Hujan turun perlahan membasahi jendela rumah besar itu.
Di ruang makan yang hangat, Maya meletakkan dua piring sarapan di atas meja. Wajahnya cantik, rapi, dan selalu terlihat tenang.
Di usianya yang baru menginjak tiga puluh dua tahun, ia adalah perempuan yang sering disebut orang-orang sebagai istri sempurna.
Maya memiliki usaha desain interior yang berkembang pesat. Penghasilannya bahkan lebih besar dari sebagian besar laki-laki di lingkungannya.
Sementara suaminya, Arga, memiliki toko elektronik yang cukup sukses di kota mereka.
Mereka menikah hampir sembilan tahun.
Belum memiliki anak, tetapi kehidupan mereka terlihat sangat harmonis dari luar.
Maya tidak pernah pelit membantu usaha suaminya.
Ketika toko Arga hampir bangkrut beberapa tahun lalu, Maya yang diam-diam menjual sebagian aset investasinya untuk menutupi utang.
Saat Arga ingin membuka cabang baru, Maya yang menambah modal.
Bahkan rumah mewah tempat mereka tinggal sekarang dibeli menggunakan uang Maya.
Meski begitu, Maya tidak pernah mengungkitnya.
Tidak pernah.
"Mas, sarapannya jangan lupa dimakan."
Arga tersenyum.
"Kamu selalu perhatian."
Maya tertawa kecil.
"Kan aku istrimu."
Kala itu mereka masih terlihat seperti pasangan yang bahagia.
Kala itu.
Kesibukan Maya semakin meningkat.
Proyek demi proyek datang tanpa henti.
Ia sering pulang malam.
Kadang harus keluar kota beberapa hari.
Bukan karena Maya tidak peduli rumah tangga.
Ia hanya sedang berada di masa paling sibuk dalam kariernya.
Rumah mulai sedikit berantakan.
Pakaian kadang menumpuk.
Masakan tidak selalu tersedia.
Setelah berdiskusi dengan Arga, akhirnya Maya memutuskan mencari asisten rumah tangga.
Beberapa minggu kemudian datanglah seorang gadis desa bernama Sinta.
Usianya baru sembilan belas tahun.
Baru lulus SMA.
Wajahnya manis.
Kulitnya sawo matang.
Tubuhnya ramping.
Pembawaannya sopan dan pemalu.
"Aku titip rumah ini ya, Sin."
Sinta mengangguk cepat.
"Iya, Bu."
Maya memperlakukan Sinta dengan baik.
Bahkan terlalu baik.
Ia membelikan pakaian layak.
Memenuhi kebutuhan Sinta tiap harinya.
Memberi bonus.
Mengajarinya menggunakan peralatan rumah tangga modern.
Sinta berkali-kali menangis karena merasa beruntung mendapat majikan seperti Maya.
Namun manusia sering berubah ketika diuji oleh keinginan.
Awalnya Arga hanya sering mengobrol dengan Sinta.
Kemudian bercanda.
Kemudian makan bersama saat Maya sedang bekerja.
Lalu mulai saling berkirim pesan.
Sinta sebenarnya tahu itu salah.
Sangat salah.
Namun perhatian dari laki-laki yang lebih dewasa membuatnya terlena.
Sementara Arga...
Ia menikmati semuanya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sinta selalu mengaguminya.
Selalu memuji.
Selalu terlihat kagum pada setiap cerita yang ia sampaikan.
Perasaan itu membuat Arga merasa penting.
Merasa menjadi laki-laki hebat.
Sesuatu yang tidak lagi ia rasakan karena Maya terlalu mandiri.
Terlalu kuat.
Terlalu sempurna.
Padahal Maya tidak pernah bermaksud membuat suaminya merasa kecil.
Tetapi Arga mulai mencari pembenaran.
Ia mulai meyakinkan dirinya bahwa ia pantas mendapatkan perhatian lain.
Dan dari situlah semuanya dimulai.
