Pernah mendengar jargon usang yang sering berseliweran di mading sekolah atau kutipan novel remaja? “Cinta pertama selalu gagal.”
Bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar seperti kutukan yang menakutkan. Namun, bagi Alya Anindya, kalimat itu tidak lebih dari sekadar sampah literasi yang memenuhi ruang kepala.
Gadis dengan kacamata berbingkai tipis dan rambut yang selalu dikuncir kuda itu punya daftar prioritas hidup yang sekaku baja: belajar, mempertahankan peringkat satu umum di SMAN 6 Airlangga, masuk universitas negeri ternama, dan... olahraga.
Ya, olahraga adalah satu-satunya pelarian di mana ia bisa membakar kalori sekaligus stres akibat rumus-rumus kalkulus. Untuk urusan asmara? Maaf, tidak ada ruang di jadwal mingguannya.
Prinsip Alya itu bukan sekadar bualan. Buktinya bisa dilihat setiap hari Jumat sore di dekat tong sampah besar belakang sekolah. Berlembar-lembar kertas surat merah jambu, cokelat, hingga kertas binder wangi yang dititipkan beberapa cowok nekat lewat temannya, selalu berakhir mengenaskan di sana. Tanpa dibaca. Tanpa belas kasihan.
“Lo itu robot atau gimana, sih, Al? Itu si anak IPS sebelah ganteng loh, kapten basket lagi,” komentar salah satu temannya suatu hari.
Alya hanya membetulkan letak kacamatanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku latihan fisika. “Ganteng nggak bisa dipakai buat bayar UKT kuliah.”
Namun, di belahan bumi SMAN 6 Airlangga yang lain—atau lebih tepatnya di pojok belakang ruang kelas XII MIPA 3—ada satu manusia yang hidup dengan prinsip yang bertolak belakang. Bara. Itulah namanya. Bara yang panas, sepanas para gadis melihatnya.
Cowok dengan seragam yang jarang dimasukkan ke dalam celana, sepatu yang melanggar aturan warna hitam-putih, dan nilai-nilai rapor yang selalu tiarap di papan bawah.
Bagi Bara, sekolah adalah tempat tidur siang yang ber-AC dan tempat berkumpul bersama teman-temannya. Dan satu hal yang paling Bara benci di dunia ini adalah cowok-cowok lembek yang hobi menulis surat cinta untuk cewek. Menurut Bara, itu adalah puncak kebodohan seorang laki-laki.
Takdir, bagaimanapun juga, selalu punya cara yang aneh untuk melucu.
Entah karena komputer pembagi kelas sedang mengalami error, atau karena wali kelas mereka memiliki selera humor yang tinggi, Alya dan Bara berakhir di kelas yang sama pada tahun terakhir mereka. Tidak berhenti di situ, setiap kali ada pembagian kelompok tugas—mulai dari praktikum biologi yang membosankan, analisis sejarah, hingga tim bola voli saat jam olahraga—nama Alya Anindya dan Bara Narendra selalu bersanding di urutan yang sama.
Mereka bagaikan langit dan tanah liat. Yang satu bersinar tinggi di atas awan, yang satu mendekam di dasar lantai kelas, pasrah diinjak-injak absen. Namun, entah bagaimana, mereka memiliki daya magnet yang aneh. Sisi positif dan sisi negatif yang saling mengikat kuat.
“Al, lo ketua kelompok sejarah. Dan anggotanya... Bara,” kata Bu Lastri suatu pagi.
Alya menghembuskan napas berat, sementara Bara yang baru terbangun dari tidur siangnya hanya mengerang dari meja belakang.
Dinamika itu terjadi berulang-ulang sampai anak-anak XII MIPA 3, yang memang kekurangan hiburan di tengah gempuran persiapan ujian nasional, mulai bersikap usil. Semuanya bermula saat Bara dengan santai meminum kotak susu cokelat milik Alya yang tergeletak di meja, lalu Alya membalasnya dengan memukul kepala Bara menggunakan gulungan kalender bekas dengan keras.
