Sweet seventeen, mungkin bagi semua orang itu adalah ulangtahun paling di nanti. Kenapa? Karena usia 17 tahun itu spesial. Selain beralih dari masa remaja ke dewasa, usia ini juga merupakan fase lebih baik untuk seseorang. Spesial. Iya, aku mikirnya juga demikian. Aku Alisya Prameswari, tiga hari lagi usiaku 17 tahun.
"Sayang, lusa pulang ya. Sudah hampir satu tahun kamu tidak pernah pulang menjenguk ayah dan ibu. Ayah kangen tahu. Pokoknya lusa harus pulang, kita rayakan ulang tahun kamu sama-sama." Panggilan dari ayah malam itu terasa menghangatkan. Suaranya sangat lembut, menyusup ke sela-sela rungu dan membuatku tersenyum antusias. Aku jelas sangat menantikan momen ini setiap tahun, merayakan hari kelahiranku bersama keluarga.
"Iya, Ayah," jawabku penuh semangat.
Setelahnya, percakapan kami mengalir santai sampai malam berlarut.
Dua hari kemudian, benar saja, mobil ayah sudah terparkir di depan kos. Aku berlari sumringah menghampirinya, lalu langsung menghambur ke pelukan pria paruh baya itu. Seperti biasa, dia mengusap rambutku penuh kasih sayang.
"Ayo kita belanja dulu, sayang. Hari ini adalah harinya kamu. Beli apa saja yang kamu suka, pakaian atau apa pun itu," ujar Ayah sambil tersenyum hangat.
Mataku berbinar. Aku segera mengajak ayah pergi ke pusat perbelanjaan, memilih beberapa pakaian dan keperluan yang aku inginkan. Setelah puas, kami pun bertolak pulang. Pulang ke rumah yang jaraknya sangat jauh, membelah jalanan menuju pinggiran kota tempatku menuntut ilmu.
Hampir tiga jam perjalanan kami tempuh hingga ban mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Namun, wajah bahagiaku mendadak luruh saat melihat Mama Gina sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu. Tatapannya tajam, menghunjam langsung ke arahku. Seperti biasa, aku sudah menebak bahwa dia tidak suka melihatku kembali.
Sejak dulu, wanita di depanku ini memang tidak pernah menyukaiku. Aku tidak tahu apa alasannya. Mungkin karena aku terlalu dekat dengan ayah, atau mungkin karena aku terlalu nakal pada masa kecil. Yang jelas, dia selalu terlihat senang jika aku tidak ada di rumah. Hanya saja, dia tidak pernah berani terang-terangan memarahiku di depan ayah karena hal itu pasti akan berakhir dengan pertengkaran hebat di antara mereka.
Hari perayaan itu pun tiba.
Rumah kami besar, sangat besar. Aku memiliki tiga saudara, dua anak perempuan dan satu kakak laki-laki yang umurnya dua tahun di atasku. Namun, bayangan tentang merayakan ulang tahun bersama keluarga besar langsung sirna karena rumah ini terasa sangat sepi. Tidak ada saudara-saudaraku yang muncul. Hanya ada tulisan selamat ulang tahun dan dekorasi meja makan yang lumayan. Meski begitu, aku tetap berusaha senang karena mama dan ayah sudah duduk menunggu di sana.
"Selamat ulang tahun sayang. Selamat karena akhirnya kamu berusia 17 tahun," ucap Ayah tulus. Dia menggenggam tanganku, menuntunku berdiri dari kursi untuk bersiap meniup lilin.
Mama ikut berdiri. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, padahal aku sangat menunggu ucapan selamat darinya. Wanita itu hanya diam. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang aneh. Gurat wajah mama terlihat tidak biasa, ada kepahitan dan kekesalan terpendam yang tersirat di matanya.
Begitu lilin ditiup, mama langsung berbalik meninggalkan meja untuk menyiapkan makanan di dapur.
"Ayo Lysa, bantu mama mengambil makanan," ujar mama dengan suara yang dibuat sedikit lembut.
