Seminggu setelah selamtan brokohan sepeda motor itu, aku kembali dibuat tidak tenang memikirkan anak sulungku.
Hari itu sejak pagi hingga sore, aku tidak ada di rumah. Membantu tetangga yang sedang menggelar hajatan, sehingga waktuku habis untuk mondar-mandir mengurus kebutuhan sana-sini. Sama sekali tidak sempat memeriksa keadaan rumah atau menanyakan kabar anakku.
Saat matahari mulai condong ke barat dan menjelang waktu maghrib, barulah aku berjalan pulang. Begitu masuk ke dalam rumah, mataku langsung melirik ke tempat biasa motor terparkir.
Kosong.
Sepeda motor Ninja Kawasaki yang baru saja kami syukuri kehadirannya seminggu yang lalu, tidak ada di tempatnya.
Awalnya aku tidak berpikir apa-apa. Mungkin anakku sedang pergi bersama temannya atau sekadar berkeliling seperti kebiasaan anak muda pada umumnya. Namun ketika aku mau mengambil pakaian ganti, karena mau pergi mandi, aku melihat pintu kamarnya terbuka sedikit.
Aku membukanya makin lebar, dan ternyata dia ada di dalam, sedang terlelap tidur. Ketika hari telah gelap, anakku bangun dan aku bertanya.
"Itu motormu mana?" tanyaku penasaran
Sambil berjalan ke arah kamar mandi, dia menjawab dengan nada santai seolah tidak ada yang istimewa.
"Aku jual."
Deg!
Rasanya seperti ada benda berat yang tiba-tiba menimpa dadaku. Jantungku terasa berhenti berdetak sesaat. Baru seminggu saja motor itu ada di rumah. Baru seminggu pula kami mengadakan syukuran kecil sebagai tanda terima kasih atas rezeki yang didapat. Bagaimana bisa barang yang baru saja disyukuri itu sudah dilepaskan begitu saja?
Ingin rasanya aku melontarkan banyak pertanyaan, tapi entah kenapa kata-kata terasa macet di tenggorokan. Dadaku terasa sesak, pikiranku langsung dipenuhi berbagai tanda tanya. Apakah dia rugi menjualnya? Atau mungkin tertipu saat membelinya dulu? Apakah ada masalah yang tidak dia ceritakan padaku? Sementara itu, anakku justru terlihat sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Malam harinya, suamiku bersiap-siap berangkat kerja. Sebelum melangkah keluar, dia sempat menyapa anakku.
"Nanti kamu gantikan hadir selamatan di rumah Lik Samidi, ya," pesannya.
Namun anakku langsung menolak.
"Gak bisa, Yah. Aku ada urusan keluar."
Aku yang sejak tadi masih menyimpan rasa penasaran hanya bisa diam saja, belum berani menegur sebelum tahu kebenarannya. Dan akhirnya anak bungsu yang pergi menghadiri selamatan.
Pukul tujuh malam, seorang temannya datang menjemput. Tak lama kemudian mereka berdua pergi meninggalkan rumah.
Aku berusaha menenangkan diri, berharap semuanya baik-baik saja. Namun ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan dia belum juga pulang, rasa khawatir perlahan mulai merayap masuk ke hati. Bukankah malam ini dia seharusnya masuk kerja pada shift tengah malam?
Tak tahan lagi, akhirnya aku mengirim pesan lewat ponsel.
"Kamu di mana sekarang? Bukankah nanti masuk kerja"
Tak lama berselang, balasannya masuk.
"Aku di Blora."
Aku membaca tulisan itu berulang kali untuk memastikan tidak salah baca. Blora? Itu kan Jawa Tengah? Jauh sekali dari posisi kami yang ada di Jawa Timur. Untuk apa dia pergi sejauh itu?
Belum sempat aku membalas, pesan berikutnya menyusul masuk.
"Beli motor."
Dan kalimat terakhirnya membuatku semakin tertegun kaget.
