"Gila," mungkin itu kata yang paling cocok untuk menggambarkan seorang Kael Argantara di mata Arven.
Seorang CEO muda yang terkenal dengan kesopanan dan kebaikannya, nyatanya tak seperti itu jika sudah berada di rumah. Kael sering mabuk-mabukan, sering bersikap kasar kepada Arven, dan kerap memperlakukannya dengan semena-mena. Bahkan tak jarang Arven dikurung oleh Kael.
Dan Arven hanya bisa pasrah. Pernikahan yang telah berjalan selama tiga tahun itu nyatanya tak pernah dibangun di atas cinta.
Arven juga tahu bahwa rasa terpaksa itu tak mungkin berubah menjadi cinta, karena Kael sendiri telah menghabiskan cintanya untuk seorang model ternama. Mungkin...
"El, ayo bicara."
Ujarnya suatu malam saat Kael baru saja pulang dari kantor.
Namun, Kael sama sekali tak menggubrisnya. Ia berjalan dengan angkuh, bahkan sempat menyenggol bahu Arven dengan kasar. Beruntung pria yang lebih kecil darinya itu tak sampai terjatuh.
"Huh... sepertinya akan sulit."
Gumam Arven. Ia segera berbalik dan mengejar Kael sampai masuk ke kamar.
"Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu, apa itu susah? Aku istrimu, El. Tolong lihat aku."
Arven mengepalkan tangannya kuat-kuat di samping tubuhnya.
Kael hanya menatapnya sekilas. Setelah itu, ia kembali fokus membuka kancing kemejanya. Namun, ia tetap membalas perkataan Arven.
"Istriku? Apa aku pernah memintamu menjadi istriku? Bukankah kau yang merampas posisi itu dari Felma? Dan kau masih pantas mengatakan hal seperti itu? Sungguh menjijikkan."
Ucapan itu terasa seperti belati yang menusuk hati Arven. Ia terdiam sejenak, menatap jari-jari kakinya di bawah sana. Senyum getir tampak menghiasi wajahnya.
"Aku memang tak pantas, ya? Iya, ya. Aku memang menjijikkan... hahaha..."
Arven tertawa lirih. Bukan tawa yang membawa kebahagiaan, melainkan tawa yang lahir dari rasa sakit.
Arven tak melanjutkan ucapannya. Ia memilih keluar kamar, meninggalkan Kael dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
❏❏❏
Langit menurunkan hujannya begitu deras malam itu, membasahi Arven yang berjalan sendirian di halaman belakang.
Ia membiarkan dinginnya air hujan mengguyur tubuhnya. Sementara itu, dari dalam rumah, para pelayan memperhatikannya dengan penuh kekhawatiran. Mereka cemas dengan kondisi nyonya muda mereka, tetapi Arven melarang siapa pun untuk mendekat.
"Kenapa kalian membiarkannya berjalan di bawah hujan seperti itu?"
Suara bariton milik tuan muda mereka mendominasi indera pendengaran para pelayan.
Mereka segera membalikkan badan dan menatap Kael yang tengah bersedekap di belakang mereka.
"Anu... itu, Tuan. Nyonya yang meminta kami untuk membiarkannya berada di halaman belakang."Jawab salah seorang pelayan dengan gugup. Ia takut membuat Kael marah, mengingat tuan mudanya itu memiliki temperamen yang cukup buruk.
Kael hanya diam. Matanya menatap Arven yang sedang berdiri sambil menikmati hujan di luar sana.
Tanpa sadar, kakinya bergerak menuju halaman belakang. Sontak saja kepala pelayan mengambil payung dan memayungi Kael.
Arven masih senantiasa menikmati hujan hingga tak sadar bahwa Kael tengah mendekatinya dari belakang.
Matanya yang tadi terpejam kini terbuka perlahan saat tak lagi merasakan air hujan. Ia menatap ke atas dan mendapati sebuah payung menaunginya.