Aku mengangguk lalu mengekor di belakangnya, sementara aku sempat melihat Ayah melangkah ke arah teras depan, mungkin untuk merokok.
Di balik sekat dapur, di tengah tangannya yang sibuk menyiapkan piring, mama tiba-tiba berbisik lirih, "Setelah ini kamu pulang ya. Jangan menginap."
Gerakanku spontan terhenti. Aku terdiam, menatap punggung mama dengan dada yang mendadak sesak.
"Ma, sebegitunya ya mama benci sama Lysa? Sampai di hari bahagia aku ini, mama masih sempat-sempatnya menyuruh aku pulang? Lagipula, ini sudah malam, Ma. Masa aku harus pulang malam-malam begini?" Aku sudah tidak tahan lagi menahan semuanya.
Kalimatku sukses membuat mama menoleh cepat. Dia melototiku, lalu meletakkan piring di tangannya dengan kasar hingga menimbulkan denting yang cukup keras.
"Nurut sama perkataan mama! Setelah ini pulang! Mama sudah meminta Dean untuk mengantarmu pulang malam ini, Lysa! Jangan menunggu besok!"
"Nggak mau! Aku mau menginap malam ini! Lagipula sudah sangat lama aku nggak pulang, tapi mama selalu menahanku untuk tidak menginap di rumah. Sebenarnya ada apa sih, Ma? Kenapa mama selalu memperlakukan aku berbeda dibanding Kak Tora dan adik-adik?" tanyaku dengan nada suara yang mulai meninggi, menuntut penjelasan yang selama bertahun-tahun kusimpan sendiri.
Wajah mama mendadak pias, dipenuhi kepanikan. "Turunkan suaramu, Lysa! Nanti kedengaran sama ayah!"
"Kenapa kamu menyuruhnya pulang, Gina? Kamu tidak senang merayakan ulang tahun putriku?"
Suara bariton Ayah tiba-tiba menggelegar dari arah pintu dapur. Seketika itu juga mama bungkam. Beliau membalikkan badan, lalu menatapku dengan netranya yang tajam dan sarat akan emosi yang sulit kuartikan.
Ayah berjalan mendekat, menepuk bahuku perlahan. "Besok ayah yang antar, sayang. Jangan pulang malam ini, di luar bahaya."
Setelah ketegangan itu, makan malam berlangsung dalam suasana yang luar biasa hening. Tidak ada obrolan hangat, hanya denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, memecah kesunyian yang mencekik.
Malam semakin larut. Aku berbaring di atas ranjang kamarku yang lama. Akhirnya aku tidak jadi pulang malam ini, tetap menginap sesuai kata ayah. Untuk mengusir sepi, aku sempat bertelepon dengan beberapa teman yang mengucapkan selamat ulang tahun. Kedua adikku juga sempat menghubungi lewat pesan singkat, meminta maaf karena tidak bisa datang. Namun, seperti biasa, Kak Tora sama sekali tidak mengirimkan kabar, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ceklek.
Suara pintu yang dibuka dari luar membuatku menoleh cepat. Sosok mama muncul di ambang pintu. Aku cukup kaget karena sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, mama melangkah masuk ke kamarku hanya untuk berkunjung.
"Mama..." panggilku ragu.
"Iya. Kamu belum tidur?" tanya mama Gina, terdengar kentara sedang basa-basi.
Aku menggeleng pelan. Netraku terus mengamati gerak-gerik wanita itu. Setiap langkahnya di dalam kamar tidak luput dari pandanganku, merasa asing dengan kehadirannya di ruangan ini.
"Tidur! Mama tidak akan membunuhmu!" ujarnya ketus dengan suara dingin yang biasa kudengar.
Aku mengangguk cepat, lalu buru-buru memejamkan mata, tidak ingin memicu keributan lagi.
Mama Gina berdiri di sisi ranjang, menatapku sangat lama. Samar-samar, aku mendengar dia mengembuskan napas kasar. Langkah kakinya mendekat, lalu jemarinya yang agak kasar menyisipkan anak rambutku ke belakang telinga.
