𝔹𝕒𝕘𝕚𝕒𝕟 𝟙 — 𝕆𝕣𝕘𝕒𝕟𝕚𝕤𝕒𝕤𝕚 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝔻𝕚𝕥𝕒𝕜𝕦𝕥𝕚 ℙ𝕖𝕞𝕓𝕦𝕝𝕝𝕪
Langit pagi berwarna abu-abu ketika sebuah gedung berlogo perisai emas berdiri megah di tengah kota.
Di bawah lambang itu tertulis:
𝐃𝐢𝐫𝐞𝐤𝐭𝐨𝐫𝐚𝐭 𝐏𝐞𝐫𝐥𝐢𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐍𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥
Sebuah organisasi khusus yang dibentuk negara untuk melindungi guru dan murid dari kekerasan, perundungan, serta penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan sekolah.
Nama organisasi itu sudah terkenal di seluruh negeri.
Bukan karena mereka banyak bicara.
Tetapi karena mereka selalu datang ketika keadilan tidak lagi mampu berdiri sendiri.
Dan di antara seluruh anggota organisasi itu...
Ada tiga guru yang paling terkenal.
Bahkan para pembully sering gemetar hanya mendengar nama mereka.
Di lantai tujuh gedung tersebut.
Seorang perempuan berambut hitam sedang duduk sambil membaca berkas.
Wajahnya datar.
Tatapannya dingin.
Udara ruangan terasa seperti suhu kulkas.
Namanya...
𝐀𝐫𝐞𝐭𝐡𝐚.
Guru yang dikenal sangat tenang.
Sangat cuek.
Sangat dingin.
Bahkan rekan-rekannya sering bercanda bahwa kalau Aretha masuk ruangan, AC tidak perlu dinyalakan lagi.
Tok.
Tok.
Pintu terbuka.
"𝘼𝙍𝙀𝙏𝙃𝘼𝘼𝘼𝘼𝘼𝘼!"
Suara keras mengguncang ruangan.
Aretha bahkan tidak mengangkat kepala.
"𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐩𝐚𝐠𝐢, 𝐈𝐧𝐝𝐢𝐫𝐚."
Seorang perempuan berambut pendek masuk sambil membawa tumpukan map.
"𝙎𝙀𝙇𝘼𝙈𝘼𝙏 𝙋𝘼𝙂𝙄 𝙆𝘼𝙏𝘼𝙉𝙔𝘼!"
"𝐘𝐚."
"𝘾𝙐𝙈𝘼 𝙔𝘼?!"
"𝐘𝐚."
Indira menghela napas panjang.
"𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙚𝙧𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙢𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥."
"𝐀𝐤𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐡𝐞𝐫𝐚𝐧."
"𝙃𝙀𝙃!"
Aretha kembali membaca berkas.
Indira menatapnya kesal.
"𝑳𝒊𝒂𝒕 𝒏𝒊𝒉."
"𝘼𝙥𝙖?"
"𝑨𝒌𝒖 𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒍𝒂𝒑𝒐𝒓𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒓𝒖."
"𝐓𝐚𝐫𝐮𝐡."
"Taruh katanya."
"𝒀𝒂."
"𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙚𝙢𝙥𝙖𝙧 𝙠𝙚 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙡𝙖𝙢𝙪?"
"Silakan."
Indira benar-benar mengangkat map itu.
Lalu berhenti.
"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖. 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝."
"Itu tujuan hidupku."
Indira terdiam.
"𝙇𝙤𝙝?"
"Aku bercanda."
"ASTAGAAAAA ARETHA BISA BERCANDA!"
Pintu kembali terbuka.
Kali ini seseorang masuk sambil menyeret kursi beroda.
"𝑲𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒔𝒊𝒌 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕."
Perempuan itu duduk terbalik di kursi.
Tangannya menggantung santai.
Senyumnya jahil.
Namanya...
Anetha.
Orang paling tidak bisa diam dalam organisasi itu.
"𝘼𝙣𝙚𝙩𝙝𝙖!" kata Indira.
"𝑯𝒂𝒍𝒐, 𝒕𝒐𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏."
"𝘼𝙋𝘼 𝙆𝘼𝙏𝘼𝙈𝙐?!"
"𝑻𝒐𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏."
"𝘼𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧!"
"𝒀𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂."
Indira langsung mengambil bantal sofa.
"𝙒𝙤𝙞!"
Bruk!
Bantal melayang.
Anetha menangkapnya dengan satu tangan.
