Tersebutlah di kampung kecil yang bernama Cupak yang penduduknya masih percaya pada keberadaan maung alias harimau jelmaan. Konon katanya itu adalah jelmaan leluhur yang kembali datang untuk menjaga anak cucu mereka.
Aida adalah anak perempuan bungsu di keluarganya. Gadis dengan tanda lahir tahi lalat di pipi dan jerat kapal di leher, serta jari kelingking kanannya yang rangkap dua. Ya, dia punya jari kelingking dua.
Aida pagi itu sudah menyiapkan bekal untuk dibawa ayahnya ke ladang. Keluarga mereka hidup dari berladang dan berdagang. Ayahnya punya ladang, sedari pagi ayahnya akan bekerja di ladang hingga petang. Sementara ibunya berjualan di pasar, berjualan aksesoris perak.
Kalender lama di meja ruang tamunya menunjukkan angka 27 Maret 1976. Aida lahir tahun 1961. Ia kini berusia 15 tahun.
Biasanya setiap pagi, Aida menyiapkan bekal ayahnya, yaitu nasi dengan lauknya ikan asin dan sayur bayam. Tidak lupa sambal korek kesukaan ayahnya. Dia masukkan semua makanan itu dalam rantang. Air panas dimasukkan ke dalam termos kecil untuk bekal ayahnya nanti minum. Ayahnya tak biasa minum air dingin.
Sementara untuk ibunya Aida tidak menyiapkan apa-apa. Ibunya selalu sarapan dulu di rumah sebelum dia berangkat ke pasar.
Aida menyalami ayahnya di teras sebelum ayahnya berangkat. Ayahnya melambai padanya, lalu dia sambut dengan lambaian tangan. Kulit wajahnya kemerahan diterpa sinar mentari. Kulit putihnya begitu bercahaya kontras dengan rambutnya yang hitam legam yang dibiarkannya tergerai setelah keramas pagi.
Ibunya selalu menyuruhnya keramas dengan air kelapa agar rambutnya jadi berkilau. Begitu pula untuk wajah dan kulit, dia selalu membalurinya dengan lidah buaya. Celak diberinya dibagian bawah matanya. Demikianlah, dandanan gadis muda zaman dulu.
Selang sejam kemudian, Aida akan ditinggal ibunya karena akan berjualan ke pasar. Lalu tinggallah Aida sendiri di rumah panggung yang besar dan luas itu. Kakak perempuannya dua orang sudah berkeluarga dan mereka tinggal di rumah masing-masing. Satu orang tinggal di kampung yang sama dengan mereka tinggal dan satu orang lagi tinggal di kota sebagai penjual tas.
Seperti biasa dia akan melaksanakan tugasnya sebagai si bungsu dan anak perempuan penjaga rumah. Dia akan mencuci, menjemur kain, menyapu, mengepel ruangan, dan menyapu halaman. Setelah semua pekerjaannya selesai, barulah dia bisa mendengarkan radio kesayangan dengan memasangkan kabel pada aki terlebih dahulu untuk menyalakannya.
Listrik belum sepenuhnya ada di kampungnya. Hanya beberapa orang yang sudah memasang aliran listrik di rumahnya. Keluarganya yang sederhana masih mengandalkan aki untuk menyalakan radio dan memakai arang untuk menyetrika.
Dia sudah melakukan beberapa pekerjaan itu. Tibalah waktunya dia menyapu dapur. Dapur yang terbuat dari bambu. Sementara lantainya terbuat dari papan-papan kayu yang berjejer rapi di lantai. Saat diinjak akan terdengar bunyi "krek krek" dari papan yang diinjak tersebut.
Pekerjaan sederhana itu mungkin nampak sepele bagi orang lain, tapi bagi Aida agak menyeramkan karena di bawah lantai dapur itu terdapat ruang bawah tanah atau disebut dengan "kolong dapur". Bagi masyarakat di kampungnya, setiap rumah akan terdapat kolong dapur. Biasanya ada yang menggunakan kolong dapur sebagai tempat menyimpan kayu bakar, ada yang menjadikannya kandang ternak, ada yang menjadikannya tempat menyimpan padi. Namun, ada yang membiarkannya saja kosong Karena sebagian dari mereka ingin tempat itu kosong saja.
