Di sebuah apartemen tua di pinggir Jakarta yang selalu banjir jika turun hujan, hidup seorang pemuda yang bernama Reza. Usia 28 tahun, single, ia kerja remote, dan kamarnya sudah seperti tempat pembuangan sampah emosional. Baju kotor saling bertumpukan, sisa mie instan, debu tebal, dan yang paling parah… ada yang sering ketawa kecil di tengah malam dari dalam lemari.
Suatu pagi, setelah seminggu Reza tidak berani tidur karena mimpi digigit makhluk berambut panjang, ia menyerah. Dia buka aplikasi dan pesan “Cleaning Service Super Ampuh 24 Jam”. Harganya mahal, tapi review-nya gila: “Rumahku langsung suci”, “Sang hantu mantan, aku ilang..”, “Bonus pelayanannya… wow” ujarnya.
Pukul 10 pagi, bel berbunyi.
Reza membuka pintu dan langsung kaget dan melongo.
Di depannya berdiri seorang perempuan cantik luar biasa. Namanya Laras. Rambut hitam panjang tergerai, kulit putih bersih, mata sipit tajam, dan senyumnya seperti punya daya tarik magnet. Seragam cleaning service-nya ketat di tempat yang tepat, rok pendek sedikit di atas lutut, dan aroma sabun mandi mahal langsung memenuhi koridor itu.
“Mas Reza? Saya Laras. Bisa mulai sekarang?”
Reza cuma bisa mengangguk sambil menelan ludah.
Laras mulai bekerja. Tapi ini bukan cleaning service biasa.
Dia tidak pakai sapu biasa. Dia pakai sapu lidi yang ujungnya ada ukiran huruf Arab kuno. Setiap kali dia sapu lantai, debu langsung lenyap seperti tersedot. Yang lebih aneh, noda-noda hitam di dinding yang sudah setahun tidak hilang, tiba-tiba mengering dan mengelupas dengan sendirinya.
Reza duduk di sofa sambil pura-pura main HP, tapi matanya tidak bisa lepas dari gerakan Laras yang lentur itu. Saat Laras membungkuk sedikit membersihkan bawah meja, roknya itu naik sedikit. Dan Reza langsung panas dingin terasa.
Tiba-tiba Laras berhenti. Dia menatap lemari pakaian Reza.
“Pasti ada yang ngumpet di sini,” katanya pelan.
Reza merinding. “Hantu cewek yang suka ketawa?”
Laras mengangguk. “Bukan hantu biasa. Ini kuntilanak bekas korban cinta satu malam yang ditinggal mati.”
Reza: “Terasa gila… aku rasa nggak pernah mungkin bawa cewek ke sini!”
Laras menoleh, tersenyum nakal. “Bohonglah kamu mas.. Minggu lalu ada yang datang. Namanya Rina. Kamu bilang ‘cuma temen’ tapi akhirnya kalian…”
Reza langsung merah padam. “Kamu tahu dari mana?!”
“Ada bekas energi seksual di kasur. Masih panas.”
Saat Laras membuka pintu lemari, hawa dingin langsung menyembur. Kuntilanak muncul, rambutnya panjang, wajah pucat, lidahnya keluar. Tapi Laras hanya mengangkat tangan kanannya.
“Diam,” katanya pelan.
Kuntilanak itu langsung menjerit kesakitan dan masuk ke dalam botol Aqua yang Laras pegang. Satu gerakan saja, langsung terkunci. Laras tutup botolnya, lalu di masukkannya ke tas kerja seperti memasukkan sampah biasa.
Reza ternganga. “Kamu… siapa sebenarnya?”
Laras mendekat. Tubuhnya hampir menempel dengan Reza. Aroma tubuhnya manis dan sedikit mistis, seperti bunga kamboja bercampur minyak attar di tubuhnya Laras.
“Saya keturunan Nyai Roro Kidul generasi ke-7 di garis samping. Membersihkan rumah sambil membersihkan aura gelap itu pekerjaan sampingan saya. Bayarannya itu… selain uang, kadang saya ambil energi lain".
Matanya menatap bibir Reza.
Reza merasa lututnya lemas. “Energi… apa sih ini ras?” tanya Reza.
Laras tersenyum genit. “Kamu tahu jawabannya".
Malam semakin larut. Laras belum selesai. Ada satu lagi yang harus dibersihkan terlihat ada sosok genderuwo yang bersemayam di kamar mandi karena Reza sering “bermain sendiri” sambil bayangin sang mantan.
Genderuwo itu muncul besar, hitam, dan… sangat vulgar.
Laras tertawa kecil. “Ini jenis yang suka godain yang lagi horny.”
Dia lalu melakukan ritual yang sangat… tidak biasa. Laras melepas seragam atasnya, hanya memakai bra hitam, lalu mengguyur tubuhnya dengan air yang sudah dibacain doa. Air itu mengalir di kulitnya yang mulus. Reza hanya bisa duduk di tepi bathtub, terhipnotis.
Genderuwo meraung marah melihat “kekuatannya” disedot oleh Laras. Dalam sekejap, makhluk itu mengecil jadi seperti kecoak dan Laras injak dengan hak sepatunya.
“Udah bersih”, kata Laras sambil mengedipkan mata.
Puncaknya terjadi di kamar tidur.
Setelah seluruh apartemen benar-benar suci (bahkan Reza merasa jiwanya ikut ringan), Laras mendekati Reza yang sudah tidak lagi tahan.
“Kamu sudah bersih sekarang,” bisik Laras di telinga Reza. “Mau saya kasih layanan premium?”.
Reza hanya bisa mengangguk.
Malam itu Laras memberikan “pembersihan total” dengan cara yang sangat intim, sensual, dan penuh gairah. Tubuh mereka saling bertautan satu sama lain, campuran antara nafsu manusia dan energi mistis yang membuat Reza merasakan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kadang Laras tertawa kecil saat Reza gemetaran, kadang dia berbisik mantra yang membuat sensasinya semakin kuat di sa'at itu.
