Malam di pinggiran Ubud tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti rupa. Ketika bising knalpot wisatawan mereda, giliran reriung jangkrik, desau daun bambu, dan kepakan sayap kelelawar yang mengambil alih udara.
Di bawah naungan pohon beringin tua yang menjulurkan akar-akar gantungnya seperti jemari raksasa, Wantilan Desa Adat tampak sunyi. Namun, dari dalamnya, sayup-sayup terdengar ketukan ritmis yang ganjil.
Plak. Plak. Plak.
Itu adalah suara telapak kaki telanjang yang beradu dengan lantai semen yang dingin.
Ayu, gadis berusia sembilan belas tahun dengan rambut hitam legam yang diikat kencang ke belakang, sedang melatih gerakan ngeseh—gerakan menghentakkan pinggul secara patah-patah dalam tari Bali. Keringat membasahi lehernya, membuat beberapa anak rambut menempel di kulitnya yang kuning langsat.
Di depannya berdiri sebuah cermin besar berbingkai kayu ukir yang sudah kusam.
"Ayu, udah hampir tengah malam. Kajeng Kliwon lho ini." Sebuah suara memecah sunyi.
Gede, sepupu sekaligus penabuh kendang yang setia menemaninya berlatih, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu wantilan. Wajah pemuda itu tampak letih, matanya berkali-kali melirik ke arah pura dalem yang terletak tepat di seberang jalan setapak.
Ayu tidak langsung berhenti. Ia menyelesaikan satu frasa gerakan, menyentakkan jemarinya di udara dengan presisi yang memukau, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Sabar. Gerakan seledet-ku masih belum tajam. Penari utama buat upacara Odalan lusa harus tampil sempurna. Aku nggak mau mempermalukan Banjar."
"Tapi taksu tidak bisa dipaksa, Ayu," ujar Gede setengah berbisik. Ia berjalan mendekat, memungut botol air mineral dari lantai.
"Orang-orang tua bilang, berlatih menari sampai lewat tengah malam di dekat pura dalem saat Kajeng Kliwon itu... bisa ngundang mereka yang tak terlihat!"
Ayu tersenyum tipis, jenis senyuman yang menyembunyikan ambisi keras kepala.
"Ya udah, biarkan mereka nonton. Mungkin mereka bisa ngasih aku taksu yang sesungguhnya."
"Jangan ngomong sembarangan!" tegor Gede, wajahnya mendadak tegang.
Di Bali, taksu bukan sekadar keahlian teknis; ia adalah karisma ilahi, jiwa yang merasuki penari hingga penonton terpaku tanpa tahu mengapa.
Bagi Ayu, yang selama ini selalu berada di bawah bayang-bayang penari senior desa mereka, taksu adalah segalanya. Ia ingin diakui. Ia ingin dipuja saat menarikan tari Calonarang.
"Pulanglah dulu kalau memang kau takut, Gede. Aku cuma butuh sepuluh menit lagi buat meluruskan gerakan selendang ini," kata Ayu sembari meraih selendang merah tua yang terikat di pinggangnya.
Gede mendesah gusar. Ia tahu watak sepupunya yang sekeras batu padas. "Ya wis. Aku ke warung depan sebentar, beli kopi dan rokok. Jangan lama-lama. Kalau ada apa-apa, panggil aja."
Langkah kaki Gede perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang perlahan mengental.
Ayu kembali menghadap cermin. Suasana mendadak berubah lengang yang tidak wajar. Suara jangkrik yang tadinya bersahut-sahutan tiba-tiba senyap, seolah alam sedang menahan napas.
Udara malam yang biasanya hangat dan lembap mendadak turun suhunya, membawa aroma yang ganjil: perpaduan antara wangi dupa kelapa yang manis dan bau anyir samar yang menusuk hidung.
Ayu mengabaikan firasat buruknya. Ia mengangkat kedua lengannya, menekuk jemarinya hingga membentuk sudut-sudut tajam, dan mulai menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat—seledet.
Di dalam cermin, pantulan dirinya bergerak mengikuti instruksi otaknya. Namun, ketika Ayu melirik ke arah sudut kanan cermin, ia menyadari sesuatu yang janggal.
Bayangannya di cermin tidak langsung mengikuti gerakannya saat ia berbalik. Ada jeda sepersekian detik.
Ayu terpaku. Jantungnya mulai bertalu keras.
Ia mencoba mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Di dalam cermin, bayangannya melakukan hal yang sama. Namun, sudut bibir bayangan itu perlahan terangkat, membentuk senyuman yang terlalu lebar—senyuman yang tidak sedang Ayu buat.
Sreeek...