Di sanalah maung keluarganya berdiam. Maung itu tak kasat mata, bahkan ayahnya pun yang sering ke bawa dapur untuk membersihkannya tidak pernah sekalipun bersua dengan maung keluarga ibunya itu. Yang dia lihat hanya gelap.
Namun, berbeda dengan Aida, malahan dia sering tanpa sengaja saling bersitatap dengan maung itu. Suatu kali Aida kecil sedang menyapu lantai dapur. Ada beberapa sampah dapur dan debu yang menyangkut di sela papan itu. Maklumlah karena dimakan zaman, papan-papan itu ada yang sudah menghitam dan bolong.
Aida meraup sampah kecil dan debu itu dengan tangannya. Saat dia duduk bersimpuh di lantai dapur dan meraup sampah itu, sebuah kilatan terlihat dari "kolong dapur". Bukan kilatan cahaya lilin atau pun cahaya lampu petromax. Tapi itu adalah kilatan cahaya dari mata maung.
Mata maung itu tajam menatap dirinya. Seketika Aida kecil terperanjat dan terlonjak. Dia segera berinsut dari sana. Dengan wajahnya yang pucatnya dia meninggalkan dapur itu lalu berlari ke kamar ibunya. Jantungnya berdetak kencang. Itu adalah pengalaman pertama dirinya bertemu maung di rumah itu.
"Ibu, aku takut." Aida langsung berlari ke pangkuan ibunya yang sedang melipat lain di kamarnya.
"Apa yang kau takutkan Aida?" Ucap ibunya sambil mengelus-elus punggung anaknya agar menenangkan Aida.
"Aku takut, ada cahaya dari "kolong dapur" Bu. Aku tak sengaja menatap matanya. Ia menatapku dengan sorot mata tajam." Dengan tersengal-sengal Aida bercerita.
"Kamu tak usah takut, itu adalah "maung" kata leluhur, penjaga rumah ini." Ibunya menepuk pundak Aida menenangkannya kembali.
"Tapi mengapa hanya aku yang bisa melihat di rumah ini Bu?" Tanya Aida lagi sembari merebahkan kepalanya ke pangkuan ibunya.
"Kamu adalah pilihannya." Ibu lalu mengurai rambutnya yang panjang tergerai
"Maksudnya, Bu?" Aida bangun dari pangkuan ibunya. Ia masih penasaran. Dengan tatapan polosnya ia masih mengharapkan jawaban ibunya.
Aida masih belum mengerti dengan maksud kalimat ibu. Dia menyeka keringatnya di pelipisnya dengan ujung lengan bajunya.
"Aida, setiap anak dan cucu akan dipilih untuk menjadi perantara pesan untuk cucu dan cicit pada episode berikutnya." Ibu lalu menjawab pertanyaan Aida juga akhirnya.
"Perantara pesan, Bu?" Lagi-lagi ia bertanya.
Ibu lalu bangkit dan meneruskan melipat kain yang tertunda karena Aida masuk ke kamarnya tiba-tiba. Ibunya masih melipat kain dan memasukkannya ke dalam lemari, sesekali menengok pada Aida yang nampak penuh rasa khawatir, terlihat dari wajahnya yang pucat pasi.
"Minumlah, wajahmu pucat betul Aida. Tak usah takut, dia adalah penjaga, tak hendak mencelakai kamu." Akhirnya kalimat terakhir ibunya itu membuat Aida urung untuk bertanya kembali.
Lalu, mulai hilang rasa takutnya Aida. Namun, ia tak berani lagi ke dapur sampai malam hari. Malam hari dia membantu ibunya menanak air di tungku. Namun matanya disipitkannya. Sekalipun tak pernah dia melirik ke lantai dapur itu lagi.
Beberapa hari kemudian, dia masih menyapu dapur namun tidak pernah sepenuhnya konsentrasi ke arah sana. Dia lebih sering buru-buru menuntaskan pekerjaannya.
