Pernahkah kalian menyukai seseorang, namun memilih untuk memendamnya rapat-rapat hanya karena takut merusak jalinan pertemanan yang sudah terbangun?
Aku mengalaminya. Menghabiskan waktu selama tiga tahun di SMA 6 Kudungga dengan sebuah rahasia besar yang tersimpan rapi di sudut hati. Dan kini, ketika waktu kami di sekolah ini hanya tersisa beberapa hari sebelum kelulusan, rasa itu masih ada di sana. Tetap utuh, tetap diam, dan tetap terasa menyesakkan.
Lelaki yang kusukai itu bukan orang yang paling populer di sekolah. Dia bukan kapten tim basket yang selalu dikelilingi jeritan siswi di pinggir lapangan, bukan anak paskibraka berbadan tegap yang karismatik saat jam istirahat, dan jelas bukan tipe bad boy yang memiliki banyak penggemar rahasia.
Dia hanyalah seorang siswa biasa yang sering kali terlihat tenggelam dalam dunianya sendiri. Namun, entah sejak kapan, sepasang mataku selalu menemukan dirinya di antara kerumunan orang.
Aku menaruh perasaan padanya.
Pada awalnya, hubungan kami sangat sederhana. Kami hanya sepasang murid yang kebetulan dipasangkan dalam tugas kelompok. Dari sana, obrolan-obrolan kecil mulai mengalir, candaan demi candaan mulai tercipta, hingga akhirnya kami berjalan beriringan sebagai teman. Sekali lagi, hanya sebatas teman. "Just friends".
Namun, di dalam lingkaran pertemanan yang kami buat, ego dalam diriku sering kali memberontak. Ketika statusku di hidupnya tak lebih dari seorang teman, apakah aku berhak merasa cemburu? Apakah aku boleh merasa iri kepada gadis-gadis lain yang dengan berani menunjukkan ketertarikan mereka padanya? Jawabannya selalu sama: tidak. Aku terlalu takut. Aku khawatir ego dan kecemburuanku akan menghancurkan jembatan pertemanan yang sudah susah payah kami bangun. Jadi, aku memilih mengalah. Aku memendam rasa itu sendirian, membiarkannya mengakar selama tiga tahun penuh.
Lucunya, posisi sebagai "teman dekat" ini malah membuatku berakhir menjadi kotak pos berjalan. Setiap gadis yang ingin memberikan surat merah jambu, hadiah, atau cokelat rajutan tangan untuknya, pasti akan mendatangi mejaku terlebih dahulu. Mereka tahu, jalur tercepat untuk sampai kepadanya adalah melaluiku.
"Nih, ada titipan lagi dari cewek kelas sebelah," kataku suatu siang, menjatuhkan sebuah amplop wangi dan sebatang cokelat berukuran besar ke atas mejanya.
Dia hanya melirik benda-benda itu sekilas melalui sudut matanya. Jangankan menyentuh, membaca nama pengirimnya pun dia enggan.
Aku menghela napas panjang, menarik kursi di hadapannya dan duduk bertumpu dagu. "Eh, lu kapan sih berhenti bersikap dingin begini? Bosan tau, setiap hari gua harus jadi perantara cinta orang lain."
Dia tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang sedang menampilkan permainan gim daring. "Ya, lu salah kan perempuan-perempuan itu, kenapa malah menyalahkan gua? Kocak lu." Ibu jarinya bergerak lincah di atas layar. "Ambil saja cokelatnya buat lu, lalu suratnya tolong buang ke tong sampah."
"Astaga, jahat sekali," gerutu ku, walau tangan ini dengan cepat mengamankan cokelat tersebut ke dalam tas. "Tapi, terima kasih cokelatnya. Setidaknya tidak sia-sia aku berteman dengan manusia sedingin dirimu."
"Hmm," gumamnya pelan, respons standar yang selalu diberikan jika fokusnya terbagi.
Meskipun dia sering bersikap acuh tak acuh pada dunia luar, ada satu hal yang tidak pernah dia lupakan: hari ulang tahunku. Dia selalu punya cara sendiri untuk merayakannya, cara yang sederhana namun berhasil membuat jantungku berdegup tak karuan.
Keesokan harinya setelah hari ulang tahunku, dia langsung menghadang jalanku begitu aku melangkah masuk ke dalam kelas.
"Bocah, lu ke mana saja semalam?" tanyanya tanpa basa-basi, menghalangi langkahku.
"Maaf, maaf. Kuota internet gua habis semalam, jadi gua langsung tidur deh," jawabku jujur sambil memamerkan cengiran tanpa dosa.
Dia mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "Alasan. Pasti dipakai marathon menonton YouTube terus sampai habis, kan? Memang itu kerjaan lu."
Aku mengerutkan kening, menatapnya penuh selidik. "Eh, kok lu bisa tahu? Jangan-jangan lu jadi penguntit, ya?"
"Sembarangan kalau bicara," potongnya cepat. Dia kemudian merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah kartu voucher internet, lalu menyodorkannya tepat di depan wajahku. "Nih."
Aku mengerjap bingung. "Apa ini?"
