu tumbuh besar dengan bahagia, tanpa beban dan tanpa rasa khawatir."
Kalimatnya terdengar begitu tulus dan meyakinkan, benar-benar memperlihatkan sosok seorang ayah yang sempurna.
Detik berikutnya, Vanya tertawa, tawa getir yang dipenuhi rasa hampa yang teramat sangat di dalam dadanya.
'Tapi, Erik, rasa sakit terbesar dalam hidup Zia itu justru datangnya dari kamu!!
"Sayang? Kalau kamu emang sayang sama Zia, mana mungkin kamu tega nyeret dia ke meja operasi? Kamu tahu nggak...."
'Sampai detik-detik terakhirnya pun, dia masih mikir kalau dia udah bikin salah makanya kamu buang ke rumah sakit. Dia bahkan masih sempat minta maaf sama kamu.'
Kalimat selanjutnya tertahan di tenggorokan Vanya, menyumbat semua kata hingga tidak ada lagi yang bisa keluar.
Melihat sepasang mata Vanya yang merah, dada Erik berdenyut nyeri. Dengan nada suara panik, dia berusaha membela diri.
"Aku janji ini yang pertama dan terakhir kalinya. Kondisi Noah bener-bener kritis, dia nggak bisa nunggu donor lain lebih lama lagi. Lagian, mereka 'kan kakak adik....."
Begitu menyadari wajah Vanya yang justru makin pucat, Erik langsung menghentikan kalimatnya dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Zia belum sadar dari obat biusnya? Sini biar aku aja yang gendong dia ke kamar rawat, aku bakal jagain dia sampai siuman."
Pelukan Vanya pada tubuh Zia seketika mengetat. Rasa duka yang teramat dalam kini mencekik dirinya layaknya jaring laba-laba raksasa, mengurungnya rapat-rapat hingga dia tidak lagi bisa bernapas.
Siuman?
Pria itu masih belum tahu kalau Zia tidak akan pernah bisa bangun lagi untuk selamanya.
Tepat satu detik sebelum kedua tangan Erik menyentuh tubuh Zia, seorang pengawal berlari tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Pak Erik, Tuan Muda sudah sadar.
Dia menangis terus mencari Anda.
Katanya kalau nggak melihat Anda, dia mau mencabut paksa selang infusnya.
Bahkan Nona Nadia pun nggak sanggup menenangkannya."
"Dia baru selesai operasi, kenapa malah bikin ulah begini!" Erik menegurnya dengan nada kesal, tetapi sorot mata dan wajahnya jelas dipenuhi kecemasan.
Dia perlahan menarik kembali tangannya yang menggantung di udara, lalu menatap Vanya dengan tatapan rasa bersalah.
"Vanya, kamu jagain Zia dulu sebentar, ya? Aku janji bakal langsung balik ke sini begitu Noah udah tenang."
"Erik," panggil Vanya dengan nada suara yang luar biasa tenang dan dingin. "Ini kesempatan terakhirmu."
Begitu pria itu melangkah pergi dari sini, seumur hidup dia tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk melihat wajah Zia.
Akan tetapi, Erik justru salah menangkap maksud kalimat itu. Dia mengira Vanya mulai melunak dan memaafkan perbuatannya hari ini, sehingga dia malah bernapas lega.
"Begitu Noah sembuh dan mereka berdua pergi, aku janji bakal luangin waktu penuh buat nemenin kamu sama Zia. Kita bakal kayak dulu lagi, tetap jadi keluarga kecil bertiga yang bahagia."
Sambil mendekap erat tubuh Zia, Vanya hanya berdiri diam di tempatnya. Dia menatap punggung Erik yang melangkah pergi dengan tergesa-gesa, sementara sudut bibirnya membentuk seulas senyum penuh sarkasme.
Keluarga kecil bertiga yang dulu Mulai hari ini, tidak akan pernah bisa kembali lagi.
......
Vanya membawa jasad Zia ke rumah duka.
Dia menyaksikan sendiri bagaimana putri kecilnya yang dulu hidup dan ceria itu akhirnya berubah menjadi
segenggam abu yang ringan.
Sepanjang proses itu, dia tetap tidak bisa mengeluarkan setetes air mata pun, benar-benar seperti mayat hidup.
Vanya meminta pemilik tempat itu untuk memasukkan abu Zia ke dalam sebuah guci kecil dan merangkainya menjadi kalung untuk dipakai di lehernya.
Dibandingkan sendirian di bawah tanah, Zia pasti lebih ingin selalu bersamanya setiap saat.
Keluar dari rumah duka, Vanya langsung pergi ke kantor pengacara.
"Aku mau menandatangani surat perceraian yang dibuat empat tahun lalu."
