Sebut saja namaku Sasa, usiaku saat itu masih 21 tahun, aku memiliki teman bernama Nami, Nami lebih muda dariku, mungkin saat itu usianya masih 19 tahun. Kamu tinggal dikosan yang sama.
Malam itu saat aku ingin keluar untuk makan, aku mendengar suara seseorang menangis diujung lorong yang sepi, karena penasaran aku mencoba melihat siapa itu. Saat itu aku tidak langsung menghampirinya, tapi aku mengintip dibalik tembok tidak jauh dari lorong. Saat itu aku tidak melihat begitu jelas wajahnya, hanya punggungnya saja yang kelihatan, tapi, saat itu aku yakin bahwa orang itu adalah Nami, karena baju yang ia kenakan. Aku mencoba mendekat perlahan. Dan saat jarak kita sudah dekat aku memanggil namanya.
"Nami..??"
Saat Nami menoleh menatapku, ia nampak kaget, lalu segera mengusap air matanya.
"Kamu kenapa??" Tanyaku.
Nami masih diam, aku pun semakin mendekat.
"Hiks...mbak.. mas Dimas, hiks..."
Aku semakin bingung saat Nami malah semakin terisak, perlahan ku ulurkan tanganku untuk mengusap punggungnya.
"Kenapa dengan mas Dimas?? Cerita sama mbak" ucapku mencoba menenangkannya.
Aku bisa melihat raut wajah Nami yang nampak ragu untuk menceritakannya.
"Apa kamu ada hubungan dengan mas Dimas?" Tanyaku kemudian.
Saat itu aku berniat tidak ingin ikut campur, tapi mendengar nama 'dimas' niatku sirna begitu saja, dikampus, Dimas adalah pria yang populer dan banyak mahasiswi yang menyukainya. Dimas memiliki wajah yang tampan dan memiliki daya tarik seperti magnet yang bisa menarik lawan jenis dengan begitu mudah.
Tapi, dilain sisi Dimas memiliki banyak rumor yang mengatakan bahwa dia suka bermain wanita. Dan itu yang membuatku cemas melihat keadaan Nami sekarang.
"Aku sering chattingan dengan mas Dimas, bahkan hampir setiap hari, mas Dimas sangat baik padaku, pesanku selalu dibalas oleh mas Dimas, tapi, saat aku meminta kejelasan hubungan ini... Kata mas Dimas...." Nami menjeda ucapnya, lalu menatapku dengan pandangan mata yang menyimpan kekecewaan.
"Kita hanya sekedar kakak dan adik saja." Lanjut Nami dengan kembali menangisi orang yang bernama Dimas itu.
Malam itu Nami menceritakan semua yang ia alami, mulai dari awal kenal Dimas lewat media sosial, lalu berujung komunikasi lewat pesan WhatsApp. Tapi, yang aku tangkap dari cerita Nami, mereka berdua belum sempat bertemu secara langsung. Hanya sekedar bertukar pesan dan saling bertelfon saja. Saat itu aku hanya bisa menenangkannya, menasehatinya bahwa 'kamu itu cantik, kamu bisa dapatkan pria yang lebih baik dari Dimas, umurmu bahkan masih muda, lebih baik kamu fokus dulu sekolah dan kejar cita-cita kamu' Dan sejak saat itu aku melihat Nami sudah mulai ceria lagi.
Sebulan kemudian...
Malam itu, setelah seharian berkutat didepan laptop aku merasa lelah dan memutuskan untuk menyudahi pekerjaanku dan berbaring diatas tempat tidur, aku meraih ponselku dan membuka media sosialku. Mataku terpaku pada satu pesan. Karena penasaran aku lalu membuka pesan itu, saat tau siapa si pengirim mataku melebar.
'Dimas Noer Zaki'
[Hay....]
Pesan itu singkat tapi membuatku bertanya-tanya.
"tidak mungkin orang itu kan??"
Karena rasa penasaran yang tinggi, aku membuka profilnya. Seketika jantungku berdebar keras saat mengetahui bahwa dia memang 'dimas' yang aku maksud. Saat itu aku bingung ingin membalas pesan itu atau mengabaikannya.
Ting..
Ponselku berbunyi lagi, pesan dari orang yang sama. Jariku masih menggantung diudara, 'buka atau tidak'
Tapi, sialnya karena rasa penasaran aku membuka pesan itu.
[Kamu Sasa Puspita Dewi kan? Yang orang Jogja itu?]
Deg ..
Jantungku kembali berdetak kencang..
"Bagaimana dia tau aku orang Jogja??"
Saat itu aku semakin penasaran, dan tanpa sadar tanganku bergerak untuk mengetik balasan pada pria itu.
[Kok kamu tau..??]
Tak selang lama ia membalas pesanku, dan kami saling balas membalas pesan dimedia sosial, hingga akhirnya berujung kami saling tukar nomor.
Selama seminggu lebih kami saling komunikasi lewat WhatsApp. Hingga suatu hari kami merencanakan untuk bertemu secara langsung.
