Aku tiba di Kota Warahan tepat saat hujan turun.
Bukan hujan lebat. Hanya gerimis tipis yang cukup untuk membuat kacamata basah dan hati terasa lebih sepi dari biasanya. Aku, Nara Senja, dua puluh tiga tahun, satu koper besar, satu ransel, dan satu alasan yang tidak bisa kuceritakan kepada siapa pun — pindah ke kota yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.
Pekerjaanku sebagai editor lepas bisa kulakukan dari mana saja. Itu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri setiap kali seseorang bertanya kenapa aku pergi.
Karena bisa.
Bukan karena aku takut.
Bukan karena ada yang mengejarku.
Setidaknya, begitulah versi cerita yang kupilih untuk dipercaya.
Kos yang kutemukan di aplikasi itu harganya terlalu murah untuk ditolak — tiga ratus ribu per bulan, termasuk listrik dan air. Di foto, bangunannya terlihat tua tapi bersih. Cat putihnya mengelupas di beberapa sudut, ada tanaman rambat di pagar besi hitam, dan nomor rumah yang digantung miring di depan pintu.
13.
Aku tidak percaya angka sial. Itu yang kupikirkan saat memesan.
Ibu kos bernama Bu Ratmi menyambutku dengan senyum yang terlalu lebar untuk seseorang yang baru saja bertemu. Perempuan itu usianya mungkin enam puluhan, rambutnya diikat ketat ke belakang, dan matanya — ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak bisa menatapnya terlalu lama.
"Kamar paling ujung," katanya, menyerahkan kunci bernomor 7. "Nduk, kalau malam-malam dengar suara, jangan keluar dulu ya."
Aku mengernyit. "Suara apa?"
Ia hanya tersenyum. "Rumah tua. Biasa."
---
Kamarku terletak di ujung lorong lantai dua. Pintunya kayu jati tua yang beratnya tidak masuk akal untuk ukuran pintu kamar kos. Di dalamnya ada ranjang besi, meja kayu, lemari kecil, dan satu jendela yang menghadap ke kebun belakang yang gelap.
Malam pertama, aku tidak mendengar apa-apa.
Malam kedua juga tidak.
Malam ketiga — itulah pertama kalinya aku mendengar suara itu.
---
Jam menunjukkan pukul 02.14 ketika aku terbangun.
Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara keras. Tapi karena ada sesuatu yang terasa salah dengan udara di kamar itu — terlalu diam, terlalu berat, seperti seseorang sedang menahan napas di sudut ruangan.
Lalu aku mendengarnya.
Bisikan.
Sangat pelan. Hampir seperti angin. Tapi angin tidak pernah mengucapkan nama seseorang dengan jelas seperti itu.
"...Nara..."
Aku duduk tegak di ranjang. Jantungku berdetak tidak karuan. Kunyalakan lampu meja — bohlam kuning yang cahayanya terlalu temaram untuk mengusir bayangan di sudut ruangan.
Tidak ada siapa-siapa.
Tentu saja tidak ada.
'Kamu kelelahan', pikirku. 'Kamu baru pindah. Pikiranmu sedang membuat-buat sesuatu.'
Aku berbaring lagi. Memejamkan mata.
"...Nara..."
Kali ini lebih jelas. Lebih dekat.
Dari arah jendela.
Aku bangkit dan menarik tirai dengan tangan gemetar. Kebun belakang yang gelap terbentang di bawah — pohon-pohon tua, rumput liar, dan satu lampu jalan yang mati di sudut pagar. Tidak ada orang.
Tapi tepat di bawah jendelaku, di tanah yang basah oleh hujan tadi sore — ada jejak kaki.
Mengarah ke dalam.
---
Pagi harinya, aku menanyakan kepada Bu Ratmi siapa saja penghuni kos.
"Ada tiga orang," jawabnya sambil menyapu teras. "Kamu di kamar 7. Pak Hendra di kamar 3 — dia kerja shift malam, jarang kelihatan. Dan Mbak Sari di kamar 5."
"Hanya itu?"
"Hanya itu, Nduk."
Aku menemui Mbak Sari siang itu. Perempuan itu usianya mungkin akhir dua puluhan, rambutnya pendek, dan dia punya kebiasaan mengetuk meja dengan ujung pensil saat berbicara.