Hubungan terlarang itu berkembang cepat.
Mereka berciuman diam-diam.
Berpelukan saat rumah kosong.
Kemudian melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilewati.
Bahkan berkali-kali.
Di rumah Maya.
Di kamar Maya.
Di atas tempat tidur Maya.
Tempat yang selama ini menjadi saksi perjalanan pernikahan mereka.
Sinta menangis setiap selesai melakukan itu.
Tetapi ia tidak pernah benar-benar menghentikannya.
Arga pun semakin berani.
Karena merasa aman.
Karena merasa tidak akan ketahuan.
Maya terlalu sibuk.
Maya terlalu percaya.
Dan kepercayaan sering kali menjadi tempat paling nyaman bagi pengkhianatan.
Lima bulan berlalu.
Tidak ada yang mencurigakan.
Hingga suatu sore.
Maya pulang lebih cepat karena rapat dibatalkan.
Saat membuka pintu rumah, suasana terasa aneh.
Terlalu sunyi.
Terlalu sepi.
Ia memanggil.
"Sinta?"
Tidak ada jawaban.
"Mas Arga?"
Tetap tidak ada.
Perlahan Maya menaiki tangga.
Langkahnya berhenti di depan kamar utama.
Pintu tidak terkunci.
Dan ketika ia membukanya...
Dunia Maya runtuh.
Di atas ranjangnya.
Di kamar yang dibelinya.
Di rumah yang dibangunnya.
Suaminya dan Sinta sedang berada dalam keadaan yang tidak seharusnya, tubuh suaminya berada diatas Sinta, bahkan tidak memakai baju sehelaipun.
Maya membeku.
Tidak bisa bernapas.
Tidak bisa berpikir.
Tidak bisa bergerak.
Waktu seolah berhenti.
Sinta menjerit histeris.
Arga melompat panik.
"Maya!"
Tamparan keras mendarat di wajah Arga.
BUKK!
Laki-laki itu sampai terhuyung.
Maya gemetar.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Air mata jatuh tanpa suara.
"Aku... aku mempercayai kalian..."
Suara Maya pecah.
"Aku mempercayai kalian berdua..."
Malam itu menjadi malam paling panjang dalam hidup Maya, setelah suami dan Sinta memakai pakaiannya, mereka turun kebawah.
Maya menginterogasi keduanya di ruang tamu.
Awalnya mereka menyangkal.
Tetapi bukti terlalu banyak.
Isi chat.
Foto.
Rekaman CCTV rumah.
Semuanya terbongkar.
Hubungan itu ternyata sudah berjalan hampir lima bulan.
Lima bulan.
Artinya dua bulan setelah Sinta mulai bekerja.
Maya tertawa.
Tertawa sambil menangis.
"Hebat ya kalian."
Ia menatap Sinta.
"Aku yang memberimu pekerjaan."
Lalu menatap Arga.
"Aku yang membangun hidupmu."
Tak ada yang berani menjawab.
Hingga akhirnya Sinta berkata pelan.
"Saya... saya mencintai Pak Arga."
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pisau.
Kemudian Arga berbicara.
Dan kata-kata itulah yang benar-benar menghancurkan segalanya.
"Aku juga mencintai Sinta."
Maya menatapnya tidak percaya.
Arga melanjutkan.
"Aku ingin menikahinya."
Ruangan menjadi sunyi.
Maya merasa seperti baru saja dilempar ke jurang.
Sembilan tahun pernikahan.
Sembilan tahun pengorbanan.
Sembilan tahun kesetiaan.
Diganti dengan seorang gadis yang baru dikenalnya tujuh bulan.
"Kalau begitu..."
Suara Maya berubah sangat tenang.
Terlalu tenang.
"Kita bercerai."
Arga terkejut.
"Maya..."
"Tidak."
Maya menggeleng.
"Aku tidak akan hidup serumah dengan laki-laki yang menjadikan tempat tidurku sebagai tempat perselingkuhan."
