Raka masih ingat hari pertama ia bertemu Aira.
Saat itu mereka sama-sama siswa kelas satu SMA. Aira adalah gadis ceria yang selalu tersenyum kepada siapa pun, sedangkan Raka lebih pendiam dan canggung. Pertemuan mereka yang sederhana berkembang menjadi persahabatan, lalu cinta.
Mereka tumbuh bersama.
Belajar bersama.
Lulus bersama.
Dan pada usia yang masih sangat muda, mereka memutuskan untuk menikah.
Bagi mereka, cinta sudah cukup untuk menghadapi dunia.
Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.
---
Delapan bulan setelah pernikahan, kehidupan mereka mulai berubah.
Mereka membuka sebuah restoran kecil di dekat rumah.
Pada bulan-bulan pertama, usaha itu berjalan dengan baik. Meja-meja selalu terisi. Uang yang masuk cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Jumlah pelanggan mulai berkurang.
Pendapatan menurun.
Tagihan menumpuk.
Tabungan mereka semakin menipis.
Suatu malam, Aira duduk di hadapan Raka dengan wajah penuh keraguan.
"Aku ingin bekerja," ucapnya pelan.
Raka terdiam.
Ia tahu kondisi mereka memang sulit.
Tetapi ia juga tahu apa artinya keputusan itu.
Jika Aira bekerja, mereka akan semakin jarang bertemu.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Raka.
Aira menggenggam tangannya.
"Kita harus bertahan."
Dengan berat hati, Raka mengangguk.
Sejak hari itu, kehidupan mereka tidak pernah sama lagi.
---
Aira berangkat sebelum matahari terbit.
Ia pulang ketika langit sudah gelap.
Sarapan yang biasanya tersedia di meja makan kini tidak ada lagi.
Obrolan malam mereka semakin singkat.
Bahkan terkadang Aira langsung tertidur begitu sampai di rumah.
Raka memahami alasannya.
Tetapi memahami tidak berarti tidak merasa kesepian.
Hari-harinya menjadi monoton.
Membuka restoran.
Melayani pelanggan.
Menutup restoran.
Pulang ke rumah yang terasa semakin sepi.
Hingga suatu Minggu pagi, bel rumah mereka berbunyi.
Aira membuka pintu dan langsung terkejut.
"Kak?"
Di depan rumah berdiri seorang wanita berusia beberapa tahun lebih tua darinya.
Rani.
Kakak kandung Aira.
Wajahnya tampak lelah.
Matanya sembab.
Setelah masuk ke rumah, Rani menjelaskan bahwa ia baru saja bertengkar besar dengan suaminya dan diusir dari rumah.
"Aku tidak punya tempat lain," katanya.
Tanpa ragu, Aira mempersilakannya tinggal sementara.
Raka pun menyetujuinya.
Saat itu, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa keputusan sederhana itu akan menghancurkan hidup mereka.
---
Kehadiran Rani perlahan mengubah suasana rumah.
Ia pandai berbicara.
Pandai membuat orang merasa nyaman.
Saat Aira bekerja, Rani sering membantu di restoran.
Mereka mengobrol tentang masa kecil Aira.
Tentang keluarga.
Tentang mimpi-mimpi yang pernah mereka miliki.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Raka merasa ada seseorang yang benar-benar mendengarkannya.
Bahkan restoran mereka mulai ramai kembali.
Banyak pelanggan datang karena pelayanan yang ramah.
Raka merasa hidupnya kembali memiliki warna.
---
Suatu sore, masalah terjadi.
Seorang pelanggan terus mengganggu Rani.
Awalnya Rani mencoba mengabaikannya.
Namun pria itu semakin berlebihan.
Melihat itu, Raka kehilangan kesabaran.
Ia menghampiri pria tersebut.
Perdebatan berubah menjadi perkelahian.
Sayangnya, tubuh Raka jauh lebih kecil.
Beberapa pukulan keras membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
---
Ketika membuka mata, ia sudah berada di kamarnya.
Rani duduk di samping tempat tidur sambil mengompres luka di wajahnya.
"Kamu bodoh," katanya dengan suara bergetar.
Raka tersenyum lemah.
"Setidaknya dia tidak mengganggumu lagi."
Mata Rani berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Raka bukan sebagai adik iparnya.
Dan sejak saat itu, batas di antara mereka mulai memudar.
---
Malam yang mengubah segalanya datang beberapa minggu kemudian.
Saat membeli kebutuhan restoran, Raka tanpa sengaja melihat Aira di pusat kota.
Aira sedang berjalan bersama seorang pria.
Mereka terlihat akrab.
Terlalu akrab menurut mata Raka.
Ia memanggil nama istrinya dalam hati.