"Kamu keras kepala, Lysa. Dan kamu terlalu polos," bisiknya, disusul suara kekehan sinis yang terdengar seperti seringai.
Di luar dugaan, mama ikut naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sisiku. Aku yang sebenarnya belum tidur sama sekali langsung merasakan jantungku bertalu-talu sangat hebat. Dada ini bergemuruh, bukan karena takut, melainkan karena syok yang luar biasa. Ini adalah kali pertama wanita di sampingku mau tidur bersama dalam satu ranjang, setelah bertahun-tahun perlakuannya selalu menunjukkan penolakan atas keberadaanku di rumah ini.
Mama, ini beneran kan? Bolehkah Alisya meminta waktu ini berjalan lebih lama? Bolehkah Alisya begini terus sama mama? batinku meratap. Setitik air mata hangat lolos dari sudut mataku, membasahi bantal. Perlahan, aku mulai membiarkan kesadaranku larut, ikut terlelap di samping ibuku.
Beberapa jam kemudian, tidurku terusik. Ada sesuatu yang basah dan berat menempel di bibirku, memaksa masuk dengan kasar. Rasa kantukku langsung menguap digantikan keterkejutan saat merasakan sebuah tangan besar yang kasat mulai bergerilya di area dadaku, bergerak liar tanpa izin.
Aku melenguh tidak nyaman, berusaha membuka kelopak mata yang masih terasa berat. "Sia—hmmmmpp!"
Kalimatku langsung dibungkam paksa. Sebuah belitan bibir yang berbau pekat asap cerutu menekan mulutku, menyapu dengan rakus dan mematikan seluruh pasokan udara.
"Hmpppp! Hmpppp!" Aku mulai meronta sekuat tenaga.
Kakiku menendang-nendang panik, tanganku meraba-raba area kasur ke samping, mencari keberadaan mama. Namun, nihil. Mataku seketika membelalak, menggenang oleh air mata yang siap tumpah. Di bawah temaram lampu kamar, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri siapa sosok yang sedang berada di atas tubuhku, bergerak penuh nafsu yang menjijikkan.
"Ayah... Ayah... apa yang ayah lakukan!" teriakku histeris begitu bibirnya terlepas sebentar. Napas yang memburu membuatku merasa mual, dadaku naik turun karena syok.
"Ayah ingin mengajarimu, sayang. Kamu sudah menginjak masa dewasa kan? Kamu harus tahu hal apa yang sering dilakukan oleh orang-orang dewasa," jawab ayah, suaranya masih terdengar sangat lembut, kontras dengan jemarinya yang kini beralih mengusap kepalaku, lalu turun ke bibirku.
"Tidak, ini salah! Ayah, tolong berhenti!" Aku menggeleng kuat-kuat, meronta sekencang mungkin. Aku berusaha menepis tangan kekar ayahnya yang mulai menyusup turun ke area bawah, tetapi tenagaku kalah jauh.
"DIAM DAN NIKMATI! AKU SUDAH MENAHANNYA SELAMA INI, DAN SEKARANG ADALAH WAKTUNYA!" bentak ayah dengan suara menggelegar yang memenuhi ruangan.
Tubuhku membeku seketika. Tangisku pecah mendengar bentakan itu. Ini adalah kali pertama dalam hidupku, aku dibentak dengan begitu kasar oleh pria yang selama 17 tahun ini selalu memperlakukanku layaknya seorang putri.
"Tidak, Ayah... tidak mau! Mama! MAMA TOLONG! TOLONGIN ALISYA, MAMA!" pekikku histeris.
Aku menoleh ke sisi ranjang, berharap menemukan pelindung. Namun, tempat yang beberapa jam lalu ditiduri oleh mama kini sudah kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Teriaklah semaumu. Wanita itu sudah aku pindahkan ke kamar sebelah dan sudah aku beri obat tidur," jawab ayah dengan senyuman yang terlihat begitu mengerikan di mataku.
"Nikmati saja, sayang. Malam ini adalah malam kita."
