Bagi Dimas Aditya, koridor SMA 6 Adidarma bukanlah tempat untuk menuntut ilmu, melainkan sebuah arena gladiator di mana ia selalu menjadi pihak yang kalah.
Setiap pagi, atmosfer sekolah itu selalu terasa mencekik. Begitu kakinya melewati gerbang, bisik-bisik yang disusul oleh tawa riuh langsung menyambutnya seperti melodi usang yang diputar berulang-ulang.
"Lihat, si babi hutan datang! Minggir-minggir, jalanan mau runtuh! Gendut, jelek, badan bau lumpur!" teriakan itu menggema, memancing tawa dari murid-murid lain yang berpapasan dengannya.
Dulu, kata-kata itu memicu air mata dan membuatnya mengunci diri di bilik toilet paling ujung. Namun kini, rasa sakit itu telah mengkristal menjadi sesuatu yang dingin. Ia sudah mati rasa dan menganggap semua makian itu sebagai angin lalu yang wajar terjadi pada orang seperti dirinya. Di dunia ini, yang buruk rupa tidak punya hak untuk dihormati, dan Dimas sudah menerima takdir itu dengan lapang dada.
Namun, di tengah-tengah dunianya yang penuh caci maki, ada satu-satunya alasan mengapa Dimas masih sudi membuka mata setiap pagi. Namanya Mawar, gadis tercantik di sekolahan. Mawar adalah definisi kesempurnaan dengan rambut hitam legam yang selalu tergerai indah dan sepasang mata yang menawan.
Bagi Dimas, Mawar adalah makhluk yang sangat indah, namun bagi Mawar, Dimas tidak lebih dari sekadar kotoran.
Pernah suatu kali Dimas mencoba menyapa dan menyodorkan pulpennya yang terjatuh, "Mawar, ini... pulpenmu jatuh." Namun, belum sempat gadis itu mengambilnya, Mawar sudah mundur dua langkah dengan tatapan mata yang penuh rasa jijik yang amat murni.
"Jangan dekat-dekat, menjauh dariku!" ketusnya sebelum berbalik pergi, seolah-olah Dimas adalah makhluk berlendir yang membawa wabah. Tatapan jijik itu justru menanam sebutir benih aneh di kepala Dimas, sebuah obsesi yang semakin menggila untuk bisa memilikinya.
Suatu hari, sebuah peristiwa sial menguji batas kesabaran Dimas yang sudah tipis. Saat ia sedang merapikan buku di mejanya, seorang siswi yang memiliki perawakan hampir sama dengan dirinya—bertubuh gempal dan selalu menjadi target perundungan kedua—berdiri di hadapannya. Dengan tangan gemetar, gadis itu menyodorkan sebuah amplop merah jambu dan sebatang cokelat.
"Dimas... ini untukmu," cicit gadis itu pelan dengan wajah memerah.
Belum sempat Dimas merespons, beberapa siswa di kelas yang melihatnya langsung bersorak riuh. "Wah, lihat itu! Sesama babi sedang jatuh cinta! Cocok sekali, kandang kalian pasti muat berdua!" tawa mereka meledak sambil memukul-mukul meja.
Rasa panas menjalar di dada Dimas karena penghinaan yang mendalam. Dengan sentakan kesal, Dimas merebut surat serta cokelat itu lalu melemparkannya tepat ke dalam tong sampah di sudut kelas.
"Jangan samakan aku denganmu!" bentak Dimas kasar.
Gadis itu berlari keluar sambil menangis, sementara Dimas berjalan menuju jendela untuk mendinginkan kepalanya.
Namun, pemandangan di luar kelas justru membuat dadanya semakin sesak.
Di halaman sekolah, ia melihat Mawar sedang berdiri di depan Rangga, lelaki paling tampan sekaligus idola di sekolah. Mawar yang biasanya angkuh kini tampak begitu rapuh saat menyodorkan sebuah surat kepada Rangga.
"Rangga, aku menyukaimu... tolong terima ini," ucap Mawar dengan suara bergetar.
Dari lantai dua, Dimas melihat dengan jelas bagaimana Rangga mengambil surat itu, membacanya sekilas, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas tanah yang berdebu.
"Jangan bermimpi, kamu bukan tipeku," ucap Rangga dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Mawar begitu saja dalam tangisnya yang pecah.
Sebuah sirkuit aneh di dalam kepala Dimas mendadak terhubung. Sebuah pikiran yang teramat gelap perlahan-lahan muncul dan berakar di kepalanya. Mawar menolaknya karena ia jelek, dan Mawar mengejar Rangga karena Rangga tampan. Tapi Rangga menyia-nyiakannya. Jika ia bisa menjadi Rangga, maka Mawar pasti akan menatapnya dengan cinta, bukan dengan rasa jijik.