Sehari setelah Erik tidur dengan mahasiswi itu, Erik sendiri yang menyusun surat perceraian ini, lalu menandatanganinya tepat di hadapan Vanya.
Saat itu dia berkata, "Vanya, kalau sampai aku mengkhianatimu lagi, kamu tinggal tanda tangani surat ini, ceraikan aku, dan tinggalkan aku untuk selamanya!"
Vanya mengira, seumur hidup dia tidak akan pernah melihat surat perceraian ini lagi.
Siapa yang menyangka bahwa hanya dalam waktu lima tahun, surat ini kembali muncul di hadapannya.
Vanya menerima dokumen tersebut, lalu menorehkan tanda tangannya dengan sangat mantap dan sungguh-sungguh.
*****
Bab 3
Begitu kembali ke vila, Vanya secara refleks melangkah masuk ke dalam kamar Zia.
Kamar itu tampak sangat rapi, sama sekali tidak ada yang berubah sejak mereka tinggalkan tadi pagi.
Akan tetapi, tempat ini tidak akan pernah lagi dipenuhi oleh gelak tawa seperti dulu.
Tatapannya menyapu setiap sudut kamar inci demi inci, hingga akhirnya terpaku pada sebuah boneka di atas nakas tempat tidur.
Itu adalah hadiah ulang tahun pemberiannya untuk Zia, sebuah boneka yang dilengkapi dengan fitur perekam suara.
Saat tombol perekam itu ditekan, suara yang amat familier pun terdengar.
"Wah, boneka dari Ibu! Aku bakal peluk kamu setiap malam pas tidur. Aku sayang Ibu!"
Setiap kata yang terucap rasanya bagai hantaman palu yang bertubi-tubi meremukkan dada Vanya.
Hingga akhirnya, air mata yang sejak tadi dia bendung pun tumpah ruah tak terbendung lagi.
Dia mendekap boneka itu erat-erat ke dalam dadanya, meringkuk di atas tempat tidur seolah dengan cara begitu dia masih bisa merasakan sisa kehangatan tubuh Zia.
Dia benar-benar menyesal.
Menyesal karena telah memercayakan Zia kepada Erik tadi pagi.
Menyesal karena tidak langsung bercerai lima tahun yang lalu.
Dan yang paling dia sesali adalah karena telah mencintai Erik.
Vanya meremas kuat-kuat liontin guci kecil yang menggantung di dadanya.
"Zia, tunggu sebentar lagi, ya. Ibu bakal segera bawa kamu pergi dari sini.
Air matanya perlahan luruh, mengalir lalu hilang tertelan kegelapan.
.....
Keesokan paginya, begitu Vanya turun ke lantai bawah, dia mendapati ada dua orang asing yang bertamu di ruang tamu.
Erik tampak sedang memegangi telapak tangan Nadia yang sedikit tergores, lalu dengan penuh perhatian mengoleskan obat merah ke luka itu.
Kedua mata Nadia tampak agak berkaca-kaca, tetapi dia bersikeras memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap pria di hadapannya.
"Pak Erik, jangan pikir kebaikanmu ini bisa bikin aku luluh dan menyerahkan hak asuh Noah begitu aja. Dia cuma anakku, anak Nadia Armani seorang."
Meski ditanggapi dengan ketus, Erik sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan marah. Dia justru meniup luka itu dengan lembut, membalutnya hati-hati dengan kain kasa, lalu menatap Nadia dengan sorot mata yang tampak serba salah.
"Aku nggak akan merebut Noah dari kamu. Tapi, bagaimanapun juga, dia itu anak kita berdua, kamu nggak bisa menyangkal hal itu. Sekarang, aku cuma mau menebus waktu lima tahun kemarin, saat kamu dan Noah harus berjuang tanpa ada aku di samping kalian."
Kedua tangan Vanya yang menggantung di sisi tubuhnya seketika meremas kuat-kuat, hingga kuku-kukunya memutih dan menancap dalam ke telapak tangan.
Menebus?
Erik berutang pada ibu dan anak itu, tetapi atas dasar apa nyawa Zia yang harus dijadikan tebusannya?
Sudut mata Erik menangkap sosok Vanya yang sedang berdiri di sana. Dia segera meletakkan kain kasa di tangannya, melangkah maju untuk memeluk Vanya erat-erat, lalu menjelaskan dengan suara lembut, Vanya, Nadia cuma mau numpang pakai dapur buat bikin sup buat Noah supaya tubuhnya cepat pulih. Tadi dia nggak sengaja melukai tangannya waktu motong, makanya aku bantu obati lukanya. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh."
"Zia mana? Dia udah bangun?"
Bulu mata Vanya tampak bergetar samar.
"Nggak."
Zia tidak akan pernah bisa bangun lagi.
Erik terkejut.