"Kamu dengar sesuatu malam kemarin?" tanyaku langsung.
Mbak Sari berhenti mengetuk. "Seperti apa?"
"Bisikan. Dari luar jendela."
Ia menatapku lama. Lalu ia mengangkat bahunya. "Pertama kali aku juga begitu. Sekarang aku sudah pasang earphone sebelum tidur." Ia berdiri, mengakhiri percakapan. "Kamu mau bertahan di sini, belajar cuek. Itu satu-satunya cara."
Tapi ada yang aneh dari caranya berdiri — terlalu cepat, terlalu tiba-tiba, seperti ia tidak ingin melanjutkan topik itu.
---
Aku bertemu Pak Hendra dua hari kemudian, saat ia pulang shift menjelang subuh dan aku kebetulan tidak bisa tidur.
Laki-laki itu tinggi, kurus, dengan wajah yang terlalu lelah untuk usianya yang mungkin baru empat puluhan. Ia mengangguk padaku tanpa senyum dan langsung masuk ke kamarnya.
Tapi sebelum pintu menutup sepenuhnya, aku melihat sesuatu.
Di tangan kanannya — sebuah buku kecil berwarna hitam. Dan di sampulnya, dengan tulisan tangan yang rapi —
NARA SENJA.
Namaku.
---
Aku tidak langsung konfrontasi.
Itu keputusan bodoh yang kusadari belakangan — tapi saat itu yang kulakukan adalah mengunci pintu, mendorong meja ke depannya, dan duduk di lantai sampai matahari terbit.
Pikiranku berputar.
Siapa Pak Hendra?
Bagaimana ia tahu namaku?
Dan kenapa namaku ada di buku itu?
Aku mulai mencari. Bukan dengan cara yang heroik — hanya dengan cara yang paling bisa kulakukan: mengetik nama "Rumah Nomor 13 Warahan" di mesin pencari, dan membaca satu per satu hasil yang muncul.
Artikel lama dari koran lokal. Tahun 2019.
WANITA DITEMUKAN TIDAK SADARKAN DIRI DI KOS JALAN MERPATI — POLISI SELIDIKI DUGAAN PEMBERIAN OBAT TIDUR
Aku membaca lebih dalam. Korban: perempuan, dua puluh empat tahun, tinggal seorang diri. Ditemukan oleh pemilik kos setelah tidak keluar kamar dua hari. Tidak ada tanda kekerasan fisik — tapi di dalam kamarnya ditemukan rekaman audio yang memutar suara seseorang memanggil namanya berulang-ulang sepanjang malam.
Pelaku tidak pernah tertangkap.
Aku menutup laptop.
Di luar kamarku, di lorong yang seharusnya sepi jam segini — aku mendengar langkah kaki yang sangat pelan, berhenti tepat di depan pintu kamar 7.
Lalu, sebuah bisikan.
"...Nara..."
---
Aku butuh bukti sebelum menelepon siapa pun.
Jika aku menelepon polisi dan mengatakan "tetangga kos saya punya buku bertuliskan nama saya" — apa yang akan terjadi? Tidak ada. Mereka akan mencatatnya sebagai kekhawatiran berlebihan.
Jadi aku menunggu.
Pak Hendra berangkat kerja setiap hari pukul tiga sore. Bu Ratmi biasanya tidur siang sampai jam lima. Mbak Sari pergi ke kampus pagi sampai sore.
Aku punya waktu.
Pintu kamar 3 terkunci, tapi kuncinya jenis lama — anak kunci yang sama dengan kamarku bisa membuka semua pintu di sini, aku menemukan itu secara tidak sengaja dua hari lalu. Sebuah desain kos tua yang tidak ada yang repot-repot mengganti.
Aku masuk dengan tangan gemetar.
Kamar Pak Hendra bersih. Terlalu bersih untuk seseorang yang katanya pulang kerja kelelahan setiap hari. Di meja ada laptop, beberapa map, dan —
Buku hitam itu.
Aku membukanya.
Bukan hanya namaku. Di dalamnya ada data lengkap: nama, usia, kota asal, nomor telepon, jadwal harianku yang ia observasi selama tiga hari pertama aku tinggal di sini — jam berapa aku bangun, jam berapa aku makan, kapan aku pergi keluar, kapan aku kembali.