"Mau tidak? Kalau tidak mau, ya sudah, biar gua buang saja ke tempat sampah," ancamnya, bersiap menarik kembali tangannya.
"Eits, jangan dong! Sini!" Aku dengan sigap merebut kartu itu dari jemarinya, menyimpannya seolah itu adalah harta karun. "Terima kasih banyak ya, Mas Bro."
Dia mengulas senyum tipis, jenis senyuman yang selalu berhasil membuatku meleleh di dalam hati. "Sama-sama, Mbak Bray."
Mas Bro dan Mbak Bray.
Itu adalah panggilan akrab kami. Sebuah panggilan konyol yang hanya dimengerti oleh kami berdua, dan dia sendiri yang menciptakan sebutan itu di awal tahun kedua kami berteman. Panggilan yang meruntuhkan sekat formalitas, namun di sisi lain, menjadi pengingat yang kejam bahwa kami berada di zona pertemanan yang aman.
Hingga suatu hari, badai kecil datang menguji keteguhan hatiku. Sahabat dekatku sendiri, Ella, ternyata memendam rasa kepadanya. Sebagai sahabat yang baik, Ella terus-menerus memintaku untuk menjadi jembatan bagi mereka. Ella ingin mengenalnya lebih dekat, dan tindakan-tindakanku yang berusaha mendekatkan mereka rupanya mulai membuat lelaki itu merasa terusik.
Sore itu, sepulang sekolah, suasana kelas sudah sepi. Dia menahanku di ruang kelas, menatapku dengan sorot mata yang tidak sehangat biasanya.
"Bisa tidak, lu berhenti menjodoh-jodohkan gua dengan Ella? Geli dan jijik tahu," ujarnya tajam, tersirat rasa frustrasi yang mendalam dalam suaranya.
Aku menggigit bibir bawahku, merasa bersalah sekaligus egois karena ada bagian dari diriku yang merasa lega mendengar penolakannya. Namun, aku harus tetap berpura-pura menjadi teman yang suportif untuk Ella.
"Ya ampun, jangan begitu. Bagaimanapun juga dia itu sahabatku. Dia cuma minta tolong agar bisa mengobrol dengamu. Sekali saja, coba buka hatimu," kataku, berusaha menetralkan getar di suaraku sendiri.
"Tidak. Kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak suka dengannya," jawabnya tegas, matanya mengunci pandanganku.
"Kalau begitu, terus lu sukanya sama siapa?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirku sebelum sempat kusaring. Jantungku seketika berpacu gila-gilaan.
"Ya, gua suka sama..."
Ada jeda yang cukup lama setelah pertanyaan itu meluncur. Dia terdiam, menatapku lekat-lekat dengan tatapan yang sulit diartikan. Keheningan yang tercipta di antara kami membuat atmosfer ruangan terasa mencekik. Ada sesuatu yang aneh bergejolak di dalam dadaku. Di dalam hati yang terdalam, aku egois. Aku berharap dia akan menyebutkan satu nama, sebuah nama yang sangat ingin kudengar, walaupun barangkali itu bukan namaku.
Dia mengembuskan napas berat, lalu mendadak tawa hambar keluar dari mulutnya. "Ya, gua suka sama diri sendirilah. Emang lu ngarepin apa?"
Aku membuang napas yang sempat tertahan, tertawa kecil untuk menyembunyikan kekecewaan yang mencubit ulu hatiku. "Sialan, gua kira serius."
"Ini yang terakhir," kataku kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum kecanggungannya semakin membesar. "Dia cuma minta foto bersama lu. Janji, ini yang terakhir kali. Itu kata Ella pada gua."
Aku mengacungkan jari kelingkingku ke depan dadanya, menuntut sebuah janji kesepakatan. Dia tidak membalas tautan kelingkingku dengan kelingkingnya. Alih-alih, dia justru mengulurkan tangan dan menggenggam seluruh jemari kelingkingku dengan telapak tangannya yang hangat. Sentuhan fisik yang singkat itu mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh tubuhku membeku. Mataku membulat, menatap tangannya yang membungkus jemariku.
Dengan ekspresi wajah yang tampak malas dan terpaksa, dia akhirnya melepaskan genggamannya lalu berjalan menghampiri Ella yang sedari tadi menunggu di ambang pintu luar.
"Cepat foto," titahnya ketus pada Ella.
Aku mengambil posisi sebagai fotografer. Melalui layar ponsel yang kupegang, aku bisa melihat mereka berdua berdiri berdampingan. Ella tersenyum sangat manis ke arah kamera, sementara lelaki itu memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Namun, tepat sebelum aku menekan tombol rana, aku menyadari sesuatu lewat pantulan layar ponsel. Fokus tatapan matanya sama sekali tidak mengarah ke lensa kamera. Tatapannya jatuh lurus ke arahku, tajam dan penuh dengan emosi yang tak mampu kubaca.
Sedangkan aku? Aku hanya bisa pura-pura tidak tahu. Aku memaku fokusku pada layar ponsel, berpura-pura sibuk mengatur sudut pengambilan gambar demi menyembunyikan tanganku yang mulai gemetar.
