Malam itu hujan turun perlahan membasahi jalanan kota. Lampu-lampu kendaraan memantulkan cahaya ke genangan air yang memenuhi trotoar. Di sebuah kedai kopi kecil yang hampir tutup, seorang laki-laki bernama Karang Samudra duduk sendirian di sudut ruangan.
Tangannya menggenggam secangkir kopi yang mulai dingin. Pandangannya kosong menembus jendela kaca, seolah sedang melihat kembali perjalanan panjang yang selama ini berusaha ia lupakan.
Perjalanan tentang seorang perempuan bernama Senja.
Perempuan yang pernah menjadi alasan mengapa ia bertahan begitu lama.
Dan juga alasan mengapa ia akhirnya memilih pergi.
Karang mengenal Senja dua tahun lalu.
Saat itu Senja adalah sosok yang selalu menjadi pusat perhatian. Wajahnya cantik, tutur katanya lembut, dan caranya membawa diri membuat banyak orang kagum.
Banyak laki-laki mendekatinya.
Namun Senja selalu bersikap sama.
Ia seolah tidak membutuhkan siapa pun.
Ketika ada yang memberi perhatian, ia menganggapnya biasa.
Ketika ada yang berusaha mengenalnya lebih dekat, ia membuat mereka menunggu.
Dan ketika seseorang mulai berharap lebih, ia menjaga jarak tanpa memberi kejelasan.
Anehnya, semakin sulit didekati, semakin banyak orang yang mengejarnya.
Termasuk Karang.
Awalnya Karang tidak berniat jatuh hati.
Ia hanya mengagumi Senja sebagai teman.
Namun semakin sering berbicara, semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama.
Karang mulai melihat sisi lain dari Senja.
Ia melihat perempuan yang sering mengeluh tentang kesepian.
Perempuan yang berkata tidak punya siapa-siapa.
Perempuan yang mengaku lelah menghadapi dunia seorang diri.
Karang merasa iba.
Ia berpikir mungkin selama ini tidak ada orang yang benar-benar memahami Senja.
Karena itu ia memilih bertahan.
Hari demi hari berlalu.
Karang selalu ada.
Saat Senja sedih, Karang mendengarkan.
Saat Senja marah, Karang menenangkan.
Saat Senja menghadapi masalah, Karang menjadi orang pertama yang datang membantu.
Namun anehnya, semua pengorbanan itu seolah tidak pernah cukup.
Setiap kali Karang menunjukkan perasaan, Senja justru menjauh.
Setiap kali Karang berusaha memberi kepastian, Senja menghilang.
Tetapi ketika Karang mulai lelah dan menjaga jarak, Senja kembali datang mencarinya.
Seolah ia hanya membutuhkan Karang ketika merasa kesepian.
Bukan ketika ingin menghargainya.
Teman-teman Karang sebenarnya sudah sering mengingatkan.
"Kenapa kamu masih bertahan?"
"Dia nggak pernah menghargai usaha kamu."
"Kamu cuma dijadikan tempat singgah."
Namun Karang selalu membela Senja.
Menurutnya, Senja hanya membutuhkan waktu.
Menurutnya, Senja belum siap.
Menurutnya, suatu hari nanti semua perjuangannya akan dihargai.
Sayangnya, kenyataan tidak selalu seindah harapan.
Suatu sore, Karang memberanikan diri berbicara.
"Aku cuma mau tahu satu hal, Sen."
Senja menatapnya.
"Apa?"
"Selama ini aku sebenarnya berarti nggak buat kamu?"
Senja terdiam beberapa saat.
Lalu tersenyum tipis.
"Kamu baik, Karang."
Jawaban itu membuat Karang tersenyum pahit.
Karena ia tahu.
Kalimat itu bukan jawaban.
Itu hanya cara halus untuk menghindari kejujuran.
"Aku nggak nanya aku baik atau nggak."
"Lalu?"
"Aku berarti nggak?"
Senja kembali diam.
Dan diamnya saat itu terasa lebih menyakitkan daripada penolakan.
Karang akhirnya mengerti.
Kadang seseorang tidak perlu berkata tidak.
Karena sikapnya sudah menjelaskan semuanya.
Namun meski sadar, Karang masih bertahan.
Ia terus memberi perhatian.
Terus menunggu.
Terus berharap.
Sampai akhirnya ia mulai kehilangan dirinya sendiri.
Ia sering mengabaikan kebahagiaannya demi Senja.
Mengutamakan Senja dibanding dirinya sendiri.
Bahkan rela terluka berulang kali hanya karena berharap suatu hari nanti dihargai.
