BAB I: PEMANGGILAN YANG TERNODA
CAHAYA pualam keemasan meledak hebat di atas lantai marmer hitam altar agung Kerajaan Solaria. Bau dupa suci bercampur dengan aroma anyir yang samar—aroma darah yang sangat dikenali oleh hidung seorang pembunuh bayaran profesional di kehidupan lampau. Di tengah lingkaran sihir kuno yang berpendar terang, lima orang remaja terengah-engah dengan wajah panik dan kebingungan, mengira mereka berada di dalam mimpi atau panggung sandiwara. Namun, di sudut paling pekat dari lingkaran itu, berdiri sosok yang sama sekali berbeda. Tanpa suara, tanpa kepanikan, matanya yang sedingin es langsung memetakan seluruh ruangan dalam hitungan detik.
Dia tidak memiliki nama. Nama adalah jejak, dan jejak berarti kematian bagi seorang pembunuh nomor satu di dunianya yang dulu. Dunia lamanya hanya mengenalnya lewat satu julukan fana yang sanggup membuat jantung para penguasa tirani berhenti berdetak: Sang Reaper. Kini, jiwa tanpa nama itu telah berpindah ke sebuah dimensi asing melalui ritual pemanggilan pahlawan yang cacat.
"Selamat datang, para Pahlawan Suci dari dunia luar!" Sebuah suara barau bergema dari atas singgasana emas yang megah. Seorang pria tua bermahkota permata berkilauan menatap mereka dengan muka agung yang dibuat-buat—Raja Aldenor V. Di sekeliling altar, puluhan penyihir berjubah putih pekat berlutut sembari menggenggam tongkat sihir bertatahkan kristal mana yang meredup. Sang Reaper memicingkan matanya. Dengan analisis instingnya yang luar biasa, ia mendeteksi bahwa kristal-kristal itu memancarkan sisa-sisa energi kehidupan yang dipisahkan secara paksa dari pemiliknya. Di bawah lantai pualam tempat mereka berpijak, ada ribuan mayat rakyat jelata yang ditumbalkan demi mengaktifkan lingkaran sihir ini.
"Sihir di dunia ini bergerak mengikuti imajinasi perapal," Sang Reaper menyimpulkan setelah mengamati pendaran partikel di udara. Sebuah seringai tipis yang tak terlihat muncul di wajahnya. Detik itu juga, ketika perhatian semua orang tertuju pada pidato palsu sang raja tentang ancaman monster, bayangan Sang Reaper memanjang di bawah kakinya. Menggunakan kemampuan absolutnya, *Shadow Walk*, tubuhnya meluncur mulus ke dalam kegelapan dinding istana, diikuti dengan aktivasi teknik *Formless Invisible*. Bagi para pahlawan naif, dunia ini adalah panggung kejayaan. Namun bagi Sang Reaper, ini hanyalah ladang pembantaian baru untuk target-target berdarah biru.
BAB II: MEMBEDAH ALTAR EMAS
MALAM pertama di istana dihabiskan para pahlawan lain dengan berpesta pora di aula mewah, menikmati anggur dan pujian dari para bangsawan. Sementara itu, di lorong-lorong terdalam di bawah tanah istana, kegelapan bergerak seperti makhluk hidup. Sang Reaper berjalan tanpa suara melewati barisan penjaga lapis baja berat. Tubuhnya sepenuhnya tidak berwujud, menyatu dengan udara berkat kemampuan infiltrasinya yang tak tertembus.
Langkah kakinya berhenti di sebuah gerbang besi masif berukir lingkaran sihir pengunci. Di balik pintu ini, ia mencium aroma busuk yang luar biasa pekat. Tanpa membutuhkan kunci fisik, ia mengimajinasikan molekul udara di dalam lubang kunci memadat dan menghancurkan pasak besi dari dalam. *Klik.* Pintu terbuka tanpa suara.
Pemandangan di dalam ruangan itu akan membuat manusia normal menjadi gila dalam seketika. Ribuan tangki kaca berisi air raksa ajaib berjejer, menampung tubuh-tubuh kurus kering dari rakyat jelata, wanita, hingga anak-anak yang diculik dari desa-desa perbatasan. Di atas kepala mereka, kristal-kristal mana kosong dipasang untuk menyerap esensi jiwa mereka secara perlahan sampai mereka mati demi menyuplai kebutuhan energi lampu kota dan kemewahan istana. Berdiri di tengah ruangan itu adalah Duke Eligor, dalang utama di balik logistik penculikan ini, sedang tertawa kecil sembari memeriksa kualitas kristal mana yang baru terisi.