Apalagi malam itu. Berbekal lilin di piring kecil dia menanak nasi. Meniup kayu untuk menyalakan api di tunggu. Setelah selesai dengan agak tergesa dia ke dalam rumahnya membawa nasi yang sudah matang dan lauk yang sudah digoreng itu. Rumahnya Aida kalau malam memang diberi penerang lilin atau lampu petromax. Hanya saja lampu petromax miliknya hanya ada dua. Satu dipasang di ruang tengah dan satu lagi disimpan. Karena minyak tanah untuk menyalakannya harus diirit. Makanya, lilin sangat berfungsi untuk pencahayaan di rumahnya.
Aida sudah jadi seorang gadis cantik, yang menarik hati pemuda desanya. Aida salah satu kembang desa yang tersohor punya paras yang cantik. Sudah ada beberapa orang lelaki yang datang bertamu dan melamar Aida. Namun, ayahnya dengan halus menolaknya. Dengan alasan Aida masih mau sekolah. Saat umurnya 15 tahun Aida ditanyai ayahnya, apakah Aida mau lanjut ke SLTA atau sekolah agama, ataukah mau kawin saja? Dengan penuh harapan Aida menjawab ingin lanjut sekolah saja.
Ayahnya mengabulkan, walaupun ada banyak cemooh pada ayahnya yang mengatakan bahwa ayahnya bodoh karena membiarkan anaknya jadi perawan tua nantinya. Perempuan cukup di rumah saja dan tidak usah sekolah tinggi.
Dua hari lalu, ada yang kesurupan, tepatnya beberapa rumah dari rumah Aida. Kabarnya dia ketahuan berselingkuh di rumah janda di kampung sebelah. Setelah diarak keliling desa, mereka berdua dinikahkan. Karena si perempuan sudah mempermalukan kampungnya, dia lalu diusir. Maka tinggallah si janda itu di rumahnya kini. Namun, ada yang tidak senang dengan keberadaan janda itu tinggal di sana. Beberapa hari setelah tinggal di sana, dia tidak tenang dan selalu gelisah.
Suatu malam dia hendak buang air ke tandai atau kolam. Tandai bentuknya berupa suatu kakus yang terbuat dari bambu, lalu pembuangannya langsung dialirkan ke dalam kolam yang berisi ikan-ikan lele.
Saat membuka pintunya dan masuk ke dalamnya, tiba-tiba dia melihat sosok maung berwujud besar di sana, keringat dingin langsung membasahi tubuhnya. Dia kaget tak terperi. Dia menjerit sekencang-kencangnya dan membangunkan beberapa orang kampung di sana. Dia dibawa suaminya balik ke rumah. Lalu menyelimutinya dan mendekap badannya yang menggigil karena ketakutan.
Sejak saat itu dia menggigau dan bahkan kesurupan beberapa kali. Orang pintar didatangkan untuk mengobatinya. Namun dia kambuh kembali. Demikian sampai kini.
Malam itu, Aida diminta ibunya mengambil daun jarak di kebun belakang rumahnya. Anak kakaknya demam sudah empat hari, karena kakaknya adalah ibu muda, agaknya dia masih awam menghadapi anaknya yang sakit panas begitu. Ibunya menyuruh kakaknya membawa anaknya untuk ke rumah mereka. Ibunya akan menjaganya. Ini adalah malam Jumat Kliwon. Aida sedikit merinding untuk keluar rumah. Aida takut bukan kepalang. Tapi karena ibunya meminta tolong padanya ia pun mau menurut.
Dengan berbekal lilin di piring kecil dan sebuah pisau untuk mengambil daun jarak itu nantinya, dia berjalan menyusuri halaman rumahnya. Lalu, berjalan di kegelapan malam itu melewati kandang ayam dan kandang kampung milik keluarga mereka.
Sesampainya di kebun belakang mereka, dia lalu menaruh piring kecil tempat lilin dinyalakan. Semilir angin terasa ditubuhnya, dia merapatkan sweater di badannya. Hawa dingin yang tidak biasa batinnya. Dia lalu menatap sekeliling pepohonan di kebunnya itu. Entah mengapa dia merasa ada yang menatapnya dari balik pohon bambu itu.
Dia berucap dengan suara kecilnya yang parau. "Menjauhlah, jangan ganggu aku."
