Langit sore itu berwarna jingga pekat, memantulkan semburatnya di jendela kafe tempat Rania dan Delon biasa nongkrong. Rania menyesap es kopinya perlahan, matanya tak lepas dari Delon yang sedang asyik bercerita tentang proyek terbarunya.
"Jadi, aku bilang sama Pak Budi, kalau kita pakai desain yang ini, hasilnya pasti lebih maksimal," Delon mengakhiri ceritanya dengan semangat, lalu menoleh pada Rania. "Gimana menurutmu, Ran?"
Rania tersenyum, berusaha menutupi debaran di dadanya. "Wah, kedengarannya bagus banget, Del. Kamu memang selalu punya ide cemerlang."
Delon tertawa kecil. "Ah, kamu ini bisa aja. Tapi serius, aku butuh masukan dari kamu juga. Kan kamu yang paling paham soal estetika."
"Ya, tapi kan ini proyekmu, Del. Aku cuma bisa kasih pendapat aja," jawab Rania, sambil menyesap kopi lattenya.
Tiba-tiba, ponsel Delon berdering. Ia melihat layar, dan senyumnya semakin lebar. "Oh, ini Duri. Sebentar ya, Ran."
Rania mengangguk, pura-pura sibuk mengaduk es kopinya. Jantungnya terasa sedikit tercekat saat Delon menyebut nama Duri. Ia sudah tahu, tentu saja. Siapa yang tidak tahu betapa bahagianya Delon dengan Duri?
"Halo, Sayang," suara Delon terdengar lembut di telepon. "Iya, aku lagi sama Rania. Nanti jam 7 aku jemput ya? Oke, aku tunggu."
Delon menutup teleponnya, lalu menatap Rania. "Duri mau makan malam bareng. Kamu nggak apa-apa aku tinggal?"
Rania memaksakan senyum. "Nggak apa-apa kok, Del. Justru bagus, kamu bisa quality time sama Duri." Ia berusaha terdengar santai, namun suaranya sedikit bergetar.
"Makasih ya, Ran. Kamu memang sahabat terbaik," kata Delon tulus, lalu berdiri. "Aku duluan ya. Nanti kabari kalau ada apa-apa."
"Oke, hati-hati di jalan," balas Rania, menatap punggung Delon yang menjauh.
Setelah Delon pergi, Rania membiarkan dirinya bersandar pada kursi. Ia memejamkan mata, mencoba menahan genangan air yang mulai terasa di sudut matanya. Ia mencintai Delon, entah sejak kapan perasaanya itu tumbuh. Tapi ia tahu, ia hanya sahabat. Dan itu sudah cukup, kan?
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Pesan dari Delon.
Delon: Ran, lupa bilang. Duri juga nanya soal rekomendasi buku yang kemarin kamu baca. Kalau kamu ada waktu, nanti malam sekalian aja mampir ke rumahku. Kita ngobrol bertiga.
Rania membaca pesan itu berulang kali. Bertiga. Dengan Duri. Rasanya seperti ditusuk jarum halus. Ia ingin menolak, tapi ia juga tidak ingin terlihat aneh.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetik balasan.
Rania: Oke, Del. Aku usahakan datang.
Ia tahu, malam ini akan terasa sangat panjang. Tapi ia juga tahu, ia tidak akan pernah bisa benar-benar menjauh dari Delon. Setidaknya, ia bisa melihatnya bahagia, meskipun bukan dengannya. Dan baginya, itu sudah cukup. Untuk saat ini.
Rania mengemudikan mobilnya menuju apartemen Delon, jam sudah menunjukkan jam 8 malam. Lampu-lampu kota mulai berkelip, seolah ikut merayakan atau justru meratapi nasibnya. Ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa pertemuan bertiga ini tidak akan menjadi bencana. Ia hanya akan menjadi Rania, sahabat Delon.
Sesampainya di depan gedung apartemen Delon, Rania memarkirkan mobilnya. Ia mengirim pesan singkat pada Delon dan tak lama kemudian, pintu lobi terbuka. Delon berdiri di sana, tersenyum lebar.