Hari H pertemuan kami dimulai..
Saat itu kami bertemu dijogja saat hari libur sekolah, Dimas datang naik kereta dari Jakarta untuk bisa menemui ku. Kalian bisa membayangkan betapa campur aduknya perasaanku saat itu. Aku berangkat dari rumah sore hari, saat itu aku tidak sendiri tapi dengan adik perempuanku. Aku tiba lebih awal ditempat janjian, yaitu di Malioboro. Aku masih ingat betul tempatku menunggu kedatanganya. Disebuah kursi dekat benteng Vredeburg. Jam sudah menunjukkan jam 6 lebih dikit, adikku mulai bosan.
"Mbak, aku mau ketempat temenku dulu ya, nanti kalo butuh sesuatu wa aja" ucap adikku, lalu berlalu meninggalkanku sendirian disana, kebetulan adikku memiliki teman yang bekerja dicafe dekat Malioboro.
"Sasa...??"
Jantungku berdebar tidak karuan saat mendengar namaku disebut seorang pria dibelakanggu. Aku lalu menoleh, saat itu juga aku melihat wajah Dimas begitu dekat denganku, ia tersenyum lembut kepadaku, aku tidak membalas senyum itu, saat itu aku hanya diam, mematung, seperti orang bodoh. Sampai aku tidak sadar bahwa pria itu sudah duduk didekatku.
"Sa.." panggil Dimas lagi.
"Eh..iya, mas..." Ucapku terbata, Dimas kembali tersenyum, membuatku gugup tak karuan.
"Maaf lama nunggunya, aku baru beres, tadi sore baru sampe sini"
Aku menggenggam ujung rokku kuat, menahan setiap gejolak aneh didalam diriku saat mendengar suara khas pria itu.
"I-iya.. gak apa-apa mas, aku juga baru Dateng"
Waktu itu aku tidak berani menatap matanya, pandanganku hanya lurus kedepan, entah apa yang di pikirkan pria itu tentangku, aku hanya tidak bisa menatap Dimas karena rasa gugup yang aku rasakan.
Setelah cukup lama kita mengobrol, Dimas mengajakku berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan Malioboro, suasana malam itu tidak terlalu ramai karena kami sengaja bertemu di hari Kamis malam. Disepanjang jalan Dimas lebih banyak berbicara, sama hanya seperti saat kami berbicara lewat telfon, Dimas lebih dominan berbicara dari pada aku. Setelah makan malam disalah satu tempat makan disekitar Malioboro kami memutuskan untuk berpisah, Dimas juga sudah kelihatan lelah dan ingin segera beristirahat dipenginapannya. jam juga sudah menunjukkan jam 10 malam, adikku juga sudah menghubungi kalo dia sudah berada diparkiran Malioboro, sebelum kami benar-benar berpisah, Dimas memberiku sebuah paper bag yang berukuran sedang, Dimas memintaku membukanya saat sudah sampai rumah.
Dimas kembali lagi ke Jakarta hari Jum'at siang, sebelum pergi kami sempat bertemu sebentar, aku juga mengantar Dimas ke stasiun. Setelah pertemuan kami itu, Dimas lebih sering menghubungiku, memberiku banyak perhatian, membuatku sampai salah mengartikan kebaikan itu, mungkin perasaan ini yang pernah dirasakan oleh Nami, saat itu aku merasa hubunganku dengan Dimas adalah sebuah kesalahan, tapi aku tidak bisa mengakhiri begitu saja, mungkin aku sudah merasa nyaman dengan kehadiran pria itu. Sudah terhitung lebih dari dua bulan kita saling komunikasi, tapi Dimas masih juga belum memberi kejelasan untuk hubungan kami, aku mulai frustasi, dan mulai berpikir negatif.
"Apa pria itu juga main-main dengan ku??"
Pikiran itu terus berputar di kepalaku. Tapi, aku takut menanyakan kejelasan hubungan kami pada dimas, takut dengan apa yang menimpa Nami terjadi pada ku juga.
[Sa..?? Kamu baik-baik saja kan? Kenapa tidak membalas pesankum]
Aku membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya, sudah tiga hari ini aku menghindari Dimas. Semua pesan dan panggilan Dimas aku abaikan. Tiga hari itu aku hanya menangis seperti seseorang yang baru saja putus dengan pacarnya.
"Ternyata mengabaikanmu rasanya sesakit ini" ucapku pelan.
"Lalu bagaimana kalo suatu hari nanti kamu berhenti menghubungiku?"
Malam itu aku tidak bisa menghentikan rasa sedihku, bayang-bayang bahwa suatu saat nanti Dimas akan mengabaikanku seperti apa yang Nami alami membuatku tidak bisa berpikir jernih. Rasa sakit, kecewa yang belum sepantasnya aku rasakan saat ini, seakan menusuk memecah kewarasanku.
