Mendapat sebuah anugerah indah dari sang kuasa adalah suatu hal yang istimewa bagi sebagian orang , namun bagiku semua itu seperti kutukan yang terus menghantuiku.
dimana aku harus selalu sendiri menghadapi dunia yang enggan menerimaku, dimana keluarga, teman ,sahabat, sodara menjauh dariku karena sebuah keistimewaan ini. setiap kali aku ingin mendekat pada mereka , mereka selalu mengatakan bahwa aku ini bahaya dan bisa membuat nyawa orang lain melayang.
:
:
:
' malafia!' cicit suara seseorang yang membuat lamunan ku terbuyar seketika. dengan sedikit kesal aku menengok ke arahnya. ' kenapa?!' tanyaku ketus yang membuatnya sedikit takut.
' jangan galak galak, aku lapar!' pintanya yang ia lanjutkan dengan suara memelas.
aku takut jika aku menurutinya aku akan habis sekarang juga, jadi aku putuskan untuk menghampirinya dan memberinya sedikit darahku untuk ia makan.
' malafia!' panggilnya lagi sambil meneguk darah yang mengucur di pergelangan tanganku.
' kenapa? butuh apa lagi?' jawab ku semakin ketus karena menahan rasa sakit. ' makasih, kamu selalu ada untuk ku!' ucapnya yang kembali meneguk darah ku, aku hanya berdehem saja menanggapi apa yang ia katakan.
:
:
:
" aku selesai, makasih aku ke..!' ucapannya terhenti saat ibuku datang dari arah luar kamarku. ibuku sedikit berteriak melihatku yang sudah bersimpah darah. ' malafia! kamu kenapa nyayat tangan kamu lagi!' ucapnya tak percaya sambil berlari memegang pergelangan tanganku yang masih berdarah.
dengan setenang air aku menjelaskannya pada ibuku, namun lagi lagi ibuku tak percaya akan hal itu, ia pikir aku gila.
' malafia, kamu udah gila, ibu harus kirim kamu ke psikiater sekarang!' ucap ibuku yang menarik pergelangan tanganku yang tadi berdarah. dengan terpaksa aku mengikuti ibuku sambil menahan jeritanku.
' bu? kakak kenapa lagi?' tanya adikku yang tengah fokus memakan serealnya di depan tv.
' kakak kamu gila lagi, dia udah gila, ibu mau bawa dia ke psikiater! kamu dirumah, kalo ayah tanya ibu ke psikiater!' jelas ibuku sambil menggenakan cardigannya.saat aku hendak pergi ku lihat dia akan mengejarku namun dengan cepat aku mencegahnya dan menyuruhnya kembali ke kamarku.
:
:
:
setelah kepergianku ke psikiater aku rasa dia merasa sangat bersalah, ku lihat dia masih berdiri memojok sambil terus bergumam hal hal aneh. dengan berani aku pun menghampirinya dan berbicara pelan dan lembut padanya.
' khm, sa kamu gk papa?' tanyaku sambil memegang bahunya yang sedikit bergetar.
' malafia maafin aku, lagi lagi kami dia anggep gila sama ibumu!' ucapnya sambil terisak. aku melihatnya tak tega langsung saja aku rengkuh tubuhnya yang masih bergetar.
' gk papa, kan udah dari dulu aku dianggep gila, gk papa udah tenang!' ucapku sambil mengelus elus punggungnya. ' malafia, aku pergi aja ya!' aku kaget seketika saat ia mengatakan itu, aku tak mau jika ia pergi karena ia sudah kuanggap seperti bayanganku sendiri.
' jangan, kamu di sini aja!' larangku yang membuatnya semakin terisak, ' malafia.. hiks, jika aku di sini kau akan mati dengan cepat.. hiks!' ucapnya yang masih terisak. ' y udah gk papa kalo aku mati gk papa, yang penting kamu gk pergi!' ucapku mencoba menyembunyikan ketakutanku.
