Argia berusia 24 tahun.
Pekerjaannya biasa saja.
Pagi hingga sore bekerja di gudang ekspedisi.
Malamnya kembali ke kamar kontrakan sempit yang hanya berisi kasur, kipas angin, dan meja komputer.
Masalahnya bukan pekerjaannya.
Masalahnya adalah kebiasaannya.
Selama lima tahun terakhir Argia hampir tidak pernah tidur dengan benar.
Awalnya karena game.
Lalu karena film.
Kemudian karena kebiasaan.
Tubuhnya masih bisa berfungsi dengan tidur dua atau tiga jam sehari.
Setidaknya itu yang dia pikirkan.
Teman-temannya sering memperingatkan.
"Kamu bakal mati muda kalau begini."
Argia hanya tertawa.
Namun beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang mulai berubah.
Saat bekerja ia sering melihat sesuatu bergerak di ujung matanya.
Bayangan hitam.
Cepat.
Seperti seseorang berlari melewati rak gudang.
Ketika ia menoleh, tidak ada siapa-siapa.
Awalnya Argia menganggap itu hanya kelelahan.
Gangguan itu semakin sering muncul.
Suatu malam saat sedang menonton video di depan komputer.
Argia merasa ada seseorang berdiri di belakangnya.
Perasaan itu sangat kuat.
Ia perlahan menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Namun ketika kembali menghadap layar.
Pantulan monitor memperlihatkan sesosok hitam berdiri di pojok kamar.
Argia langsung membalikkan kursinya.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Malam itu ia tidak tidur sama sekali.
Bukan karena tidak mau.
Tetapi karena takut.
Hari demi hari.
Bayangan itu semakin jelas.
Kini Argia bisa melihat bentuk tubuhnya.
Tinggi.
Kurus.
Lengan panjang.
Kepala miring seperti patah.
Kadang berdiri di ujung lorong.
Kadang muncul di kaca kamar mandi.
Kadang terlihat duduk di kursi penumpang saat Argia mengendarai motor.
Namun setiap kali Argia berkedip.
Makhluk itu menghilang.
Yang aneh.
Tidak ada orang lain yang melihatnya.
Saat ia menceritakan semuanya kepada ibunya.
Ibunya menyuruhnya beristirahat.
Saat ia menceritakannya kepada teman kerjanya.
Mereka menyuruhnya pergi ke dokter.
Argia mulai kesal.
Tidak ada yang percaya.
Padahal ia melihatnya sendiri.
Dengan matanya sendiri.
Suatu malam.
Pukul dua dini hari.
Terdengar suara ketukan dari pintu kontrakan.
Tok.
Tok.
Tok.
Argia terbangun dari kursi komputernya.
Ketukan itu terdengar lagi.
Lebih keras.
Tok.
Tok.
Tok.
Saat membuka pintu.
Tidak ada siapa pun.
Namun di ujung koridor apartemen.
Sosok hitam itu berdiri.
Diam.
Tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya.
Makhluk itu tidak menghilang.
Argia bisa melihatnya dengan jelas.
Tubuhnya penuh luka.
Wajahnya seperti meleleh.
Dan matanya menatap lurus ke arah Argia.
Argia membanting pintu.
Jantungnya berdebar tak terkendali.
Malam itu ia mendengar suara langkah kaki berjalan mondar-mandir di depan kamarnya hingga pagi.
Kondisi mental Argia semakin buruk.
Ia mulai kehilangan fokus saat bekerja.
Mulai lupa percakapan.
Mulai kehilangan ingatan tentang beberapa jam dalam hidupnya.
Namun sosok itu justru semakin nyata.
Kini makhluk itu tidak hanya diam.
Ia bergerak.
Mendekat.
Sedikit demi sedikit.
Setiap hari.
Semakin dekat.
Argia mulai membawa pisau dapur ke mana pun ia pergi.
Hanya untuk berjaga-jaga.
Ia yakin.
Makhluk itu sedang menunggunya lengah.
Dan suatu hari akan membunuhnya.
Hujan turun deras.
Listrik padam.
Kamar Argia gelap gulita.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.
Lalu...
Krek.
Pintu kamarnya terbuka sedikit.
Argia membeku.
Seseorang masuk.
Langkah pelan terdengar mendekat.
Krek.
Krek.
Krek.
Argia menggenggam pisau.
Napasnya memburu.
Lalu dari balik gelap.
Sosok itu muncul.
Paling jelas yang pernah ia lihat.
Wajah hancur.
Tubuh berdarah.
Mulut terbuka lebar.
Seolah hendak menerkamnya.
"Pergi...!"
Argia berteriak.
Makhluk itu justru mendekat.
"Pergi!"
Argia mengayunkan pisau.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Lima kali.
Makhluk itu roboh.
Namun Argia terus menusuk.
Terus.
Dan terus.
Sampai tubuh itu tidak bergerak lagi.
Hening.
Suara hujan masih turun.
Tangannya penuh dengan darah.
Tubuh monster itu tergeletak di lantai.
Darah menggenang di bawahnya.
Argia terengah-engah sambil menggenggam pisau.
Dadanya naik turun.
Monster itu akhirnya mati.