"Sudah selesai?"
Arven menghela napas berat saat mendengar suara bariton itu. Ia membalikkan badan dan menatap Kael dengan malas.
"Belum, jadi menyingkirlah."Ketusnya.
Kepala pelayan sampai melongo mendengarnya. Tak pernah ada yang berani bersikap seketus itu kepada Kael. Dan tampaknya, ego Kael sedikit terusik oleh sikap tersebut.
Mata Kael tertuju pada kaki Arven yang tak mengenakan alas sama sekali, membiarkan rumput merasakan halusnya kulit kaki itu.
"Di mana sandalmu?"
"Di sumur kali. Nggak tahu, aku mah." Arven kembali menjawab dengan ketus, membuat Kael mengepalkan tangannya di samping tubuh.
"Arven Argantara, tolong jaga sopan santunmu."Tegas Kael memperingatkan.
Namun bukannya takut, Arven justru menampar wajah Kael.
Semua orang terkejut. Bahkan Kael sendiri membisu.
"Argantara, ya? Bukannya aku bukan bagian dari keluarga itu? Bukannya aku hanya pelampiasan amarahmu saja? Bukannya aku hanya samsak hidupmu saja, ya, Tuan Argantara?"
Kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan.
Mungkin semua itulah yang selama ini Arven rasakan.
Arven melangkah pergi menuju rumah, meninggalkan Kael yang masih membisu di tempatnya sambil memegangi pipi. Matanya terbuka sedikit lebih lebar, memperlihatkan bahwa ia masih terkejut dengan kejadian barusan.
❏❏❏
Matahari terus berputar pada porosnya, bergantian dengan bulan untuk menerangi bumi. Menandakan bahwa hari terus berganti dan kehidupan terus berlanjut.
Namun tidak dengan kehidupan Kael.
Ia merasa hidupnya berhenti sejak Arven menamparnya malam itu. Rasa sakitnya masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bahkan beberapa kali ia kehilangan fokus saat bekerja, baik ketika rapat maupun saat sedang bersama pacarnya.
Seperti hari ini.
Kael tengah membaca saksama berkas-berkas di atas mejanya. Salah satu perusahaan cabang yang pernah ia pegang beberapa tahun lalu mengalami masalah. Awalnya hanya masalah kecil, tetapi karena Kael sedang sulit berkonsentrasi, masalah itu berkembang menjadi jauh lebih besar. Akibatnya, perusahaan utama mengalami kerugian yang cukup besar.
"KAEL, APA KAMU SUDAH GILA? LIHAT KERUGIAN INI!"
Teriakan seorang pria paruh baya menggema di ruangan setelah ia masuk tanpa mengetuk pintu.
Pria itu tak lain adalah ayah kandung Kael, tuan besar keluarga Argantara.
"Maaf, Dad. Tapi Kael lagi ada masalah, jadi nggak fokus."
Kael menundukkan kepalanya. Hanya kepada ayahnya lah ia bersedia menundukkan kepala seperti itu.
"MASALAH APALAGI? MASALAH KARENA CEWEK ITU TERUS MINTA UANG KE KAMU? MASALAH APA, KAEL?!"
Kael memejamkan mata. Napasnya memburu karena rasa takut.
"Masalah... sama Arven."
Jawabnya ragu.
"Masalah sama Arven?"
"Iya."
"Masalah apa lagi, Kael? Kamu tahu nggak kalau Arven sedang mengandung? Dia sedang mengandung dua bayi! Dan kamu malah membuat masalah dengannya?"
Kael membisu.
Kata-kata ayahnya terasa seperti palu yang menghantam hatinya berkali-kali. Ia berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya.
"Dad... tadi Daddy bilang apa? Arven... Arven hamil?"
Ia mencengkeram bahu ayahnya erat-erat. Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.
"El nggak salah dengar, Dad? Atau El salah dengar?"