Ini cuma pengaruh obat bius pasca operasi, kenapa sampai keesokan harinya Zia masih belum sadar juga?
Baru saja Erik hendak bertanya lebih lanjut, bunyi denting notifikasi ponsel mendadak mengganggu pikirannya.
Begitu melihat isi pesan yang masuk, Erik langsung mengernyitkan dahi.
"Vanya, aku ada urusan mendadak di kantor, aku pergi sebentar."
Setelah berpamitan, dia kembali berpesan dengan sangat sabar kepada Nadia, "Ingat, lukanya jangan sampai kena air. Nanti kalau supnya udah matang, aku bakal balik ke sini buat jemput kamu, terus kita pergi bareng ke rumah sakit buat jenguk Noah."
Mendengar nada suara Erik yang begitu lembut, dada Vanya rasanya seolah sedang dicengkeram kuat oleh sebuah tangan tak kasatmata hingga membuatnya sesak napas.
Dulu, Erik hanya akan menunjukkan sisi lembutnya itu kepada dirinya dan juga Zia.
Akan tetapi, sekarang, porsi itu sudah terbagi untuk Nadia dan anaknya.
Begitu Erik melangkah pergi, suasana ruang tamu seketika hening, hanya menyisakan Vanya dan Nadia saja.
Raut wajah Nadia kini kembali berubah menjadi dingin.
"Bu Vanya, Anda tenang saja. Meskipun Pak Erik sudah menyelamatkan Noah, aku sama sekali nggak punya niat untuk membiarkan anakku menyandang status sebagai anak haram. Aku nggak akan pernah menyerahkan hak asuh Noah."
"Nggak usah akting lagi, di sini cuma ada kita berdua."
Wajah Vanya langsung berubah dingin, tanpa ampun menguliti topeng dan niat asli Nadia.
"Kamu emang nggak mau dia jadi anak haram. Tapi, yang kamu incar itu sebenarnya adalah menjadikannya pewaris sah Keluarga Gunawan, 'kan?"
Lima tahun yang lalu, selain memberikan uang tutup mulut dan ganti rugi dalam jumlah besar kepada Nadia, Erik juga sengaja menyuruh pengawalnya membelikan obat dan memastikan wanita itu meminumnya.
Akan tetapi, Nadia tidak hanya tetap hamil, dia bahkan melahirkan anak itu.
Lalu, lima tahun kemudian, dia kembali dan melamar kerja di Grup Gunawan, sampai akhirnya membuat Erik tahu tanpa sengaja kalau mereka memiliki seorang anak.
Vanya tumbuh besar di lingkungan keluarga konglomerat, mana mungkin dia tidak paham taktik licik seperti ini.
Ekspresi Nadia sempat membeku sesaat. Namun, di detik berikutnya, dia langsung berdiri dengan raut wajah yang tampak begitu terhina.
"Bu Vanya, tolong jangan pakai cara pandang kotor khas orang kaya untuk menilaiku!"
"Aku cuma nggak tega buat gugurin sebuah nyawa kecil, itu aja! Soal Pak Erik yang akhirnya tahu tentang keberadaan Noah, itu semua di luar dugaanku!"
Vanya hanya menatap dingin ke arah Nadia yang sedang berlagak suci dan terhina itu. Tanpa sepatah kata pun lagi, dia berbalik dan melangkah ke lantai atas.
Apa pun niat asli Nadia yang sebenarnya, sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya.
Gelar sebagai istri Erik, kalau memang wanita itu menginginkannya, ambil saja.
Vanya kembali ke kamar Zia dan mulai mengemasi barang-barangnya.
Setiap sudut dan barang di tempat ini masih menyisakan aroma dan jejak keberadaan Zia. Dia ingin membawa semuanya pergi.
Pandangan Vanya tertuju pada album foto milik Zia yang tergeletak di atas meja. Dia melangkah mendekat lalu membukanya.
Di dalamnya penuh dengan foto keluarga mereka bertiga.
Foto saat Erik menggendong Zia dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemari Vanya di bawah kaki Gunung Ruri. Foto saat dia dan Zia tertawa lepas saling kejar-kejaran di tepi pantai, sementara Erik memperhatikan mereka dari belakang dengan sorot mata yang penuh cinta ....
Di setiap lembar foto itu, wajah mereka bertiga selalu dihiasi oleh senyuman. Kebahagiaan yang terpancar seolah meluap keluar dari lembaran kertas foto tersebut.
Akan tetapi, sekarang, momen-momen penuh kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Vanya mengeluarkan semua foto dari dalam album tersebut. Satu demi satu, dia merobek bagian yang menampilkan sosok Erik lalu 4 membuangnya ke tong sampah, hanya menyisakan bagian foto dirinya dan Zia.