"Kualitas yang luar biasa. Dengan ini, posisiku di dewan bangsawan tidak akan tergoyahkan," gumam Duke Eligor seraya mengusap kristal ungu di tangannya.
"Bangsawan memang selalu memiliki selera yang menjijikkan terhadap kematian," sebuah suara dingin berbisik tepat di belakang daun telinga sang Duke. Sebelum bangsawan gemuk itu sempat berbalik atau merapalkan sihir perlindungannya, sebuah belati yang terbentuk dari bayangan pekat telah menembus tenggorokannya dari belakang. Darah segar menyembur, membasahi kristal mana di tangannya. Duke Eligor menggelepar di lantai, matanya melotot menatap kekosongan di depannya sebelum nyawanya dicabut sepenuhnya. Sang Reaper tidak meninggalkan jejak apa pun, kecuali sebuah ukiran sabit merah berdarah di dinding marmer kamar tersebut—tanda bahwa perburuan tertinggi telah dimulai.
BAB III: MALAM PEMBANTAIAN PARA BANGSAWAN
KEMATIAN Duke Eligor mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa hebat ke seluruh penjuru Kerajaan Solaria. Ibu kota langsung dinyatakan dalam status darurat militer. Ribuan ksatria elit dikerahkan untuk menjaga setiap sudut kediaman para bangsawan, dan para penyihir tingkat tinggi memasang lingkaran deteksi sihir di setiap perimeter. Namun bagi seorang pembunuh tingkat dewa yang memiliki kemampuan tanpa batas, semua pertahanan itu tak lebih dari sekadar coretan di atas kertas.
Dalam waktu tiga minggu berikutnya, malam-malam di Solaria berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam bagi kaum borjuis. Baron Vane, yang dikenal gemar menyiksa budak demi kesenangan pribadi, ditemukan tewas gantung diri dengan bayangannya sendiri yang mengikat lehernya di dalam kamar yang terkunci rapat dari dalam. Count Malakar, jenderal militer yang sengaja membiarkan monster membantai desa perbatasan demi menaikkan anggaran perang, tewas di dalam benteng pertahanannya sendiri dengan jantung yang hancur membeku oleh sihir es.
Perburuan Sang Reaper tidak memilih korban secara acak. Setiap target ditentukan setelah ia membedah dokumen rahasia kerajaan menggunakan kemampuan membacanya yang cepat dan kalkulatif. Di tengah kekacauan itu, saat mengeksekusi seorang Viscount korup di distrik kumuh, Sang Reaper menemukan seorang gadis ras campuran bernama Vanya yang tengah disiksa di dalam sel bawah tanah karena mencoba melarikan diri dari pelelangan budak ilegal. Melihat potensi sihir imajinasi tersembunyi dan kebencian yang mendalam di mata gadis itu, Sang Reaper memutuskan untuk membawanya pergi ke dalam bayangan—menyelamatkannya bukan karena belas kasihan, melainkan sebagai bidak pertama yang akan ia bentuk.
BAB IV: BENTROKAN IDEOLOGI
KEHILANGAN begitu banyak pilar kekuasaan membuat Raja Aldenor V terdesak dan menggunakan kartu as terakhirnya: mengerahkan para pahlawan suci yang tersisa untuk memburu sang pembunuh bayangan. Di bawah pimpinan Sir Galahad—sang pahlawan suci utama yang memegang pedang cahaya legendaris—mereka menjebak Sang Reaper di reruntuhan katedral kuno di batas kota, memanfaatkan beberapa informasi sebagai umpan yang sengaja dibocorkan oleh intelijen kerajaan.
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Sir Galahad berdiri dengan baju zirah emasnya yang berkilauan, memancarkan aura suci yang menerangi kegelapan. "Menyerahlah, iblis bayangan! Kau telah membantai para pemimpin kerajaan dan membawa kehancuran pada kedamaian dunia ini!" teriak Galahad dengan penuh keyakinan naif yang membara.