"Kamu nggak salah dengar. Tapi kamu salah bersikap."
Daddy menepis tangan Kael dengan kasar.
"Siap-siap saja dapat surat cerai dari Arven."
Jari telunjuk pria itu menunjuk tepat ke arah wajah Kael.
"Kamu nggak pernah menganggap Arven ada. Kamu terlalu sibuk dengan perempuan itu. Perempuan yang bahkan nggak ada saat kamu benar-benar membutuhkannya."
Kael terdiam.
"Kamu ingat waktu kecelakaan dua tahun lalu?"
Kael mengangguk pelan.
"Saat kamu bangun, mungkin orang pertama yang kamu lihat adalah perempuan itu. Tapi saat kamu masih belum sadar, orang yang selalu ada di samping tempat tidurmu adalah Arven."
Daddy kembali menunjuk bahu Kael.
"Dia yang menjagamu siang dan malam. Dia yang hampir nggak tidur demi memastikan keadaanmu baik-baik saja."
Kael membeku.
Tubuhnya perlahan melangkah mundur. Seolah-olah ia sedang mundur dari kenyataan yang selama ini ia abaikan.
"Daddy berharap setelah mengetahui semua ini, kamu bisa berubah."
Suara Daddy kini terdengar jauh lebih tenang.
"Tapi kalau ternyata kamu tetap seperti sekarang..."
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Maaf. Daddy lebih setuju kalian bercerai."
Setelah mengatakan itu, Daddy melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
Meninggalkan Kael sendirian bersama pikirannya yang kacau.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kael mulai mempertanyakan apakah selama ini dirinya memang telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada cinta yang terus ia kejar.
❏❏❏
Arven tengah mengoleskan selai pada roti tawarnya. Seharusnya ia tidak memakan roti pada siang hari, tetapi entah kenapa keinginannya terhadap makanan itu begitu besar.
"Bi Ijah, bisa minta dua potong roti lagi?"
Bi Ijah yang sedang merapikan meja langsung menoleh.
"Anda sudah makan empat potong tadi, Nyonya Muda. Apa masih belum cukup?"
Arven menggembungkan pipinya sambil mengunyah roti yang baru saja diolesi selai.
"Tapi aku masih ingin roti lagi."
Bi Ijah terkekeh pelan. Tangannya terangkat untuk mengelus kepala Arven dengan sayang.
Sungguh gemas sekali tingkahnya.
𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘦𝘭 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘮𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.
Bi Ijah selalu mengkhawatirkan Kael. Setiap melihat Kael bersama Felma, entah kenapa ia selalu memiliki firasat buruk.
"Arven. Ayo bicara."
Suara Kael yang tiba-tiba terdengar membuat suasana dapur seketika hening.
Kael masuk dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya terlihat lelah, seolah semalaman tidak tidur.
Ia langsung menarik tangan Arven.
"Lepasin."
Arven berusaha melepaskan tangannya.
"Kita harus bicara."
"Nggak ada lagi yang harus kita bicarakan, El."
"Ada."Kael menatapnya serius.
"Dan itu tentang anak yang sedang kau kandung."
Arven terdiam sesaat.
Tatapan matanya berubah dingin.
𝘒𝘢𝘦𝘭 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶.
𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢.
"Anak ini anakku, bukan anakmu."
Suara Arven terdengar lirih, tetapi tegas.
"Jadi tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."
Ia mengeja kata terakhirnya perlahan.
"selesai!"
Arven membalikkan badan. Namun karena berjalan terlalu cepat, kakinya tersandung kursi.
Tubuhnya oleng.
"Arven!"
Kael refleks menangkapnya sebelum benar-benar jatuh.
Wajah Kael langsung pucat.
Jantungnya berdebar kencang saat melihat Arven meringis kesakitan.
"Jangan bergerak."
Tanpa menunggu persetujuan, Kael langsung mengangkat tubuh Arven.
"Turunin aku."
"Tidak."