Ketika mencapai klimaks bersama, lampu kamar berkedip-kedip, dan Reza merasa seluruh beban dosa dan aura buruknya benar-benar hilang.
Pagi harinya, Reza bangun sendirian.
Apartemennya bersih mengkilap. Wangi melati memenuhi ruangan. Di meja ada secarik kertas dan amplop berisi uang kembalian.
Tulisannya di kertas:
“Terima kasih sudah memakai jasa kami.
Rumah dan badan Mas Reza sudah bersih total.
Kalau ada hantu baru datang…
langsung WA saya ya 😉".
-- Laras ☆Cleaning Service Yang Ampuh.
Reza tersenyum lebar sambil memegang kertas itu.
Sejak hari itu, apartemennya selalu bersih.
Dan setiap kali dia merasa “kotor” lagi…
dia langsung pesan Laras sesekali.
(Bagian Ke-1)
Reza tidak tahan lama.
Baru tiga hari itu apartemennya bersih mengkilap, sudah mulai ada tanda-tanda “kekotoran” baru. Kali ini bukan hantu, tapi nafsunya sendiri yang kumat parah. Setiap malam dia memimpikan Laras yang tubuhnya lentur, bisikannya yang panas, dan caranya dia memanggil nama Reza saat klimaks dulu.
Pukul 11 malam, Reza menyerah. Dia WA Laras:
Reza: "Laras… rumah lagi kotor".
Laras: "Jam segini? 😏"
Reza: "Iya. Sangat kotor".
Laras: "Oke. Tunggu 15 menit. Kali ini. aku bawa perlengkapan khusus".
Bel berbunyi. Reza membuka pintu dengan jantung berdegup kencang.
Laras berdiri di depan pintu dengan penampilan yang beda malam ini. Rambutnya dikuncir tinggi, memakai tank top hitam ketat yang memperlihatkan lekuk dada sempurna, dan hotpants denim pendek. Di tangannya ada tas besar berwarna merah marun.
“Kali ini bukan cleaning biasa,” katanya sambil tersenyum genit. “Ini Deep Cleansing + Spiritual Healing Package”.
Begitu masuk, Laras langsung merasakan sesuatu.
“Ada yang baru nih…” matanya menyipit. “Kamu ngapain tadi sore?”.
Reza garuk-garuk kepala malu. “Aku… cuma nonton video… sambil bayangin kamu".
Laras tertawa kecil, suaranya menggoda. “Energi biru muda.. Lumayan kuat nih. Tapi berantakan ya.. Ayo, kita bersihkan saja".
Mereka mulai di sofa ruang tamu.
Laras mendorong Reza duduk, lalu naik ke pangkuannya. Tubuh mereka saling menempel. Laras menggerakkan pinggulnya pelan sambil berbisik mantra aneh yang membuat tubuh Reza terasa panas seperti terbakar dari dalam.
“Tahan ya… ini proses penyedotan energi negatif,” katanya, sambil menggigit pelan telinga Reza.
Reza mengerang. Tangannya tanpa sadar merayap ke punggung Laras, menarik tank top-nya ke atas. Laras tidak melarang. Malah dia membantu melepasnya sendiri. Payudaranya yang indah dan kencang langsung terpampang di depan wajahnya Reza.
Saat Reza mulai menciumi dan menghisap putingnya, Laras mendesah. Suaranya campur antara kenikmatan dan kekuatan mistis. Tiba-tiba lampu ruangan berkedip-kedip, dan dari langit-langit muncul **genderuwo kecil** yang tadinya masih sisa.
“Berani lo ganggu sesi aku!” bentaknya Laras.
Dia menekan tubuh Reza lebih kuat ke sofa, lalu mengangkat satu tangannya. Genderuwo itu langsung tersedot ke telapak tangan Laras dan hancur menjadi asap hitam.
“Fokus ke aku,” bisik Laras sambil membuka resleting celana Reza.
Mereka pindah ke kamar tidur.
Laras mendorong Reza telentang di kasur. Dia melepas semua pakaiannya sendiri dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda. Tubuhnya sempurna berkulit putih mulus, pinggang ramping, dan pinggul yang menggoda. Di perut bawahnya ada tato kecil gambar ombak laut selatan yang seolah-olah bergerak hidup.
Laras naik ke atas tubuh Reza. Perlahan, dia menyatukan tubuh mereka satu sama lain. Gerakannya lembut yang dulu, kemudian semakin liar. Setiap kali Reza hampir mencapai puncak, Laras berhenti dan berbisik mantra yang membuat sensasinya mundur lagi.
“Belum boleh keluar… masih ada aura hitam di pangkal paha kamu,” katanya sambil tersenyum nakal pada Reza.
Reza sudah gila. Dia membalik posisi, menindih Laras dan memasukinya dengan kuat. Laras memeluk punggungnya sambil mencakar pelan. Keringat mereka bercampur. Suara desahan, tabrakan kulit, dan mantra-mantra kecil memenuhi kamar.
Di tengah percintaan yang panas itu, tiba-tiba muncul hantu baru yang nampak itu adalah suster ngesot yang muncul dari bawah tempat tidur karena Reza, dulu sering begadang sambil nonton film horor.
Laras yang sedang di atas langsung tertawa. Tanpa keluar dari posisi persatuan mereka dan dengan serentak, dia mengulurkan tangan ke bawah. Suster ngesot menjerit saat tangan Laras menyentuh kepalanya, lalu langsung lenyap menjadi debu.
“Cleaning sambil riding, spesialis aku,” goda Laras sambil mempercepat gerakannya.
Puncaknya terjadi hampir subuh.
Mereka mencapai klimaks bersama dengan hebat. Tubuh Laras bergetar, matanya berubah warna hijau sebentar, dan seluruh ruangan dipenuhi aroma bunga kamboja yang kuat. Reza merasa seluruh jiwanya “dibersihkan” total. Beban yang penuh rasa bersalah, dan kegelisahannya lalu hilang seketika.