Ia menatap Sinta.
"Kamu juga tidak perlu bekerja di sini lagi."
Hari itu juga.
Maya memecat Sinta.
Dan mengajukan gugatan cerai.
Perceraian berlangsung cepat.
Karena bukti perselingkuhan sangat jelas..
Arga sempat berharap Maya berubah pikiran.
Tetapi tidak.
Bagi Maya, cinta bisa diperbaiki.
Kepercayaan juga bisa diperbaiki.
Namun harga diri yang diinjak-injak seperti itu tidak lagi bisa diselamatkan.
Setelah putusan keluar.
Maya berdiri di depan rumah.
Arga membawa koper.
Sinta berdiri di sampingnya.
"Ayo pergi." Agra menggenggam tangan Sinta.
Suara Maya dingin.
"Rumah ini milikku."
Tidak ada yang bisa membantah.
Sertifikat atas nama Maya.
Pembayaran atas nama Maya.
Semuanya milik Maya.
Mereka pergi.
Tanpa kehormatan.
Tanpa kebanggaan.
Tanpa apa-apa.
Beberapa bulan pertama.
Arga merasa bahagia.
Ia akhirnya hidup bersama perempuan yang katanya dicintainya.
Namun kenyataan berbeda dari khayalan.
Sinta bukan Maya.
Sinta tidak mampu membantu keuangan.
Tidak mampu mengelola usaha.
Tidak mampu menopang hidup mereka.
Toko elektronik Arga mulai bermasalah.
Utang menumpuk.
Cabang yang dulu dibuka dengan bantuan Maya akhirnya tutup.
Pelanggan berkurang.
Karyawan satu per satu keluar.
Sinta mulai sering mengeluh.
Mereka bertengkar hampir setiap hari.
Hubungan yang dulu terasa manis berubah menjadi saling menyalahkan.
Dan pada akhirnya.
Sinta pergi.
Meninggalkan Arga, dan Agra akhirnya sendirian, menjalani hidupnya yangbtak sama lagi seperti dulu.
Lima tahun kemudian.
Arga duduk sendirian di sebuah kontrakan sempit.
Toko elektroniknya bangkrut.
Tabungannya habis.
Rambutnya mulai memutih.
Tak ada lagi orang yang menemaninya.
Ia sering melewati rumah lamanya.
Rumah yang kini terlihat lebih indah.
Rumah yang dulu ia tinggalkan demi selingkuhan.
Dan setiap kali melihatnya, penyesalan datang seperti ombak.
Terlambat.
Selalu terlambat.
Sementara Maya...
Hidupnya justru berubah.
Ia bangkit perlahan.
Menyembuhkan luka sedikit demi sedikit.
Mengembangkan bisnisnya.
Membuka kantor baru.
Mempekerjakan puluhan orang.
Namanya semakin dikenal.
Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak harus bergantung pada seseorang.
Bahwa kehilangan seseorang yang mengkhianati bukanlah akhir kehidupan.
Dua tahun setelah perceraian.
Maya bertemu seorang pria sederhana bernama Damar.
Seorang arsitek yang tenang.
Dewasa.
Jujur.
Dan menghargainya bukan karena hartanya.
Melainkan karena dirinya.
Hubungan mereka berjalan lambat.
Sehat.
Tanpa kebohongan.
Tanpa permainan.
Sampai akhirnya mereka menikah.
Dalam sebuah acara sederhana yang hangat.
Saat mengucapkan janji pernikahan, Maya sempat meneteskan air mata.
Bukan karena masih mencintai masa lalunya.
Tetapi karena akhirnya ia memahami satu hal.
Pengkhianatan memang bisa menghancurkan hati.
Namun tidak berhak menghancurkan masa depan.
Dan terkadang, orang yang meninggalkan kita demi sesuatu yang dianggap lebih baik, justru sedang membuka jalan agar kebahagiaan yang sesungguhnya dapat menemukan kita.