Layar hologram di ruang kerja kepresidenan menampilkan wajah tegang CEO Freeport-McMoRan yang didampingi oleh Duta Besar Amerika Serikat. Pertemuan virtual darurat itu telah berlangsung selama dua jam, dan atmosfer di dalam ruangan sudah sepekan es.
"Anda harus realistis, Presiden Raka Gibran," ucap sang CEO dengan nada menekan, mencoba menyembunyikan kepanikannya di balik ketegasan palsu.
"Tambang bawah tanah Grasberg di Papua adalah salah satu sistem tambang paling rumit dan berbahaya di dunia. Jika Anda menolak memperpanjang kontrak kami dan menuntut kepemilikan seratus persen untuk Indonesia, kami akan menarik seluruh teknologi paten, sistem drainase makro, dan semua alat berat kami minggu ini juga. Tanpa kami, tambang itu akan banjir dan lumpuh total dalam waktu tiga puluh hari. Anda tidak punya keahlian untuk itu."
Menteri ESDM yang duduk di samping Raka sempat menelan ludah, menatap sang Presiden dengan cemas. Ancaman boikot teknologi dari negara adidaya bukanlah perkara main-main.
Namun, Raka Gibran tetap tenang. Dia menyesap kopi hitamnya, lalu menatap lurus ke arah kamera luar ruangan dengan tatapan sedingin es.
"Silakan bawa pulang semua besi tua dan paten kalian kembali ke Amerika," jawab Raka Gibran, suaranya terdengar datar namun bertenaga. "Tanah Papua adalah milik leluhur kami, dan mulai hari ini, setiap gram emas di dalamnya murni untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Kontrak kalian selesai."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Raka mengetuk layar, memutus sambungan panggilan sepihak.
Menteri ESDM langsung menegakkan punggungnya. "Bapak Presiden, jika mereka benar-benar menarik seluruh alat berat dan sistem mereka, operasional di Papua akan kosong. Apakah kita akan mengerahkan sistem robotika otomatis dari Pulau Garuda?"
Raka Gibran menggelengkan kepala. "Tidak. Papua bukan Pulau Garuda yang berisi tahanan. Papua adalah tanah saudara kita. Saya tidak akan menggantikan pekerjaan di sana dengan robot."
Raka berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke halaman Istana Negara. "Kita punya ribuan insinyur pertambangan lulusan ITB, UGM, Universitas Cenderawasih, dan kampus-kampus hebat lainnya. Selama puluhan tahun, anak-anak bangsa yang jenius itu hanya dijadikan staf sekunder atau penonton di tanah mereka sendiri sementara posisi strategis dipegang tenaga asing. Ini saatnya keahlian mereka dihargai."
"Tapi bagaimana dengan alat berat dan sistem drainase bawah tanah yang mereka matikan, Pak?" tanya Menteri ESDM lagi.
"Kita punya APBN yang sangat sehat. Ditambah keuntungan triliunan rupiah dari penjualan premium Pupuk dan Gas Garuda minggu ini, uang kita lebih dari cukup. Beli alat-alat berat tambang terbaik yang ada di pasar dunia secara mandiri atas nama Pemerintah Indonesia,"
perintah Raka tegas.
"Lalu panggil pulang semua ahli geologi, insinyur tambang, dan operator alat berat anak bangsa yang saat ini bekerja di luar negeri. Beri mereka gaji standar internasional dari kas negara. Kita buat Grasberg Task Force."
Raka berbalik, melirik ke arah konsol audio di mejanya. "Erika, persiapkan infrastruktur datamu."
"Sistem siap, Bapak Presiden," suara Erika menggema lembut. "Meskipun kita menggunakan tenaga manusia, komutasi kuantum saya akan bertindak sebagai sistem pemandu keselamatan. Saya telah memetakan seluruh cetak biru geologis Grasberg. Saya akan menyuplai data radar real-time ke helm para insinyur kita di lapangan untuk mendeteksi pergeseran tanah, kebocoran gas beracun, dan mengoptimalkan rute pengeboran secara akurat."
Saat Amerika mengancam akan menarik seluruh alat berat raksasa mereka dari Grasberg, Raka Gibran tidak gentar. Dia langsung menelepon Direktur Utama PT Pindad dan konsorsium industri berat nasional.