Malam harinya, hujan turun menyamarkan segalanya. Dimas berdiri di dalam kegelapan gang sempit, mengenakan jaket longgar hitam dan membawa sebuah pipa besi yang berat. Ia telah mengintai pergerakan Rangga yang baru saja pulang dari latihan basket.
Saat Rangga berjalan santai melewati gang sambil mendengarkan musik lewat earphone, Dimas melangkah keluar tanpa suara dan mengayunkan pipa besi itu dengan kekuatan penuh tepat ke arah belakang kepala Rangga.
Suara benturan tumpul terdengar begitu memuaskan di telinga Dimas saat tubuh atletis Rangga langsung ambruk ke atas tanah yang basah tanpa sempat berteriak.
Dimas membawa tubuh lelaki yang sudah tewas itu ke rumahnya yang kosong. Ia meletakkannya di bawah lampu sorot kamar, lalu mengambil kamera digital untuk mengambil foto wajah Rangga mulai dari tampak depan, samping kiri, hingga samping kanan. Cekrek, cekrek. Dimas tersenyum lebar melihat hasil foto di layar kamera.
"Sempurna. Wajah ini akan terlihat jauh lebih baik padaku," bisiknya parau.
Beberapa bulan pun berlalu dalam keheningan. Selama waktu itu, Dimas melakukan metamorfosis yang ekstrem dan mengerikan. Ia mengikis berat badannya dengan diet gila-gilaan hingga postur tubuhnya berubah tegap menyerupai Rangga. Menggunakan panduan foto yang ia ambil, Dimas melakukan restrukturisasi wajahnya sendiri lewat operasi amatir dan nekat yang menyiksa fisiknya hingga batas mutlak.
Setiap rasa sakit yang menyengat adalah harga kecil yang harus dibayar demi sebuah kesempurnaan. Hingga akhirnya, seorang lelaki berdiri di depan kaca di dalam kamarnya yang sepi. Dengan tangan yang gemetar oleh rasa kegembiraan yang membuncah, ia perlahan-lahan membuka perban yang melilit seluruh wajahnya.
Ketika kain putih itu terlepas sepenuhnya, ia tersenyum bahagia melihat hasil wajahnya di kaca. Struktur rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan mata yang tajam—itu adalah wajah Rangga yang sempurna. Dimas Aditya yang lama telah lenyap, dan kini ia telah terlahir kembali.
Keesokan harinya, lelaki itu turun ke sekolah dengan langkah penuh percaya diri. Kehadirannya langsung membuat koridor riuh oleh bisikan para siswi yang terpesona melihat kembalinya sang idola.
"Eh, bukankah itu Rangga? Gila, dia makin keren saja setelah menghilang!"
Ia berjalan lurus menemui Mawar yang sedang berdiri melamun di koridor. Tidak lupa, ia menyodorkan setangkai bunga mawar merah yang segar tepat di hadapan gadis itu.
"Untukmu, Mawar," ucap Dimas dengan suara bariton milik Rangga yang terdengar sangat berwibawa.
Mawar tersentak, dan begitu melihat wajah lelaki di depannya, matanya langsung berbinar bahagia. Pipinya merona kemerahan, dan tatapan jijik yang dulu selalu ia berikan kini telah berganti menjadi tatapan penuh kekaguman yang mendalam.
"Rangga... kamu kembali? Terima kasih bunganya," bisik Mawar manja sambil menerima pemberian itu dengan tangan gemetar karena senang.
Di belakang mereka, terdapat sebuah mading besar sekolah. Di papan pengumuman itu, tertempel dua lembar kertas maklumat orang hilang yang sudah agak berdebu. Lembaran pertama menampilkan foto Dimas Aditya, dan lembaran kedua menampilkan foto Rangga Putra.
Dimas, yang sekarang telah hidup sepenuhnya di dalam wujud Rangga, menatap mading itu dengan senyuman tipis. Dengan gerakan santai, ia mengulurkan tangannya melewati bahu Mawar lalu merobek kertas pengumuman orang hilang atas nama Rangga, meremasnya, dan membuangnya ke lantai.
Mawar yang melihat hal itu mengedipkan matanya bingung, "Rangga? Kenapa kamu merobeknya?"
Dimas kembali menatap Mawar, memberikan senyuman paling menawan yang bisa dihasilkan oleh otot-otot wajah barunya.
"Tidak apa-apa," bisik Dimas lembut sambil merapikan rambut Mawar. "Rangga yang lama sudah tidak perlu dicari lagi. Karena sekarang, dia sudah ada di sini, bersamamu selamanya."
Mawar tersenyum lebar dan langsung memeluk lengan kekar lelaki itu dengan erat, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik wajah tampan yang dipujanya, ada iblis yang sedang tersenyum penuh kemenangan atas obsesinya yang telah menjadi nyata.