Gunung Sunda purba selalu menyembunyikan rahasianya di balik kabut putih yang tebal. Di lerengnya yang curam, angin berembus membawa aroma belerang yang menyengat, bercampur dengan wangi bunga kanigara yang mekar liar di sela-sela bebatuan hitam. Di sanalah, sebuah pondok bambu berdiri terasing dari dunia, menjadi saksi bisu dari sebuah kisah yang ditulis dengan tinta darah dan air mata.
Dayang Sumbi duduk di ambang jendela, jemarinya yang masih tampak sehalus sutra bergerak lincah menenun selembar kain putih. Di luar, malam beranjak larut, namun hatinya tidak pernah tenang. Sudah ratusan bulan berlalu sejak kutukan keabadian itu menetap di dalam darahnya. Wajahnya tidak pernah menua; matanya tetap jernih bak telaga gunung, dan kulitnya sewarna pucat rembulan. Sebuah kecantikan yang sesungguhnya adalah sebuah penjara.
"Mengapa kau terus menenun kain yang tak pernah kau selesaikan, Ibu?"
Sebuah suara berat memecah keheningan. Di ambang pintu, berdiri Sangkuriang. Pemuda itu bertubuh tegap, dengan pundak selebar pohon jati dan mata tajam sedalam jurang. Di punggungnya, tersampir busur panah dari kayu cendana dan seekor rusa jantan hasil buruannya hari ini. Ada aura liar yang gagah dalam setiap gerakannya, tipe pahlawan yang akan membuat jutaan insan menahan napas seketika.
Dayang Sumbi menghentikan ketukannya. Ia menatap pemuda itu—pria asing yang datang mengetuk pintunya beberapa purnama lalu dalam keadaan hilang ingatan setelah mengembara dari belahan dunia yang jauh. Dayang Sumbi tidak tahu siapa pemuda ini sesungguhnya, karena ingatan masa lalunya sendiri telah kabur dikikis waktu yang terlalu panjang. Ia hanya tahu, jantungnya berdegup aneh setiap kali pemuda ini menatapnya.
"Kain ini adalah benang takdir, ngaran," ucap Dayang Sumbi lirih, suaranya mengalir seperti air pegunungan yang dingin. "Jika ia selesai, maka selesailah pula waktu yang diizinkan bagi kita untuk bernapas di bumi ini."
Sangkuriang melangkah mendekat, menjatuhkan hasil buruannya tanpa peduli. Ia berlutut di depan Dayang Sumbi, menatap mata wanita itu dengan keberanian yang lancang namun penuh dengan ketulusan yang membakar.
"Kalau begitu, jangan pernah selesaikan kain itu," bisik Sangkuriang, jemarinya yang kasar perlahan menyentuh jemari Dayang Sumbi yang dingin. "Biarlah dunia runtuh, biarlah para dewa di kahyangan murka, aku hanya ingin tinggal di lereng gunung ini, menjagamu dari pekatnya malam. Aku mencintaimu, Sumbi. Bukan sebagai seorang musafir yang menumpang berteduh, tapi sebagai seorang pria yang menyerahkan seluruh jiwanya kepadamu."
Dayang Sumbi tertegun. Ada rasa bersalah yang amat sangat yang mendadak menusuk dadanya, namun rasa itu kalah telak oleh debaran hangat yang sudah berabad-abad mati di dalam dirinya. Di bawah naungan kabut Sunda purba, malam itu, mereka melanggar batas kemanusiaan dengan sebuah janji setia yang diucapkan di balik rimbunnya pohon kanigara.
---
Pernikahan itu direncanakan. Sangkuriang, dengan segala kegagahan dan kesaktian yang ia miliki dari hasil bertapa di puncak-puncak dunia, bersiap menggelar pesta yang paling megah. Namun, takdir bukanlah seorang pelayan yang bisa diperintah. Takdir adalah majikan yang kejam.
Sore itu, sebelum matahari tenggelam di balik cakrawala, Sangkuriang berbaring di pangkuan Dayang Sumbi setelah lelah berlatih meringankan tubuh. Rambut hitam pemuda itu legam dan panjang. Dayang Sumbi, dengan penuh kasih sayang, jemarinya menyisir rambut calon suaminya itu.
Saat itulah, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras di kulit kepala Sangkuriang. Sebuah bekas luka lama yang melintang panjang, tampak memutih di balik rambutnya.
DEG.
Dunia Dayang Sumbi seolah berhenti berputar. Langit sore yang jingga mendadak berubah sewarna darah di matanya. Pikirannya melesat kembali ke ribuan purnama yang lalu... ke hari di mana ia memukul kepala anak laki-laki kecilnya dengan gayung dari tempurung kelapa karena kemarahan yang membabi buta. Anak kecil yang kemudian berlari menangis ke dalam hutan dan tidak pernah kembali.