"Astaghfirullahaladzim..." gumamku pelan sambil memegang dada. Rasanya seperti diajak berlari tanpa henti sejak sore tadi. Belum hilang rasa kaget karena motor dijual, sekarang muncul lagi kabar dia pergi ke luar kota untuk membeli motor baru.
"Aku sudah izin tidak masuk kerja hari ini." Pesan lanjutan kembali masuk.
Malam itu aku hampir tidak bisa terpejam memejamkan mata. Berbagai dugaan buruk terus berputar di kepalaku. Bagaimana kalau dia tertipu? Bagaimana kalau uangnya habis sia-sia? Bagaimana kalau motor yang dibeli ternyata bermasalah? Semua pikiran itu membuat tidurku terasa gelisah.
Baru keesokan paginya, ketika suasana sudah lebih tenang, aku bisa mengajaknya bicara dari hati ke hati. Di situlah akhirnya aku mendengar seluruh kisah yang sebenarnya.
Ternyata motor Ninja yang baru seminggu itu dijualnya dengan harga sembilan belas juta lima ratus ribu rupiah. Padahal saat membelinya dulu, dia hanya menukarkan motor FIZ-R kesayangannya yang ditaksir sekitar sepuluh juta lima ratus ribu, ditambah uang tunai satu juta lima ratus ribu saja. Ditambah biaya servis sebelum dijual sebesar tiga juga. Artinya dia untung banyak. Tapi kemudian membeli lagi Ninja Kawasaki seharga dua puluh satu juta?
"Lho, berarti kurang dua juta dong uangnya? kamu dapat uang tambahannya dari mana?" tanyaku penasaran, sekaligus khawatir. Aku takut jangan-jangan dia mengambil pinjaman online.
Untungnya tidak, dia menjual perhiasan yang dia tabung untuk menggenapi kekurangannya.
Aku memang tahu, selama ini setiap kali menerima gaji, dia menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli perhiasan emas sedikit demi sedikit. Kadang nilainya ada enam ratus ribu, empat ratus ribu, kadang lima ratus ribu.
Dulu aku pernah bertanya mengapa tidak cukup ditabung saja di rekening bank. Jawabannya sangat sederhana dan masuk akal.
"Kalau dilihat saldo ATM terisi, rasanya godaan untuk dipakai selalu ada, Bu. Kalau emas, lebih aman dan nilainya tetap terjaga."
Maka itulah yang dia lakukan. Dan untuk membeli motor yang sekarang dia incar, seluruh tabungan emas itu pun dijual semuanya.
Aku terdiam mendengar penjelasannya. Anak yang dulu sering dipandang sebelah mata karena keluarga kami yang miskin, sudah bisa belajar menyusun rencana hidupnya sendiri dengan caranya sendiri.
Motor yang dibawanya pulang dari Blora itu harganya dua puluh satu juta rupiah. Menurutnya, kondisinya lebih orisinal, kelengkapannya lebih lengkap, dan kualitasnya jauh lebih terjamin dibandingkan yang sebelumnya.
Aku hanya bisa mengangguk mendengarkan. Di satu sisi rasanya ingin menegur sikapnya yang terburu-buru, tapi di sisi lain hatiku terasa dipenuhi rasa bangga yang tak terucapkan. Sejak dia mulai bekerja, hampir seluruh keinginannya selalu dia usahakan sendiri. Urusan servis, perbaikan, hingga penggantian kendaraan, semuanya ditanggung tenaga dan pikirannya sendiri. Bahkan setiap kali menerima gaji, dia tak pernah lupa menyisihkan sebagian untuk diberikan kepadaku. Kadang tiga ratus ribu, kadang empat ratus, hingga lima ratus ribu rupiah.
Aku tidak pernah memintanya memberi. Dan aku berusaha keras agar tidak menjadi orang tua yang terus menuntut hasil kerja anak. Bagiku, melihat dia mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri sudah lebih dari cukup sebagai kebahagiaan.
Namun rupanya ujian kesabaran belum berakhir sampai di situ.