Aku melirik ponselku lagi, 20 panggilan tak terjawab dari Dimas. Serta 10 pesan juga dari pria itu.
[Kalo kamu tidak membalas pesanku, aku akan mendatangimu sekarang sa..]
Deg...
Pesan terakhir Dimas membuatku kaku ditempat. Lalu tak lama sebuah panggilan menyusul. Tanganku bergetar, perlahan menekan tanda hijau.
"Sa... Kamu kenapa??"
Suara Dimas mengisi gendang telingaku. Aku masih diam tapi air mataku terus mengalir.
"Sasa..??"
"Kenapa diam saja?? Kenapa mengabaikan pesanku??"
"Aku ada salah??"
"Jawab dek..??"
Panggilan asing itu terdengar asing dan juga menenangkan bagiku, aku menarik nafas lalu menghembuskan ya perlahan.
"Aku...aku...hiks..."
Sialnya, aku tidak bisa berbicara. Aku hanya menangis, menumpahkan semua perasaanku.
"Kamu kenapa menangis?? Aku ada salah kah?"
"Jawab aku sa.."
Pria itu terus bertanya, sedangkan aku masih terus menangis. Malam itu aku menyadari bahwa aku sudah jatuh hati pada pria itu, cintaku sudah sangat besar hingga membuatku selalu berpikir negatif pada Dimas.
"Maaf mas... Maafkan aku..hiks.."
Hanya kata maaf yang berulang yang keluar dari mulutku.
"Besok aku ke Jogja ya.. kita bicara baik-baik!" Ucapnya lembut.
Aku terdiam cukup lama, panggilan itu berubah menjadi sunyi beberapa saat. Aku menarik nafas pelan dan menghembuskanya, beberapa saat setelah aku mulai tenang aku memanggil namanya.
"Mas.."
"Ya sa.. kenapa?? Bicara pada ku, ada apa??"
Aku bisa melihat nada kekhawatiran lewat suara Dimas.
"Aku mau tanya, mas Dimas jawab jujur ya?"
Dengan mengumpulkan keberanian aku akhirnya berniat bertanya, tentang kejelasan hubungan kami.
"Ya.. tanya aja, aku akan jawab jujur"
"Mas Dimas selama ini anggap aku apa sih??"
Hening sejenak.. kesunyian itu membuat jantungku berdebar tak karuan, aku meremas dadaku yang mulai sesak.
"Aku suka kamu sa, apa itu tidak kelihatan?"
"Kalo kamu tanya, apa bagimu buatku? Aku akan jawab, kamu segalanya bagiku"
Deg...
Bukan perasaan kecewa atau sakit hati yang aku rasakan, justru perasaan lega bercampur dengan rasa senang yang sulit diartikan.
"Kamu mau gak jadi pacarku sa..??"
"Aku tau ini tidak sesuai ekspektasiku, aku ingin mengungkapkan perasaanku saat nanti kita sudah masuk kampus lagi, tapi.. ku rasa kamu butuh kepastian"
"Sa... Bagaimana? Kamu mau gak??"
"Ya..aku mau mas"
Dan malam itu adalah hari jadian kita. Tentu saja aku bahagia. Perasaanku ternyata terbalas.
Singkat waktu, akhirnya kami kembali ke kampus, aku belum berani terang-terangan memperlihatkan hubungan kami, hingga suatu saat aku merasa kurang enak badan, Dimas tiba-tiba datang lalu membawakan ku sebuah vitamin dan beberapa makanan, kejadian itu menimbulkan gosip hingga terdengar oleh Nami.
Nami mendatangi kamar kos ku sore hari meminta penjelasan dari gosip-gosip itu, karena aku tidak bisa terus-terusan menyembunyikan hubunganku dengan Dimas, akhirnya aku jujur pada Nami kalo kami pacaran. Mendengar itu Nami nampak kecewa dan marah padaku, mengataiaku musuh dalam selimut.
Setelah kedatangan Nami dikamar kos ku itu terus minta maaf pada Nami, tapi Nami seperti enggan berbicara denganku. Saat itu aku sangat kesulitan, hingga hubunganku dengan Dimas sedikit merenggang.
Satu Minggu aku terus mencoba mendekati Nami, untuk menjelaskan keadaanku. Tapi Nami tidak pernah mendengarkan ku. Nami semakin jauh dariku, hingga mahasiswi lain juga banyak yang menghujat dan menjelekkanku karena masalahku dengan Nami. Dimas terus berada di sisiku, terus memberiku dukungan dan juga menjagaku dengan baik.
"Nami maafkan aku, mungkin aku salah karena sejak awal membiarkan pria itu masuk dihidupku. Tapi aku juga tidak bisa melepaskan pria itu selamanya. Aku sudah sangat mencintainya, bahkan aku tidak bisa membayangkan diriku jika aku tidak bersama Dimas"
Pesan itu terus aku kirim pada Nami hingga saat ini. Berharap nami suatu saat bisa memaafkan ku.