Hujan turun pelan di luar halte kecil dekat lampu merah. Kota sore itu dipenuhi suara klakson, langkah kaki tergesa, dan aroma aspal basah yang bercampur asap kendaraan. Orang-orang sibuk pulang menuju rumah mereka masing-masing. Ada yang menenteng belanjaan, ada yang menggandeng anak kecil, ada pula pasangan yang saling bercanda sambil berlari menghindari gerimis.
Sedangkan Damar… tidak pernah benar-benar tahu arti pulang.
Ia duduk di bangku halte yang dingin sambil memainkan korek api di tangannya. Bunyi klik kecil terus terdengar berulang-ulang. Seragam sekolahnya kusut, dasinya longgar, dan ada lebam samar di sudut bibir yang sengaja ia tutupi dengan masker hitam.
Tatapannya kosong menembus jalanan basah di depannya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
“Kalau ayahmu pulang malam ini, jangan bikin masalah lagi.” kata ibu dengan nada lelah
Damar membaca pesan itu beberapa detik sebelum terkekeh kecil. Menurutnya kata kata itu *lucu*
Di rumahnya, semua orang selalu bicara tentang masalah, tapi tak pernah tentang luka.
Ayahnya pemarah. Ibunya terlalu lelah untuk melawan. Dan setiap malam rumah itu seperti medan perang yang menunggu siapa yang lebih dulu meledak.
Kadang piring.
Kadang makian.
Kadang hati seseorang.
Damar masih ingat bagaimana suara bentakan ayahnya bisa terdengar lebih tajam daripada pecahan kaca. Ia juga ingat bagaimana ibunya selalu menangis diam-diam di dapur ketika malam terlalu kacau untuk ditahan.
Tapi anehnya, keesokan paginya mereka akan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah rumah itu baik-baik saja. Seolah Dama tidak tumbuh dengan rasa takut setiap kali mendengar suara pintu dibuka terlalu keras.
Ia memasukkan ponselnya ke saku celana lalu menyandarkan kepala ke kaca halte.
*Capek* belakangan itu jadi satu-satunya kata yang terus berputar di kepalanya.
“Aku duduk di sini boleh?” Suara perempuan membuat Damar menoleh malas.
Seorang gadis berdiri di depannya sambil memegang payung bening. Rambut hitamnya sedikit basah terkena hujan. Tidak ada hal mencolok dari penampilannya. Seragamnya sama seperti siswa lain. Tasnya juga biasa saja.
Tapi matanya…
Hangat.
Hangat dengan cara yang aneh.
“Terserah,” jawab Damar datar.
Gadis itu duduk tanpa banyak bicara. Aroma hujan dan sampo lembut samar terasa ketika ia membuka tasnya.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Lalu tiba-tiba gadis itu menyodorkan roti cokelat kecil.
“Kamu kelihatan belum makan.” tanya gadis itu
“Kamu kenal aku?” Damar mengernyit heran.
“Enggak.” jawab gadis tersebut dengan muka polos
“Terus kenapa peduli?” tanya damar bingung.
Gadis itu tersenyum kecil. Bukan senyum yang dibuat-buat. Hanya tipis dan tenang.
“Karena kamu kelihatan seperti orang yang lagi berusaha kuat sendirian.” jawab gadis itu santai
Kalimat itu menghantam dada Damar lebih keras daripada bentakan mana pun yang pernah ia dengar.
Bukan karena sedih.
Tapi karena untuk pertama kalinya… ada seseorang yang benar-benar melihatnya.
Damar buru-buru memalingkan wajah.
“Aneh.” ucap damar. Singkat, padat, dan mencekam
“Banyak yang bilang gitu,” jawab gadis itu santai.
Hening kembali turun di antara mereka. Namun kali ini tidak terasa canggung.
“Namamu siapa?” tanya gadis itu.
“Damar.” jawab damar
“Aku Senja.” ucap gadis itu memperkenalkan diri. Tangannya diulur akan menjabat tangan damar.
Sedangkan damar hanya melirik sekilas.
“Nama yang aneh.” ucap damar agak sedikit melunak
Senja tertawa kecil. “Katanya sih karena aku lahir pas matahari tenggelam.”
Untuk alasan yang tidak ia mengerti, Damar tidak membenci percakapan itu.
Padahal biasanya ia selalu ingin mengakhiri interaksi dengan orang lain secepat mungkin.
Namun bersama Senja, semuanya terasa ringan.