"Luka... luka ini dari mana, ngaran?" suara Dayang Sumbi bergetar hebat, napasnya tersangkut di tenggorokan.
Sangkuriang membuka matanya, tersenyum tanpa dosa. "Aku tidak ingat banyak tentang masa kecilku, Sumbi. Tapi ingatan samar yang tersisa... seorang wanita yang sangat kucintai memukulku hingga darah mengalir di mataku. Luka inilah yang membawaku mengembara mencari jati diri, hingga akhirnya menemukarmu di sini."
Air mata Dayang Sumbi jatuh tanpa bisa ditahan, menetes tepat di pipi Sangkuriang. Pemuda di pangkuannya ini... pria yang telah menyentuh hatinya, pria yang malam lalu mencium keningnya dengan penuh gairah... adalah darah dagingnya sendiri. Sangkuriang adalah anaknya yang hilang.
Kebenaran itu menghantamnya seperti palu dewa yang menghancurkan jagat raya. Ini adalah dosa besar. Sebuah noda yang tidak akan pernah diampuni oleh bumi dan langit.
"Ada apa, Sumbi? Kenapa kau menangis?" tanya Sangkuriang cemas, bangkit dan mencoba menghapus air mata di pipi wanita itu.
Dayang Sumbi menarik dirinya dengan kasar, wajahnya pucat pasi bagai mayat. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Jiwa Sangkuriang yang liar dan penuh kebanggaan pasti akan hancur atau berbalik menjadi iblis jika mengetahui bahwa wanita yang ia puja adalah ibunya sendiri. Dayang Sumbi harus menghentikan kegilaan ini dengan cara lain.
"Jika kau benar-benar ingin menikahiku, Sangkuriang..." Dayang Sumbi berdiri, memunggungi pemuda itu agar suaranya yang gemetar tidak memperlihatkan kehancuran jiwanya. "Kau harus memenuhi dua syarat dariku. Syarat yang harus selesai sebelum fajar pertama menyentuh belahan timur."
Sangkuriang berdiri tegap, dadanya membusung angkuh. "Sebutkan, Sumbi! Bahkan jika kau meminta bulan jatuh ke pangkuanmu, aku akan merebutnya dari langit!"
"Bendung aliran Sungai Citarum, buatkan sebuah telaga yang luas di lereng gunung ini. Dan di atas telaga itu, buatkan sebuah perahu besar agar kita bisa berlayar bersama menuju hari pernikahan. Semua harus selesai dalam satu malam!"
Sangkuriang tersenyum meremehkan. "Hanya itu? Tunggulah di pondokmu, Kekasihku. Esok pagi, kau akan terbangun di atas sebuah kerajaan air yang megah!"
---
Sangkuriang memanggil seluruh kekuatan gaib yang ia miliki. Ia bersiul ke arah hutan, dan seketika, ribuan guriang tumpah—makhluk-makhluk halus penghuni hutan purba—keluar dari balik pepohonan, tunduk pada perintah sang pemuda sakti.
Malam itu menjadi malam yang paling sibuk dalam sejarah Pulau Jawa. Gunung-gunung dipatahkan untuk membendung sungai. Pohon-pohon raksasa ditumbangkan dengan sekali tebas untuk dijadikan lambung kapal. Suara gemuruh hantaman kapak dan bebatuan bergema, membuat hewan-hewan hutan lari ketakutan.
Dayang Sumbi menyaksikan semua itu dari puncak bukit dengan hati yang kian menciut. Sangkuriang terlalu sakti. Tengah malam berlalu, dan telaga buatan itu sudah mulai terisi air. Lambung perahu raksasa sudah hampir tegak berdiri, berkilat keperakan tertimpa cahaya bulan.
"Dewa Agung... ampunilah hamba... gagalkanlah pernikahan terkutuk ini," ratap Dayang Sumbi, berlutut di atas tanah basah.
Ia harus bertindak. Dayang Sumbi berlari menuju lumbung padi. Ia mengambil selembar kain tenun putih raksasa yang belum selesai, lalu mengibaskannya ke arah timur dengan sisa-sisa kekuatan magis yang ia miliki dari titisan dewi. Pada saat yang sama, ia memerintahkan para wanita desa di kaki gunung untuk mulai menumbuk lesung padi beramai-ramai.
TOK! TOK! TOK! TOK!
Suara lesung bertalu-talu memecah malam. Kain putih yang dikibaskan Dayang Sumbi memantulkan cahaya bulan, menciptakan ilusi warna jingga fajar di ufuk timur. Ayam-ayam jantan di kandang seketika terbangun, mengira pagi telah tiba, lalu berkokok bersahut-sahutan dengan nyaring.