Ayah menyumpal mulutku dengan selembar kain tebal agar suaraku tidak bisa lolos lagi. Dia mulai melancarkan aksinya perlahan, tidak terburu-buru, sengaja ingin menyiksaku agar merasakan sentuhannya lebih lama. Aku hanya bisa menggeleng lirih dengan air mata yang mengalir semakin deras, menyiksa batinku saat melihat ayah mulai melepas sabuk celananya untuk mengikat kedua pergelangan tanganku ke kepala ranjang.
Hingga tiba-tiba—
BRAKK!
Pintu kamar mendadak terbuka akibat hantaman keras dari luar. Sosok Mama Gina muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, tangannya mencengkeram sebilah pisau dapur yang berkilat tajam.
"Lepaskan dia bajingan, atau habis nyawamu malam ini!" ancam mama Gina sambil melangkah maju, mengacungkan pisau itu lurus-lurus ke arah ayah.
"Sialan! Kenapa kau bisa terbangun, jalang!" Ayah langsung menegakkan tubuhnya, menjauh dariku. Wajahnya memerah padam karena amarah yang memuncak akibat kesenangannya diusik.
"Tidak dengan cara seperti ini, Aryo! Kamu bejat! Sangat bejat pada putrimu sendiri!" teriak mama Gina. Namun, langkahnya perlahan mundur saat ayah mulai berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu jelas ketakutan, aku bahkan bisa melihat tangan yang memegang pisau itu gemetar hebat.
"Cih, putri kita? Dia bukan putri kita! Dia hanya seorang anak yang aku pelihara demi suatu saat bisa memuaskanku, Gina! Kamu sudah membosankan, aku butuh yang lebih segar, yang lebih muda, dan yang masih lugu seperti Alisya!" teriak ayah lantang tanpa rasa bersalah.
Kalimat itu telak menghantam dadaku. Tangisku mendadak terkunci. Aku terpaku di atas ranjang dengan mata membelalak, menatap nanar ke arah kedua orang yang membesarkanku. Bukan putri kita? Jadi... aku bukan anak kandung mereka? Pikiranku langsung carut-marut.
"Tidak, pakai aku saja, Aryo. Kamu mau berapa lama? Semalaman? Ayo, aku siap! Asal jangan Alisya, jangan anak itu, tolong..." Mama Gina tiba-tiba menjatuhkan lututnya ke lantai, memohon dengan sangat iba.
Namun, tubuh kurusnya langsung terpental ke belakang saat kaki ayah menendang dadanya dengan sangat kasar.
"Tidak sudi! Kamu sudah tidak memuaskan!"
"Tidak, jangan Aryo!" Mama Gina merangkak maju, menahan sekuat tenaga kaki pria itu agar tidak melangkah kembali ke ranjangku. Matanya yang sembap beralih menatapku.
"Lari, Lysa! Lari dari rumah ini! Pergi, nak!"
Pikiranku benar-benar kosong sekarang. Malam ini, ada terlalu banyak hantaman kenyataan yang menghancurkan seluruh duniaku hingga berkeping-keping. Mendapati kenyataan bahwa pria yang kusayangi ternyata adalah iblis, mendapati fakta bahwa aku bukan anak kandung mereka, dan melihat wanita yang kukira membenciku selama ini ternyata rela ditendang dan mengemis demi keselamatanku.
"Alisya, jangan diam saja! Pergi sekarang! Lari!" pekik mama Gina sekali lagi, memeluk erat kaki suaminya yang mulai mengamuk.
Seketika kesadaranku tersentak. Aku langsung bergerak cepat, menyentak sabuk yang mengikat tanganku hingga terlepas, lalu berlari keluar kamar dengan air mata yang terus bercucuran.
"Tidak... aku tidak mau pergi... Mama dalam bahaya..." Tangisku pecah begitu berhasil menginjakkan kaki di luar rumah.
Kaki telanjangku terus melangkah menjauh menembus dinginnya malam, tetapi separuh jiwaku tertinggal di dalam sana, pada sosok mama yang sedang mempertaruhkan nyawa.
