Matahari Jakarta di bulan Mei selalu memiliki cara untuk membakar kulit tanpa permisi. Namun di atas aspal Salemba yang membara, ada yang lebih panas dari sekadar cuaca: amarah yang mengental di tenggorokan ribuan pemuda.
Di antara lautan manusia berjaket almamater, deru mesin itu terdengar seperti auman singa jantan yang terluka. Sebuah Kawasaki Ninja 150 berdarah hijau daun—warna yang mencolok di tengah abu-abunya kecemasan kota—membelah kerumunan dengan perlahan. Di atas pelana besi itu duduk Gagah Adiguna. Namanya adalah cerminan dari seluruh garis hidupnya. Rahangnya tegas, matanya sepasang telaga jernih yang menyimpan bara api idealisme, dan tangannya begitu kokoh mencengkeram stang motor yang menjadi simbol kebanggaan masa mudanya.
Gagah bukan sekadar mahasiswa tingkat akhir Jurusan Sastra yang gemar mengutip sajak-sajak sepi. Ia adalah nyawa dari mimbar-mimbar bebas. Suaranya, jika sudah beradu dengan pengeras suara, mampu membuat nyali para penjaga status quo bergetar.
"Kau tidak takut, Gah? Motor ini terlalu mencolok. Orang-orang di ujung sana... mereka mencatat setiap plat nomor yang vokal," bisik Sekar, gadis berambut sepundak yang selalu setia membawa kotak P3K di garis belakang. Matanya menatap cemas pada motor sport dua tak yang berkilat tertimpa cahaya matahari.
Gagah mematikan mesin. Seketika, sunyi merayap di antara mereka, menyisakan yel-yel reformasi yang lamat-lamat terdengar dari arah gerbang kampus. Pria itu tersenyum, jenis senyuman yang membuat Sekar selalu percaya bahwa dunia akan baik-baik saja.
"Sesuatu yang bergerak karena cinta, Kar, tidak akan pernah bisa dihentikan oleh ketakutan," kata Gagah, suaranya berat dan tenang, mengalir seperti prosa-prosa lama Pramoedya. "Ninja ini bukan sekadar mesin. Ia adalah kakiku untuk menjemput perubahan. Jika esok hari sejarah menuntut harga yang mahal, biarlah logam ini menjadi saksi bahwa kita pernah menolak untuk tunduk."
Sekar menunduk. Ia tahu, di balik ketegaran itu, Gagah adalah seorang anak tunggal dari seorang ibu janda di pinggiran kota. Motor Ninja itu adalah hadiah terakhir mendiang ayahnya, hasil keringat bertahun-tahun sebagai buruh pelabuhan. Bagi Gagah, merawat motor itu sama dengan merawat ingatan tentang sang ayah. Namun kini, di tahun 1998 yang berdarah, kegagahan besi itu harus berhadapan dengan takdir yang jauh lebih besar.
---
12 Mei 1998.
Langit Jakarta mendadak berubah menjadi warna kelabu yang pekat, seolah semenanjung harapan sedang ditutup oleh tirai duka. Demonstrasi tidak lagi berjalan di dalam pagar. Massa mulai merembes ke jalanan, menuntut sesuatu yang selama tiga dekade disembunyikan di balik senapan: keadilan.
Gagah berdiri di atas kap mobil jip yang mogok, memegang megafon. Di sampingnya, Kawasaki Ninja setianya diparkir di dekat pos satpam, siap dinyalakan kapan saja jika situasi memburuk.
"Kita bukan sedang merebut kekuasaan!" teriak Gagah, suaranya membelah udara sore yang pengap. "Kita sedang merebut kembali hak untuk berbicara! Hak anak-anak kita esok hari agar tidak perlu berbisik-bisik saat membicarakan kebenaran!"
Sekar menatapnya dari kejauhan, mengagumi bagaimana pemuda itu menyatukan ketegasan karakter ala Pramoedya dengan kelembutan rasa ala Sapardi. Gagah adalah seuntai puisi yang ditulis di atas selembar kertas yang terbakar.
Lalu, bunyi itu terdengar.
DOR! DOR! DOR!
Bukan suara petasan. Itu adalah suara logam panas yang menembus daging. Udara seketika berbau belerang dan gas air mata yang menyengat perih. Pekik takbir dan jerit ketakutan pecah dalam hitungan detik. Massa kocar-kacir. Jaket-jaket almamater bergelimpangan di atas aspal, ternoda oleh warna merah yang kental.
"Tiarap! Semua tiarap!" teriak Gagah, melompat dari atas kap jip.