Mendengar kokok ayam dan melihat warna langit yang memerah, ribuan makhluk halus yang membantu Sangkuriang panik. Mereka mengira waktu mereka telah habis. Tanpa memedulikan teriakan Sangkuriang, guriang-guriang itu lari tunggang-langgang masuk kembali ke dalam perut bumi, meninggalkan pekerjaan mereka yang tinggal sedikit lagi selesai.
"Tunggu! Pagi belum tiba! Ini muslihat!" teriak Sangkuriang, suaranya menggelegar penuh amarah.
Namun semua sudah terlambat. Air telaga belum sepenuhnya penuh, dan perahu raksasa itu masih kekurangan pasak terakhir di bagian buritan. Sangkuriang berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya memburu, dadanya naik turun oleh kemarahan yang meluap-luap. Ia tahu, ia telah gagal. Dan kegagalan berarti ia kehilangan Sumbi—satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang gelap.
---
Dengan sisa kemarahan yang membakar kesadarannya, Sangkuriang berlari menuju bendungan. Ia menendang sumbatan Sungai Citarum hingga hancur lebur; air bah meluap ke arah barat menjadi Kalimalang. Kemudian, ia mendekati perahu raksasa yang belum selesai itu. Dengan kekuatan magisnya, ia menendang kapal kayu tersebut hingga terbang melayang melewati lembah dan jatuh tertelungkup di puncak gunung, menjelma menjadi sebuah gunung baru yang kelak dinamai Tangkuban Parahu.
Sangkuriang berjalan dengan langkah berat menuju pondok bambu, matanya merah menyala sekental darah. Ia menemukan Dayang Sumbi sedang berdiri di bawah pohon kanigara, menunggunya dengan wajah yang pasrah.
"Kau menipuku, Sumbi!" bentak Sangkuriang, mencengkeram kedua pundak wanita itu hingga Dayang Sumbi meringis kesakitan. "Kenapa? Kenapa kau menolak cintaku setelah semua yang kita lewati bersama?! Apakah aku kurang gagah? Apakah aku kurang sakti untukmu?!"
"Cukup, Sangkuriang! Cukup!" Dayang Sumbi berteriak, air matanya tumpah ruah, membasahi tangan Sangkuriang yang mencengkeramnya. "Aku tidak bisa menikahimu karena kau adalah anakku! Kau adalah darah dagingku yang kupukul ribuan purnama lalu!"
Sangkuriang tertegun. Cengkeramannya mengendur. Ia tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar dan gila di tengah sunyinya hutan.
"Anak? Hahaha! Tipuan macam apa lagi ini, Sumbi?! Kau ingin menolakku dengan mengarang cerita menjijikkan ini? Lihat wajahmu! Kau seumur denganku! Kulitmu, matamu... bagaimana mungkin kau adalah ibuku?!"
"Karena aku dikutuk untuk abadi, Sangkuriang!" Dayang Sumbi menjerit, merogoh sesuatu dari dalam sabuk kainnya. Sebuah tusuk konde perak kuno bermotif lambang kerajaan yang patah menjadi dua.
Sangkuriang menatap benda itu. Seketika, sebuah kilatan ingatan yang sangat tajam menghantam kepalanya. Ingatan tentang sebuah istana yang terbakar, seorang raja yang tewas, dan seorang ratu yang melarikan diri ke hutan sambil membawa anak kecil. Di tangan anak kecil itu, ada patahan tusuk konde perak yang sama.
Sangkuriang mundur tiga langkah, memegangi kepalanya yang mendadak terasa sakit luar biasa. "Tidak... tidak mungkin... Jadi, wanita yang memukulku... wanita yang kubenci sekaligus kurindukan sepanjang hidupku... adalah kau?"
"Iya, anakku... Maafkan ibu..." Dayang Sumbi melangkah mendekat, hendak memeluk putaranya yang malang.
Namun, di sinilah takdir memutar plot twist-nya yang paling tragis.
Sangkuriang mendongak. Matanya tidak lagi menyiratkan kebingungan, melainkan sebuah kegelapan mutlak yang sudah kehilangan akal sehat. Rasa cinta yang terlalu besar dan mendalam selama berbulan-bulan ini telah bermutasi menjadi sebuah obsesi yang mengerikan.
"Ibu?" bisik Sangkuriang, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang, ketenangan yang lebih menakutkan dari badai mana pun. "Kalau begitu... dewa-dewa di langit benar-benar sedang bercanda dengan kita."