"Nah, ini dia! Duri udah nungguin dari tadi," sapa Delon riang, merangkul bahu Rania sekilas sebelum mereka masuk.
Di dalam apartemen Delon yang hangat dan nyaman, Duri menyambut Rania dengan senyum ramah. "Hai, Rania! Akhirnya datang juga. Aku udah nggak sabar mau bahas buku yang kamu rekomendasiin itu."
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Awalnya, percakapan mengalir lancar. Rania menjelaskan detail plot buku yang ia baca, Duri menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan cerdas, dan Delon sesekali menengahi dengan komentar lucunya. Rania merasa sedikit lega. Mungkin ini tidak akan sesulit yang ia bayangkan.
"Oh iya, aku lupa ada keripik kentang di dapur. Kalian tunggu sebentar ya, aku ambilkan," kata Delon tiba-tiba, bangkit dari duduknya.
Begitu Delon menghilang ke dapur, suasana berubah. Duri menoleh pada Rania, senyumnya sedikit memudar.
"Jadi, Rania," Duri memulai, suaranya terdengar lebih pelan, namun nadanya sedikit berbeda. "Kamu kayaknya akrab banget ya sama Delon."
Rania sedikit terkejut, namun berusaha tetap tenang. "Ya, kami kan sudah lama berteman."
Duri tertawa kecil, tawa yang terdengar agak dingin di telinga Rania. "Berteman? Sampai segitunya ya? Aku perhatikan, kamu selalu ada di dekatnya, selalu tahu apa yang dia suka, apa yang dia butuhkan."
Rania merasa sedikit tidak nyaman. "Aku cuma sahabatnya, Duri. Aku nggak pernah macam-macam."
"Oh ya? Tapi kadang, sahabat itu bisa jadi terlalu dekat, kan?" Duri mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya menatap Rania tajam. "Delon itu pacarku. Dan aku nggak suka kalau ada orang lain yang terlalu ikut campur dalam urusannya, apalagi kalau niatnya nggak baik."
Jantung Rania berdegup kencang. Ia merasa tertuduh, padahal ia merasa tidak melakukan apa pun yang salah. "Aku nggak ngerti maksudmu, Duri. Aku cuma peduli sama Delon sebagai teman."
"Peduli atau punya perasaan lain?" Duri mengangkat alisnya. "Dengar ya, Rania. Aku tahu kamu cewek baik-baik. Tapi kalau kamu punya perasaan lebih ke Delon, sebaiknya kamu urungkan niatmu. Dia sudah bahagia sama aku. Dan aku nggak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan kami."
Kata-kata Duri menusuk Rania seperti belati. Ia merasa terpojok, wajahnya memanas. Ia ingin membela diri, ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah berniat merebut Delon. Tapi kata-kata tercekat di tenggorokannya.
Saat itulah, Delon kembali dengan nampan berisi keripik kentang. Ia melihat ekspresi tegang di wajah Rania dan tatapan Duri yang dingin.
"Ada apa ini?" tanya Delon, mencoba mencairkan suasana. "Kok pada diem aja?"
Rania segera memaksakan senyum. "Nggak ada apa-apa, Del. Cuma lagi serius bahas buku."
Duri tersenyum manis pada Delon, senyum yang sangat berbeda dari beberapa menit lalu. "Iya, Sayang. Rania lagi jelasin detail ceritanya. Seru banget."
Rania hanya bisa mengangguk, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tahu, malam ini baru saja dimulai, dan ia harus berjuang lebih keras untuk sekadar menjadi "sahabat" di mata Duri.
Perjalanan pulang dari apartemen Delon terasa jauh lebih kelam daripada saat ia datang. Kata-kata Duri terus terngiang di kepala Rania, bagai mantra yang mengikatnya. "Kalau kamu punya perasaan lebih ke Delon, sebaiknya kamu urungkan niatmu." Kalimat itu berputar-putar, membuatnya merasa bersalah padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia hanya mencintai sahabatnya.
