Dia samudra—luas dan menenangkan saat pertama kali aku mengenalnya. Tempat di mana aku bisa menitipkan segala lelah, dan cerita yang tak sempat kubagi ke dunia. Kedalamannya begitu tulus, merengkuh segala kurangku, dengan airnya yang hangat, seolah tak peduli seberapa riuh badai yang kubawa dari daratan. Dia selalu punya cara untuk melarutkan gemuruh di kepalaku, menjadikannya tenang, hanya dalam satu pelukan pasang. Seluas itu dia menerimaku, dan senyaman itu dia menyayangiku.
Memang, samudra tak selalu tenang. Ada hari-hari di mana ia berubah menjadi gelombang yang menghantam tanpa aba-aba, lewat kata-kata sederhana yang entah kenapa bisa menggores terlalu dalam. Namun, aku memilih tidak lagi membiarkan diriku tenggelam dalam lukanya. Kini, kami sama-sama belajar. Samudra itu belajar meredam gemuruh ombaknya agar tidak melukaiku, dan aku belajar memahami kapan pasang surut emosinya datang, karena aku tahu di dasar sana, arusnya selalu penuh dengan kasih sayang. Karena pada akhirnya, di balik setiap ombak yang melelahkan, samudra tetap menjadi satu-satunya tempat di mana aku bisa menemukan ketenangan sejati. Mencintai samudra bukan lagi tentang bertahan di tengah badai, melainkan tentang keberanian untuk bertumbuh, dan melihat matahari terbit bersama di ujung cakrawala.
Samudra, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku menyukaimu dengan segala isi yang ada di dalam hatimu. Apa pun itu, tanpa terkecuali. Jika ternyata suatu saat nanti semesta memutuskan bahwa kita tidak bisa bersama—jika hari itu datang dan membuat kita saling lupa, atau bahkan saling membenci—aku tidak akan menyesal. Karena lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengabadikan satu hal: bahwa perasaan ini pernah ada, dan aku pernah mencintai samudra yang begitu indah.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang suatu hari nanti bisa membuat kita menjauh. Apakah kita akan berpisah dan saling melupakan karena ego kita yang meninggi, ataukah hanya karena masa kita memang sudah habis di tangan waktu? Jika hari itu benar-benar datang, aku hanya bisa melangitkan doa, semoga.. samudraku ini kelak menemukan pelabuhan yang lebih baik. Dan jika suatu saat nanti kamu telah menemukan bahagia yang baru, aku harap kamu bisa melupakan semua tentangku, membiarkan kenangan kita larut dan hilang ditelan ombaknya. Biarlah cerita kita tenggelam dengan damai, selama aku tahu, kamu sudah bahagia.
Namun, sebelum hari perpisahan itu benar-benar terjadi, hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengucap banyak terima kasih kepadamu. Terima kasih karena kamu pernah menjadi tempat nyamanku tanpa syarat, menjadi ketenanganku di kala riuh, dan menjadi rumah tempatku pulang. Terima kasih karena pernah menyayangiku setulus itu, dan selalu ada untukku di saat dunia terasa asing.
Samudra, jujur.. aku sering kali bingung bagaimana cara menunjukkan kasih sayangku kepadamu. Dan terkadang, aku pun tidak tahu bagaimana caramu menyayangiku. Kita punya bahasa yang berbeda, tetapi aku selalu percaya, caramu menyayangiku adalah cara yang baik.
Samudra, aku juga ingin kamu tahu bahwa di mataku, kamu itu kuat dan hebat. Kamu sudah bisa bertahan sejauh ini, bahkan di saat kamu memilih untuk memendam masalahmu sendirian. Aku tahu samudra tidak akan selalu kuat. Kalaupun di luar sana kamu tampak begitu tegar, aku tahu mungkin kamu hanya sedang memasang topeng untuk terlihat baik-baik saja. Jujur, aku tidak selalu tahu masalah apa saja yang telah kamu lewati tahun lalu, bulan lalu, atau bahkan hari kemarin. Aku tidak bisa selalu ada di setiap kesulitanmu, tetapi aku hanya bisa terus melangitkan doa, semoga kamu selalu mampu melaluinya. Maka dari itu, di hadapanku, aku ingin kamu tidak perlu lagi berpura-pura baik-baik saja. Kamu tidak perlu selalu menjadi samudra yang kuat menahan segalanya. Jika ombakmu sedang lelah, atau arusnya sedang kacau, tumpahkan saja. Ada aku di sini, Samudra. Ada aku yang siap mendengarkan dan menemanimu.
Mungkin, saat kamu membaca tulisan ini, kamu tidak akan pernah bisa benar-benar tahu seberapa dalam aku pernah mencintai samudra itu. Kamu tidak akan pernah tahu bahwa di balik tenangnya airmu, ada aku yang pernah merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena sempat memilikimu.