Saat proses berkemasnya baru berjalan separuh, sebuah aroma menyengat menusuk hidung.
Vanya mengernyitkan dahi. Begitu dia membuka pintu kamar, bau menyengat itu justru terasa makin pekat.
Baru beberapa langkah, rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya hingga membuat keseimbangannya limbung. Dia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya berusaha bertumpu pada dinding agar tidak ambruk.
Di tengah pikirannya yang mulai kacau, otak Vanya mendadak terasa sedikit lebih jernih.
Ini kebocoran gas!
Vanya bergegas membasahi handuk untuk menutupi hidung dan mulutnya, lalu memaksakan sisa tenaganya untuk turun ke lantai bawah.
Begitu sampai di ruang tamu, dia melihat Nadia sudah pingsan di atas sofa.
Rasa pusing di kepalanya kini makin tak tertahankan. Vanya tidak sanggup lagi bertahan, kedua kakinya seketika lemas hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
Vanya berusaha mencari ponselnya untuk menelepon ambulans, tetapi kelopak matanya justru terasa makin berat.
Tepat satu detik sebelum matanya terpejam rapat, terdengar suara pintu depan dibuka dari luar.
Vanya menggigit kuat-kuat ujung lidahnya, berusaha mati-matian mempertahankan kesadaran yang tersisa, lalu mengulurkan tangan ke arah Erik.
"Erik, tolong... aku."
"Nadia!"
Akan tetapi, Erik tanpa ragu sedikit pun berlari menghampiri Nadia, lalu membopong tubuh wanita itu dalam gendongannya.
"Tahan sebentar! Aku bakal langsung bawa kamu ke rumah sakit sekarang!"
Langkah kakinya begitu tergesa-gesa, hingga dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Vanya yang sedang meminta pertolongan tak jauh dari sana.
Terbaring di atas lantai yang dingin, Vanya hanya bisa menatap punggung pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup itu, kini melangkah pergi sambil mendekap wanita lain. Perlahan, kelopak mata Vanya pun tertutup sepenuhnya.
****
Bab 4
Saat Vanya tersadar, pikirannya masih terasa kacau dan linglung.
"Vanya, akhirnya kamu bangun juga."
Begitu melihat Vanya membuka mata, Erik langsung menyambar tangannya dan mengecupnya dengan mesra.
"Kamu tahu nggak, pas lihat kamu terkapar pingsan di lantai, rasanya jantungku kayak mau copot. Syukurlah kamu udah sadar."
Seorang Erik yang di dunia bisnis terkenal berdarah dingin dan kejam, saat ini berbicara dengan nada suara yang bergetar samar, bahkan telapak tangannya sampai basah oleh keringat dingin.
Siapa pun yang melihat adegan ini pasti akan terkagum-kagum dengan betapa dalamnya cinta pria itu.
Akan tetapi, Vanya hanya memalingkan wajahnya, enggan menatap pria di hadapannya.
Dia tidak akan pernah lupa, di saat nyawanya sedang di ujung tanduk, seluruh pikiran dan fokus Erik hanya tertuju pada keselamatan Nadia. Pria itu sama sekali tidak melihat dirinya yang terkapar di atas lantai yang dingin.
Hati Erik disergap rasa panik. Dia belum pernah melihat Vanya bersikap sedingin ini kepadanya.
"Vanya, tadi aku benaran nggak lihat kalau kamu juga ikutan pingsan, makanya aku refleks nyelametin Nadia duluan."
Padahal, tempat Vanya jatuh tersungkur jaraknya tidak sampai satu meter dari posisi Nadia.
Apakah pria itu memang langsung buta terhadap sekitar begitu melihat Nadia pingsan, atau pria itu memang benar-benar tidak melihatnya?
Vanya menarik kembali tangannya, lalu memejamkan mata dengan letih.
Tubuhnya yang baru saja siuman masih terasa sangat lemas. Dia sudah tidak punya sisa energi lagi untuk mencari tahu mana yang benar.
Melihat Vanya yang hanya diam membisu, Erik sempat ragu-ragu sebelum akhirnya membuka suara.
"Nadia kondisinya belum pulih, Noah juga masih terbaring di ranjang rumah sakit sehabis operasi, jadi aku ...."
Kalimat itu belum sempat selesai diucapkan. Namun, setelah bertahun-tahun hidup bersama, mana mungkin Vanya tidak paham apa maksudnya.
Sangat menggelikan.
Raga Erik memang berada di sini, tetapi seluruh pikiran dan hatinya sudah lama tertuju kepada Nadia dan anaknya.
"Pergi saja."
Lagi pula, Vanya sudah tidak peduli lagi.