Setelah itu, mereka berbaring saling berpelukan. Laras mengelus dada Reza dengan lembutnya.
“Kamu tahu nggak, Mas?” bisiknya Laras. “Semakin sering kamu panggil aku, semakin sulit aku pergi. Energi kita sudah mulai nyambung ya.”
Reza menatapnya serius. “Kalau gitu… jangan pergi. Tinggal di sini aja atuh.”
Laras tersenyum sedih. “Aku bukan manusia biasa. Kalau terlalu lama di dunia manusia, aku bisa kehilangan kekuatanku. Tapinya… aku lebih suka sama kamu. Bukan sekedar karena energinya enak".
Mereka berciuman panjang, lembut, dan romantis. Kali ini tanpa nafsu liar, tapi penuh kasih sayang.
Pagi harinya, Laras sudah rapi dengan seragam cleaning service-nya lagi.
Sebelum pergi, dia memberikan Reza sebuah liontin kecil, berbentuk ombak.
“Kalau kamu kangen atau ada yang ganggu, pegang ini dan panggil namaku. Niscaya aku akan datang. Gratis.. tanpa admin”.
Lalu Reza memeluknya dari belakang di depan pintu.
“Laras… ini bukan cuma jasa cleaning lagi buat aku.”
Laras menoleh, mencium bibir Reza sekilas.
“Aku tahu. Makanya aku kasih diskon langganan spesial buat kamu.”
Dia mengedipkan mata, lalu berjalan pergi sambil menggoyang pinggulnya.
Reza berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lebar.
Apartemennya bersih.
Badannya bersih.
Dan hatinya… sudah agak kotor lagi karena sudah kangen.
(Bagian Lanjutan ke-2)
Reza sudah tidak bisa bohong lagi. Liontin ombak yang diberikan Laras selalu hangat di dadanya. Setiap malam dia memegangnya sambil mengingat desahan Laras yang mistis. Akhirnya, pada malam Jumat Kliwon yang hujan deras, Reza tidak tahan.
Dia memegang liontin itu erat dan berbisik, “Laras… aku kangen.”
Angin langsung berhembus kencang di dalam apartemen. Lampu berkedip. Bau kamboja dan laut selatan memenuhi ruangan.
Tapi kali ini bukan hanya Laras yang datang.
Pintu kamar mandi terbuka sendiri. Laras muncul dengan gaun tipis hitam yang basah kuyup, seolah baru keluar dari laut. Di belakangnya ada seorang perempuan lain yang hampir sama cantiknya, tapi lebih liar. Rambutnya merah gelap, mata lebih tajam, dan senyumnya penuh godaan.
“Ini Lina, kakakku,” kata Laras sambil tersenyum. “Dia lebih senior di garis keturunan Nyai. Aku bilang kamu butuh pembersihan level dewa malam ini.”
Lina melangkah maju, suaranya serak dan menggoda. “Kata Laras, energimu enak juga. Boleh aku coba juga dulu ya..?”.
Reza berdiri kaku, antara takut, excited, dan bingung. “Ini… paket double?”
Laras tertawa kecil. “Bukan paket. Ini emergency cleansing. Ada yang ikut naik ke dunia kita.”
Tiba-tiba seluruh apartemen bergoyang. Dari lantai muncul sosok genderuwo raja makhluk besar, bertanduk, dan auranya membuat Reza langsung merasa nafsu yang tidak wajar.
“Dia raja dari goa bawah tanah,” jelas Lina. “Karena kamu sering ‘membersihkan’ sendiri sambil bayangin Laras, dia merasa punya hak atas energimu.”
Genderuwo itu meraung, suaranya seperti gemuruh. Laras dan Lina langsung bertindak.
Mereka berdua mendorong Reza ke atas kasur. Laras naik ke atas tubuhnya, menciumnya dalam-dalam sambil melepas pakaian Reza. Sedangkan Lina berada di sampingnya, mengelus dada Reza dengan kuku-kukunya yang panjang sambil berbisik mantra. Setiap sentuhan Lina terasa seperti listrik yang membuat tubuh Reza semakin panas.
Laras menyatukan tubuh mereka dulu, gerakannya lambat dan dalam. Lina menciumi leher Reza dari samping, sesekali menggigit pelan. Suasana kamar penuh desahan, keringat, dan hawa mistis yang tebal.
“Dia semakin kuat!” teriak Laras saat genderuwo mencoba menarik energi Reza.
Lina langsung turun ke bawah, membantu dengan mulutnya yang panas dan ahli. Reza mengerang keras. Sensasinya campur aduk antara kenikmatan duniawi dan kekuatan gaib. Lampu padam total. Hanya cahaya biru saja dari liontin yang sedang menyala.
Dalam posisi itu, Laras dan Lina bergantian. Kadang Laras di atas sambil Lina menciumi seluruh tubuh Reza, kadang mereka berdua melayani Reza bersamaan dengan cara yang sangat liar dan vulgar. Desahan mereka bercampur jadi satu nyanyian mantra kuno.
Pada saat klimaks mendekat, genderuwo raja muncul di ujung kasur, mencoba merebut Reza. Lina tertawa gila, “Mau ambil milik kami? Berani sekali!”
Dia mengangkat tangan. Tubuhnya bercahaya hijau. Bersama Laras, mereka menekan tubuh Reza kuat-kuat sambil mencapai puncak bersama. Energi putih menyembur dari tubuh ketiganya. Genderuwo raja menjerit kesakitan dan hancur menjadi ribuan kupu-kupu hitam yang langsung lenyap.
Ruangan kembali tenang. Hanya suara hujan dan napas mereka saja yang tersengal-sengal.
Mereka bertiga berbaring telanjang di kasur yang basah keringat. Laras di kanan Reza dan Lina di kiri. Kemudian Laras mengelus rambut Reza dengan lembut, sementara Lina menciumi dada Reza.