Keesokan harinya, dia berniat pergi ke Puskesmas untuk meminta surat dokter karena semalam izin tidak masuk kerja. Tiba-tiba saja, motor yang baru saja dibawa pulang itu tidak mau menyala. Berkali-kali distarter, tapi tetap diam tak bersuara. Bahkan adiknya sampai disuruh bergegas membeli busi baru sebagai dugaan awal penyebabnya. Tetapi setelah diganti pun, mesin tetap tak mau hidup.
Aku yang memperhatikan semua itu rasanya dadaku ikut terasa sesak. Yang terbayang bukanlah kerusakan pada motornya, melainkan perjuangan panjang yang dia lalui. Bagaimana dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan. Bagaimana dia rela menjual emas hasil tabungannya. Bagaimana dia menempuh perjalanan jauh ke Blora demi mendapatkan kendaraan yang dia inginkan. Jika sampai motor itu ternyata rusak parah, betapa hancur rasanya hatinya?
Aku melihat raut wajahnya mulai tampak gelisah, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca. Dadaku terasa ikut merasakan sakit melihatnya begitu.
Setelah berulang kali mencoba dan tetap gagal, dia menghempaskan tubuhnya di atas kursi kayu panjang. Mungkin dia lelah, mungkin dia putus asa. Aku melihatnya bermain ponsel mungkin mencari sedikit hiburan. Namun, beberapa menit kemudian tiba-tiba dia berdiri tegak kembali. Melangkah mendekati motor, lalu menekan sebuah tombol kecil yang terletak di samping setang.
Klik.
Setelah itu dia kembali menginjak pedal starter.
Breeemmm...
Suara mesin langsung menyala keras.
Plong!
Aku merasa lega seketika. Aku bertanya apa masalahnya? Ternyata masalahnya hanya sepele. Motor baru ini memiliki fitur keamanan tambahan yang tidak dimiliki motor lamanya. Dan ternyata pemilik sebelumnya memang sempat menjelaskan, tapi karena baru pertama kali memegang kendaraan jenis ini, dia sempat lupa mengaktifkan tombol tersebut.
Aku merasa tulang-tulangku bagai dicabut. Tubuhku benar-benar lemas kala itu. Antara rasa sesak dan lega yang datang sekaligus. Rasanya ingin tertawa, tapi di sisi lain mata ini terasa panas.
Padahal sebelumnya, motor itu sudah dibongkar. Busi sudah diganti, bagian mesin sudah diperiksa, bahkan hampir dibongkar semuanya. Ternyata penyebabnya hanya sebuah tombol kecil yang terlewat diperhatikan.
Kulihat anakku mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mungkin melepaskan rasa tegang yang tadi melanda. Mungkin dia merasa lega. Entahlah, yang jelas hatiku terasa sangat lapang.
Dalam hati aku terus mengucap syukur berkali-kali. Sekali lagi aku menyadari satu hal: hidup memang tidak pernah terasa mudah bagi keluarga kami. Namun setiap kali kesulitan datang menyapa, Allah selalu membukakan jalan keluarnya di saat yang tak terduga.
Anakku yang dulu sering dipandang sebelah mata hanya karena kami tidak memiliki harta berlimpah, kini perlahan membuktikan pada dunia bahwa harga diri seseorang tidak diukur dari kekayaan keluarganya. Melainkan dari kemauannya sendiri untuk berjuang, berusaha, dan bertanggung jawab atas hidupnya.
Sebagai seorang ibu, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada menyaksikan anak yang dulu sering menangis bersamaku karena diremehkan orang lain, kini mampu mewujudkan impiannya sendiri lewat keringat dan usahanya sendiri.
Aku tidak bisa memberinya harta warisan yang banyak. Tidak bisa membelikan kendaraan mewah atau rumah megah. Tidak bisa memberikan segala kemewahan yang sering didambakan orang lain.
Hanya satu doa yang selalu kupanjatkan setiap malam, semoga Allah senantiasa melindungi setiap langkah kakinya. Karena sejauh ini, setiap apa yang dia capai, semuanya lahir dari kerja kerasnya sendiri.