Suara gesekan dedaunan kering terdengar dari arah luar wantilan, tepat di dekat pohon beringin. Ayu memutar tubuhnya dengan cepat. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan pekat di bawah pohon beringin yang tampak lebih tebal dari biasanya.
"Gede?" panggil Ayu. Suaranya terdengar mencicit, tenggelam dalam keheningan malam.
Tidak ada jawaban.
Ayu memutuskan untuk menyudahi latihannya. Rasa takut yang sejak tadi ia tekan kini merayap naik ke tengkuknya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Saat ia membungkuk untuk mengambil tasnya, lampu neon tunggal yang menerangi wantilan mendadak berkedip-kedip berisik, sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Kegelapan total menyergap.
Satu-satunya cahaya kini berasal dari sisa pendar bulan mati yang menembus celah-celah atap wantilan. Ayu membeku di tempat. Di tengah kegelapan itu, bau anyir yang tadi samar kini merebak begitu kuat, menyerupai bau daging yang membusuk di bawah terik matahari.
Lalu, terdengar suara tawa.
Suara itu terdengar cukup aneh, rasa-rasanya bukan suara tawa manusia. Itu adalah suara kekehan yang kering, serak, dan bergetar di frekuensi rendah yang membuat dadanya terasa sesak. Suara itu terdengar begitu dekat, seolah dibisikkan tepat di belakang telinga kirinya.
“Nari ... Gek Ayu ... tarikan untukku...”
Ayu membelalakkan mata. Tubuhnya menolak untuk bergerak, terkunci oleh rasa teror yang absolut. Dari sudut matanya, ia melihat seberkas cahaya kemerahan yang perlahan turun dari dahan pohon beringin.
Cahaya itu tidak terang, melainkan redup dan berpendar tidak stabil seperti bola api yang sekarat.
Ketika cahaya itu mendekat ke area wantilan yang terbuka, Ayu melihat wujudnya.
Itu adalah sebuah kepala manusia perempuan yang melayang. Rambutnya yang gimbal, panjang, dan kotor menjuntai ke bawah, kusut masai bersimbah cairan hitam. Di bawah leher yang terputus kasar, tidak ada tubuh.
Yang ada hanyalah untaian organ dalam—jantung yang masih berdenyut lemah, paru-paru yang mengembang-kempis, dan usus-usus kemerahan yang meliuk-liuk di udara seperti ular-ular kelaparan yang mencari mangsa.
Mata makhluk itu—merah menyala tanpa selaput putih—menatap langsung ke arah Ayu. Taringnya yang panjang mencuat dari sela-sela bibir yang menghitam, meneteskan air liur berbau busuk yang jatuh ke lantai dengan suara detik yang mengerikan.
Leak. Makhluk teluh tersakti dalam mitologi yang sering ia dengar sebagai dongeng pengantar tidur, kini berdiri—atau melayang—hanya beberapa meter di hadapannya.
Ayu ingin berteriak, namun tenggorokannya seperti tersumbat pasir kering. Air matanya meleleh secara otomatis, membasahi pipinya yang dingin.
"Ayo, Penari... tunjukkan taksumu...," bisik suara parau itu lagi. Kali ini, usus-usus yang menjuntai dari leher makhluk itu mulai merayap di atas lantai semen, mendekat ke arah kaki Ayu seperti tentakel yang siap melilit.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Ayu mencoba melangkah mundur. Namun, lututnya lemas. Ia terjatuh ke belakang, tangannya meraba lantai dan menyentuh selendang merahnya yang tertinggal.
Tiba-tiba, kekuatan ghaib yang tak kasat mata menyentak tubuh Ayu. Ia dipaksa berdiri tegak. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan sendirinya, jemarinya menekuk kaku hingga sendi-sendinya berbunyi krek. Kepalanya terhentak ke samping, dan matanya dipaksa melotot lebar hingga terasa perih dan kering.
Ayu tidak lagi mengendalikan tubuhnya. Sesuatu yang lain sedang menggerakkannya.
Ia mulai menari.
Gerakannya bukan lagi tari Legong yang anggun, melainkan sebuah tarian yang kacau, cepat, dan mengerikan. Tubuhnya menekuk ke belakang melampaui batas anatomis manusia normal, tulang punggungnya berderak keras seiring setiap hentakan kaki yang dipaksakan.
Selendang merah di pinggangnya meliuk-liuk di udara, seolah memiliki nyawanya sendiri, membelah kegelapan malam.
Di hadapannya, kepala melayang itu berputar-putar di udara, mengikuti setiap jengkal gerakan Ayu dengan tawa cekikikan yang semakin nyaring.
Setiap kali Ayu melakukan gerakan seledet, makhluk itu mendekatkan wajahnya yang mengerikan, hingga Ayu bisa merasakan hawa panas dan bau busuk yang menguar dari mulut makhluk tersebut.