Dalam kekacauan itu, matanya menangkap sosok Sekar yang terjatuh di dekat pembatas jalan, terhimpit oleh kepungan asap tebal dan injakan kaki massa yang panik. Di seberang sana, barisan tameng perak dan laras panjang bergerak maju tanpa ampun.
Tanpa berpikir dua kali, Gagah berlari menerobos kepulan asap, menghidupkan mesin Ninjanya dengan sekali hentakan engkol. Mesin itu menjerit, membelah kepanikan. Gagah memacu motornya zig-zag di antara desingan peluru karet dan gas air mata, mendekati Sekar.
"Naik, Kar! Cepat!"
Sekar yang batuk-batuk dengan mata bercucuran air mata memeluk pinggang Gagah erat-erat. Ninja hijau itu melesat, melompati trotoar, menembus gang-gang sempit Salemba yang temaram. Mereka berhasil lolos dari maut sore itu. Namun, sejarah tidak pernah membiarkan para penggeraknya pulang dengan tangan kosong.
---
Malam harinya, Jakarta membara. Toko-toko dijarah, asap hitam membumbung dari pusat-pusat perbelanjaan. Kota ini seperti pelacur yang sedang dicambuk oleh dosanya sendiri.
Gagah dan Sekar berlindung di sebuah rumah kontrakan tua di sudut gang kecil. Di teras rumah, Kawasaki Ninja itu berdiri tegak, tertutup oleh kain terpal kumal agar tidak memancing perhatian aparat yang sedang berpatroli.
Gagah duduk di lantai, jemarinya yang gemetar mencoba menulis sesuatu di atas kertas bekas pembungkus semen. Sekar mengobati luka lecet di lengan Gagah dengan alkohol.
"Pulanglah ke rumah ibumu besok, Gah. Jakarta sudah tidak aman lagi untukmu. Nama kamu ada di barisan depan lembar intelijen," bisik Sekar, suaranya parau. Air matanya menetes di atas lengan Gagah.
Gagah menatap Sekar. Matanya melembut, seperti lirik sajak Sapardi yang paling sunyi. Ia meletakkan pensilnya, lalu menyentuh pipi Sekar dengan ujung jarinya yang kasar.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, Kar," katanya lirih, mengutip nada yang sangat akrab di telinga mereka. "Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin melihat reformasi ini selesai, lalu membawamu pulang ke kampung dengan Ninja ini. Menunjukkan pada Ibu, bahwa anak tunggalnya telah menjemput seorang ratu."
"Jangan bicara tentang abu, Gah. Aku takut," Sekar memeluk pria itu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gagah yang berdegup kencang.
Gagah hanya terdiam. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa esok hari adalah puncaknya. Dan esok hari, ia harus membuat sebuah keputusan yang akan mengubah segalanya.
---
21 Mei 1998.
Hari yang dinanti tiba. Sang Penguasa mengumumkan pengunduran dirinya. Jakarta pecah dalam sorak-sorai. Mahasiswa di gedung DPR/MPR berpelukan, menangis, merayakan kemenangan yang dibayar oleh darah rekan-rekan mereka.
Sekar mencari Gagah di antara kerumunan massa di Senayan. Namun, pemuda gagah berjaket almamater itu tidak terlihat. Hanya ada kabar burung bahwa Gagah sedang melakukan perjalanan penting sejak subuh.
Tiba-tiba, ponsel penyeranta (pager) milik Sekar bergetar. Sebuah pesan singkat muncul:
"Temui aku di jembatan layang dekat pelabuhan. Sekarang. Bawa kunci cadangan Ninja."
Jantung Sekar berdegup kencang. Mengapa pelabuhan? Mengapa jembatan layang?
Dengan menggunakan taksi yang tersisa, Sekar bergegas menuju lokasi. Di sana, di atas jembatan layang yang sepi dengan latar belakang laut Jakarta yang abu-abu, ia melihat Kawasaki Ninja hijau itu terparkir di pinggir jalan.
Namun, tidak ada Gagah di atasnya.
Hanya ada seorang pria paruh baya mengenakan kemeja safari lusuh, berdiri bersedekap sambil menatap ke arah laut. Di bawah jembatan, beberapa kapal barang sedang bersiap untuk berlayar.
"Di mana Gagah?" tanya Sekar setengah berlari, napasnya memburu.
Pria berkemeja safari itu berbalik. Wajahnya dingin, matanya menyimpan keletihan yang teramat sangat. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit dan selembar surat yang berlumuran darah kering dari saku bajunya. Dompet itu milik Gagah.
