Tulang rusuk itu patah. Terdengar bunyi gemeretak renyah.
Hujan menghantam atap seng gudang berulang kali. Bising. Bau karat menggenang di udara. Pekat, lengket, menempel di dinding kerongkongan.
Berdiri tegak Moha di tengah ruangan. Di bawah kakinya, potongan daging berhamburan tidak berbentuk.
Cairan kental menetes lambat dari ujung pisau di tangannya.
'Ini memabukkan,' batinnya.
Ia memutar kembali bunyi retakan tadi di dalam kepala. Mengingat sensasi bilah baja membelah daging mentah. Mendengar jeritan orang-orang itu mengecil, lalu hilang sama sekali.
Otaknya pasti cacat. Ia tahu itu.
Tetapi lengannya menolak turun.
Di sudut ruangan berdebu itu, beberapa anak kecil meringkuk. Tubuh mereka saling berdempetan. Pandangan mereka kosong menatap sepatu bot Moha yang basah oleh genangan merah. Tubuh pria-pria dewasa bergelimpangan di sekitarnya. Usus keluar dari perut.
Semuanya hancur.
Di tengah ruangan bau amis itu, mata Moha terkunci pada satu titik.
Sebongkah tubuh kecil tergeletak di atas terpal.
Piyama kelinci berwarna biru.
Tubuh itu dipenuhi sayatan. Dadanya tidak lagi bergerak meraup udara.
Itu anaknya.
Moha mematung. Cahaya lampu merah dan biru dari luar jendela menembus masuk. Pisau itu masih ia genggam kencang. Anak-anak yang selamat mulai menjerit menunjuk ke arahnya.
Malam itu terekam lensa kamera. Media televisi memburu tajuk paling laku.
"Pria yang Memutilasi Pembunuh Anak-Anak."
Orang-orang memanggilnya monster. Publik meyakini cerita itu.
Tidur bertahun-tahun di atas ranjang beton mengikis ingatannya. Berita televisi diulang setiap hari, menanamkan satu narasi ke dalam kepalanya.
'Aku psikopat,' gumam Moha setiap kali menatap langit-langit sel.
Lambat laun, ia menelan kalimat itu utuh-utuh. Ia memercayai dirinya menikmati malam tersebut. Ia bahkan mulai meyakini, pisau di tangannyalah yang membelah putrinya sendiri.
Kenapa?
Karena hal paling menakutkan dari malam hujan itu bukanlah amarah yang meledak.
Tetapi rasa lega.
Rasa lega itu menjalar di dadanya setiap kali satu nyawa terputus di lantai gudang. Di dasar kepalanya, sebagian kecil dirinya masih merindukan sensasi tersebut.
Bebas bersyarat menarik fisiknya ke luar penjara. Namun kepalanya tertinggal di gudang seng.
Kini, Moha berdiri di depan oven pemanggang panas. Sebuah toko roti kecil bernama Fermento beroperasi di sudut sepi kota.
Rutinitasnya berjalan kaku tanpa sela. Mengaduk adonan gandum. Menggosok keramik kotor. Tidur sebentar, lalu terbangun dengan dada bergemuruh.
Tirai besi toko langsung ia tarik ke bawah setiap langit menggelap. Menjauh dari kerumunan jalanan. Ia menarik jarinya mundur saat tanpa sengaja menyentuh kulit pelanggan di meja kasir.
Dorongan itu tidak pernah mati.
Membenturkan kepala pelanggan berisik ke etalase kaca. Mengiris jari kasir minimarket di seberang jalan. Mencari titik nadi leher orang-orang yang melintas di depan tokonya.
Pikiran itu muncul tanpa permisi.
Dan sebagian dari otaknya menantikan hal itu terjadi.
Hujan turun deras sore itu.
Moha baru memutar anak kunci Fermento. Tiba-tiba seorang siswi berseragam SMA menerobos pintu depan.
Viona.
Tubuh kurus itu menggigil kencang. Seragam putihnya berubah basah berlumur lumpur jalan. Sepatu kanannya jebol. Terdapat bekas lebam berwarna ungu gelap di balik lengan bajunya.
Berjalan Moha ke belakang meja. Ia menyodorkan satu handuk kering. Meletakkan gelas teh panas dan sepotong roti sisa kemarin di dekat mesin kasir.
