Sore itu, langit di desa tempat tinggal Wulan tertutup awan kelabu tebal, membuat suasana terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya. Angin kencang bertiup, membawa suara gemerisik daun kering yang bergesekan, seolah ada orang yang berbisik-bisik di balik pepohonan tua. Wulan baru saja pulang dari ladang, langkahnya terhenti saat pandangannya tertuju pada sudut halaman belakang rumah neneknya—tempat di mana terdapat sebuah sumur tua yang sudah tidak digunakan selama puluhan tahun.
Batu-batu penyusun dinding sumur itu sudah berlumut, warnanya kelabu kusam, dan mulut sumurnya tertutup papan kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Sejak kecil, Wulan selalu dilarang mendekati tempat itu. Neneknya sering berpesan dengan suara serius, “Jangan pernah kau sentuh, jangan pernah kau buka. Di sana tersimpan rahasia kelam, dan siapa pun yang mengganggunya akan membawa sial seumur hidup.”
Namun hari itu, rasa penasaran Wulan tumbuh besar. Neneknya sedang pergi ke desa tetangga, tidak ada orang yang bisa melarangnya. Di telinganya, seolah terdengar suara samar—suara gemericik air lembut, bercampur suara tangisan halus yang keluar dari dalam sumur tua itu. Suara itu memanggil namanya, pelan namun terus menerus, seolah mengajaknya mendekat.
Tanpa sadar, kaki Wulan melangkah perlahan menuju sumur tua itu. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut sempat muncul, tapi rasa ingin tahu lebih kuat menguasai dirinya. Ia menyingkirkan papan kayu penutup mulut sumur itu dengan susah payah. Begitu papan itu terangkat, bau apek dan lembap yang sangat tajam segera menyembur keluar, membuat hidungnya terasa perih.
Wulan menunduk, mencoba melihat ke dalam kegelapan sumur itu. Air di dasarnya tampak hitam pekat, tenang tanpa riak, seolah permukaan cermin yang gelap. Saat ia memfokuskan pandangan, wajahnya sendiri yang semula terpantul di sana perlahan berubah. Pantulan itu bukan lagi wajahnya yang muda dan cerah, melainkan wajah seorang wanita tua dengan mata cekung, kulit keriput, dan rambut panjang yang kusut menutupi sebagian wajahnya. Wanita itu menatap Wulan lekat-lekat, lalu perlahan tersenyum lebar—sampai sudut bibirnya robek sampai ke telinga.
“Akhirnya… ada yang datang menjemputku…”
Suara itu terdengar jelas di telinga Wulan, bukan dari dalam air, melainkan tepat di samping telinganya sendiri. Wulan tersentak hebat, tubuhnya mundur terhuyung, napasnya tersengal-sengal karena ketakutan. Ia hendak lari pergi, tapi kakinya seolah tertanam kuat di tanah, tidak bisa digerakkan sedikitpun.
Seketika itu juga, cuaca berubah drastis. Angin bertiup makin kencang, menggiring awan hitam yang semakin pekat, hingga langit sore berubah menjadi gelap gulita seperti tengah malam. Dari dalam sumur, terdengar suara gemuruh air yang bergolak, disusul munculnya tangan-tangan kurus pucat yang menjulur naik, mencoba menggapai tepian sumur.
Ingatan lama yang pernah diceritakan orang desa tiba-tiba muncul di benak Wulan. Dulu, puluhan tahun yang lalu, ada seorang wanita yang dituduh melakukan ilmu hitam oleh penduduk desa. Wanita itu dihukum secara sewenang-wenang, lalu dibuang hidup-hidup ke dalam sumur itu, dihantam batu-batu besar hingga tertimbun, dan dibiarkan mati di sana sendirian. Sebelum napasnya habis, wanita itu bersumpah akan mengutuk siapa pun yang berani mengganggu tempat peristirahatan terakhirnya, dan akan menarik jiwa orang pertama yang membuka sumur itu untuk menemaninya selamanya.
“Maafkan saya… maafkan saya… saya tidak tahu…” isak Wulan dengan suara gemetar, air mata mulai mengalir deras di pipinya. Ia mencoba berdoa sekuat tenaga, tapi suara tangisan dan teriakan marah dari dalam sumur semakin keras, semakin mendesak.
Tiba-tiba, satu tangan dingin yang kurus berhasil meraih pergelangan kaki Wulan. Kulit tangan itu terasa basah, lengket, dan sedingin es. Wulan menjerit histeris, mencoba melepaskan cengkeraman itu, tapi kekuatannya jauh lebih lemah. Perlahan namun pasti, tubuhnya mulai ditarik mundur, semakin mendekati tepian sumur yang gelap itu.
“Jangan tinggalkan aku sendiri… Ikutlah bersamaku…” bisik suara wanita itu lagi, kali ini terdengar penuh kemarahan dan dendam.
Wulan meronta sekuat tenaga, berteriak meminta tolong, tapi tidak ada satu pun suara yang terdengar keluar dari mulutnya. Suaranya tertelan oleh angin kencang yang menderu-deru di sekelilingnya. Saat tubuhnya hampir jatuh ke dalam kegelapan sumur itu, tiba-tiba terdengar suara panggilan yang familiar.
“Wulan! Apa yang kau lakukan di sana?!”
Itu suara neneknya yang baru saja pulang. Neneknya berlari kencang, segera menarik tubuh Wulan ke belakang, lalu dengan cepat menutup kembali mulut sumur itu dengan papan kayu. Ia menumpuk batu-batu besar di atas papan itu, sambil membaca doa perlindungan dengan suara keras dan penuh ketegangan.
Cengkeraman dingin di kaki Wulan akhirnya lepas. Angin kencang perlahan mereda, langit kembali terang seperti semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Wulan terkulai lemas di pelukan neneknya, tubuhnya gemetar hebat, kakinya terasa nyeri sekali. Saat ia melihat ke pergelangan kakinya, terlihat jelas bekas jari-jari berwarna biru tua yang melingkar erat, terasa dingin saat disentuh.
“Sudah kubilang, Nak… sumur itu tidak boleh diganggu,” bisik neneknya dengan sedih, sambil mengusap rambut cucunya yang basah oleh keringat dingin. “Kamu sudah membangunkan dendam yang sudah tertidur lama. Kutukan itu sudah menempel padamu, Wulan. Kita hanya bisa berdoa agar dia tidak datang lagi untuk mengambil apa yang dia minta.”
Sejak hari itu, kehidupan Wulan tidak pernah kembali normal. Setiap malam, ia selalu mendengar suara tangisan halus yang memanggil namanya. Di dalam mimpi, ia selalu melihat wajah wanita tua itu yang menatapnya dengan tatapan lapar, terus mendekat, dan mencoba meraihnya. Bekas jari di kakinya tidak pernah hilang, malah semakin lama semakin terasa sakit, seolah ada yang terus menarik kakinya ke bawah.
Dan setiap kali ia melirik ke sudut halaman belakang, ia selalu melihat bayangan samar wanita tua itu berdiri di dekat sumur tua, diam saja, namun matanya selalu tertuju padanya—menunggu waktu yang tepat, untuk datang kembali dan membawa Wulan pergi, untuk selamanya.
Sumur tua itu tetap tertutup rapat, tapi bagi Wulan, pintu gerbang rasa takut dan kutukan itu sudah terbuka lebar, dan tidak akan pernah bisa ditutup kembali.