Setidaknya itu yang ia yakini.
Malam itu ia tidak tidur.
Ia terus mengawasi tubuh monster tersebut.
Takut jika monster itu bangun kembali.
Jam demi jam berlalu.
Tidak ada gerakan.
Tidak ada suara.
Monster itu benar-benar mati.
Namun ketenangan yang ia harapkan tidak datang.
Justru rasa takut yang lebih besar mulai tumbuh.
Bagaimana jika ada monster lain?
Bagaimana jika monster itu tidak sendirian?
Pikiran argia sangat kacau.
Sejak saat itu Argia berhenti masuk kerja.
Telepon dari kantor tidak pernah ia angkat.
Pesan dari teman-temannya tidak pernah dibalas.
Ia menutup jendela kontrakan.
Menempelkan kardus pada kaca.
Membiarkan ruangan itu selalu gelap.
Hari demi hari berlalu.
Lalu ia mulai melihat mereka lagi.
Bukan satu.
Bukan dua.
Puluhan.
Di ujung lorong.
Di luar jendela.
Di depan pintu kontrakan.
Bahkan saat siang hari.
Mereka selalu mengawasinya.
Argia semakin yakin.
Monster-monster itu datang untuk membalas kematian teman mereka.
Suatu sore.
Terdengar suara ketukan pintu.
"Argia! Buka pintunya!"
Argia membeku.
Suara manusia.
Namun ketika mengintip melalui celah pintu.
Yang ia lihat adalah makhluk mengerikan dengan wajah rusak.
Monster.
Monster lain.
Tanpa ragu.
Ia menyerangnya.
Hari-hari berikutnya berulang dengan pola yang sama.
Ada yang datang.
Ada yang memanggil namanya.
Ada yang mengaku khawatir.
Namun di mata Argia.
Mereka semua monster.
Semuanya berakhir sama.
Dan setiap kali selesai membunuh satu monster.
Ia merasa sedikit lebih aman.
Hanya sedikit.
Karena monster lain selalu datang lagi dan lagi.
Kontrakan itu kini berubah.
Tidak ada lagi tempat yang terasa nyaman.
Tidak ada lagi suara televisi.
Tidak ada lagi game.
Tidak ada lagi kehidupan.
Hanya Argia.
Dan lima kepala monster yang ia simpan sebagai bukti kemenangan.
Ia sering duduk berjam-jam di depan meja komputer.
Menatap mereka.
Berbicara kepada mereka.
Memastikan mereka benar-benar mati.
Namun bahkan itu tidak cukup.
Karena monster baru terus muncul.
Di sudut ruangan.
Di belakang pintu.
Di cermin.
Di langit-langit.
Di mana-mana.
Mereka selalu muncul.
Suatu malam.
Argia duduk sendirian.
Tubuhnya kurus.
Matanya cekung.
Tangannya gemetar.
Ia sudah tidak tahu hari apa.
Tidak tahu tanggal berapa.
Tidak tahu sudah berapa lama mengurung diri.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia lelah.
Sangat lelah.
Lima tahun tanpa tidur yang layak.
Bulan-bulan penuh ketakutan.
Hari-hari yang dipenuhi monster.
Dan kini bahkan setelah membunuh mereka.
Monster tetap datang.
Tidak ada akhirnya.
Argia mulai menangis.
Bukan karena takut.
Tetapi karena putus asa.
"Aku capek..."
Untuk pertama kalinya.
Ia mengakuinya.
"Aku nggak kuat lagi..."
Di sudut ruangan.
Puluhan monster sedang mengawasinya.
Setidaknya itulah yang ia lihat.
Argia menggenggam pisau.
Pisau yang sama.
Pisau yang telah menemaninya selama ini.
Tidak ada lagi harapan.
Tidak ada lagi jalan keluar.
Ia mengarahkan ujung pisau ke dadanya.
Lalu menusukkannya.
Tubuhnya jatuh ke lantai.
Darah mulai mengalir.
Kesadarannya perlahan memudar.
Dan tepat saat itulah...
Monster-monster itu mulai berubah.
Satu per satu.
Wajah mereka tidak lagi rusak.
Tubuh mereka tidak lagi mengerikan.
Mereka menjadi manusia.
Manusia biasa.
Adiknya.
Ibunya.
Pemilik kontrakan.
Teman kerja yang datang mencarinya.
Sahabat masa kecilnya.
Mereka semua berdiri di sana.
Bukan sebagai monster.
Melainkan sebagai orang-orang yang peduli padanya.
Argia menatap mereka dengan mata yang membelalak.
Air mata mengalir.
Pecahan ingatan yang selama ini hilang mulai kembali.
Ia mengingat semuanya.
Suara mereka.
Wajah mereka.
Kekhawatiran mereka.
Dan apa yang telah ia lakukan.
"Ah..."
Suara seraknya hampir tidak terdengar.
"Jadi..."
Tangannya gemetar.
"Aku..."
Tubuhnya terasa semakin dingin.
"Aku yang monster..."
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Pandangannya mulai gelap.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Tidak ada lagi bayangan.
Tidak ada lagi monster.
Tidak ada lagi ketakutan.
Hanya kegelapan.
Lalu semuanya berakhir.