Tetapi yang ia dapatkan tetap sama.
Ketidakjelasan.
Sementara itu, Senja tetap menikmati semuanya.
Ia senang diperhatikan.
Senang dicari.
Senang menjadi prioritas.
Namun ia tidak pernah benar-benar memikirkan perasaan orang-orang yang memperjuangkannya.
Termasuk Karang.
Baginya, perhatian adalah sesuatu yang selalu ada.
Sesuatu yang tidak perlu diperjuangkan.
Karena selama ini, setiap kali seseorang pergi, akan ada orang baru yang datang.
Ia terbiasa menjadi tujuan.
Bukan pihak yang kehilangan.
Sampai suatu hari semuanya berubah.
Malam itu Karang duduk lama di kamarnya.
Ia membuka kembali percakapan mereka.
Ribuan pesan.
Ratusan panggilan.
Begitu banyak usaha yang selama ini ia lakukan.
Dan tiba-tiba muncul satu pertanyaan sederhana.
"Apa aku bahagia?"
Karang terdiam.
Lama sekali.
Lalu ia sadar.
Jawabannya tidak.
Ia tidak bahagia.
Ia hanya bertahan karena terbiasa.
Bukan karena dihargai.
Malam itu juga Karang membuat keputusan.
Keputusan yang seharusnya sudah ia buat sejak lama.
Ia memilih pergi.
Hari-hari berikutnya terasa berbeda.
Karang tidak lagi menghubungi Senja.
Tidak lagi bertanya kabarnya.
Tidak lagi menjadi orang pertama yang datang saat Senja membutuhkan bantuan.
Ia mulai fokus pada dirinya sendiri.
Mulai kembali menjalani hidup yang selama ini terabaikan.
Awalnya Senja tidak menyadari perubahan itu.
Ia mengira Karang hanya sedang sibuk.
Namun minggu demi minggu berlalu.
Karang tetap diam.
Dan untuk pertama kalinya, Senja mulai merasa kehilangan.
Suatu malam Senja mengirim pesan.
"Kamu kemana?"
Tidak ada balasan.
Beberapa jam kemudian ia mengirim lagi.
"Lagi marah?"
Tetap tidak ada jawaban.
Hari berikutnya.
"Karang, jawab dong."
Masih tidak ada balasan.
Senja mulai gelisah.
Perasaan yang selama ini sering dirasakan orang lain karena dirinya, kini berbalik menghampirinya.
Ia mulai bertanya-tanya.
Kenapa Karang berubah?
Kenapa Karang pergi?
Kenapa Karang tidak lagi memperjuangkannya?
Namun alih-alih merenung, Senja justru mulai mengeluh kepada orang lain.
Ia bercerita seolah dirinya adalah korban.
Mengatakan Karang berubah.
Mengatakan Karang meninggalkannya.
Mengatakan Karang tidak peduli lagi.
Banyak orang bersimpati.
Karena mereka hanya mendengar satu sisi cerita.
Tidak ada yang tahu bagaimana selama ini Karang berjuang.
Tidak ada yang tahu berapa kali Karang menunggu tanpa kepastian.
Tidak ada yang tahu berapa kali Karang mengorbankan perasaannya sendiri.
Di mata banyak orang, Senja tampak sebagai pihak yang tersakiti.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Beberapa bulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja.
Di taman kota.
Senja melihat Karang sedang duduk membaca buku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah laki-laki itu terlihat tenang.
Senja menghampiri.
"Karang."
Karang mengangkat kepala.
"Oh. Senja."
Sapaan itu terasa asing.
Tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ada.
Tidak ada lagi sorot mata penuh harapan.
Yang tersisa hanyalah ketenangan.
Dan justru ketenangan itu membuat Senja merasa semakin kehilangan.
"Kamu berubah."
Karang tersenyum kecil.
"Mungkin."
"Kamu nggak pernah cari aku lagi."
Karang menutup bukunya.
Lalu menatap Senja dengan tenang.
"Dulu aku selalu cari kamu."
"Iya."
"Tapi kamu nggak pernah benar-benar menghargainya."
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Karang melanjutkan.
"Aku pernah berusaha jadi orang yang selalu ada buat kamu."
Senja menunduk.
"Aku tahu."
"Nggak. Kamu nggak tahu."
Suaranya tetap tenang.
"Tahu itu bukan cuma mendengar. Tapi menghargai."
Senja tidak mampu menjawab.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Karang benar.
"Kenapa kamu pergi?" tanya Senja pelan.
Karang tersenyum pahit.
"Karena aku capek."