Dan di halaman terakhir, satu kalimat yang membuatku tidak bisa bernapas selama beberapa detik:
Subjek cocok. Lanjut ke fase dua.
Di bawahnya ada nama-nama lain.
Tiga nama perempuan.
Salah satunya — nama perempuan dari artikel koran 2019 itu.
---
Aku keluar dari kamar itu, mengunci kembali pintunya, dan kembali ke kamarku dengan napas yang susah diatur.
Baru aku sadar — satu hal yang belum kuperiksa.
Aku memutar pandangan ke seluruh kamarku. Ke langit-langit, ke sudut-sudut, ke bingkai foto di dinding yang sudah ada sejak aku datang dan tidak pernah kuganggu.
Di balik bingkai foto itu — sebuah kamera mungil. Ukurannya tidak lebih dari ibu jari. Lensanya menghadap langsung ke ranjangku.
Ia tidak hanya mendengarku.
Ia menonton.
Tanganku gemetar saat mengambil kamera itu dan mematikannya. Tapi aku tidak membuangnya — aku menyimpannya sebagai barang bukti, membungkusnya dengan tisu dan memasukkannya ke dalam ranselku.
Lalu aku menelepon satu-satunya orang yang kupercaya di kota ini.
Reza — sepupuku, yang kebetulan bekerja sebagai jurnalis investigasi di Warahan. Orang yang sebenarnya merekomendasikan kota ini padaku. Orang yang tidak tahu bahwa rekomendasi itu hampir menghancurkanku.
"Reza," kataku begitu ia mengangkat. "Aku butuh bantuan. Sekarang."
---
Reza datang satu jam kemudian bersama seorang rekannya dari kepolisian — kenalan lama yang bisa dipercaya. Aku menunjukkan buku hitam itu, kamera itu, dan artikel 2019 yang kusimpan di ponselku.
Wajah polisi itu berubah saat membaca nama di halaman terakhir buku.
"Kami sudah mencari orang ini dua tahun," katanya pelan.
Pak Hendra — nama aslinya berbeda — adalah pelaku serangkaian kasus yang selama ini tidak pernah terhubung satu sama lain karena ia selalu berpindah kota. Modusnya selalu sama: menyewa kamar di kos yang sama dengan target, memasang perangkat audio untuk membisikkan nama korban tengah malam — membuat mereka merasa diikuti oleh sesuatu yang gaib, ketakutan, tidak bisa tidur. Lalu, ketika kondisi mental korban melemah, ia akan masuk ke fase berikutnya.
Apa fase berikutnya?
Aku tidak ingin tahu.
Mereka menangkap Pak Hendra pukul 23.47, saat ia kembali dari shift kerjanya, tepat di depan pagar Rumah Nomor 13.
Aku menyaksikannya dari balik jendela kamar, dengan Reza berdiri di sebelahku.
"Kamu beruntung," kata Reza. "Kalau kamu langsung lari atau panik sejak awal, mungkin kamu tidak akan pernah menemukan buktinya."
Aku tidak merasa beruntung. Aku merasa lelah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dalam kata-kata.
"Nara." Reza menoleh padaku. "Kenapa kamu pilih kota ini? Sebenarnya?"
Aku diam sebentar. Menatap nomor 13 yang masih tergantung miring di depan pintu.
"Karena aku pikir tempat yang tidak ada yang mengenalku adalah tempat yang aman."
Reza tidak menjawab. Ia tahu, seperti aku tahu, bahwa asumsi itu salah.
Tidak ada tempat yang sepenuhnya aman.
Yang ada hanyalah kita — dan seberapa cepat kita belajar membaca tanda-tanda bahaya sebelum terlambat.
---
Aku pindah dari Rumah Nomor 13 dua hari setelah itu.
Bu Ratmi menangis saat aku berpamitan — aku tidak tahu apakah itu air mata tulus atau sekadar refleks. Mbak Sari memelukku sebentar dan berkata, "Aku juga akan pindah minggu ini."
Kota Warahan ternyata tidak seburuk yang kukira.
Aku menyewa kamar baru di tempat yang berbeda — lebih kecil, lebih mahal, tapi dengan pintu yang bisa dikunci dari dalam dengan benar dan jendela yang menghadap ke jalan ramai.
Malam pertama di tempat baru, aku tidak mendengar bisikan apa pun.
Hanya suara hujan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama — aku bisa tidur nyenyak.