“Kamu sekarang sudah terikat dengan kami berdua,” bisik Lina. “Kalau kamu selingkuh dengan cewek biasa, kami akan tahu. Dan hukumannya… enak tapi menyeramkan".
Reza tersenyum lelah. “Aku nggak mau selingkuh. Kalian berdua saja sudah lebih dari cukup".
Laras mencium pipinya. “Besok aku ajak kamu ke pantai selatan. Mau lihat dunia asli kamikah?”.
Reza mengangguk. “Asal kalian berdua ikut".
Malam itu mereka tidur bertiga, saling peluk. Sesekali ada tawa kecil Laras yang jenaka saat Reza mendengkur, dan bisikan romantis Lina yang membuat Reza merasa dicintai, bukan hanya diinginkan.
Pagi harinya, apartemen tetap bersih luar biasa. Tapi di cermin kamar mandi tertulis dengan lipstik merah:
“Kami tunggu kamu malam ini lagi.
Jangan lupa mandi dulu biar lebih bersih 😉
— Laras & Lina”.
Reza memandang liontinnya yang sekarang bercahaya lebih terang.
Dia tersenyum lebar.
Hidupnya sudah tidak pernah sama lagi sejak memanggil Cleaning Service Yang Ampuh.
(Bagian Lanjutan ke-3 – Versi Paling Horor & Mencekam)
Malam itu, setelah janji kemarin, Laras dan Lina datang tepat pukul 12 malam. Mereka tidak pakai baju seksi sama sekali. Malahan memakai kebaya hitam kuno yang basah, seolah baru naik dari laut.
“Kita berangkat sekarang,” kata Lina sambil memegang tangan Reza. “Tapi ingatlah… dunia kami bukan tempat wisata. Kalau kamu merasa ketakutan, jangan teriak. Karena suara manusia di sana bisa memanggil hal yang lebih buruk.”
Reza pun mengangguk, meski lututnya sudah gemetar.
Laras lalu membuka sebuah pintu kecil di balik cermin kamar mandi Reza. Bau amis laut dan bangkai langsung menyembur kelua, dan mereka bertiga melangkah masuk.
Tiba-tiba mereka telah di Pantai Selatan yang sesungguhnya.
Bukan pantai wisata. Ini pantai kerajaan gaib. Langit berwarna ungu gelap, ombak hitam seperti tinta, dan pasirnya terbuat dari tulang-tulang kecil yang berderak saat diinjak. Jauh di tengah laut, muncul istana karang raksasa yang puncaknya hilang ditelan kabut.
Tapi yang paling mencekam: adalah tampak ribuan kuntilanak yang sedang bertengger di pohon-pohon pantai, dan rambut mereka bergoyang sendiri meski tidak ada angin. Mereka semua menoleh serentak ke arah Reza di sana.
“Manusia… hidup…” bisik mereka serempak. Suaranya seperti anak kecil yang dicekik.
Reza merinding sampai bulu romanya berdiri. “Laras… ini lucu banget nggak sih? Kayak film horor low budget…”
Laras memeluk lengannya. “Ssst. Jangan bercanda di sini ya... Mereka suka yang lucu. Kalau mereka ketawa… artinya mereka lapar".
Tiba-tiba salah satu kuntilanak melayang mendekat. Wajahnya busuk, mata kosong, tapi mulutnya tersenyum lebar sampai ke telinga.
“Mas… mau main petak umpet nggak?” tanyanya dengan suara imut yang mengerikan.
Reza hampir buang air kecil hingga Lina langsung mendorong kuntilanak itu mundur dengan satu jentikan jari. Lalu kuntilanak itu terbang mundur sambil tertawa ngikik-ngikik, dan kepalanya copot sampai berguling-guling di pasir.
“Lucu ya?” kata Lina datar. “Kepalanya suka nyasar sendiri.”
Mereka melanjutkan ke istana. Yang semakin dalam, semakin ngeri.
Di lorong istana, ada genderuwo pelayan yang tubuhnya terbalik — kepala di bawah, kaki di atas. Mereka berjalan dengan tangan, sambil menyapu lantai dengan lidah mereka yang panjang. Kerap sesekali melihat Reza, dan mereka menjilat bibir hingga berkata:
“Enak… energinya masih perawan gaib…”
Reza berusaha bercanda untuk mengurangi ketakutan: “Bro, mandi dulu dong, bau banget. Kayak comberan sih...”.
Tiba-tiba semua genderuwo tertawa bersamaan. Suara tawa mereka menggema seperti ribuan orang mati saling tertawa di liang kubur. Lorong mulai retak. Dari retakan itu keluarlah tangan-tangan hitam yang mencoba meraih kaki Reza.
Laras berteriak, “Lari!...”
Lalu mereka berlarian. Tapi tangan-tangan itu mengejar, jari-jarinya seperti cacing yang hidup. Satu tangan berhasil mencengkeram betis Reza. Rasanya dingin membakar. Reza pun menjerit.
Lina berhenti, berbalik, lalu menginjak tangan itu dengan hak sepatunya sambil tertawa gila, “Ini milik kami, bangsat!”
Tangan itu hancur, tapi jeritan Reza malah membuat situasi semakin chaos. Seluruh istana mulai bergetar. Dari langit-langit itu jatuhlah mayat-mayat basah yang masih berkedip mata. Mereka merangkak mendekati Reza seperti zombi.
“Lucu banget nih ceritanya”, gumam Reza sambil lari terbirit-birit, “aku cuma pesen cleaning service, kok jadi main Resident Evil sama hantu-hantu horny".
Puncak kengerian terjadi di Ruangan Tahta Nyai Roro Kidul.
Ruangan itu gelap total, hanya diterangi ribuan lilin hijau. Padanya nampak tahta dari yang berasal dari karang-karang dan tulang belulang, duduklah Nyai dalam wujud aslinya dengan kecantikan yang mengerikan. Kulitnya hijau kehitaman, matanya kosong putih, serta rambutnya bergerak-gerak seperti ular hidup.