"𝑳𝒆𝒎𝒂𝒉."
"𝘼𝙆𝙐 𝙃𝘼𝙉𝙏𝘼𝙈 𝙔𝘼!"
"𝑺𝒊𝒍𝒂𝒌𝒂𝒏."
"𝙅𝘼𝙉𝙂𝘼𝙉 𝙈𝙀𝙉𝙂𝘼𝙅𝘼𝙆 𝘽𝙀𝙍𝘼𝙉𝙏𝙀𝙈!"
"𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒆𝒓𝒖."
Aretha menutup berkasnya.
"𝐊𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐥𝐞𝐬𝐚𝐢?"
"𝑩𝒆𝒍𝒖𝒎," jawab Anetha.
"𝘽𝙚𝙡𝙪𝙢," jawab Indira.
Aretha berdiri.
"𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐚𝐮 𝐦𝐢𝐧𝐮𝐦 𝐤𝐨𝐩𝐢."
"𝙏𝙐𝙉𝙂𝙂𝙐!"
Indira menunjuknya.
"𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙧𝙖𝙥𝙖𝙩!"
"𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐡𝐮."
"𝙏𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞?"
"𝐌𝐚𝐮 𝐦𝐢𝐧𝐮𝐦 𝐤𝐨𝐩𝐢."
"𝙍𝙖𝙥𝙖𝙖𝙖𝙖𝙖𝙩!"
"𝐌𝐢𝐧𝐮𝐦 𝐤𝐨𝐩𝐢."
"𝙍𝙖𝙥𝙖𝙖𝙖𝙖𝙖𝙩!"
"𝐊𝐨𝐩𝐢."
"𝙍𝙖𝙥𝙖𝙖𝙖𝙖𝙖𝙩!"
"𝐊𝐨𝐩𝐢."
Anetha tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
Beberapa menit kemudian.
Mereka akhirnya duduk di ruang rapat.
Seorang petugas menyerahkan sebuah tablet.
"𝘛𝘪𝘮 𝘈𝘳𝘦𝘵𝘩𝘢."
"𝐇𝐦."
"𝘈𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶."
Indira langsung menyandarkan badan.
"𝙆𝙖𝙨𝙪𝙨 𝙖𝙥𝙖?"
Petugas menghela napas.
"𝘗𝘦𝘳𝘶𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵."
Seketika suasana berubah.
Tawa menghilang.
Senyum menghilang.
Tatapan ketiga guru itu berubah serius.
"𝐊𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧?" tanya Aretha.
"𝘚𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘴𝘸𝘪 𝘚𝘔𝘗."
Indira mengepalkan tangan.
"𝙋𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪?"
"𝘚𝘦𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥."
"𝐒𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐚𝐡?" tanya Anetha.
Petugas membuka data.
"𝘒𝘦𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘷𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭."
"𝐇𝐦."
"𝘒𝘦𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬."
Indira mulai kesal.
"𝙇𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩."
"𝘒𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭."
Ruangan menjadi hening.
"𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪."
Anetha menyipitkan mata.
"𝑫𝒂𝒏?"
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬."
𝗕𝗿𝗮𝗸!
Indira memukul meja.
"𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙩𝙞𝙥𝙚 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪."
Petugas melanjutkan.
"𝘎𝘶𝘳𝘶-𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘮."
"𝐇𝐞𝐛𝐚𝐭," kata Anetha sinis.
"𝑺𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒉𝒆𝒃𝒂𝒕."
Aretha masih diam.
Namun tatapannya mulai dingin.
Sangat dingin.
Petugas yang sudah lama bekerja bersama mereka langsung tahu tanda itu.
Aretha marah.
Hanya saja...
Cara marah Aretha tidak pernah berisik.
Justru semakin tenang.
Semakin berbahaya.
"𝙉𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝?" tanya Aretha.
Petugas menyebutkan nama sekolah itu.
"𝐋𝐚𝐥𝐮 𝐤𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧?"
Petugas membaca data.
"𝘕𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘠𝘰𝘶𝘯𝘪."
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Kemudian Indira berkata pelan.
"𝙐𝙢𝙪𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙪𝙙𝙖."
"𝘐𝘺𝘢."
"Kenapa anak baik selalu jadi sasaran?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena terkadang...
Memang tidak ada alasan logis.
Ada orang yang memilih menyakiti hanya karena merasa mampu.
Sementara itu...
Di sekolah yang jauh dari sana.
Bel istirahat berbunyi.
Seorang gadis duduk sendirian di kelas.