"Saya beri waktu dua minggu," ujar Raka Gibran tegas. "Gunakan seluruh dana APBN yang saya kucurkan. Ambil cetak biru raksasa yang sudah disempurnakan oleh Erika, lalu produksi massal varian terbaru: Pindad Excava Titan 800, excavator raksasa kelas delapan ratus ton yang belum pernah bisa dibuat oleh bangsa ini sebelumnya."
Dengan dana yang melimpah dan instruksi super-akurat dari AI Erika, pabrik-pabrik baja di Cilegon dan Bandung bekerja siang malam.
Di pabrik perakitan berat PT Pindad, Bandung, sirine berbunyi nyaring menandakan selesainya proyek ambisius berkode 'Grasberg Titan'.
Menggunakan kucuran dana segar tak terbatas dari kas negara hasil penjualan komoditas Garuda, para insinyur terbaik Indonesia berhasil membuktikan kata-kata Presiden mereka. Di hadapan mereka, berdiri belasan Dump Truck raksasa berkapasitas ratusan ton dan Excavator Monster dengan logo merah-putih yang gagah membara di bodinya.
Baja-baja terbaik dari Cilegon dibentuk dengan presisi atom berkat panduan cetak biru dari Erika. Alat berat ini tidak hanya siap menggantikan semua teknologi Amerika yang ditarik dari Papua, tetapi juga jauh lebih tangguh, lebih hemat energi, dan murni lahir dari keringat anak bangsa sendiri.
Ketika kapal-kapal kargo raksasa milik Angkatan Laut mulai mengangkut monster baja lokal ini menuju pelabuhan Timika, Raka Gibran telah mengirimkan pesan visual yang jelas kepada dunia: Indonesia tidak lagi membutuhkan belas kasihan teknologi asing untuk mengeruk kekayaan tanahnya sendiri.
Dua minggu setelah hari itu, dunia internasional dibuat terperangah. Amerika Serikat mengira Papua akan lumpuh berantakan setelah mereka angkat kaki. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Ratusan anak bangsa berpakaian sipil dan helm proyek merah-putih mendarat di Timika. Mereka adalah para putra-putri terbaik Indonesia yang memiliki keahlian tingkat tinggi di bidang pertambangan.
Di bawah komando langsung Presiden Raka Gibran dan dipandu oleh sistem keselamatan gaib dari AI Erika, para insinyur lokal ini berhasil menguasai dan mengoperasikan kembali tambang bawah tanah terdalam di dunia itu dalam waktu singkat menggunakan alat-alat baru yang dibeli negara.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak tahun 1967, kepulauan emas di ujung timur Nusantara itu beroperasi penuh tanpa ada satu pun campur tangan atau bagi hasil dengan pihak asing. Kedaulatan mutlak ekonomi Indonesia telah direbut kembali, bukan oleh mesin dan robot, melainkan oleh keringat, kecerdasan, dan keahlian anak bangsa sendiri.
Satu tahun sejak kepergian pihak asing, Timika telah berubah total. Tidak ada lagi pemandangan ketimpangan sosial di mana putra daerah hanya menjadi penonton. Berkat 'Grasberg Task Force' yang dibentuk Raka Gibran, ribuan pemuda Papua yang telah dilatih bersama insinyur-insinyur terbaik lulusan ITB dan UGM kini memegang kendali penuh di ruang kontrol utama pertambangan.
Dengan panduan visual terintegrasi dari AI Erika di helm mereka, efisiensi penambangan naik hingga dua ratus persen. Hasil penjualan emas murni seratus persen itu langsung dikembalikan Raka Gibran ke tanah Papua. Jalan-jalan trans-Papua kini mulus, kereta cepat membelah pegunungan, dan sekolah-sekolah teknologi berdiri megah. Papua tidak lagi dikenal sebagai wilayah tertinggal, melainkan jantung ekonomi baru Nusantara yang paling berkilau.
Di sebuah lapangan terbuka di daerah Pegunungan Tengah, pemandangannya sungguh luar biasa. Puluhan mantan simpatis dan anggota separatis berjalan keluar dari lebatnya hutan, meletakkan senjata rakitan mereka di tanah, dan berpelukan dengan para prajurit TNI.
