Hujan turun sejak sore. Rintiknya
memukul atap rumah kecil di ujung gang dengan irama yang menenangkan. Langit yang biasanya cerah berubah kelabu, seolah menyimpan banyak cerita yang belum sempat diucapkan.
Dika duduk di teras sambil memandangi jalanan yang mulai tergenang air. Di tangannya terdapat secangkir teh hangat yang perlahan mengeluarkan uap. Setiap kali hujan datang, ada perasaan aneh yang selalu muncul di hatinya. Perasaan yang sulit dijelaskan.
Saat masih kecil, Dika sangat menyukai hujan. Ia sering berlari keluar rumah, bermain di bawah rintik air bersama teman-temannya. Mereka membuat perahu kertas dan membiarkannya hanyut mengikuti arus kecil di pinggir jalan. Hari-hari itu terasa sederhana dan bahagia.
Namun semuanya berubah ketika ayahnya meninggal lima tahun lalu. Hari itu juga hujan turun begitu deras. Sejak saat itu, hujan selalu mengingatkannya pada kehilangan.
Dika menghela napas panjang. Matanya memandang langit yang semakin gelap. Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil berlari di tengah hujan sambil tertawa riang. Anak itu mengejar perahu kertas yang hanyut di selokan.
Pemandangan itu membuat Dika tersenyum tipis.
"Mirip aku dulu," gumamnya.
Anak kecil itu tidak peduli pakaiannya basah kuyup. Ia terus berlari sambil tertawa. Melihatnya, Dika teringat pesan ayahnya.
"Jangan pernah membenci hujan hanya karena satu kenangan sedih. Hujan juga membawa banyak kenangan indah."
Kalimat itu tiba-tiba terngiang jelas di kepalanya.
Selama ini Dika selalu menghindari hujan karena takut mengingat masa lalu. Padahal hujan bukan penyebab kesedihannya. Hujan hanyalah saksi dari berbagai peristiwa dalam hidupnya—baik yang membahagiakan maupun yang menyakitkan.
Dika berdiri dari kursinya. Ia meletakkan cangkir teh di meja, lalu melangkah turun dari teras. Rintik hujan membasahi wajahnya. Udara dingin menyentuh kulitnya dengan lembut.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak berusaha menghindar.
Ia berjalan perlahan di bawah hujan. Matanya terpejam sesaat, menikmati suara air yang jatuh dari langit. Anehnya, hatinya terasa lebih ringan.
Mungkin kenangan sedih tidak harus dilupakan. Mungkin kenangan itu cukup diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Di tengah hujan yang terus turun, Dika tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, hujan tidak lagi terasa menyakitkan.
Hujan hanya menjadi hujan—membawa dingin, membawa kenangan, dan mengajarkan bahwa setelah awan gelap berlalu, selalu ada langit cerah yang menunggu.