Lalu Laras dan Lina langsung berlutut. Reza pun terpaksa ikut berlutut, tapi lututnya bergemetaran sekeras-kerasnya.
Nyai pun berbicara, suaranya bagaikan ombak menghantam karang:
“Manusia…!, berani datang ke sini apakah karena nafsu dari anak cucuku?..”.
Tiba-tiba seluruh lilin padam. Ruangan menjadi gelap gulita.
Reza merasa ada yang bernapas tepat di depan wajahnya. Napasnya bau amis dan darah. Lalu terdengar suara Nyai tepat di telinganya:
“Kamu pikir membersihkan rumah itu cukup?..
Kamu sudah membawa kegelapan ke sini…
Karena nafsumu.”
Tiba-tiba Reza melihat ilusi mengerikan: dirinya sendiri yang sedang “bermain” di apartemen, tapi setiap kali dia keluar, ada bayangan hitam yang semakin besar di belakangnya. Bayangan itu sekarang berdiri di sampingnya di ruangan ini — versi gelap Reza yang tersenyum lebar, giginya runcing.
Versi gelap itu berbisik, “Kita sama aja… cuma kamu yang pura-pura bersih.”
Reza menjerit. Dia merasa jiwanya ditarik keluar.
Laras dan Lina pun langsung bertindak. Mereka berdua memeluk Reza dari kiri dan kanan, menciumnya dengan putus asa, mentransfer energi mereka. Tubuh mereka panas, hampir membakar, sementara tangan-tangan gaib Nyai mencoba mencabut jiwa Reza.
Dalam kegelapan yang mencekam itu, terjadi adegan paling aneh: Laras dan Lina “membersihkan” Reza dengan cara paling intim di depan Nyai sendiri — gerakan cepat, putus asa, campuran antara ritual suci dan nafsu liar. Desahan mereka bercampur dengan jeritan hantu-hantu yang marah.
Lina tertawa di tengah kekacauan, “Ini cleaning paling ekstrem yang pernah aku lakukan! Lucu juga mas ya..!”.
Akhirnya, energi putih meledak keluar dari tubuh Reza. Versi gelapnya menjerit dan hancur. Nyai hanya tersenyum tipis.
“Kalian beruntung anakku telah sayang padamu,” katanya. “Pergilah... Tapi ingat… setiap kali kamu kotor lagi, aku yang akan datang membersihkan. Dan aku ini tidaklah selembut mereka.”
Mereka bertiga kembali ke apartemen melalui cermin. Reza langsung ambruk di lantai, keadaan basah keringat dan air laut.
Laras dan Lina memeluknya sambil tertawa lelah.
“Serem nggak tadi?” tanya Laras sambil mengelus rambutnya.
Reza hanya bisa bilang, “Aku… mau pesen cleaning service biasa aja next time deh.. Yang suka pakai sapu ijon.”
Lina terkekeh. “Terlambat. Kamu sudah jadi langganan VIP kami”.
Di cermin kamar mandi, muncullah tulisan baru dengan darah:
“Selamat datang kembali di dunia nyata.
Jangan lupa bersih-bersih hati juga".
Reza memandang liontinnya yang sekarang menjadi retak sedikit.
Dia tersenyum getir.
Hidupnya sekarang sudah bercampur antara surga dan neraka yang dirasa paling lucu, sekaligus mengerikan.
(Bagian Lanjutan ke-4 – Romantis & Seksual)
Setelah pengalaman mencekam di pantai selatan kemarin. Reza butuh waktu beberapa hari untuk pulih. Tapi malam ini, hatinya justru penuh kerinduan yang lembut.
Dia memegang liontin ombak itu, bukan karena takut, tapi berasa penuh kasih. “Laras… Lina… pulanglah. Aku kangen pada kalian berdua.”
Angin malam pun langsung hangat. Bau kamboja dan laut yang lembut telah memenuhi apartemen. Kali ini tidak ada hantu, tidak ada kegelapan. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela.
Laras dan Lina muncul di depan tempat tidur. Mereka memakai gaun tidur tipis putih yang hampir tembus pandang. Rambut mereka tergerai, dan wajah mereka lembut seperti penuh senyum dan sayang.
“Kami tahu kamu butuh kami malam ini...", bisik Laras sambil mendekat. “Bukan untuk membersihkan saja… tapi untuk dicintai".
Mereka pun bertiga naik ke kasur. Lampu kamar sengaja diredupkan, dan hanya menyisakan cahaya kuning keemasan yang romantis.
Laras mencium bibir Reza dengan lembut serta penuh kasih sayang. Lidah mereka saling menari perlahan, terasa manis, seperti pasangan yang sudah lama saling mencintai. Lina dari belakang memeluk Reza, menciumi tengkuknya sambil sesekali tangannya mengelus dada Reza dengan lembut.
“Kamu milik kami..", bisik Lina di telinga Reza, “tapi kami pun sama milik kamu.”
Kemudian Reza membalik tubuhnya. Dia menindih Laras dengan penuh kasih. Gaun tipis Laras perlahan-lahan dilepas, memperlihatkan tubuh indah yang sudah sangat, familiar dan yang selalu membuatnya terpesona. Reza menciumi leher Laras, turun ke arah dada, menghisap putingnya dengan lembut sambil mendengar desahan kecil Laras yang manja.
Lina ikut bergabung. Dia mencium Reza dari samping, lalu turun ke perut Laras, membantu Reza dengan lidahnya yang berasa panas. Dua mulut menghujaninya dengan ciuman dan jilatan. Laras kemudian melengkungkan tubuhnya, tangannya meremas rambut keduanya sambil mendesah, “Aku cinta kalian berdua…”
Reza menyatukan tubuhnya dengan Laras perlahan-lahan, dalam, dan penuh perasaan. Gerakannya tidak liar seperti sebelumnya, tapi ritmis yang penuh kasih. Setiap dorongan disertai ciuman di bibir, di dahi, di leher. Dan mata mereka saling menatap penuh sayang.