Sepanjang malam, Rania gelisah. Ia membolak-balikkan badan di kasurnya, mencoba mencari posisi nyaman, namun pikirannya terus saja melayang pada Delon dan Duri. Ia merasa cemburu, tapi juga merasa tidak berhak. Ia merasa sakit hati, tapi juga merasa harus mengerti posisi Duri.
Keesokan harinya, Rania memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia akan mencoba menjaga jarak. Ia akan mencoba meyakinkan Delon, dan dirinya sendiri, bahwa persahabatan mereka bisa tetap berjalan tanpa ada "perasaan lain" yang mengganggu.
Siang harinya, seperti biasa, Rania dan Delon janjian bertemu di kafe langganan mereka. Rania datang lebih dulu, memilih meja di sudut yang agak tersembunyi. Ia memesan minumannya dan mencoba terlihat santai, meskipun perutnya terasa mulas.
Tak lama kemudian, Delon datang dengan senyum khasnya. "Hai, Ran! Maaf telat, tadi ada sedikit urusan."
Rania membalas senyumnya, berusaha agar tidak terlihat terlalu antusias. "Nggak apa-apa, Del. Aku juga baru sampai."
Mereka mulai mengobrol, namun Rania merasa ada yang berbeda. Ia sengaja membatasi percakapannya, tidak lagi bercerita panjang lebar seperti biasanya. Ia menjawab pertanyaan Delon dengan singkat, berusaha tidak terlalu banyak membuka diri.
Delon tampak sedikit bingung. "Kamu kenapa, Ran? Kok kayaknya lagi nggak mood?"
Rania tersenyum tipis. "Nggak kok, cuma lagi banyak pikiran aja."
Tiba-tiba, ponsel Rania berdering. Nama "Panji" tertera di layar. Panji adalah rekan kerjanya di kantor, seseorang yang sudah lama menaruh perasaan padanya, tapi, Rania selalu menghindarinya. Rania melirik ponselnya lagi, sebenarnya ia malas mengangkatnya, tapi mungkin kali ini Rania akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berpura-pura ingin menjalin hubungan dengan seorang pria.
Perlahan Rania menekan tombol hijau dan menggesernya lalu mengangkatnya dengan suara yang dibuat-buat ceria. "Halo, Panji! Iya, aku lagi di luar nih. Kenapa?"
Delon menoleh, alisnya terangkat. "Siapa?"
Rania menatap Delon, lalu tersenyum lebar, senyum yang sedikit dipaksakan. "Oh, ini Panji. Rekan kerjaku. Dia mau ngajak aku jalan nanti malam."
Jantung Rania berdetak lebih kencang. Ia merasa bersalah pada Delon karena berbohong, namun ia juga merasa sedikit lega karena berhasil menyampaikan pesannya. Ia ingin Delon tahu bahwa ia tidak lagi hanya menungguinya.
"Oh, gitu," kata Delon, ekspresinya sulit dibaca. Ia terlihat sedikit terkejut, mungkin juga sedikit kecewa. "Nanti malam? Sama Panji?"
"Iya," jawab Rania mantap, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Dia kayaknya tertarik sama aku. Jadi, ya... aku mau coba aja."
Delon terdiam sejenak. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh... oke. Bagus deh kalau gitu, Ran. Kalau kamu bahagia."
Rania merasa sedikit nyeri di dadanya mendengar ucapan Delon. Ia tahu ia berbohong, tapi ia juga tahu ia sedang mencoba melindungi dirinya sendiri. Dan mungkin, ia juga sedang mencoba melindungi persahabatan mereka dari sesuatu yang lebih rumit.
"Makasih, Del," ucap Rania, suaranya sedikit bergetar. "Aku harus pergi nih. Panji udah nungguin di depan."
Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan Delon yang masih duduk termangu. Rania melangkah keluar kafe, hatinya dipenuhi campuran rasa bersalah, kelegaan, dan kesedihan yang mendalam. Ia tahu, ini adalah awal dari sesuatu yang sulit.