Bukan karena mereka kalah perang, melainkan karena mereka kalah oleh kesejahteraan. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana anak-anak mereka kini bisa bersekolah di gedung modern, kerabat mereka bekerja sebagai insinyur di Grasberg dengan gaji puluhan juta, dan kereta cepat buatan dalam negeri melintasi lembah-lembah Papua.
Akar dari pemberontakan itu telah dicabut oleh kebijakan berani Raka Gibran. Bendera Bintang Kejora yang dulu menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, kini kehilangan maknanya di hadapan kemakmuran nyata yang dibawa oleh Sang Garuda.
Suasana di dermaga khusus pelabuhan Timika pagi itu diselimuti keheningan yang magis. Gelombang air laut tenang, seolah ikut menyaksikan sebuah momen bersejarah yang akan tercatat dalam garis waktu Nusantara.
Satu per satu, pria-pria berwajah tegas dengan rambut ikal dan kulit legam berjalan beriringan. Pergelangan tangan mereka terikat borgol besi, namun tidak ada lagi gurat kemarahan, kebencian, atau tatapan liar yang biasa mereka tunjukkan saat berada di dalam hutan belantara. Mereka adalah para mantan pimpinan dan anggota inti kelompok separatis Papua yang memutuskan untuk turun gunung secara massal.
Di depan kapal pengangkut tahanan berlogo siluet Garuda Emas, beberapa perwira tinggi TNI dan petugas sipil penjaranya telah bersiap.
"Kalian tahu ke mana kapal ini akan membawa kalian?" tanya seorang komandan TNI, menatap lurus pada pria paruh baya di barisan paling depan yang dulunya merupakan salah satu panglima tinggi pergerakan bersenjata.
Pria itu mengangguk perlahan. Sebuah senyuman getir namun tulus terukir di wajahnya. "Kami tahu, Komandan. Pulau Penjara Garuda. Tempat di mana tidak ada satu pun tahanan yang bisa lolos."
Dia menjeda kalimatnya, berbalik menatap ke arah daratan Papua. Di kejauhan, siluet jalur kereta cepat yang membelah pegunungan tampak megah. Gedung-gedung sekolah teknologi dan rumah sakit modern yang baru dibangun oleh pemerintahan Raka Gibran berdiri kokoh di bawah sinar matahari pagi. Anak-anak kecil Papua berjalan riang dengan seragam sekolah yang bersih, tanpa ada lagi ketakutan akan desingan peluru.
"Kami menerima hukuman ini dengan sukarela," lanjut mantan panglima itu, suaranya bergetar menahan emosi. "Tangan-tangan kami ini... di masa lalu telah banyak berlumuran darah. Kami pernah menembak mati prajurit-prajuritmu, Komandan. Kami juga yang membuat warga sipil kami sendiri ketakutan dan hidup menderita di dalam ketidakpastian. Dosa-dosa itu harus kami tebus di hadapan hukum."
Pria itu kembali menatap sang komandan TNI dengan mata yang berkaca-kaca. "Bagi kami, masuk ke Pulau Garuda bukanlah sebuah kekalahan. Selama tanah air kami, Papua, sudah makmur, sejahtera, dan anak-cucu kami bisa hidup layak sebagai bagian dari bangsa ini... kami ikhlas menghabiskan sisa hidup kami di balik jeruji besi. Jaga tanah kami baik-baik, Komandan."
Komandan TNI itu tertegun. Dia menegakkan badannya, lalu memberikan sebuah penghormatan militer yang khidmat kepada para tahanan tersebut—bukan untuk menghormati kejahatan masa lalu mereka, melainkan untuk menghormati jiwa besar mereka yang akhirnya memilih kedamaian dan kedaulatan utuh bagi Indonesia.
Satu per satu, para mantan anggota separatis itu melangkah naik ke atas kapal dengan dada lapang. Mereka pasrah dipenjara, karena mereka tahu perjuangan keliru mereka di masa lalu telah digantikan oleh keadilan nyata yang dihadirkan oleh Presiden Raka Gibran.
Beberapa hari kemudian, kapal tersebut merapat di dermaga hitam Pulau Penjara Garuda. Ketika gerbang besi raksasa itu terbuka dan sistem AI Kuantum Erika mulai mencatat data biologis mereka, para tahanan baru dari Papua itu tersenyum tenang.
Mereka melangkah masuk ke dalam perut bumi penjara terjahat di dunia, membawa satu keyakinan mutlak: di luar sana, di bawah langit Nusantara, tanah kelahiran mereka telah bersinar sebagai emas yang sesungguhnya.