Jawaban sederhana itu terasa lebih menusuk daripada seribu kata.
"Aku capek memperjuangkan seseorang yang selalu ingin diprioritaskan, tapi nggak pernah belajar menghargai."
"Aku capek jadi pilihan terakhir."
"Aku capek menunggu seseorang yang bahkan nggak pernah yakin ingin mempertahankan aku."
Hening.
Hanya suara angin yang terdengar.
Untuk pertama kalinya, Senja benar-benar melihat semuanya dari sudut pandang Karang.
Ia teringat semua perhatian yang dulu dianggap biasa.
Semua pesan yang sering ia abaikan.
Semua usaha yang tidak pernah ia hargai.
Ia sadar selama ini dirinya terlalu sibuk ingin dimengerti.
Terlalu sibuk ingin diperhatikan.
Terlalu sibuk merasa berharga.
Sampai lupa menghargai orang yang benar-benar tulus.
"Aku kangen kamu."
Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Senja.
Namun Karang hanya tersenyum.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum seseorang yang sudah sembuh dari luka lama.
"Kamu nggak kangen aku."
Senja menatapnya bingung.
"Kamu cuma kangen diperjuangin."
Kalimat itu menghantam hati Senja tanpa ampun.
Karena itulah kenyataannya.
Yang ia rindukan bukan Karang sebagai pribadi.
Melainkan perhatian yang selama ini diberikan Karang.
Air mata perlahan jatuh dari matanya.
Namun kali ini Karang tidak lagi tergesa-gesa menghapusnya.
Tidak lagi panik melihatnya menangis.
Karena ia sadar.
Tidak semua tangisan berarti penyesalan yang terlambat bisa memperbaiki segalanya.
Kadang tangisan hanyalah konsekuensi dari pilihan yang pernah dibuat.
Karang berdiri.
Mengambil bukunya.
Lalu menatap Senja untuk terakhir kalinya.
"Satu hal yang aku pelajari."
Senja mendengarkan.
"Orang nggak pergi karena kurang peduli."
Karang menarik napas panjang.
"Orang pergi karena terlalu lama berjuang untuk seseorang yang nggak pernah menghargai keberadaannya."
Air mata Senja semakin deras.
Namun kali ini tidak ada yang bisa ia salahkan.
Bukan keadaan.
Bukan waktu.
Bukan Karang.
Melainkan dirinya sendiri.
Karang kemudian berjalan meninggalkan taman.
Tanpa kemarahan.
Tanpa dendam.
Tanpa kebencian.
Karena beberapa luka tidak perlu dibalas.
Cukup ditinggalkan.
Sementara Senja tetap berdiri di tempatnya.
Memandangi punggung laki-laki yang dulu selalu mengejarnya.
Laki-laki yang dulu selalu menunggunya.
Laki-laki yang dulu selalu ada.
Dan baru ketika sosok itu benar-benar pergi, ia menyadari satu hal yang terlambat dipahami.
Bahwa kehilangan yang paling menyakitkan bukanlah saat seseorang meninggalkan kita.
Melainkan ketika kita sadar bahwa orang itu pergi karena selama ini kita tidak pernah menghargainya saat masih ada.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Senja mengerti bahwa sikap jual mahal yang selama ini ia banggakan ternyata bukan tanda harga diri.
Melainkan bentuk kesombongan yang perlahan membuat semua orang menjauh.
Sedangkan Karang Samudra, akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari seseorang yang hanya ingin diprioritaskan, tetapi tidak pernah belajar menghargai.
Tamat.
Dear Senjaku
Aku tidak pernah menyesali rasa yang pernah tumbuh di masa lalu. Aku hanya menyesali betapa lama aku bertahan pada seseorang yang tidak pernah benar-benar melihat perjuanganku.
Dulu aku datang dengan ketulusan, membawa perhatian dan kesabaran yang mungkin tak pernah kamu sadari nilainya. Saat itu aku tidak meminta banyak, hanya ingin dihargai keberadaannya. Namun waktu mengajarkanku bahwa tidak semua perjuangan akan berakhir dengan penghargaan.
Jika hari ini kita sudah berjalan di arah yang berbeda, biarlah semua menjadi pelajaran. Aku tidak menyimpan benci, juga tidak menyimpan dendam. Aku hanya memilih melangkah pergi dari tempat yang membuatku terus berharap sendirian.
Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari cerita hidupku. Dan semoga suatu hari nanti, kamu mengerti bahwa seseorang yang tulus tidak selalu pergi karena berhenti peduli, melainkan karena terlalu lama berjuang tanpa pernah dihargai.
— Karang Samudra