Dia lalu merobek dengan pisau daun jarak itu dan mengambil beberapa helai. Dia mengambil sepuluh helai. Dimasukkannya ke dalam saku sweaternya. Lalu dia kembali mengambil piring yang berisi lilin. Segera ia pergi dari sana.
Namun, beberapa langkah dia berjalan sebuah sosok besar dengan misai panjang berjalan pelan menujunya. Tingginya hampir dua meter. Maung itu menatapnya dengan tajam. Dia melangkah pelan. Kukunya tertancap ke tanah setiap kali dia melangkah ke depan.
Aida benar-benar terperanjat melihatnya. Tiba-tiba lilin yang ada di tangannya jatuh. Lilin itu pun padam. Kini dia hanya mengandalkan cahaya bulan untuk melihat sekitar.
Jantung Aida berdegup kencang. Seluruh badannya menggigil. Ia tak bisa melangkah lagi, dia sudah benar-benar tersudut.
Sebuah seringai dari harimau itu membuat Aida tambah ciut. Seluruh badannya gemetar. Dia tak ayal mengompol di celana. Takut yang amat sangat sekalipun dia sudah gadis remaja tapi berhadapan dengan situasi ini sungguh sangat menakutkan baginya.
Maung itu menatapnya tajam sama seperti waktu ia melihatnya di kolong dapur. Aida pelan-pelan membuka mulutnya.
"To...tololong, aa..aaku mau lewat, permisi." Tiba-tiba kalimat itu yang meluncur dari mulut Aida.
Maung itu lalu menatapnya lagi, sekian detik kemudian Aida merasakan angin yang berat menerpa badannya. Maung itu melewatinya lalu masuk ke dalam pepohonan yang rimbun. Aida segera tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia lalu berlalu ke arah rumahnya. Ia tidak mau melihat ke arah belakang atau pun memandang ke arah maung itu. Dia tak membalikkan badan. Dia berlari dan masuk ke dalam rumahnya.
"Aida, kenapa berlari seperti itu?" Ayahnya menyongsongnya. Ayahnya baru pulang dari pertemuan di balai desa.
"Ayah, ada maung, aku bertemu maung!"
"Ya Tuhan Aida, bukannya sudah kubilang jangan takut, kamu kalau histeris begitu membuat dia akan marah."
"Aaaku takuttt ayah."
Sudahlah, bersihkan badanmu, kenapa bau Pesing bandanmu Aida?"
Aida lalu masuk ke bilik ibunya. Di sana ada ibunya sedang membalurkan bawang merah pada badan keponakannya itu. Kakaknya di sampingnya dengan wajah gelisah. Aida lalu menyerahkan daun jarak itu pada ibunya. Lalu bergegas pergi ke biliknya. Ia berganti pakaian. Ia tidak mungkin bermanja-manja pada ibunya. Ada keponakannya yang harus dapat perhatian lebih serius.
"Aida, mana air panasnya?" Ibunya berteriak karena Aida langsung pergi saja setelah menyerahkan daun jarak itu.
"Biarkan Bu, biar aku saja yang mengambilnya." Ujar kakaknya Aida.
Aida yang sudah berganti pakaian lalu menyelimuti badannya yang menggigil karena ketakutan. Dia masih gemetar.
Dia takut tapi dia tidak boleh berlebihan menunjukkan ketakutannya. Ia meringkuk dalam selimut. Seakan di dalam selimut pun masih dilihatnya bayangan maung itu. Dia lalu tertidur dalam perasaan takutnya.
Keesokan harinya, bahkan hari-hari berikutnya Aida tidak pernah lagi bertemu dengan maung itu. Bahkan setelah Aidan menikah, punya anak dan beberapa orang cucu sudah menghiasi rumahnya, Aida tak pernah lagi bersua maung. Seakan maung itu mengucapkan salam perpisahan padanya pada malam itu. Beberapa tahun, dekade tak ada lagi terdengar orang melihat maung penjaga rumah Aida. Entahlah, namun yang jelas dalam dongeng Aida pada cucu-cucunya akan ada cerita tentang maung itu salah satunya.
***
(Cerita horor)
Cerita ini saya persembahkan untuk kompetisi menulis di Rumah Menulis. Semoga suka dengan cerita aku, ya.