Erik menatap lekat-lekat wajah tenang Vanya untuk waktu yang cukup lama. Setelah memastikan wanita itu tetap memejamkan mata, barulah dia bisa mengembuskan napas lega.
"Aku bakal balik secepatnya. Kamu istirahat yang baik, ya."
Akan tetapi, ucapan "secepatnya" itu berujung pada hilangnya sosok Erik selama tujuh hari penuh.
Pada hari Vanya diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dia terpaksa mengurus seluruh administrasinya seorang diri.
Saat berjalan melewati sebuah kamar rawat, sebuah suara yang sangat familier dari dalam, membuat langkahnya terhenti.
"Noah, kamu harus pintar-pintar nempelin Ayah terus, ya? Nasib kita ke depannya bergantung sama kamu sekarang."
"Tapi, Ibu, dia 'kan bukan ayahku."
Jantung Vanya mendadak mencelos seketika.
Apa maksudnya? Anak itu baru saja bilang kalau Erik bukan ayah kandungnya?
Sambil menahan napas, Vanya diam-diam menyalakan fitur perekam suara di ponselnya.
Di dalam sana, Nadia yang biasanya terlihat dingin dan anggun di depan orang lain kini berubah total. Dia memarahi Noah dengan nada penuh kekesalan karena merasa anaknya itu tidak bisa diandalkan.
"Terus kenapa? Mau bagaimanapun, selama Erik yakin kalau kamu itu anaknya, ya kamu tetap anak kandungnya!"
"Memangnya kamu mau balik lagi ke waktu itu, pas kita hidup terlantar, kelaparan, dan kedinginan? Asal kamu tahu ya, Ibu nggak mau lagi hidup menderita!"
Seorang perawat yang kebetulan lewat di dekat Vanya langsung menyapa dengan bingung, "Maaf, Ibu, ada yang bisa aku bantu?"
Menyadari suara obrolan di dalam kamar mendadak senyap, Vanya segera menggeleng, lalu bergegas menyimpan ponselnya dan melangkah pergi dari sana.
Setelah semua urusan administrasinya selesai, Vanya bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Akan tetapi, baru saja dia berjalan sampai ke dekat pintu keluar bangsal, dua orang pengawal langsung menghadang langkahnya.
"Bu Vanya, Pak Erik meminta Anda untuk menemuinya."
Vanya langsung mengernyitkan dahi.
Selama tujuh hari kemarin Erik mendadak hilang tanpa kabar sedikit pun, lalu hari ini, ada urusan apa lagi sampai pria itu mencarinya?
Vanya mengeluarkan ponsel dari tasnya, berniat mengirim pesan kepada Erik, tetapi ponselnya langsung direbut paksa oleh salah satu pengawal.
"Pak Erik berpesan Anda harus segera ke sana, nanti Anda akan tahu sendiri alasannya."
Kedua pria itu mengapit di kiri dan kanan, lalu memaksa Vanya ikut dengan mereka.
Begitu melihat pintu kamar rawat yang familier, Vanya baru sadar mereka membawanya ke kamar Nadia dan anaknya.
Baru saja melangkah masuk.
Plak!
Nadia melayangkan tamparan keras ke pipi Vanya!
Erik berdiri di samping Nadia, hanya menonton kejadian itu dengan tatapan dingin.
Dengan mata merah, Nadia berteriak histeris, "Bu Vanya, aku dan Noah sama sekali nggak tertarik sama Keluarga Gunawan! Aku cuma mau Noah tumbuh dengan aman dan sehat, kenapa kamu masih nggak mau lepasin dia?"
*****
Bab 5
Kuku Nadia yang panjang dan ramping menggores pipi Vanya, meninggalkan luka cakar yang cukup dalam hingga berdarah.
Ucapan Nadia barusan membuat Vanya benar-benar bingung.
"Kamu ngomong apa? Aku nggak tahu apa-apa. Lepasin aku!"
"Kamu masih mau bohong?" Nadia menunjuk ke arah Noah yang terbaring pucat di ranjang rumah sakit sambil menangis histeris. "Noah baru empat tahun, dia baru aja selesai operasi cangkok ginjal! Tega-teganya kamu sejahat itu sama dia? Kamu 'kan juga seorang ibu!"
Di depan Erik, Nadia selalu berlagak tegar. Ini pertama kalinya dia memperlihatkan sisi rapuhnya seperti itu.
Erik vang merasa iba langsung mendekap Nadia ke dalam pelukannya, lalu menghapus air mata di sudut mata wanita itu dengan lembut.
"Biar aku yang urus. Aku pasti bakal kasih penjelasan dan keadilan buat kamu dan Noah."
Setelah berkata begitu, dia menatap Vanya. Sorot matanya yang biasa dipenuhi kelembutan kini hanya menyisakan kekecewaan dan rasa dingin yang menusuk tulang. Suaranya pun terdengar menahan amarah.