Hingga pada akhirnya, hari yang paling kutakuti itu tiba juga. Hari ini adalah hari terakhir kami berkumpul di sekolah sebelum pengumuman kelulusan resmi dan perpisahan yang sesungguhnya. Riuh rendah suara tawa teman-teman sekelas yang saling mencoret seragam dan berfoto bersama menjadi latar belakang dari akhir cerita kami.
Dia berjalan mendekat ke arah tempat dudukku. Langkah kakinya terasa lebih lambat dari biasanya. Ketika dia berdiri di depanku, dia menatapku dengan seulas senyum yang terasa begitu melankolis, sebuah senyuman yang sangat sulit untuk kuartikan maknanya.
"Terima kasih ya, Mbak Bray, sudah sering memberi contekan tugas selama tiga tahun ini," ucapnya, memecah keheningan di antara kami. Suaranya terdengar agak serak.
Aku memaksakan sebuah senyuman terbaikku, berusaha keras menjaga agar air mata tidak luruh di hari perpisahan ini. "Tentu saja tidak gratis. Jangan lupa bayar utang-utang mu itu."
Dia terkekeh pelan, mengacak rambutku sekilas—sebuah kebiasaan yang selalu berhasil membuatku berdebar. "Iya, iya, Bawel, besok gua bayar."
Besok. Kami berdua sama-sama tahu bahwa kata "besok" itu tidak akan pernah datang lagi.
Setelah percakapan singkat yang terasa hambar namun sarat akan kesedihan itu, kami melangkah mundur. Kami berpisah jalan untuk menjalani kehidupan masing-masing di perguruan tinggi yang berbeda kota. Kami berpisah tanpa aku sempat mengatakan sepatah kata pun bahwa aku memiliki rasa yang amat besar padanya. Aku membiarkan takdir membawa kami menjauh, mengubur perasaan itu bersama kenangan putih abu-abu.
Sampai beberapa bulan kemudian, dalam sebuah acara kumpul kecil-kecilan bersama teman-teman lama, aku duduk berdekatan dengan salah satu teman satu gengnya dulu. Di tengah obrolan acak mengenai masa lalu, nama lelaki itu kembali mencuat.
"Eh, lu tau tidak?" bisik teman setongkrongannya itu sembari meminum minumannya. "Dulu itu, sebenarnya dia suka sekali sama kamu."
Tangan yang sedang memegang gelas mendadak kaku. "Hah? Jangan bercanda deh lu."
"Gua serius. Dia sering bercerita tentang lu kalau sedang berkumpul dengan anak-anak. Tapi dia itu penakut. Dia sengaja menciptakan panggilan 'Mbak Bray' dan 'Mas Bro' agar dia punya alasan untuk tetap dekat dengan lu tanpa membuat lu curiga. Dia takut setengah mati kalau dia menyatakan cinta, lu bakal menjauh dan pertemanan kalian hancur."
Aku tertegun. Dunia di sekitarku rasanya berhenti berputar seketika. Lidahku mendadak kelu, tidak mampu merangkai satu kata pun untuk merespons kalimat yang baru saja kudengar. Dada ini terasa sesak, dihantam oleh sebuah kenyataan yang datang terlambat.
Aku hanya bisa terdiam, lalu perlahan sebuah senyuman getir terukir di bibirku. Air mata yang selama ini kutahan di sudut kelopak mata, kali ini rasanya ingin mendesak keluar, bukan karena sedih, melainkan karena sebuah ironi yang teramat lucu.
Ternyata... selama tiga tahun ini kami merasakan hal yang sama. Kami sama-sama memiliki rasa, berjalan di bawah payung perasaan yang serupa, namun sama-sama memilih untuk bungkam. Kami terlalu mengagungkan kata "pertemanan", terlalu mengkhawatirkan sebuah penolakan, hingga akhirnya ketakutan itu sendiri yang membunuh kesempatan kami sebelum sempat berkembang. Kami mengorbankan cinta demi menjaga sebuah hubungan yang pada akhirnya toh tetap merenggang karena jarak dan waktu.
Sekarang, sebuah pertanyaan besar tertinggal di kepalaku, mengambang di antara penyesalan-penyesalan yang tak akan pernah berujung.
Menurut kalian sendiri, di antara semua skenario patah hati, mana yang rasanya jauh lebih sakit?
Apakah menyukai seseorang namun hanya bisa memendamnya sendirian sampai akhir tanpa pernah tahu bagaimana perasaan orang tersebut? Atau menyukai seseorang, memberanikan diri untuk mengungkapkannya, namun berakhir dengan penolakan yang menghancurkan harapan?
Atau... apakah situasi seperti yang kualami ini yang jauh lebih menyakitkan? Ketika dua orang sebenarnya saling menyukai, saling mendamba dalam diam, namun harus menerima kenyataan pahit bahwa mereka gagal bersatu hanya karena mereka terlalu mementingkan status hubungan pertemanan. Memendam rasa hingga waktu membawa mereka berpisah, dan baru mengetahui kebenarannya saat segalanya sudah terlambat untuk diulang kembali.