"Lo tolol, ya? Mata lo buta apa? Lo ga liat, ada gue disini?" bentak Yasmin
Aku tersentak. Tanganku masih memegang minumanku. Kami tanpa sengaja bertabrakan, dan minumanku sedikit menumpahi sepatu Yasmin.
"Maaf, Min... aku nggak sengaja tadi. Tadi aku nggak merhatiin jalan," kataku lirih
Yasmin menatapku tajam, seolah kesalahanku adalah dosa besar
"LO LAP SEPATU GUE SEKARANG!"
"I-iya..."
Aku berjongkok tanpa berani menatap wajahnya. Tanganku gemetar saat mengelap sepatu putih itu. Muncul perasaan malu. Air mata sudah mengenang sejak tadi, tapi ku tahan sekuat mungkin
Aku mencoba menyembunyikan tangis ini. Setelah selesai mengelap, aku segera melangkah menuju kamar mandi. Begitu pintunya tertutup, tangis yg ku tahan sejak tadi pun runtuh.
"Kenapa sih aku yg dibully? Aku salah apa ke mereka? Rasanya pengen cepet cepet lulus... " gumamku pelan
Aku mengusap wajahku, lalu mencoba keluar dari kamar mandi. Namun, pintunya tidak bisa dibuka.
"Seingetku tadi ga dikunci deh... Kenapa ini nggak bisa di buka?"
Aku mencoba memutar gagangnya lagi.
"Ada orang di luar? Tolong... tolong bukain pintu kamar mandi ini!"
Tiba-tiba terdengar tawa dari luar.
"Hahaha... lo ga bisa buka pintunya."
Dadaku langsung terasa dingin.
"Bukain pintunya, Yasmin..."
"Hmm... gimana ya? Gue ga mau."
"Kok kamu gitu sih, min? Aku ada salah apa sama kamu?"
"Salah lo cuma satu," Jawab yasmin santai dari balik pintu.
"Muka lo yang sok polos bikin gue kesel. Jadinya gue keinget masalah yang ada di rumah. Gue juga bingung mau ngelampiasinnya ke siapa, mangkannya gue lampiasin semuanya ke lo." Jawab Yasmin dengan entengnya
"Kenapa harus ke aku? Kan bisa tuh ke yang lain."
"Karna lo caper di kelas."
"Caper gimana?"
"Lo sering tuh nanya nanya, sering jawab pertanyaan guru. Terus terakhir lo sok ambis."
"Ya wajar dong aku gitu. Kan aku mau masuk smp pilihan! Kamu enak, kalo nggak masuk tinggal lewat jalur mandiri. Lah aku?" nada bicaraku akhirnya naik satu oktaf
"Mangkannya ortu lo suruh tuh kerja lebih keras," katanya sambil ketawa
"Hahaha..."
Tawanya semakin keras dari sebelumnya
Jantungku berdetak sangat cepet. Napasku tersenggal-senggal. Keringat dingin menjulur ke seluruh tubuh, disusul rasa panas yang tiba-tiba datang.
Dadaku terasa sesak. Kepalaku berputar. Pandangan mulai kabur.
Dan perlahan... tubuhku terjatuh ke lantai kamar mandi.
Aku terbangun perlahan.
Ekor mataku melirik jam dinding di ruangan itu
Pukul 10.00 WIB.
"Loh... kok aku ada di sini?" gumamku bingung
"Eh, udah bangun aja."
Aku menoleh. Seorang siswi duduk di kursi dekat tempat tidur. Aku tidak mengenalnya, mungkin dia dari kelas lain
"Kok kamu disini?"
"Jadi tuh tadi aku mau ke toilet. Pas banget sama toilet yang kamu pakai. Waktu aku buka nggak bisa, kayak dikunci. Aku ketok berkali kali tapi ga ada yang nyaut. Terus aku panggil guru buat bukain. Habis itu ada kamu dah tergeletak di lantai," ucap temanku panjang lebar
"Oalah gitu... makasih ya udah bawa aku ke UKS."
"Iya sama sama. Kamu tadi kenapa tiba-tiba pingsan gitu di kamar mandi?"
"Tadi... penyakit masa kecil aku kambuh. Mangkannya pingsan," ucapku bohong
"Jaga kesehatan biar ga kambuh."
"iya... hehehe."
Hari-hari di sekolah terasa seperti neraka bagiku. Selalu ada saja alasan bagi Yasmin untuk menindasku.
Kadang hanya karena aku berjalan terlalu dekat dengannya di koridor. Kadang juga aku dianggap "sok pintar" saat menjawab pertanyaan yang guru lontarkan. Bahkan pernah, hanya karena aku duduk di kursi yang "katanya" miliknya
Setiap hari rasanya sama. Tatapan merendahkan. Bisikan-bisikan yang sengaja di buat cukup menyakitkan tuk kudengar. Tawa yang selalu terasa seperti mengejek keberadaanku.
Aku mencoba diam. Kupikir, kalau aku tidak melawan semuanya akan berhenti. Tapi ternyata, aku salah besar. Diamku justru membuatnya semakin berani.
Dan aku semakin terbiasa menahan tangis.
Menahan marah.
Menahan semuanya sendiri.
Suatu hari, suasana kelas terasa berbeda. Bisik -bisik terdengar dimana-mana. Aku yang penasaran mendekat akhirnya menangkap satu kabar yang membuat aku terdiam. Orang tua Yasmin mengalami kecelakaan.
Dunia seakan berhenti sejenak. Perasaanku... campur aduk.
Ada rasa sedih.
Bagaimanapun juga, mereka adalah orang tua seseorang. Tapi di sisi lain... ada perasaan yang membuatku merasa bersalah.
"Harapan"
Harapan bahwa mungkin setelah ini semuanya akan berhenti. Bahwa Yasmin tidak akan membullyku lagi. Aku bisa bernapas sedikit lebih lega di sekolah ini.
Namun ternyata....
Aku kembali salah. Hari berikutnya, Yasmin tetap datang ke sekolah. Wajahnya memang terlihat lebih dingin, datar dan lelah.
Tapi sikapnya padaku tidak berubah. Justru terasa lebih kejam. Lebih kasar.
Seolah semua yang ia rasakan dilampiaskan kepadaku.
Padahal...
Keluargaku sudah membantu mereka. Ibuku datang menjenguk. Ayahku ikut membantu biaya pengobatan semampunya. Aku tahu itu. Aku melihatnya sendiri.
Tapi semua itu tidak mengubah apapun. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada perubahan sikap. Yang ada justru...
"Lo kira dengan lo bantu-bantu keluarga gue. Gue bakal baik sama keluarga lo?" katanya dengan nada sinis.
"Turunin mimpi lo itu"
Saat itu aku hanya diam. Dadaku terasa sesak, tapi bukan karna takut. Melainkan karena...
Aku mulai mengerti sesuatu.
Bahwa kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan.
Dan bahwa tidak semua luka membuat seseorang menjadi lebih baik.
Beberapa orang justru memilih menyakiti orang lain untuk menutupi luka mereka sendiri.
Bionarasi :
Khaena adalah nama pena yang digunakan oleh penulis. Khaena, penulis pemula muda yang suka menulis fiksi dan membaca novel\au. Genre yang di sukai oleh khaena adalah romance. Aktif di komunitas KMO untuk meningkatkan skill menulis. Menulis untuk menyadarkan bahwa membully tidak baik, bisa buat korban trauma dan berdampak jangka panjang.