“Waduh, Ayah sama Bunda lagi berantem nih! Anak-anak, harap tenang, Papa-Mama kalian sedang mengalami krisis rumah tangga!” teriak Rendy, ketua kelas yang langsung disambut sorakan riuh seisi kelas.
Sejak hari itu, julukan “Ayah-Bunda” melekat pada mereka. Anak-anak sekelas memposisikan diri sebagai “anak-anak” yang butuh dinafkahi nilai—lewat contekan tugas dari Alya—dan butuh perlindungan—lewat aksi Bara yang sering pasang badan kalau kelas mereka ditantang kelas lain.
Bara, yang awalnya bersumpah tidak akan pernah sudi berurusan dengan cewek kaku seperti Alya, perlahan mulai menelan ludahnya sendiri. Sifat jahilnya keluar setiap kali melihat Alya sedang serius. Mulai dari menyembunyikan kotak pensilnya, mengikat tali sepatu Alya ke kaki meja, hingga sengaja melempar bola basket ke arah Alya hanya demi punya alasan untuk menghampirinya. Bara menikmati bagaimana wajah tenang Alya berubah merah padam menahan kesal.
Namun, ego Bara setinggi langit. Dia tidak akan pernah mengakui kalau senyum tipis Alya saat berhasil menyelesaikan soal tersulit di papan tulis diam-diam membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Di sisi lain, benteng pertahanan Alya pun mulai retak. Fokusnya yang semula sekokoh karang kini sering goyah. Setiap kali Bara membuat masalah atau tertidur di kelas, pandangan Alya tanpa sadar terulur ke sudut belakang. Ada rasa hangat yang aneh saat teman-teman sekelas meneriakkan julukan konyol itu, meskipun wajahnya selalu ditekuk sekaku mungkin. Alya juga terlalu gengsi untuk mengakui bahwa coretan-coretan tidak jelas di halaman belakang buku tulisnya belakangan ini sering kali membentuk empat huruf: B-A-R-A.
Waktu berjalan tanpa permisi, membawa mereka pada minggu-minggu terakhir sebelum kelulusan. Atmosfer sekolah berubah tegang. Ujian telah usai, dan hari-hari diisi dengan jam kosong serta persiapan perpisahan.
Siang itu, udara terasa gerah. Kelas sudah sepi karena sebagian besar murid memilih nongkrong di kantin bawah. Alya masih setia di mejanya, merapikan tumpukan buku kalkulus dan catatan sekolah yang akan segera ia tinggalkan.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Bara masuk dengan langkah santai, rambutnya agak basah karena baru selesai bermain basket di lapangan dalam kondisi matahari terik. Dia melempar bolanya ke sudut kelas, lalu berjalan mendekati meja Alya.
“Masih aja belajar. Sekolah udah mau runtuh juga,” cibir Bara, menduduki meja kosong di sebelah Alya sambil menyandarkan tubuhnya.
Alya tidak menoleh. “Aku cuma merapikan buku. Lagian, daripada kamu, nggak jelas kerjanya cuma keluyuran.”
“Gua habis olahraga, Bunda. Sehat,” sahut Bara sengaja menekankan kata panggilan itu dengan nada mengejek.
Alya menghentikan gerakannya. Jantungnya berdesir, tapi egonya segera mengambil alih. Ia menatap Bara dengan pandangan datar yang biasa ia gunakan untuk mengusir cowok-cowok pengirim surat cinta. “Jangan panggil begitu. Anak-anak nggak ada di sini. Nggak usah akting.”
Bara terkekeh, namun matanya menatap Alya dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang tertahan di balik manik mata cokelat gelap itu. “Lo beneran sekaku ini ya, Al? Penasaran gua, apa ada hal di dunia ini yang bisa bikin lo panik atau... ngerasa kehilangan?”
Alya tertegun. Pertanyaan Bara terlalu personal untuk ukuran hubungan mereka yang selama ini hanya diisi ejekan. Alya memalingkan wajah, kembali memasukkan bukunya ke dalam tas. “Kehilangan waktu berharga karena ngobrol sama kamu, itu salah satunya.”