" jangan, aku nanti sama siapa? kalo kamu mati!' aku hanya terkekeh geli menanggapinya bagaimana bisa orang sepertimu bicara seperti itu.
' y udah, kalo gitu tidur aja ya!' aku pun segera terlelap dan menyuruhnya untuk tidur.
:
:
:
malam berlalu begitu cepat, saat aku terbangun matahari sudah menyambutku dari balik celah jendela. ku lihat kau masih terlelap dengan nikmat, sampe aku sendiri tak berani membangunkanmu. aku pun berjalan melihat apa yang ada di balik jendela itu, namun perasaanku merasa aneh, aku berpikir,
' bukankah kamarku berada di tengah ya, dan bahkan tak ada jendela!'
aku pun segera mengecek di balik jendela itu , kagetnya aku saat di suguhi pemandangan yang luar biasa tak bisa di jelaskan dengan logika. dimana para naga, manusia setengah kuda, dan jenis aneh lainnya hidup.
langkahku mundur dan saat aku berbalik kagetnya aku saat melihatmu yang berubah menjadi manusia dewasa sepertiku.
' sa.. saga! kamu saga?!' tanyaku tak percaya, kau mengangguk dan tersenyum padaku. ' iya nih aku, apa kabar malafia, kamu aku dan dunia ini, adalah satu kesatuan yang utuh!' ucapmu yang semakin membuatku berpikir bahwa diriku ini memang benar benar gila.
' a.. aku dah gila nih, tuhan kenapa engkau menempatkan aku di dunia aneh seperti ini?!' gumamku sambil memegang kepalaku yang terasa pusing. aku pun terhuyung dan tanpa ku sadari aku ambruk dan pingsan.
:
:
:
perlahan ku buka mataku yang sedikit sayu, ku lihat sekitarku, dan tak ada apapun di sana, hanya terdapat beberapa obat dan infus yang menancap di tanganku, perlahan aku bangun dan hendak melihat apa yang sedang terjadi saat ini.
dan lagi lagi aku merasa kaget bahwa aku sedang berada di rumah sakit. saat hendak keluar dari kamar yang aku tempati tiba tiba dokter dan keluarga serta sahabat sahabatku datang dari arah luar.
' malafia, kamu ngapain bangun?!' ucap ibuku panik, ' malafia udah sadar?!' tanya sahabatku elen. aku benar bingung dengan keadaanku bukankah tadi aku sedang berada di dunianya saga namun kenapa sekarang aku berada di sini.
' i.. iya aku balik duduk nih!' ucapku sambil mencoba kembali terduduk. ' tapi , aku boleh nanya gk?' ucapku sambil melihat sekeliling mereka. ' iya , tanya apa dek?' jawab dokter yang berada di samping kanan ku.
' ini kenapa aku di sini ya?' tanyaku yang membuat mereka terbelalak tak percaya, ' kamu gk inget?! bener? masa amnesia?' gumam elen sambil mengecek dahiku, ' iya aku gk inget makannya aki nanya!' jawab ku lagi.
' udah udah! jadi gini nak kamu tadi operasi cangkok jantung!' jelas ayahku . ' cangkok? jantung? ' ulangku tak percaya. ' iya, kamu punya penyakit jantung bawaan jadi , pas kemaren kamu olahraga basket kamu sesek habis tu tepar, dan perawat uks nelpon kerumah , kita panik dan secepet mungki bawa kamu ke sini!' jelas ayahku panjang lebar.
aku tak percaya dengan semua kenyataan ini bukankah aku bertemu dengan seorang saga?! apa aku hanya halusinasi,
' jadi yang donor jantung ke aku siapa?!' tanyaku yang membuat mereka bingung. ' gk tau juga, katanya dia siap buat kamu! tanpa di bayar' jelas ibuku yang semakin membuatku bingung.
:
:
:
' nak saga! kamu gk papa?!'
' gk papa kok , toh ini semua demi dia! kalo gk ada dia aku gk akan hidup!'
# selesai hasil kegabutannya
moga seneng borahe 💜💜