Sangkuriang melangkah maju, menjebak Dayang Sumbi di batang pohon kanigara.
"Aku tidak peduli tentang darah," kata Sangkuriang, matanya menatap tajam lurus ke dalam bola mata Dayang Sumbi. "Aku tidak peduli jika seluruh jagat raya mengutuk kita menjadi batu. Di hutan yang sepi ini, tidak ada ibu dan anak. Yang ada hanyalah aku, seorang pria yang sudah memberikan seluruh hidupnya, dan kau, wanita yang ditakdirkan untuk menjadi milikku. Kita akan tetap menikah, Sumbi. Biarlah dunia ini hancur sekalian!"
---
Dayang Sumbi melihat kegilaan di mata Sangkuriang. Pria di depannya bukan lagi manusia; ia telah menjadi perwujudan dari nafsu dan dendam yang buta. Tidak ada lagi jalan keluar. Jika ia melarikan diri, Sangkuriang dengan kesaktiannya akan mengejarnya hingga ke ujung bumi. Jika ia menyerah, maka ia akan menanggung dosa yang akan mengutuk seluruh keturunan manusia.
"Jika itu maumu, Sangkuriang..." Dayang Sumbi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat indah namun penuh dengan duka yang mendalam. "Peluklah ibumu untuk yang terakhir kalinya."
Sangkuriang, mengira wanita itu akhirnya menyerah pada takdir, langsung merangkul tubuh Dayang Sumbi dengan erat, menyembunyikan wajahnya di leher wanita yang dipujanya itu.
JLES.
Suara logam menembus daging terdengar sangat pelan di antara desau angin malam.
Sangkuriang tersentak. Ia merasakan kehangatan yang basah mendadak mengalir di dadanya. Namun, bukan darahnya yang mengalir.
Ia melepaskan pelukannya perlahan, melihat ke bawah. Di tangan Dayang Sumbi, ada patahan tusuk konde perak yang tajam. Tusuk konde itu tidak ditancapkan ke dada Sangkuriang... melainkan ke dalam dada Dayang Sumbi sendiri. wanita itu telah menusuk jantungnya sendiri di dalam pelukan anaknya.
"Sumbiii!!!" jerit Sangkuriang, suaranya memecah keheningan malam, bergema di seluruh lereng Gunung Sunda.
Ia menangkap tubuh Dayang Sumbi yang luruh ke atas tanah basah. Darah segar berwarna merah pekat mengalir dari dadanya, menodai kain tenun putih yang tergeletak di dekat mereka, mengubahnya menjadi sewarna dengan bunga kanigara yang berguguran tertiup angin sore.
"Kenapa... kenapa kau melakukan ini?!" Sangkuriang menangis histeris, memangku kepala ibunya, mencoba menahan aliran darah dengan tangannya yang gemetar. Kesaktiannya yang mampu memindahkan gunung mendadak tidak berguna sama sekali di hadapan kematian.
Dayang Sumbi menatap wajah Sangkuriang untuk terakhir kalinya. Jemarinya yang lemah perlahan terangkat, mengusap bekas luka di kepala Sangkuriang—luka yang dulu ia buat karena amarah, dan kini ia tebus dengan nyawanya sendiri.
"Hanya dengan cara ini... takdir kita selesai, anakku..." bisik Dayang Sumbi, suaranya kian menjauh bagai angin lalu. "Jangan mengembara lagi... pulanglah..."
Mata jernih itu perlahan tertutup. Napas terakhir Dayang Sumbi berembus bersamaan dengan gugurnya sekelompok bunga kanigara di atas wajahnya yang tetap cantik jelita dalam kematian.
Seketika, tubuh Dayang Sumbi memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Raga wanita suci itu perlahan meluruh, berubah menjadi ribuan kelopak bunga kanigara yang terbang terbawa angin malam, lenyap menuju keabadian kahyangan, meninggalkan Sangkuriang sendirian di tengah kegelapan hutan.
Sangkuriang berdiri di bawah pohon yang meranggas. Ia menatap tangannya yang kini hanya menggenggam kelopak-kelopak bunga yang kosong. Penyesalan yang teramat sangat menusuk jiwanya hingga pecah berkeping-keping. Kesaktiannya, kebanggaannya, cintanya yang agung... semua menguap menjadi abu di bawah kaki Tangkuban Perahu yang berdiri angkuh membisu.
Pemuda itu tidak lagi berteriak. Ia duduk bersimpuh di atas tanah basah, membiarkan kabut belerang membungkus tubuhnya, memulai sebuah pengembaraan abadi di dalam hutan—bukan lagi sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa, melainkan sebagai seuntai jiwa yang rapuh, yang selamanya mengutuk fajar yang datang terlalu cepat.