"Vanya, aku 'kan udah janji sama kamu kalau aku bakal urus mereka berdua dengan baik dan nggak akan pernah mengusik kamu ataupun Zia. Tapi, kenapa kamu bahkan nggak bisa toleransi sama anak kecil umur empat tahun?"
"Tega-teganya kamu menyuruh Zia buat dorong Noah ke kolam air! Kalau aja Nadia nggak datang tepat waktu, Noah pasti udah nggak bernyawa sekarang!"
Vanya menatap Noah yang terbaring dengan mata terpejam di atas ranjang dengan tatapan tidak percaya.
Menyuruh Zia mendorong anak itu ke kolam?
Mana mungkin?
"Aku nggak pernah melakukan itu!" Vanya meronta sambil menjelaskan, " Zia udah ...."
"Aku lihat pakai mata kepalaku sendiri!" sela Nadia dengan suara bergetar menahan tangis. "Mana mungkin aku main-main soal nyawa anakku sendiri?"
Begitu kalimat itu terlontar, suara lemah Noah mendadak terdengar dari atas ranjang.
"Kakak, aku nggak berniat merebut Ayah dari Kakak. Jangan, jangan dorong aku. Ayah, tolong aku."
Nada bicara Noah yang bercampur tangis langsung membuat amarah Erik meledak.
"Zia itu masih kecil, dia nggak mungkin punya pikiran sejahat itu kalau bukan karena dihasut oleh orang yang punya niat terselubung." Sorot mata Erik yang sedingin es langsung tertuju pada Vanya. "Selain kamu, memangnya siapa lagi?"
Ucapan kejam itu bagai sebilah pedang menusuk telak ke dalam tajam yang men hati Vanya.
Jahat, punya niat terselubung....
Lebih dari 20 tahun bersama, Erik ternyata sama sekali tidak memercayai dirinya.
Dia juga seorang ibu, mana mungkin tega mencelakai seorang anak?
Darah menetes dari pipinya ke lantai, tetapi Vanya tetap menatap lurus mata Erik.
"Aku udah bilang, bukan aku yang lakuin."
Kekecewaan di mata Erik makin pekat.
"Vanya, kenapa kamu jadi sejahat ini? Aku sampai kayak nggak kenal kamu lagi."
Sudut bibir Vanya tertarik membentuk senyuman getir. Rasa ironis yang tak berdasar mulai menjalar dari lubuk hatinya ke sekujur tubuh.
Apa benar dirinya yang sudah berubah, atau sebenarnya hati pria itu, yang dulunya hanya mencintai dia seorang, sekarang sudah terisi oleh orang lain?
Suasana di dalam kamar rawat itu pun berangsur-angsur menjadi sangat tegang.
Seorang pengawal melangkah masuklalu membisikkan sesuatu ke telinga Erik.
Kening Erik langsung berkerut.
"Vanya, kenapa Zia nggak ada di kamar rawatnya?"
Belum sempat Vanya menjawab, Nadia mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Bu Vanya, meskipun Anda yang menghasut putri Anda untuk mendorong Noah, tapi dia benar-* benar melakukannya. Apa dia nggak seharusnya minta maaf sama Noah?"
"Tapi, Anda malah mengurus kepindahannya ke rumah sakit lain tanpa bilang-bilang."
Sorot mata Erik saat menatap Vanya kembali mendingin.
"Karena Zia udah kamu pindahin, kamu vang gantiin dia buat minta maaf sama Noah.",
Meski dadanya terasa sangat sesak, Vanya sama sekali tidak gentar menantang balik tatapan pria itu.
"Sesuatu yang nggak pernah aku lakuin, atas dasar apa aku harus minta maaf?"
Erik menatap cukup lama pipi Vanya yang masih mengalirkan darah. Rasa iba, amarah, dan kekecewaan bercampur aduk, sebelum akhirnya dia bersuara dengan nada dingin.
"Vanya, aku harus adil sama Noah. Dia anakku, aku nggak akan biarkan siapa pun menyakiti dia."
"Masukkan dia ke kolam!"
Menatap Erik yang berdiri dengan wajah sedingin es sambil mendekap erat Nadia dalam pelukannya, Vanya tiba-tiba tertawa.
"Erik, kamu bakal menyesal."
Demi anak yang sama sekali bukan darah dagingnya sendiri, dia tega merenggut ginjal Zia sampai putrinya itu terkena infeksi dan meninggal.
Demi wanita penuh muslihat, dia memerintahkan pengawal untuk menghukum istri yang merupakan teman masa kecilnya ini.
Erik memalingkan wajah, menguatkan hatinya agar tidak melihat sepasang mata Vanya yang kini telah mati dan kehilangan binar kehidupan. Dia pun kembali mendesak dengan suara berat.