Lina tidak cemburu. Bahkan dia berbaring di samping, menciumi payudara Laras sambil tangannya merayu tubuh Reza dari samping. Sesekali Lina mencium Reza dalam-dalam, berbagi rasa Laras di antara mereka bertiga.
Mereka berganti posisi dengan lembut. Sekarang Reza menindih Lina. Tubuh Lina lebih liar tapi malam ini dia menyerah sepenuhnya, matanya berkaca-kaca penuh perasaan saat Reza memasukinya. “Perlahan saja… aku mau merasakan cintamu”, pintanya.
Laras memeluk Reza dari belakang sambil gerakannya semakin dalam. Tangan Laras merayap ke bawah, membantu merangsang Lina agar kenikmatannya semakin sempurna. Ketiganya saling terhubung, napas mereka bercampur, keringat mereka meleleh bersama-sama.
Desahan mereka pun tidak keras dan liar, tapi lembut, penuh gairah yang dalam. “Aku sayang kamu…” bisik Reza berkali-kali. Laras dan Lina menjawab dengan ciuman yang semakin dalam.
Puncaknya datang perlahan, seperti ombak yang naik pelan-pelan.
Mereka bertiga mencapai klimaks bersama. Tubuh mereka menegang, bergetar, lalu meledak dalam kehangatan yang luar biasa. Energi mistis mereka bercahaya lembut berwarna pink keemasan, membungkus ketiganya seperti selimut cinta. Reza merasa jiwanya benar-benar terisi, bukan cuma tubuhnya.
Setelah itu, mereka berbaring saling berpelukan. Reza di tengah, Laras di dada kanannya, Lina di dada kirinya. Reza mengelus rambut keduanya dengan penuh kasih sayang.
“Aku nggak mau ini cuma soal nafsu,” kata Reza pelan. “Aku benar-benar jatuh cinta sama kalian berdua.”
Laras mengangkat kepalanya, mencium dada Reza. “Kami juga. Meski kami bukan manusia sepenuhnya… perasaan ini nyata".
Lina tersenyum manja sambil menggambar lingkaran di perut Reza dengan jarinya. “Kamu berhasil membuat dua makhluk laut ini jatuh hati. Sangat berbahaya sekali kamu ini.”
Mereka tertawa kecil bersama. Suasana hangat, intim, dan penuh kasih sayang. Sesekali ada ciuman kecil, elusan lembut di punggung, dan bisikan manis.
Malam itu mereka tidur bertiga dalam pelukan. Tidak ada hantu. Tidak ada ketakutan. Hanya kehangatan tubuh dan hati yang saling menempel.
Pagi harinya, Reza bangun dengan senyuman yang lebar. Apartemen pun menjadi wangi melati dan laut. Di meja ada secarik kertas beraroma manis:
“Kami akan selalu datang kalau kamu panggil dengan hati.
Bukan karena tugas.
Tapi karena rindu.
— Laras & Lina
Cleaning Service Cinta Abadi”
Reza memegang liontinnya yang sekarang bercahaya lembut dan hangat.
Hidupnya memang sudah gila.
Tapi untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar dicintai.
(Bagian Lanjutan ke-5 – Malam yang Lebih Dalam)
Beberapa hari setelah malam romantis itu, yang penuh kasih sayang ternyata Reza merasakan ada yang berbeda. Bukan kotoran rumah, bukan hantu, tapi kerinduannya yang semakin dalam. Liontin yang ada di dadanya terasa hangat sepanjang hari, seolah-olah Laras dan Lina sedang memanggil balik.
Malam itu. Hujan deras mengguyur Jakarta. Reza memegang liontin itu dan berbisik pelan, “Laras… Lina… aku sangat rindu pada kalian. Bukan saja, cuma tubuhnya… tapi kalian berdua.”
Lalu angin hangat langsung memenuhi kamar Reza. Bau kamboja bercampur aroma laut yang sangat lembut muncul perlahan. Ternyata Laras dan Lina telah muncul di sisi tempat tidur, kali ini memakai kimono tipis sutra merah gelap yang sangat seksi, dan terbuka sedikit di bagian dada.
“Kami juga rindu”, kata Laras sambil tersenyum manis, matanya penuh kasih.
Lina mendekat lebih dulu, mencium kening Reza dengan lembut. “Malam ini kita tidak buru-buru. Kita mau nikmati satu sama lain dengan pelan".
Mereka bertiga naik ke kasur yang sudah di bersihkannya dengan sempurna. Lampu kamar dimatikan, dan hanya cahaya lilin aromaterapi yang Laras bawa, menebarkan wangi vanila dan melati.
Kemudian Laras melepas kimononya perlahan di depan Reza, memperlihatkan tubuh indahnya yang cukup sempurna di bawah cahaya redup.Tapi juga Lina melakukan hal yang sama dari sisi lain. Dua tubuh cantik gaib itu kini sedang bertelanjang, kulit mereka berkilau lembut.
Reza menarik kedua gadis itu ke pelukannya. Mereka bertiga saling berciuman secara bergantian dengan lembut, lalu semakin dalam hingga basah. Reza menciumi leher Laras sambil tangannya meremas payudara Lina yang kencang. Lina pun mendesah manja di telinga Reza, “Pelan saja… aku mau merasakan cintamu malam ini" ujarnya Laras.
Reza membaringkan Laras di tengah. Dia menciumi seluruh tubuh Laras dengan penuh kasih mulai dari dada, perut, sampai ke paha dalamnya. Lina ikut turun, lidahnya membantu Reza di bagian paling sensitif Laras. Laras melengkungkan punggungnya, tangannya meremas sprei sambil mendesah panjang, “Ahh… kalian berdua… aku cinta…”
Saat Laras sudah basah dan gemetar, Reza menyatukan tubuh mereka dengan gerakan pelan dan dalam. Mereka bercinta dalam posisi misionaris yang sangat intim, mata saling menatap satu sama lainnya. Lina yang sedang di samping menciumi dada Reza dan puting Laras bergantian, membuat sensasinya semakin luar biasa.