"Kak Dean!" Aku berlari kencang menuju rumah di seberang, mengabaikan teriakan ayah yang menggema memanggil namaku dari kejauhan.
Persetan dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, aku menggedor pintu rumah kayu itu dengan brutal, sampai sang pemilik rumah membukanya dengan wajah terkejut.
"Ada apa, Alisya?" tanya Bu Munah, ibunya Dean.
"Bibi, tolong... tolong mama..." ujarku dengan suara bergetar hebat, nyaris kehabisan napas.
Mendengar nadaku yang panik, Bu Munah langsung berteriak membangunkan suami dan putranya. Tanpa membuang waktu, mereka segera berlari menuju rumahku.
Sementara itu di dalam rumah, Mama Gina sudah tergeletak tidak berdaya di lantai ruang tengah setelah berulang kali menerima tendangan dan pukulan brutal dari suaminya.
"Mati kau, bedebah!" bentak Aryo, merebut pisau dapur yang sempat terlepas dari tangan Mama Gina. "Sejak dulu, kau selalu menjadi penghalang! Kau selalu melindunginya! Kau... kau harus mati!"
JLEB!
Pisau itu ditancapkan dengan sadis ke perut Mama Gina, membuat darah segar langsung mengucur deras, merembes ke lantai.
"Mama! Buka mata mama, jangan terpejam, Ma!" teriakku histeris saat berhasil meredekat ke tubuhnya. Aku menekan perutnya yang terus mengeluarkan cairan merah pekat itu dengan tangan yang gemetar.
Di sudut ruangan, ayah sudah berhasil diringkus oleh suami Bu Munah beserta beberapa warga sekitar yang terbangun karena kegaduhan. Pria itu terus memberontak, tetapi warga memegangnya dengan erat.
"Mama, tolong tetap sadar demi Alisya. Kak Dean! Ayo cepat!" teriakku panik luar biasa.
Dean dengan sigap membantuku membopong tubuh mama naik ke atas motor, bersiap melarikan wanita itu ke rumah sakit terdekat. Dean melajukan motornya membelah malam dengan kecepatan penuh.
"A... Alisya..." Suara mama terdengar sangat lirih dan terbata-bata di tengah deru angin malam. Tangannya yang dingin bergerak lemah, menyentuh pipiku yang basah.
"Maafkan mama..."
"Tidak... jangan berkata seperti itu dulu, Mama. Bertahanlah," ujarku sambil menggelengkan kepala, berusaha menahan tangis agar tidak mengaburkan pandangan.
"Maafkan mama karena selalu gagal... Maafkan mama, karena seharusnya sudah dari dulu mama membawamu pergi jauh... Maafkan mama..." Air mata wanita itu ikut menetes. "Wanita itu... wanita yang selalu memantaumu diam-diam selama ini... dia ibu kandungmu yang sebenarnya..."
Bagai tersambar petir untuk kesekian kalinya, dadaku semakin sesak. "Tidak! Mama adalah mama kandung Alisya, tidak ada orang lain! Tolong bertahan, Ma. Banyak yang harus diperbaiki, banyak yang harus Alisya cerna, dan Alisya masih butuh mama. Tolong bertahan..."
Mama Gina menggeleng lemah, senyum tipis yang sarat akan kelelahan terukir di bibirnya yang memucat. "Setelah ini, pergilah yang jauh, Alisya. Jauh dari pria itu, sampai dia tidak bisa menjangkaumu lagi... karena mama tidak bisa lagi menjagamu..."
"Jangan bilang begitu, Mama!"
Begitu sampai di area rumah sakit, aku langsung berteriak histeris, "Dokter! Dokter, tolong mama saya, Dok!"
Petugas medis dengan cepat membawa Mama Gina masuk ke ruang ICU. Namun takdir berkata lain. Cedera di tubuhnya terlalu parah. Beberapa jam setelah berjuang di dalam ruangan itu, mama mengembuskan napas terakhirnya, pergi untuk selamanya tanpa sempat mendengar kalimat maaf yang utuh dari bibirku.