“Bagus... bagus sekali... kau milikku...”
Air mata Ayu terus mengalir, bercampur dengan keringat dan sisa riasan wajahnya yang luntur.
Di dalam kepalanya, ia menjerit meminta tolong, memanggil nama ibunya, memanggil Gede, memanggil dewa-dewa yang ia puja. Namun secara fisik, ia terus menari dengan senyuman lebar yang dipaksakan menghias wajahnya yang pucat pasi.
Kakinya mulai berdarah karena bergesekan kasar dengan lantai semen yang berdebu, meninggalkan jejak-jejak merah yang melingkar.
Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa.
"Ayu! Ayu!" Suara Gede memecah ketegangan.
Begitu derap langkah Gede mendekati wantilan, sosok kepala melayang itu mendadak melesat ke atas, menembus rimbunnya daun beringin dan menghilang ke dalam kegelapan malam bagai bayangan yang larut.
Kekuatan ghaib yang mengikat Ayu runtuh seketika. Tubuhnya ambruk ke lantai seperti boneka tali yang diputus benangnya.
"Ayu!" Gede langsung berlutut di samping sepupunya yang terengah-engah di lantai. Cahaya lampu senter dari ponsel Gede menerangi wajah Ayu yang basah kuyup.
Gede tercekat saat melihat telapak kaki Ayu yang robek dan berlumuran darah, serta selendang merah yang kini basah oleh cairan hitam berbau anyir yang tak dikenal.
Ayu tidak bisa bersuara. Ia hanya menatap langit-langit wantilan dengan mata yang kosong dan tubuh yang bergetar hebat.
---
Dua hari kemudian, upacara Odalan di Pura Dalem dilangsungkan dengan megah. Gamelan bertalu-talu, memenuhi udara malam dengan melodi yang sakral dan magis. Ratusan warga banjar berkumpul, duduk bersila di halaman pura yang diterangi oleh puluhan obor.
Semua orang menantikan penampilan penari utama tari Calonarang yang baru.
Ketika tirai pembatas disingkap, Ayu melangkah keluar.
Ia mengenakan pakaian tari lengkap yang mewah—prada emas yang berkilauan di bawah cahaya obor, mahkota gelungan yang megah dengan hiasan bunga kamboja segar, dan selendang merah tua yang melilit pinggangnya.
Langkah kakinya begitu anggun, namun ada sesuatu yang berbeda. Gerakannya malam itu tidak hanya sempurna secara teknis; ada kekuatan magis yang luar biasa terpancar dari setiap jengkal tubuhnya.
Setiap kali ia melakukan gerakan seledet, matanya begitu tajam, begitu hidup, hingga membuat beberapa penonton di baris depan merinding dan membuang muka karena tidak tahan menatap langsung matanya.
"Luar biasa..." bisik salah satu tetua adat di sebelah Gede.
"Taksu gadis itu sudah bangkit. Aku belum pernah melihat tarikan Calonarang sehidup ini."
Gede, yang berdiri di barisan penabuh gamelan, tidak ikut bersorak. Jantungnya berdegup kencang oleh kecemasan yang mendalam.
Ia terus menatap kaki Ayu yang tertutup kain prada panjang. Ia tahu, di balik kain indah itu, luka robek di kaki Ayu belum sepenuhnya sembuh, namun gadis itu menari seolah tidak merasakan sakit sedikit pun.
Ayu berputar di tengah kalangan, meliukkan tubuhnya dengan kelenturan yang tidak wajar. Saat ia berbalik menghadap ke arah para penabuh gamelan, matanya bertemu dengan mata Gede.
Untuk sesaat, lampu obor di sekitar pura meredup serentak.
Di bawah temaram cahaya yang minim, Gede bersumpah ia tidak melihat mata Ayu yang biasanya hangat. Pupil mata sepupunya itu telah mengecil, memanjang vertikal menyerupai mata reptil yang dingin, diiringi oleh senyuman yang terlalu lebar—senyuman yang sama persis dengan senyuman makhluk yang ia takuti di malam Kajeng Kliwon itu.
Dalam satu kesempatan, ketika Ayu menari di dekatnya, Gede mendengar gadis itu berbicara samar.
"Né sing ja Ayu buin... Ento suba ragan liyan."
(Ini bukan raga Ayu lagi, Ini adalah raga yang lain.)
Kemudian, Ayu terus menari di bawah siraman cahaya obor, mempersembahkan keindahannya kepada dunia, sementara jiwanya yang perlahan membusuk di dalam, telah lama menjadi milik sang penguasa malam.
Tema 1 - Urban Legend
-Tamat-