Mereka berganti posisi tanpa terburu-buru serta santai. Sekarang Lina yang ditindih Reza. Gerakannya pun tetap lembut tapi penuh nafsu yang terkendali. Laras lalu duduk di wajah Lina, membiarkan kakaknya menikmati Reza yang terus bergerak di bawah. Ruangan pun dipenuhi desahan lembut, napas juga tersengal, dan di selingi bisikan-bisikan sayang.
“Kamu milik kami…” bisik Lina.
“Dan kami milik kamu selamanya,” tambah Laras sambil mencium bibir Reza.
Puncaknya datang perlahan seperti ombak besar yang naik pelan.
Ketiganya mencapai klimaks hampir bersamaan. Tubuh mereka menegang bersama, getaran mistis menyebar. Cahaya pink keemasan muncul lagi, dan kali ini lebih terang dan hangat, sehingga membungkus mereka seperti pelukan gaib. Reza merasa energinya benar-benar menyatu dengan Laras dan juga Lina.
Setelah itu, mereka bertiga berbaring saling berpelukan erat di bawah selimut. Reza di tengah, Laras dan Lina bersandar di dada bidangnya. Reza mengelus rambut mereka berdua dengan penuh sayang.
“Aku nggak mau kehilangan kalian,” kata Reza pelan. “Meskipun kalian bukan manusia biasa.”
Laras mengangkat kepalanya, dan mencium bibir Reza dalam-dalam. “Kami juga takut kehilangan kamu. Makanya kami semakin sering datang.”
Lina tersenyum nakal tapi matanya lembut. “Besok kami ajak kamu ke pantai sepert biasa… pantai manusia. Kita kencan normal, jalan-jalan, makan, terus… kita lanjutkan malamnya di hotel.”
Reza tertawa kecil. “Akhirnya ada yang normal juga ya?...”.
Mereka tertawa bersama. Suasana hangat, jenaka, dan penuh cinta.
Malam itu mereka tidur bertiga dengan nyenyak, tubuh saling menempel, dan hati saling terikat.
Pagi harinya, Reza bangun dengan dua kecupan di pipi.
Laras dan Lina sudah rapi, tapi masih saja ada senyum mesra di wajah mereka.
“Kami tunggu panggilan kencan besok ya", kata Lina sambil mengedip.
Lalu Reza tersenyum lebar.
Hidupnya memang gila, campur aduk laksana horor, mistis, lucu, dan sekarang… penuh cinta yang aneh tapi nyata.
(Bagian Lanjutan ke-6 – Kencan Pantai & Malam di Hotel)
Di pagi harinya, Reza sudah tidak sabar. Tepat jam 9 pagi, Laras dan Lina muncul di apartemennya dengan penampilan seperti manusia biasanya yang tetap memukau.
Laras memakai dress pantai berwarna putih flowy yang lembut, rambutnya dikuncir santai. Lina juga lebih berani dengan crop top merah dan rok pendek denim, rambut merahnya tergerai. Keduanya terlihat sangat cantik dan fresh.
“Kita berangkat yuk, Mas”, ajak Laras sambil menggandeng tangan Reza. “Hari ini kita kencan normal ujarnya di ulangi.
Lalu mereka bertiga pergi ke Pantai Anyer menggunakan mobil sewaan. Kemudian di sepanjang perjalanan yang penuh tawa. Lina sering menggoda Reza dengan tangan nakal di paha, sementara Laras lebih manja, kepalanya bersandar di bahu Reza.
Sesampainya di pantai, suasana sangat romantis sekali. Pasir putih, laut biru, dan matahari hangat. Mereka bermain-main air, foto-foto, dan makan seafood di warung pinggir pantai. Reza pun merasa bahagia luar biasa, seperti punya dua pacar cantik sekaligus.
Dan sore harinya, saat matahari mulai terbenam, Laras berbisik di telinga Reza, “Malam ini kita menginap di hotel pantai ya?.. Kami sudah booking suite room.”
Malam di Hotel..
Kamar suite menghadap langsung ke laut lepas. Balkonnya pun luas, angin malam pantai masuk dengan lembut. Lampu kamar redup dengan cahaya kuning keemasan.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah panas.
Lina mendorong Reza ke dinding dan menciumnya dengan penuh hawa nafsu. Laras dari samping melepas baju Reza sambil menciumi lehernya. Pakaian mereka jatuh satu per satu ke lantai.
Reza membaringkan Laras di tempat tidur king-size yang empuk. Dia menciumi tubuh Laras dari atas ke bawah dengan perlahan, menikmati setiap inci kulitnya. Lina pun naik ke atas wajah Reza, membiarkan Reza menikmatinya sambil Laras duduk di pangkuan Reza dan menyatukan tubuh mereka.
Desahan lembut Laras bercampur dengan erangan Lina memenuhi kamar. Gerakan mereka sinkron dan penuh gairah. Angin pantai meniup tirai, seolah ikut menemani mereka.
“Kamu enak sekali…” bisik Lina sambil bergerak di atas wajah Reza.
Reza membalik posisi, sekarang menindih Lina dengan kuat tapi tetap penuh kasih. Laras memeluknya dari belakang, payudaranya menempel di punggung Reza sambil tangannya merayu bagian bawah.
Mereka berganti posisi berkali-kali dengan menggunakan gaya doggy, spooning, dan juga riding bahkan semuanya dilakukan secara sensual dan penuh sentuhan kasih sayang. Keringat mereka bercampur, suara ombak laut di luar menjadi latar belakang yang sempurna.
Puncaknya terjadi saat mereka bertiga mencapai klimaks bersamaan di tengah tempat tidur. Tubuh mereka saling menempel erat. Energi mistis muncul lagi, kali ini berwarna biru muda bercampur pink, menerangi kamar melintas sebentar sebelum lenyap. Sedangkan Reza merasa sangat terpuaskan, baik tubuh maupun hatinya.