Perut Moha terasa mulas.
Bukan karena iba.
Adegan acak berputar cepat di matanya. Menarik rambut siswi ini. Memukul pelipisnya ke sudut mesin kasir. Menusukkan pisau roti ke lehernya.
Gambaran itu tercetak sangat jelas. Napas Moha berubah berat.
Tangannya mencengkeram sudut meja. Urat-urat menonjol di balik kulit lengannya.
Viona memegang gelas teh panas. Ia meminumnya perlahan. Tidak tahu pria besar di depannya sedang mati-matian menahan insting.
Sejak hari hujan itu, Viona rutin datang.
Setiap dua hari sekali, ia meletakkan koin receh untuk membeli roti sisa. Terkadang anak itu tertidur di kursi rotan sudut ruangan. Kepalanya menempel di kaca jendela.
Makin sering Moha melihat punggung Viona, makin kacau susunan saraf di kepalanya.
Isi mimpi buruknya berganti peran. Tangan Viona terpotong di atas nampan pemanggang. Piyama kelinci biru berubah wujud menjadi seragam SMA putih yang robek.
'Aku cuma menunggu waktu,' pikirnya getir. Tangannya menggosok sabun di wastafel berulang kali hingga kulitnya memerah.
Anehnya, tangan itu tetap mengambil satu roti cokelat baru dari oven. Ia meletakkannya di atas piring kecil. Ia berdiri di balik etalase, memastikan Viona berjalan lurus ke luar gang kota. Menghitung jumlah lebam baru di lengan anak itu diam-diam.
Ia membenci rutinitas ini. Tiap kali tubuhnya bergerak ingin melindungi, dorongan untuk membunuh ancaman itu selalu menempel tepat di belakangnya.
Lonceng pintu berbunyi.
Masuklah Dira.
Mantan istrinya. Manusia dari kehidupan lamanya yang sudah terbakar.
Perempuan itu melangkah lurus ke depan. Tidak ada tarikan otot ngeri di wajahnya. Tidak ada gestur melangkah mundur. Ia menatap wajah Moha tanpa jeda.
Kewarasan Moha tersentak seketika.
Orang-orang menghindarinya. Dunia meludahinya. Kenapa wanita ini diam saja?
Moha memukul etalase. Kaca tebal itu bergetar kencang. Ia menerjang maju ke depan. Menarik kerah baju Dira sampai jahitan kancingnya putus. Pisau pemotong roti sudah ia pindahkan ke tangan kanan. Ia menarik paksa sudut bibirnya.
'Tusuk. Buktikan kau memang rusak.'
Ujung baja runcing itu berhenti dua sentimeter dari dada Dira. Moha benar-benar memfokuskan ototnya untuk menekan gagang pisau.
Logam itu berhenti bergerak.
Tangan kanan Moha gemetar parah. Dadanya naik turun mencari suplai oksigen. Dira tidak memalingkan pandangan matanya sedikit pun. Ia tidak memberontak.
Moha hancur di detik itu.
Sebuah kesadaran menghantam tengkoraknya. Kalau ia sungguh monster cacat tanpa rasa peduli ... pisau ini sudah merobek daging di depannya.
Pegangan Moha melonggar. Ia melangkah mundur secara acak, menabrak rak roti besi di belakangnya. Tangan kirinya terangkat, menunjuk ke arah pintu jalan.
"Keluar." Suara Moha pecah terpotong-potong.
Hari kedelapan. Viona tidak datang.
Memaksa diri Moha memutar adonan gandum. Berusaha menekan firasat ganjil di perutnya sejak pagi.
Pintu depan Fermento digedor paksa.
Remaja laki-laki berdiri memegang kusen kayu. Napasnya terengah-engah kehabisan udara. Wajahnya kehabisan darah.
"V-Viona ... ditarik gerombolan anak mabuk ... ke proyek kosong blok ujung ...."
Moha melempar celemeknya ke lantai keramik.
Hujan langsung menampar wajahnya saat kakinya berlari membelah jalanan. Ia menendang genangan air. Bau semen basah dan aroma alkohol murahan tercium dari luar beton mangkrak itu.
Lalu ia melihat Viona.