Tetapi kakinya tidak bergerak.
Ia hanya bisa melihat mereka menghilang di tikungan jalan.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Malam itu, ia menangis.
Tangisan yang selama ini ia pendam akhirnya pecah.
Rani menemukannya.
Awalnya Raka menolak bercerita.
Namun akhirnya semua keluar.
Perasaannya.
Kecurigaannya.
Ketakutannya.
Rani mendengarkan.
Menghiburnya.
Dan pada malam itu, mereka membuat keputusan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
---
Rahasia mereka berlangsung selama satu bulan.
Setiap hari rasa bersalah semakin menumpuk.
Namun tidak satu pun dari mereka menghentikannya.
Sampai akhirnya semuanya terbongkar.
---
Hari itu Aira pulang lebih awal.
Di tangannya terdapat hasil pemeriksaan rumah sakit.
Wajahnya dipenuhi kebahagiaan.
Ia ingin memberikan kejutan kepada suaminya.
Ia sedang mengandung.
Anak pertama mereka.
Namun ketika sampai di restoran, tempat itu tutup.
Rumah pun terlihat gelap.
Perasaan aneh mulai muncul.
Dan ketika ia membuka pintu kamar Rani...
Dunianya runtuh.
---
Jeritan Aira memenuhi rumah.
Tangannya gemetar.
Air matanya mengalir tanpa henti.
Ia meminta penjelasan.
Meminta alasan.
Meminta semuanya menjadi mimpi buruk.
Tetapi kenyataan tetaplah kenyataan.
Tubuhnya tidak sanggup menanggung tekanan itu.
Pandangannya gelap.
Dan ia jatuh pingsan.
---
Setelah sadar di rumah sakit, hidup Aira berubah.
Ia menolak bertemu Raka.
Menolak mendengar penjelasan apa pun.
Semua kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun telah hancur.
Beberapa hari kemudian, ia meninggalkan rumah.
Meninggalkan suaminya.
Meninggalkan kakaknya.
Meninggalkan semua kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
---
Bulan demi bulan berlalu.
Raka hidup bersama Rani.
Restoran tetap berjalan.
Kehidupan terus bergerak.
Namun kebahagiaan yang mereka cari tidak pernah benar-benar datang.
Sementara itu, Aira hidup sendirian di sebuah kontrakan kecil.
Ia bekerja.
Makan.
Tidur.
Mengulang hari yang sama.
Tetapi luka di hatinya tidak pernah sembuh.
---
Suatu pagi, kabar itu datang.
Aira meninggal dunia.
Raka membaca berita itu dengan tangan gemetar.
Untuk waktu yang lama ia hanya duduk diam.
Tidak menangis.
Tidak berbicara.
Hanya menatap kosong ke depan.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini bukan salahnya.
Dan Rani selalu membantu menguatkan keyakinan itu.
Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang terus mengganggunya.
---
Hingga suatu hari.
Raka melihat Rani bersama seorang pria.
Pria yang sangat ia kenal.
Pria yang dulu berjalan bersama Aira.
Tubuh Raka membeku.
Persis seperti hari ketika ia melihat Aira dahulu.
Kali ini, ia mengikuti mereka.
Dan dari percakapan yang ia dengar, seluruh dunia kembali runtuh.
Pria itu ternyata hanya suruhan.
Rani telah mengatur semuanya.
Menciptakan kesalahpahaman.
Memanfaatkan rasa curiga Raka.
Menghancurkan pernikahannya sedikit demi sedikit.
Semua demi mendapatkan dirinya.
---
Keesokan harinya, Raka menghubungi Rani.
Ia mengajak wanita itu bertemu di sebuah hotel.
Rani datang tanpa curiga.
Ketika memasuki ruangan, sebuah lagu lama sedang diputar.
Lagu favorit Aira.
Lagu yang dulu sering mereka dengarkan saat masih SMA.
Raka berdiri di dekat balkon.
Matanya merah.
Wajahnya kosong.
"Aku baru sadar," katanya pelan.
"Satu-satunya orang yang selalu mencintaiku adalah Aira."
Rani mulai merasa takut.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
---
Beberapa menit kemudian, dua tubuh jatuh dari lantai lima.
Orang-orang berteriak.
Suara sirene terdengar.
Namun bagi Raka, semuanya sudah jauh.
Dalam detik-detik terakhir hidupnya, ia melihat sebuah mimpi.
Aira tersenyum.
Menggendong seorang anak kecil.
Mereka berdiri di depan restoran sederhana milik mereka.
Restoran yang dulu dibangun dengan penuh harapan.
Raka menangis.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia lakukan.
Dan ketika tubuhnya menghantam aspal, penyesalan itu menjadi hal terakhir yang ia rasakan.
Tamat.