Setelahnya itu, mereka bertiga berbaring telanjang di balkon, hanya ditutup satu selimut tipis. Reza yang ada di tengah, sedangkan Laras dan Lina bersandar di dadanya sambil menikmati angin malam dan suara ombak.
Laras mengelus dada Reza. “Senang nggak hari ini?”.
“Paling senang dalam hidupku”, jawab Reza tulus. “Aku sudah jatuh cinta berat sama kalian.”
Lina tersenyum dan mencium pipinya Reza. “Kami juga. Meski kami makhluk gaib, perasaan kita ini nyata banget.”
Mereka berciuman lembut bertiga di bawah cahaya bulan. Sesekali ada tawa kecil jenaka saat angin meniup selimut sampai terbuka, atau saat Lina menggoda Reza yang mulai “bangun” lagi.
Malam itu mereka melanjutkan percintaan ronde kedua di balkon. Lebih pelan, lebih romantis, dan ditemani suara ombak yang menghantam pantai.
Lalu keesokan paginya, Reza bangun dengan pelukan hangat dari Laras dan Lina.
“Kita pulang yu?”. tanya Reza.
Laras tersenyum. “Bisa pulang… atau kita extend satu hari lagi?”.
Reza tertawa. “Extend deh aw ?".
(Bagian Lanjutan ke-7 – Kembali ke Realitas yang Manis)
Setelah extend satu hari lagi di pantai, ketiganya akhirnya pulang ke apartemen Jakarta sore harinya. Reza merasa tubuhnya lelah tapi hatinya penuh. Sedangkan Laras dan Lina masih setia menemaninya, yang kali ini mereka memilih penampilan santai di rumah memakai kaos oversized dan celana pendek yang membuat Reza sulit untuk fokus.
Begitu masuk apartemen, Laras langsung memeluk Reza dari belakang.
“Kangen apartemen kita juga ternyata..", bisiknya manja.
Lina tersenyum nakal sambil membuka kulkas. “Malam ini kita masak bareng dulu ya? Biar romantis. Habis itu… baru kita kotorin lagi.”
Malam mulai turun. Mereka bertiga memasak pasta sederhana di dapur. Suasana sangat domestic dan manis. Lina suka menggoda dengan menempelkan tubuhnya ke Reza saat mengaduk saus, Laras mencium pipi Reza setiap lewat. Tawa kecil mereka memenuhi apartemen.
Setelah makan malam romantis dengan lilin di meja, Laras menarik Reza ke sofa.
“Malam ini kita pelan-pelan lagi ya,” katanya sambil duduk di pangkuan Reza. “Aku mau merasakan kamu dengan hati, bukan cuma nafsu.”
Laras mencium Reza dalam-dalam, lidah mereka saling menari lembut. Lina duduk di samping, mengelus punggung Reza sambil sesekali ikut mencium lehernya. Pakaian mereka perlahan dilepas di sofa. Cahaya lampu ruang tamu yang redup membuat kulit ketiganya terlihat semakin indah.
Reza membaringkan Laras di sofa lebar. Dia menciumi tubuh Laras dengan penuh kasih yang di mulai dari bibir, turun ke leher, dada, lalu semakin bawah. Lina membantu dengan lidahnya yang ahli, membuat Laras mendesah panjang dan manja.
“Mas… enak sekali…” desah Laras sambil meremas rambut Reza.
Ketika Laras sudah siap, Reza menyatukan tubuh mereka di sofa dengan gerakan pelan dan dalam. Mata mereka saling terkunci. Lina memeluk Reza dari belakang, payudaranya menempel hangat di punggungnya sambil berbisik kata-kata mesra.
Mereka pindah ke kamar tidur tanpa terburu-buru. Kali ini Reza meniduri Lina dengan posisi spooning yang intim, sementara Laras berbaring di depan Lina, berciuman dan saling merayu. Gerakan Reza stabil, penuh perasaan. Desahan ketiganya lembut, hanya diiringi suara AC dan hujan kecil di luar jendela.
“Kalau bisa, aku ingin begini selamanya,” gumam Reza di tengah percintaan.
Lina menoleh dan menciumnya. “Kami juga mau… tapi dunia gaib memanggil kami kadang”.
Puncaknya datang dengan sangat intens tapi penuh emosi.
Ketiganya mencapai klimaks bersama di kasur. Tubuh mereka saling menempel erat, getaran mistis muncul lagi cahaya lembut berwarna ungu muda kali ini, seolah-olah mewakili perasaan cinta yang semakin kuat. Reza merasa energinya benar-benar menyatu dengan Laras dan Lina.
Setelahnya, mereka bertiga berpelukan erat di bawah selimut tebal. Reza di tengah, dua kepala cantik bersandar di dadanya.
Laras mengelus dada Reza pelan. “Kamu tahu nggak? Semakin lama, semakin susah buat kami pisah dari kamu.”
Lina menambahkan dengan suara lembut, “Energi cinta kamu beda. Bukan cuma nafsu. Itu yang bikin kami ketagihan.”
Reza mencium kening mereka bergantian. “Kalau gitu, jangan pernah pergi lama-lama. Apartemen ini rumah kalian juga sekarang.”
Mereka tertawa kecil. Ada momen jenaka saat Lina tiba-tiba menggoda Reza yang masih “setengah bangun”, membuat Laras pura-pura cemburu dan akhirnya mereka berciuman bertiga lagi dengan tawa.
Malam itu berakhir dengan ketiganya tidur nyenyak, saling peluk, dan hati tenang.
Pada pagi harinya, Reza bangun sendirian. Di meja ada catatan dan sarapan yang sudah disiapkan.
Catatan itu berbunyi :
“Pagi sayang..,
Kami ada urusan sebentar di pantai selatan ya..
Nanti malam kami kembali.
Jangan kotorin rumah ya… atau kami harus ‘membersihkan’ kamu lagi 😉
— Laras & Lina
Yang selalu rindu”
Reza tersenyum sambil memegang liontin yang hangat.