Tubuhnya tergeletak di atas lantai kasar. Seragamnya berantakan. Memar biru dan bercak merah darah menutupi lengannya. Tiga remaja laki-laki berdiri di dekatnya. Mereka tertawa dengan volume suara tinggi. Penderitaan di bawah kaki mereka dianggap sebagai mainan.
Satu remaja memegang rambut Viona. Menggerakkan tangan secara asal.
Tidak ada ketakutan di sana. Hanya nafsu dan rasa angkuh.
Udara membeku.
Proyek beton mangkrak itu berubah wujud menjadi gudang seng. Viona berubah menjadi potongan tubuh kecil dengan piyama kelinci biru.
Sesuatu di dalam kepala Moha putus.
Ia menerjang maju.
Tidak ada peringatan suara. Tidak ada teriakan.
Tangan Moha menarik kepala remaja paling dekat. Ia membenturkannya ke tiang penyangga beton. Terdengar bunyi tulang leher bergeser. Pecahan botol bir beralih ke telapak tangan Moha. Darah muncrat ke udara.
Leher tersayat terbuka. Sendi lutut patah. Suara tawa berganti menjadi jeritan melengking yang berhenti satu per satu.
Tubuh remaja-remaja itu berjatuhan ke lantai semen. Moha terus mengayunkan tangan meski gerakan mereka sudah berhenti. Memutar sendi secara paksa. Menghancurkan bentuk tulang rusuk. Daging-daging itu dirusak hingga bentuknya tidak bisa lagi dikenali.
Bukan karena ia terdesak.
Tetapi karena ia mau.
Di tengah bau anyir yang menutupi penciuman, bahu Moha bergetar pelan.
Ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari tubuh-tubuh hancur di dekat kakinya.
Ia menikmati ini ....
Menikmati setiap tulang rawan yang patah. Menikmati nyawa-nyawa itu putus di depan matanya.
Rasa lega menjalar lambat di dadanya.
Moha berhenti menyangkal hari itu. Ia memang monster.
Polisi memasang borgol di tangannya. Ia diam saja.
Sidang berjalan layaknya membalik lembar koran pagi. Remaja-remaja yang hancur itu anak dari para penguasa kota. Orang tua mereka membeli meja hakim, menyuap barisan jaksa, dan mengendalikan kamera televisi.
Kondisi trauma Moha tidak dibacakan. Nasib Viona ditimbun rapat.
Publik hanya memakan satu cerita: Si Jagal Anak lapar kembali.
Vonis mati keluar dalam tiga minggu. Tidak ada pengacara mengajukan banding. Moha tidak mengeluarkan satu kata pun. Ia duduk di kursi kayu. Dunianya sudah kiamat sebelum hakim mengangkat palu.
Lampu kamera di sudut ruang besuk menyala merah.
Dua hari tersisa sebelum jadwal suntik.
Bau cairan antiseptik menusuk hidung. Kaca akrilik tebal membagi dua meja panjang. Dira duduk di kursi seberang. Wajahnya ditarik rasa lelah, tetapi matanya tidak bergerak gelisah.
Moha mengangkat gagang telepon. Rantai borgolnya berbunyi bergesekan. Jemarinya bergetar kecil.
"Dira ... benar kan?" Suaranya keluar melalui speaker kotak di sisi Dira. "Aku memang pembunuh. Pria yang memotong anaknya sendiri malam itu."
Hening menjeda obrolan. Jarum jam dinding berdetak beraturan.
Menunduk Dira menatap meja plastik. Ia meraup udara sebelum membuka mulut.
"Waktu anak kita meninggal di gudang itu ...." Suara Dira pelan, tetapi menekan. "... Aku sedang hamil."
Tubuh Moha membeku. Matanya perlahan tertarik membesar.
"Perempuan. Kuberi nama Lala. Dia masuk SMA sekarang." Dira menelan ludah. "Anak-anak yang selamat dari gudang seng itu buka suara, Moha. Semua memberikan kesaksian. Pria-pria mati itu sindikat panen organ. Anak kita meninggal karena perutnya dipotong paksa. Kau masuk ke sana, lalu membantai mereka semua sebelum giliran anak-anak yang lain tiba."
Dada Moha terasa ditarik ke dalam. Napasnya tersangkut di batang tenggorokan.