Suara dengung halus dari mesin penggerak magnetik memecah keheningan di ketinggian lima ribu kaki. Sebuah kendaraan taktis berbentuk mobil terbang mirip drone raksasa dengan eksterior kaca antipeluru yang elegan sedang melaju mulus membelah gumpalan awan putih di atas langit Papua.
Di dalam kabin kemudi yang canggih, Presiden Raka Gibran duduk dengan tenang, ditemani oleh Menteri ESDM. Dari balik dinding kaca transparan kendaraan tersebut, pemandangan di bawah mereka sungguh menakjubkan.
Lembah-lembah hijau Papua yang dulunya terisolasi kini terhubung oleh jalur rel hias yang dilewati kereta cepat buatan dalam negeri. Di kawasan pesisir dan sekitar Timika, tata kota baru yang bertenaga energi bersih tampak rapi dan modern.
Tidak ada lagi asap polusi hitam, tidak ada lagi ketimpangan sosial yang mencolok. Bumi Cenderawasih telah sepenuhnya bersinar.
Menteri ESDM menatap hamparan kemakmuran di bawahnya dengan mata berbinar, lalu menoleh ke arah Raka Gibran yang sedang memperhatikan peta digital dari Erika. Sebuah pemahaman besar mendadak melintas di pikiran sang Menteri.
"Bapak Presiden," buka Menteri ESDM, suaranya terdengar penuh rasa kagum yang mendalam. "Melihat semua ini... sekarang saya akhirnya mengerti sepenuhnya."
Raka Gibran mengalihkan pandangannya dari layar hologram, lalu tersenyum tipis. "Mengerti tentang apa?"
"Tentang alasan mengapa sejak awal Bapak tidak pernah memerintahkan Unit Garuda untuk turun langsung merebut PT Freeport secara paksa, atau mengerahkan militer skala besar untuk membasmi OPM di hutan-hutan," jawab Menteri ESDM sembari mengangguk-angguk.
Sang Menteri melanjutkan argumennya, "Jika saat itu kita menggunakan kekerasan atau merebut Freeport sebelum waktunya, Indonesia pasti akan langsung dicap sebagai pelanggar hukum kontrak internasional. Amerika dan sekutunya punya alasan kuat untuk menjatuhkan sanksi ekonomi yang bisa melumpuhkan negara kita. Yang lebih buruk lagi, pertumpahan darah di tanah ini hanya akan membuat warga lokal Papua marah. Ego kelompok akan bangkit, dan kita justru akan menciptakan konflik horizontal yang tidak akan pernah selesai selama beberapa generasi."
Menteri ESDM menghela napas lega, memandang ke arah pegunungan Grasberg yang kini dikelola penuh oleh anak bangsa. "Ternyata Bapak memilih jalur yang jauh lebih jenius. Kita menunggu dengan sabar hingga kontrak itu habis secara legal. Di saat yang sama, Bapak membangun tanah ini, mengembalikan hak mereka, dan memanusiakan warganya."
"Dan hasilnya?" tanya Raka memancing, menguji sang menteri.
"Hasilnya luar biasa, Pak. Tanpa perlu kita memburu mereka dengan senapan, sisa-sisa anggota OPM di sana justru dengan sukarela turun gunung dan menyerahkan diri. Mereka patah hati bukan karena kalah peluru, tapi karena melihat Papua sudah sejahtera dan makmur di bawah bendera Merah Putih. Akar masalahnya selesai," pungkas Menteri ESDM dengan senyuman lebar.
Raka Gibran menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kendaraan terbang itu, menatap langit biru Papua yang bersih.
"Unit Garuda dan kekuatan Pulau Garuda diciptakan untuk membasmi para parasit, makelar, dan pengkhianat negara yang tidak punya hati nurani," ucap Raka Gibran dengan nada tenang namun sarat makna. "Tetapi terhadap rakyat kita sendiri, bahkan mereka yang sempat tersesat karena propaganda asing, senjatanya bukanlah peluru, melainkan keadilan sosial. Begitu mereka melihat pemerintahnya jujur dan tanah lahirnya dimakmurkan, mereka akan tahu dengan sendirinya ke mana jalan untuk pulang."