"Cepat bawa dia ke kolam!"
Vanya langsung diapit dan diseret oleh para pengawal menuju ke tepi kolam.
Byur!
Air kolam yang sedingin es langsung merendam sekujur tubuh Vanya, berebutan menyumbat hidung dan mulutnya.
Rasa sesak yang mencekik perlahan-lahan mulai menenggelamkan kesadarannya.
Dalam kondisi linglung, dia mendadak teringat masa-masa sekolah dulu. Saat itu, ada seseorang yang baru sekadar menunjuk dan mengancamnya, tetapi Erik langsung mematahkan jari orang itu di tempat, lalu memaksanya menampar pipi sendiri sambil memohon maaf kepada Vanya.
Saat itu, Erik pasang badan di depannya dan berkata, "Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut Vanya, nggak akan aku lepasin!
Sekarang, demi Nadia dan anaknya, pria itu sendiri yang memerintahkan orang untuk menceburkannya ke dalam kolam.
Pria yang membuat janji itu adalah dia.
Pria yang mengingkari sumpah itu juga adalah dia.
Vanya tidak lagi meronta, membiarkan tubuhnya pasrah tenggelam makin dalam.
'Erik, aku benar-benar menyesal pernah jatuh cinta padamu.'
*****
Bab 6
Saat Vanya kembali siuman, Erik sedang menggenggam erat tangannya dengan lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya.
"Vanya, kenapa kamu sama sekali nggak gerak pas di dalam kolam? Kamu tahu nggak seberapa takutnya aku kalau kamu benaran tenggelam?"
Vanya menarik kembali tangannya dengan nada datar.
"Bukannya ini yang kamu mau kamu?"
Tubuh Erik seketika menegang, guratan penyesalan di wajahnya tampak makin jelas.
"Aku cuma mau kasih penjelasan buat Nadia dan Noah. Aku nggak ada niat buat bikin kamu celaka. Tapi, aku nggak menyangka kalau kamu ...."
Semua pembelaan itu terasa begitu hambar. Pada akhirnya, Erik hanya bisa memeluknya erat-erat sambil terus-menerus meminta maaf.
"Maaf, Vanya. Aku nggak akan pernah membiarkan kamu dalam bahaya lagi."
Vanya memejamkan mata, memilih untuk tidak berkata apa-apa.
Selama beberapa hari ke depan, mungkin karena didera rasa bersalah, Erik hampir tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Vanya.
Mulai dari menghangatkan cairan infus, menyuapinya makan, hingga menyeka wajahnya .... Pria itu mengurus segala kebutuhannya tanpa ada yang terlewat.
Hanya saja, setiap pagi dan malam, Erik selalu pergi selama satu jam penuh tanpa absen.
Vanya tahu betul dalam hatinya, pria itu pasti pergi ke kamar rawat sebelah untuk menemani Nadia dan anaknya.
Begitu Erik kembali setelah sempat pergi lagi, Vanya menatap butiran keringat yang membasahi dahi pria itu, lalu berucap lirih, "Erik, kamu capek, ya?"
Harus terus bolak-balik demi dirinya dan juga demi Nadia beserta anaknya, apa benar dia tidak merasa lelah?
Sejak kembali dirawat di rumah sakit, Vanya selalu memilih bungkam. Ini pertama kalinya dia berinisiatif berbicara kepada Erik.
Erik mengira kemarahan istrinya sudah mereda, lalu tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi Vanya.
"Vanya, demi kamu, apa pun yang aku lakuin nggak akan pernah bikin aku capek."
"Kamu tenang aja, tempat tinggal buat Nadia dan Noah udah aku siapin.
Begitu mereka pergi, kita jemput Zia pulang, lalu kita bertiga bisa hidup bersama lagi kayak dulu."
Vanya menundukkan kepala, menyembunyikan tatapan matanya yang telah mati.
Zia sudah tidak ada.
Masa-masa dulu tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Erik sempat terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Aku bakal kirim Noah buat sekolah di luar negeri ditemani Nadia. Setelah ini, mereka nggak akan pernah muncul lagi di depan kamu."
"Cuma...." Pria itu menghentikan ucapannya sejenak sambil memperhatikan ekspresi Vanya.
Setelah melihat wajah istrinya tetap datar tanpa reaksi, dia baru berani melanjutkan, "Aku sudah mutusin buat ganti marga Noah yang tadinya Armani jadi marga Gunawan, biar nama dia masuk ke dalam silsilah keluarga besar dan diakui secara resmi. Nadia juga udah setuju."