"Kael."
"TIDAK."
Nada suara Kael kali ini begitu tegas hingga membuat Arven terdiam.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arven melihat ketakutan di wajah suaminya.
Ketakutan yang nyata.
Ketakutan kehilangan dirinya.
❏❏❏
Setelah dokter memastikan kondisi Arven dan kedua bayi di dalam kandungannya baik-baik saja, Kael tetap tidak mengizinkannya banyak bergerak.
Kini Arven berada di atas tempat tidur.
Sementara Kael duduk di sampingnya seperti penjaga.
"Aku tidak mau tidur."
"Kau harus istirahat."
"Aku mau ke taman."
"Kau tidak akan ke mana-mana."
Arven mendelik kesal.
"Aku bosan."
"Kau boleh bosan."
"Kael."
"Kau tetap tidak boleh ke taman."
Arven langsung memukul pelan dada Kael beberapa kali.
Kael membiarkannya.
Tak marah.
Tak membalas.
Tak menghindar.
Sikap itu justru membuat Arven semakin bingung.
Pria yang selama ini selalu keras kepala kini hanya diam menerima semua kekesalannya.
Kael kemudian menggeser tubuhnya dan berbaring menyamping menghadap Arven.
Jarak mereka begitu dekat.
Arven segera memalingkan wajah.
Ia tidak ingin menatap mata Kael terlalu lama.
Karena setiap kali melihat mata itu, hatinya selalu menjadi lemah.
"Aku minta maaf."
Kalimat itu membuat Arven membeku.
Kael jarang meminta maaf.
Bahkan hampir tidak pernah.
"Aku minta maaf karena terus melukaimu."
Suara Kael terdengar serak.
"Aku terlalu sibuk mengejar sesuatu yang ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milikku."
Arven perlahan menoleh.
Ia melihat mata Kael memerah.
"Aku pikir Felma mencintaiku."
Kael tertawa kecil.
Tawa yang terdengar menyedihkan.
"Tapi hari ini aku melihatnya berciuman dengan pria lain."
Ruangan itu mendadak terasa sunyi.
Arven tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Marah?
Senang?
Atau kasihan?
Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, di hadapannya sekarang bukan CEO hebat bernama Kael Argantara.
Melainkan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa selama ini dirinya hidup dalam kebohongan.
"Aku bodoh, ya?"
Kael tersenyum pahit.
"Aku menyia-nyiakan orang yang selalu ada untukku."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Padahal orang itu selalu menungguku pulang."
Arven menggigit bibir bawahnya.
Dadanya terasa sesak.
"Kalau boleh..."
Kael menggenggam tangan Arven dengan hati-hati.
Seolah takut Arven akan menarik tangannya kapan saja.
"...aku ingin memulai semuanya dari awal."
Arven menunduk menatap tangan mereka yang saling bertaut.
"Ayo besarkan anak-anak kita bersama."
Suara Kael bergetar.
"Ayo buat keluarga yang bisa menjadi tempat kita pulang."
Butiran air mata akhirnya jatuh dari sudut mata Kael.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kael Argantara menangis tanpa peduli harga dirinya.
Dan untuk pertama kalinya pula, Arven melihat penyesalan yang begitu tulus di wajah pria itu.
𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶.
Arven menatap Kael lama.
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘪𝘮𝘶.
Kalimat itu hanya ia simpan dalam hati.
Tangannya perlahan bergerak mengelus kepala Kael.
Membiarkan pria itu menangis dalam pelukannya.
Karena terkadang, penyesalan tidak membutuhkan kata-kata.Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Hari itu, dunia menjadi saksi sebuah janji.Menjadi saksi atas penyesalan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.Dan menjadi saksi terbukanya lembaran baru bagi dua hati yang sempat saling melukai.
Dengan dua malaikat kecil yang tumbuh di antara mereka, mungkin keluarga itu masih memiliki kesempatan untuk kembali utuh.
END~