Mobil terbang itu terus melaju, membelah langit emas Papua, membawa sang Pemimpin yang telah berhasil menyatukan Nusantara bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kemakmuran yang nyata.
Suasana di salah satu kedai kopi modern di kawasan Jakarta Selatan sore itu tampak ramai seperti biasanya.
Suara mesin espreso berpadu dengan riuh obrolan para pekerja kantoran dan mahasiswa yang sedang menikmati waktu santai. Namun, perhatian hampir seluruh pengunjung kedai mendadak teralihkan ke arah layar televisi besar yang terpasang di dinding utama.
Stasiun berita nasional sedang menayangkan siaran langsung dari Timika dan Jayapura, Papua.
Kamera jurnalis menampilkan visual lanskap udara yang luar biasa megah. Jalur kereta cepat yang mulus membelah pegunungan batu, gedung-gedung pusat riset teknologi pertambangan yang berarsitektur futuristik dengan panel surya raksasa, hingga pemandangan pelabuhan modern yang dipenuhi kapal kargo domestik.
Di sudut layar yang lain, terlihat wawancara dengan para pemuda asli Papua yang mengenakan seragam insinyur rapi, berbicara dengan penuh percaya diri tentang efisiensi produksi emas yang naik dua kali lipat menggunakan alat berat lokal.
Di salah satu meja pojok, seorang pemuda Jakarta berkemeja kasual yang sedang memegang ponselnya sampai menurunkan tangannya. Matanya melotot menatap layar televisi tanpa berkedip.
"Anjay..." ucap pemuda itu spontan dengan mulut agak menganga. "Papua sekarang udah kek negara Wakanda, Cuk! Kaya banget, mirip di film Marvel Black Panther!"
Teman di sebelahnya yang sedang menyeruput kopi ikut menoleh ke layar, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan rasa takjub yang sama. "Asli, Bro. Dulu kalau denger kata Papua, orang-orang mikirnya daerah tertinggal atau konflik hutan. Sekarang liat tuh, tata kotanya bahkan lebih rapi dan canggih daripada Jakarta. Kereta cepatnya aja meliuk-liuk di atas gunung kayak gitu."
"Ya iyalah, emasnya sekarang seratus persen dikelola sendiri sama negara, enggak dimaling asing lagi," sahut pemuda pertama lagi, matanya berbinar bangga. "Gila sih Pak Presiden Raka. Selama ini kita ngiranya Papua bakal lumpuh waktu Amerika cabut alat beratnya, taunya malah dibikin jadi wilayah paling futuristik se-Asia Tenggara. Kalau jalurnya bersih tanpa koruptor mah emang aset negara bisa bikin rakyatnya sekaya ini."
Obrolan serupa ternyata terjadi di hampir setiap sudut kedai kopi itu. Di era sekarang, rasa bangga menjadi warga Indonesia berada di titik tertinggi. Berita dari tanah Papua hari itu tidak hanya menyajikan angka-angka statistik kesuksesan ekonomi, melainkan sebuah pembuktian harga diri bangsa bahwa saat kekayaan alam dikelola oleh kejujuran dan keahlian anak bangsa sendiri, kemakmuran yang setara bukanlah sebuah kemustahilan.
"Tapi lu sadar gak sih," sahut salah satu anak muda di meja itu sambil menaruh cangkir kopinya. "Pantesan aja Presiden Raka tuh jarang banget keliatan kunjungan kerja ke luar negeri atau hadir fisik di KTT internasional."
"Lah, emang kenapa?" tanya temannya penasaran.
"Ya iyalah, orang dia sibuk banget ngurusin urusan dalam negeri! Dari kemarin kerjaannya beresin makelar gas, bikin pabrik pupuk raksasa, nyiapin tim ahli buat Papua, sampai mantau perakitan alat berat Pindad. Waktunya mana sempat buat hura-hura terbang ke luar negeri."
Pemuda itu terkekeh pelan. "Makanya kemarin waktu ada rapat darurat sama pemimpin dunia, Pak Raka cuma mau lewat video call hologram. Negara lain yang butuh kita, jadi mereka yang harus nyesuaiin sama jadwal sibuknya Presiden Indonesia. Berwibawa banget, gak perlu capek-capek tatap muka kalau lewat layar aja bisa bikin asing ketar-ketir!”
Mau tau Bab 1 sampai Bab ini?
Klik "Aku Bukan Keadilan"