Seolah takut Vanya akan mengamuk, Erik buru-buru menambahkan penjelasannya, "Kamu tenang aja, Noah nggak akan mengusik hak waris Zia. Aku cuma bakal kirim uang saku dan biaya sekolah bulanan buat mereka, paling sesekali aja terbang ke sana buat menjenguk."
"Bagaimanapun juga, dia itu anak kandungku. Aku bener-bener nggak bisa kalau harus mutus hubungan total sama mereka berdua."
Vanya tetap menunduk, menyembunyikan senyum ironis yang tersirat di matanya.
Apa bedanya dengan membangun sebuah keluarga baru bersama mereka bertiga di luar negeri?
Hanya saja, Vanya sudah tidak peduli lagi.
Dia pun mengangguk dengan tenang.
Rentetan penjelasan yang belum sempat Erik ucapkan langsung tercekat di tenggorokan, menyisakan kilatan rasa heran di matanya.
Dia sama sekali tidak menyangka Vanya akan setuju begitu saja dengan setenang ini.
Untuk sesaat, dia bahkan sempat tidak percaya.
"Vanya, kamu ... kamu nggak keberatan?"
Vanya menyahut dengan nada datar, " Nggak."
Lagi pula, dia akan segera pergi, jadi bagaimana Erik ingin mengurus Nadia dan anaknya sudah bukan urusannya lagi.
Erik menatapnya lekat-lekat untuk waktu yang cukup lama. Setelah memastikan sama sekali tidak ada gurat kemarahan di wajah istrinya, dia baru bisa bernapas lega.
"Vanya, aku berencana bikin acara pesta buat peresmian nama baru Noah, sekaligus buat mengakui statusnya di depan publik."
"Aku harap ... kamu bisa datang ke acara itu. Bagaimanapun juga, kamu itu istriku. Kalau nggak ada kamu, acara ini bakal terasa kurang sah dan bisa jadi omongan orang."
Menatap raut wajah Erik yang tampak agak cemas, Vanya tiba-tiba tersenyum.
"Boleh."
Erik benar-benar merasa lega sekarang. Dengan tatapan penuh cinta, dia mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Vanya.
"Vanya, makasih banyak ya udah mau mengerti aku."
Selama beberapa hari ke depan, Erik mulai sibuk mempersiapkan segala urusan untuk acara pesta dan tidak pernah lagi datang ke rumah sakit.
Bahkan di hari Vanya diperbolehkan pulang, pria itu hanya mengutus sopir untuk menjemputnya.
Setelah masuk ke mobil, Vanya mendapat panggilan dari Erik. Suara pria itu di seberang telepon masih tetap lembut seperti dulu.
"Vanya, jangan lupa siapin kado buat Noah, ya. Biar orang-orang luar fhikir kalau kamu sebagai istriku emang tulus menerima dia jadi bagian dari keluarga kita."
Mendengar saran suaminya yang begitu penuh pertimbangan, Vanya terkekeh.
"Tenang aja, bakal aku siapin, kok."
Sebuah kado yang dijamin akan membuat semua orang terkenang membuat semua orang terkenang selamanya.
Begitu mobil melaju, Vanya tidak langsung pergi ke gedung acara, melainkan menyuruh sopir berputar arah menuju ke Kantor Catatan Sipil.
Hari ini kebetulan adalah hari terakhir dari masa jeda 30 hari pencatatan perceraian mereka.
Setelah stempel resmi diketuk, Vanya akhirnya menerima akta cerai mereka.
Hubungan dan kedekatan yang terjalin selama lebih dari 20 tahun, resmi berakhir hari ini.
Dia mengambil sebuah amplop cokelat besar, lalu memasukkan tiga benda ke dalamnya.
Benda pertama adalah surat kematian Zia.
Benda kedua adalah sebuah flashdisk yang berisi rekaman suara Nadia dan anaknya.
Benda ketiga adalah akta cerainya dengan Erik.
Dia ingin membuat Erik sadar bahwa pria itu telah keliru sepenuhnya!
Setelah berpesan kepada sopir agar menyerahkan amplop cokelat itu langsung ke tangan Erik sendiri, Vanya pulang naik taksi, mengambil koper yang sudah dikemas sejak jauh-jauh hari, lalu langsung bergegas menuju bandara.
Di saat pesawat mulai lepas landas, Vanya lamat-lamat seperti melihat sosok Erik yang dulu begitu mencintainya sedang berdiri di hadapannya, tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Vanya, kamu hebat. Bawa Zia pergi menjauh dari dia, menjauh dari diriku yang cintanya padamu sudah nggak lagi murni."
Vanya menggenggam erat kalung di dadanya, lalu menyunggingkan senyum tulus pertamanya setelah berhari-hari lamanya.
'Erik, mulai hari ini dan seterusnya, duniamu akan kehilangan aku untuk selamanya!'