Bara terdiam. Senyum usilnya perlahan pudar, digantikan oleh ekspresi datar yang jarang ia tunjukkan. Cowok itu kemudian merosot turun dari meja, berdiri tegak, lalu merogoh saku celananya.
“Nih,” kata Bara, meletakkan sebuah pulpen bermotif garis-garis hitam-putih di atas meja Alya.
Alya melirik benda itu. Itu pulpen kesayangannya yang hilang tiga hari lalu. “Kamu yang nyuri ya?”
“Enak aja. Jatuh di bawah meja gua waktu kerja kelompok terakhir kali,” dusta Bara. Sebenarnya, dia sengaja menyimpannya agar punya alasan untuk berbicara berdua dengan Alya di hari terakhir ini.
Alya mengambil pulpen itu. Namun, ia menyadari ada selembar kertas kecil yang dilipat rapi, sengaja diselipkan di dalam saku pembungkus pulpen plastik tersebut. Sebelum Alya sempat bertanya, Bara sudah berbalik, berjalan menuju pintu kelas dengan tangan terbenam di saku celananya.
“Bara, ini apa?” panggil Alya.
Bara menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Tanpa menoleh ke belakang, dia berkata dengan suara yang agak berat, “Gua tahu kertas kayak gitu biasanya bakal berakhir di tong sampah belakang sekolah, sama kayak surat-surat dari cowok lain. Tapi seenggaknya, lo baca dulu sebelum lo buang.”
Setelah mengatakan itu, langkah kaki Bara terdengar menjauh, meninggalkan koridor kelas yang sepi.
Alya terpaku di tempatnya. Perlahan, dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka lipatan kertas kecil itu. Tulisan tangan di dalamnya sangat berantakan, khas tulisan cowok yang jarang mencatat pelajaran sejarah. Isinya singkat, tidak ada kata-kata puitis yang mendayu-dayu, namun berhasil membuat pasokan oksigen di sekitar Alya mendadak terasa menipis.
“Gua tahu gua bodoh, dan gua tahu ini mungkin hal paling bego yang pernah gua lakuin. Tapi gua cuma mau bilang... julukan Ayah-Bunda dari anak-anak sekelas selama ini... gua nggak pernah keberatan, Al. Sama sekali nggak pernah keberatan.”
Alya membaca kalimat itu berulang kali. Ego yang selama setahun ini ia rawat dan ia pertahankan sebagai perisai diri, mendadak retak begitu saja, hancur berkeping-keping oleh beberapa baris tulisan berantakan dari seorang berandal sekolah.
Ia menatap kertas itu, lalu beralih menatap pulpen di tangannya. Perlahan, sudut bibir Alya terangkat. Sebuah senyuman manis yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di sekolah ini, merekah begitu saja.
Alya berjalan menuju jendela kelas, menatap ke arah lapangan sekolah di bawah. Di sana, di dekat gerbang, ia bisa melihat punggung Bara yang berjalan menjauh bersama Rendy dan anak-anak lainnya, sesekali cowok itu tertawa sambil mengacak rambutnya sendiri yang basah.
Alya tidak berlari mengejarnya. Dia juga tidak berteriak memanggil nama cowok itu. Dia hanya melipat kembali kertas kecil itu dengan sangat rapi, lalu alih-alih berjalan ke tong sampah belakang sekolah, Alya memasukkannya ke dalam dompet kecil tempat ia menyimpan kartu identitasnya—tempat paling aman yang selalu ia bawa ke mana pun.
Mitos mengatakan bahwa cinta pertama selalu gagal.
Alya menutup tasnya, menyampirkannya di bahu, lalu melangkah keluar kelas dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Mungkin mitos itu benar untuk sebagian orang. Tapi di antara langit yang angkuh dan tanah liat yang keras kepala, mereka baru saja membuktikan bahwa sebelum mitos itu sempat dinyatakan gagal, ego merekalah yang lebih dulu kalah. Dan bagi Alya, masa depan mereka... baru saja dimulai.