"Kamu Sekar?" tanya pria itu.
"Iya! Di mana Gagah?! Apa yang terjadi dengan motor ini?!"
Pria itu menghela napas panjang, menatap Ninja hijau yang berkilat seolah mengejek keadaan. "Gagah tidak pernah menjadi aktivis karena keinginannya sendiri, Sekar. Dia adalah informan kami. Informan militer yang ditugaskan untuk menyusup ke dalam gerakan mahasiswa sejak dua tahun lalu."
DEG.
Dunia Sekar runtuh seketika. Bumi di bawah kakinya seolah retak dan menelannya bulat-bulat. "Bohong... kamu bohong! Gagah berjuang bersama kami! Dia yang memimpin mimbar! Dia yang menyelamatkanku!"
"Itu karena dia jatuh cinta padamu, dan dia mulai mengkhianati tugasnya," lanjut pria itu tanpa nada. "Dia menolak memberikan daftar nama pemimpin pergerakan kepada kami. Dia menggunakan Ninja ini untuk melarikan dokumen-dokumen penting milik negara yang bisa menjatuhkan jenderal-jenderal tertentu jika reformasi ini gagal."
Pria itu menyerahkan surat berdarah itu ke tangan Sekar.
"Dua jam yang lalu, di tempat ini, kelompok eksekutor dari faksi garis keras menghadangnya. Gagah dikepung. Dia menolak menyerahkan tas berisi dokumen itu. Dia memilih melompat ke laut setelah menerima tiga tembakan di dadanya. Jasadnya... belum ditemukan."
Sekar jatuh terduduk di atas beton jembatan. Surat di tangannya bergetar. Dengan mata kabur oleh air mata, ia membuka lipatan kertas yang bernoda merah itu. Itu adalah tulisan tangan Gagah yang ditulis malam sebelum kejadian, di atas kertas semen yang sama.
"Sekar, maafkan aku. Aku mendekatimu dengan sebuah kebohongan, namun aku tinggal bersamamu karena sebuah kebenaran. Mereka mengira aku mengendarai Ninja ini untuk memata-matai kalian. Padahal, setiap deru mesin ini adalah detak jantungku yang berteriak bahwa aku ingin bebas bersamamu.
Dokumen di dalam tas ini adalah jaminan bahwa tidak akan ada lagi mahasiswa yang diculik setelah hari ini. Jika kamu membaca surat ini, artinya aku telah menyerahkan ragaku pada laut Jakarta, agar jiwaku bisa terbang bebas ke arahmu.
Rawatlah Ninja ini. Ia adalah kegagahanku yang tersisa. Di dalam joknya, ada tabungan terkumpul untuk ibuku dan sebuah cincin untukmu. Aku mencintaimu, dengan sederhana, dengan tiada."
---
Sepuluh tahun kemudian. Jakarta telah berganti rupa. Gedung-gedung kaca menjulang tinggi, menghapus jejak-jejak peluru dan bau hangus tahun 1998.
Di sebuah rumah kecil yang asri di pinggiran kota, seorang wanita dengan rambut yang mulai diikat rapi sedang membersihkan debu di atas tangki sebuah motor sport tua. Kawasaki Ninja 150 berwarna hijau daun. Motor itu masih tampak sangat terawat, mesinnya masih halus, garis logamnya masih memancarkan aura kegagahan masa lalu.
Wanita itu adalah Sekar. Di jari manisnya, sebuah cincin perak sederhana melingkar dengan anggun.
Setiap tanggal 21 Mei, Sekar akan menyalakan mesin motor itu, membiarkan asap tipis dua taknya membubung ke udara sore, membawa aroma ingatan yang tak pernah membusuk oleh zaman.
Ibu Gagah duduk di kursi roda di teras rumah, tersenyum menatap Sekar. "Gagah pasti senang melihat motornya masih seindah ini, Kar."
Sekar menoleh, tersenyum lembut. Sambil mengusap jok kulit motor itu, ia teringat bait sajak yang selalu ia bisikkan setiap kali rindu mencengkeram dadanya:
Yang fana adalah waktu. Kita abadi.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
Tapi deru logam ini, Gah, tidak akan pernah lupa.
Gagah mungkin telah tiada, raganya hancur berbaur dengan asinnya air laut teluk Jakarta. Namun di atas pelana besi Kawasaki Ninja itu, sang aktivis, sang kekasih, sang pengkhianat yang beralih menjadi pahlawan, akan tetap hidup selamanya sebagai pemuda yang paling gagah di dalam hati sejarah.