Sang Reaper muncul dari balik bayangan pilar katedral, jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam. Tidak ada ketakutan di matanya, hanya ada tatapan datar yang menusuk hingga ke relung jiwa. "Kedamaian?" suara Sang Reaper terdengar bergaung, dingin dan tenang. "Kau menyebut kedamaian di atas tumpukan ribuan nyawa bocah yang jiwanya diperas untuk menyalakan lampu-lampu di kamarmu, Pahlawan Suci?"
Galahad tertegun mendengar ucapan itu, namun indoktrinasi dari gereja dan raja telah menutup mata hatinya. "Bohong! Yang Mulia Raja adalah orang suci!" Galahad melesat maju, menebaskan pedang cahayanya yang mampu membelah gunung dengan kecepatan luar biasa. Namun, kecepatan itu tidak berarti apa-apa di hadapan Sang Reaper. Dengan reflek tingkat tinggi, Sang Reaper mengaktifkan teknik *Formless Space*, membelokkan lintasan pedang cahaya secara mutlak menggunakan imajinasinya. Dalam satu kedipan mata, Sang Reaper sudah berada di belakang Galahad, menghantam tengkuk sang pahlawan dengan gagang belatinya hingga pemuda berbaju zirah emas itu tumbang tak sadarkan diri ke tanah. Sang Reaper tidak membunuhnya—ia membiarkan Galahad hidup agar pemuda itu bisa menyaksikan sendiri runtuhnya kebohongan yang selama ini ia bela.
BAB V: BERDIRINYA UMBRATERRA
PUNCAK dari seluruh perburuan ini terjadi di aula takhta Kerajaan Solaria. Di malam yang sunyi, Raja Aldenor V ditemukan duduk di singgasananya dengan tubuh yang gemetar hebat, dikelilingi oleh jasad seluruh pengawal pribadinya yang telah mati tanpa sempat mencabut pedang mereka. Di depannya, berdiri Sang Reaper, memegang sebuah kristal mana raksasa istana yang kini telah retak, membebaskan jutaan pendaran jiwa yang selama ini terkurung.
"Si-siapa kau sebenarnya?! Mengapa kau menghancurkan kerajaanku?!" ratap sang Raja dengan wajah pucat pasi kehilangan seluruh keagungannya.
"Aku adalah akhir dari keserakahanmu," jawab Sang Reaper datar. Tanpa ada drama atau penundaan, sebuah tebasan bayangan mutlak memutus kepala sang raja dari pundaknya. Takhta Solaria runtuh malam itu, meninggalkan kerajaan dalam kekosongan kekuasaan yang mutlak, membersihkan seluruh akar korup yang telah membusuk selama berabad-abad.
Setelah runtuhnya Solaria, Sang Reaper tidak mengambil alih takhta ataupun tunduk pada kerajaan lain. Ia membawa Vanya dan ribuan budak serta pembunuh berbakat yang telah dibebaskannya menuju ke sebuah wilayah kelam yang tak bertuan di balik Pegunungan Kabut—sebuah tempat terlarang yang ditakuti oleh seluruh benua. Di sana, dengan memanfaatkan pengetahuan taktis dari dunia lamanya serta kemampuan sihir imajinasi tingkat tinggi, ia mendirikan sebuah kota benteng hitam independen yang diberi nama **Umbraterra**.
Umbraterra tumbuh menjadi wilayah berdaulat yang sepenuhnya mandiri, diisi oleh puluhan ribu assassin terlatih dengan satu hukum mutlak: tunduk hanya pada perintah Sang Reaper. Kota ini menjadi organisasi terkuat di seluruh dunia yang tidak terikat oleh hukum kekaisaran atau dogma gereja mana pun. Di atas singgasana batu hitam kota independen itu, Sang Reaper duduk dalam keheningan abadi, mengawasi dunia dari balik bayang-bayang. Dunia kini tahu bahwa jika para penguasa dan raja mulai berjalan di atas garis kejahatan, Sang Reaper akan selalu ada di sana untuk menjemput nyawa mereka. Cerita berakhir, namun legenda ketakutan sang pembunuh bayangan baru saja dimulai dalam keabadian.
— TAMAT —