Sejak hari itu mereka mulai sering bertemu.
Kadang di perpustakaan sekolah saat Damar pura-pura belajar padahal hanya tidur di meja belakang. Kadang di halte yang sama sepulang sekolah. Kadang berjalan tanpa tujuan sambil mendengarkan lagu dari satu earphone yang dipakai berdua.
Senja gadis yang ceria, kontras dengan Damar yang cenderung diam dan sulit ditebak.
Saat Damar diam terlalu lama, Senja akan memberinya permen kopi tanpa bertanya apa-apa.
Saat Damar marah karena berkelahi di sekolah, Senja hanya duduk di sampingnya sambil memainkan tali tas.
Dan saat dunia terasa terlalu berat, gadis itu selalu berkata hal yang sama.
“Kamu enggak harus kuat terus.” ucap senja tiba tiba
Awalnya Damar tidak percaya pada semua itu.
Ia terlalu terbiasa ditinggalkan.
Terlalu terbiasa melihat orang datang hanya untuk akhirnya pergi.
Baginya, keluarga hanyalah kumpulan orang yang tinggal di bawah atap yang sama sambil saling melukai perlahan.
Jadi ketika Senja mulai menjadi tempat paling nyaman dalam hidupnya, Damar takut.
Takut berharap.
Takut nyaman.
Takut kehilangan.
Suatu malam pertengkaran besar kembali pecah di rumahnya.
Lebih buruk dari biasanya.
Suara kaca pecah menggema sampai ke kamar Damar. Ayahnya membentak kasar. Ibunya menangis sambil memohon sesuatu yang tidak jelas terdengar.
Damar memejamkan mata kuat-kuat.
Namun suara itu tetap masuk.
Tetap menusuk.
“BAPAK CAPEK SAMA RUMAH INI!”
BRAK!!!
Suara pintu dibanting keras.
Napas Damar mulai tidak teratur.
Tangannya gemetar.
Ia meraih jaketnya lalu keluar rumah tanpa berpikir panjang.
Hujan turun deras malam itu.
Damar berjalan tanpa arah menyusuri jalanan kota yang basah kuyup. Lampu kendaraan tampak kabur terkena air hujan. Sepatunya penuh cipratan lumpur, tapi ia tidak peduli.
Yang ia tahu hanya satu. Ia tidak ingin kembali.
Langkahnya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil bercat putih *Rumah Senja*.
Damar berdiri ragu di depan pagar sebelum dan akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pelan.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka......
Senja tampak terkejut melihatnya.
“Damar?” tanya gadis itu heran
Anak laki-laki itu berdiri basah kuyup. Rambutnya menempel berantakan di dahi. Bahunya gemetar entah karena dingin atau karena terlalu lama menahan semuanya sendirian.
“Aku capek…” suaranya pecah pelan. “Aku capek hidup di rumah yang isinya cuma teriak.”
Senja tidak langsung menjawab.
Ia hanya menarik tangan Damar masuk ke teras lalu memberinya handuk kecil.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain hujan yang jatuh dari atap.
Damar menunduk.
“Aku kadang takut,” katanya lirih. “Takut suatu hari nanti aku bakal jadi kayak ayahku.”
Senja menatapnya lama.
Tatapan itu tidak menghakimi.
Tidak kasihan.
Hanya memahami.
“Senja…” suara Damar makin pelan. “Kalau suatu hari aku jadi orang yang rusak… kamu bakal pergi juga?” tanya damar. Nadanya seperti orang ragu
Pertanyaan itu terdengar seperti sesuatu yang sudah lama ia simpan sendirian.
Senja menggeleng pelan.
“Semua orang punya luka, Dam,” kata senja lembut. “Bedanya, ada yang memilih menyakiti orang lain… dan ada yang memilih belajar sembuh.” lanjut senja
Damar terdiam.
“Maksudmu?” tanya damar sedikit tidak paham dengan ucapan senja
Senja tersenyum kecil.
“Aku mau jadi tempat kamu pulang.”
Ia menatap mata Damar tanpa ragu. Tangannya terulur untuk mengelap pipi damar yang dipenuhi air mata
“Kalau kamu mau, berjuanglah buat sembuh.” ucap senja
Mata Damar memerah.
Bukan karena hujan.
Tapi karena setelah bertahun-tahun hidup di rumah yang tidak pernah utuh…
akhirnya ada seseorang yang membuatnya merasa dicintai dengan tenang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Damar tidak merasa sendirian lagi.