"Aku diam soal kehamilanku. Waktu itu otakmu benar-benar hilang. Kau menunduk di depan media. Kau teriak di depan kamera kalau kau itu monsternya. Aku takut padamu." Ujung bibir Dira bergetar tipis. "Sekarang aku tahu semuanya. Kau tidak gila, Moha. Otakmu tidak cacat. Kau cuma tidak diberi ruang untuk sembuh."
Dinding pertahanan yang ia bangun belasan tahun rubuh seketika.
Punggung lebar Moha merosot ke bawah sandaran kursi. Bahunya naik turun tidak terkendali.
Ia menundukkan kepala sangat dalam. Membiarkan air matanya jatuh menabrak meja besi.
Bukan jadwal suntik mati yang ia tangisi. Ia menangis karena anak perempuannya tumbuh bernapas tanpa pernah tahu wajah ayah kandungnya. Dan semua itu terjadi karena ia menyerah pada cerita karangan orang-orang.
Pintu ruang besuk berdecit terbuka.
Viona berjalan masuk.
Langkahnya diseret pincang. Tubuh kurusnya menegang. Jemarinya meremas kuat ujung seragam bagian bawah.
Ia berdiri merapat di sebelah Dira. Cukup lama ia menunduk menghindari kaca. Saat wajahnya terangkat, matanya sudah berwarna merah.
"Sebenarnya aku tidak ingin ke sini." Suara anak itu kecil dan bergetar. "Setiap kali aku ingat malam di beton itu, aku takut. Aku sering bangun tidur berteriak. Aku tidak berani jalan di luar."
Viona menarik napas dari hidung.
"Tapi aku datang juga." Genggaman tangannya menguat. "Aku mau bilang terima kasih."
Rentetan kata biasa itu terasa sangat berat.
"Aku menghafal kata-kata ini dari rumah." Viona menarik sudut bibirnya. Pecah. "Tapi sekarang aku lupa semuanya."
Air berkumpul di bawah kelopak matanya.
"Aku cuma tahu malam itu kamu selamatkan nyawaku. Aku tidak mau kamu pergi tanpa tahu soal itu."
Ditempelkan telapak tangan Viona ke permukaan kaca akrilik. Gerakannya kaku. Ragu.
Namun cukup.
Suara tangis Moha pecah ke udara.
Ia terisak bersuara keras seperti anak kecil di jalanan yang akhirnya menemukan arah pulang.
Dira membuka ritsleting tasnya. Ia menarik satu bungkusan plastik bening.
Di dalam sana terdapat satu bongkah roti cokelat.
Moha menurunkan tangannya yang basah oleh air mata. Matanya memandangi roti murah itu.
Lalu ia tersenyum.
Tarikan otot di wajahnya terasa kaku.
Ia nyaris lupa bentuk senyumannya sendiri.
Dua malam berganti. Jarum tajam menembus lapisan pembuluh darah Moha.
Media sibuk memberitakan kasus pejabat mencuri uang. Tidak ada keriuhan di depan gerbang.
Langit berwarna abu-abu mendung.
Berdiri Dira di area parkir luar penjara. Ia memeluk erat seorang remaja perempuan yang terus-menerus menangis, meskipun ia tidak pernah bertemu langsung dengan pria yang tidur di dalam tembok sana.
"Ayahmu bukan orang jahat, Lala," ucap Dira pelan di dekat telinga putrinya. "Dia cuma tersesat terlalu jauh."
Waktu menelan sisa-sisa debu jalanan.
Di sebuah ruang praktik berwarna pastel terang, Viona duduk menyandarkan punggungnya. Seorang pasien kecil baru saja pamit sambil memegang balon merah.
Viona mengusap mejanya. Kini ia seorang psikolog anak.
Terkadang, ketika sesi bicara terasa sangat menyesakkan, Viona tersenyum kecil membicarakan cerita lama. Mengulang cerita tentang seorang pemilik toko roti yang tangannya selalu gemetar saat menyentuh uang kembalian.
Tidak satu kali pun ia menyebutkan nama pria itu.
Di sudut ruangan, tepat di dalam lemari kaca tebal, diletakkan sebuah bingkai foto bertekstur kayu.
Merekam gambar pintu besi berdebu dengan tulisan Fermento.
Bersandar tenang di sebelah segelas teh retak yang tidak pernah diisi ulang.