Namanya...
Youni.
Tubuhnya kecil.
Wajahnya lembut.
Cara bicaranya pelan.
Ia sedang membaca buku ketika tiga murid masuk.
Mereka saling memandang.
Lalu tersenyum.
Senyum yang membuat Youni langsung menunduk.
"Eh."
Youni diam.
"Eh!"
Salah satu murid menarik bukunya.
Youni kaget.
"Itu bukuku..."
"Hah?"
"Boleh dikembalikan?"
Mereka tertawa.
"Boleh dikembalikan katanya."
"Hahaha."
"Lucu banget."
Youni menunduk.
Tangannya gemetar.
"Aku cuma mau baca..."
"Baca terus."
Plak!
Buku itu dijatuhkan ke lantai.
Teman-temannya tertawa lagi.
Youni hanya diam.
Di kantin.
Youni makan sendirian.
Lalu seseorang menabrak mejanya dengan sengaja.
Bruk.
Minumannya tumpah.
"Hahaha."
"Eh maaf ya."
Nada bicaranya jelas tidak merasa bersalah.
Youni menghela napas kecil.
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa katanya."
"Hahaha."
Mereka pergi.
Meninggalkan Youni membersihkan sendiri meja yang kotor.
Hari berikutnya.
Keadaan semakin buruk.
Lorong sekolah sepi.
Youni berjalan membawa buku.
Tiba-tiba...
Dorongan keras datang dari belakang.
Bruk!
Youni jatuh.
Buku-bukunya berserakan.
Beberapa murid melihat.
Tidak ada yang membantu.
"Hahaha!"
"Jatuh!"
"Kasihan banget."
Youni menggigit bibir.
Lututnya berdarah.
Tetapi ia tetap memungut bukunya sendiri.
---
Di ruang guru.
Seorang guru melihat dari jendela.
Ia tahu apa yang terjadi.
Namun hanya menghela napas.
"Lagi-lagi."
Lalu kembali bekerja.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Malam hari.
Youni duduk di kamarnya.
Ibunya mengetuk pintu.
"Nak?"
"Iya, Bu."
"Kamu baik-baik saja?"
Youni tersenyum kecil.
"Iya."
Tetapi ketika ibunya pergi...
Senyumnya menghilang.
Ia menatap luka di tangannya.
Pelan.
Sangat pelan.
Ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku salah apa...?"
Tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian.
Keesokan paginya.
Di gedung Direktorat Perlindungan Hak Pendidikan.
Aretha berdiri di depan jendela.
Membaca seluruh laporan tentang Youni.
Satu halaman.
Dua halaman.
Tiga halaman.
Semakin lama...
Tatapannya semakin dingin.
Indira datang membawa kopi.
"Gimana?"
Aretha menutup berkas.
"Buruk."
"Seberapa buruk?"
"Lebih buruk dari yang kubayangkan."
Anetha ikut mendekat.
"Itu anak masih bertahan?"
"Iya."
"Hebat."
"Atau terlalu baik."
Mereka terdiam.
Indira mengepalkan tangan.
"Aku benci pembully."
"Aku juga," kata Anetha.
"Aku lebih benci orang dewasa yang diam."
Kali ini Aretha mengangguk.
Untuk pertama kalinya pagi itu.
"Setuju."
Indira langsung menunjuknya.
"NAH KAN! KAMU MARAH!"
"Aku tidak marah."
"ITU WAJAH ORANG MARAH!"
"Aku tenang."
"KULKAS PUN KALAH DINGIN!"
Anetha tertawa.
"Kasihan sekolah itu."
"Kenapa?" tanya Indira.
"Karena kita yang datang."
Senyum jahil muncul di wajah Anetha.
Dan untuk pertama kalinya hari itu...
Aretha ikut tersenyum tipis.
Senyum yang justru membuat Indira bergidik.
"Waduh."
"Apa?"
"Aku kenal senyum itu."
"Hm."
"Kalau Aretha udah senyum begitu..."
Indira melihat berkas Youni.
Lalu berkata pelan.
"Berarti seseorang akan menyesal."
Aretha menatap nama di berkas itu.
Youni.
Seorang murid yang bahkan belum pernah mereka temui.
Namun entah kenapa...
Ada perasaan bahwa anak itu sudah terlalu lama berjuang sendirian.
Dan mereka tidak suka melihat korban dibiarkan sendirian.
Sama sekali tidak suka.
Bersambung ke Bagian 2...