Dunia ini, bagi sebagian besar orang, adalah tempat yang bising dengan suara klakson, tawa manusia, dan denting sendok di atas piring. Namun bagi Rima Sania, dunia adalah lapisan tipis yang rapuh. Di balik riuh rendahnya kehidupan SMA Mandala, ada frekuensi lain yang bergetar. Frekuensi yang dingin, sunyi, dan berbau tanah basah.
Rima duduk di pojok paling belakang kelas XII-IPS 3. Ia selalu mengenakan seragam yang agak kelonggaran, dengan rambut hitam legam yang sering kali dibiarkan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Di atas mejanya, tidak ada cermin bedak atau ponsel pintar yang layarnya menyala setiap detik seperti milik gadis-gadis lain. Hanya ada sebuah kamera analog tua merk Canon FTb peninggalan kakeknya, dan sebuah buku catatan bersampul cokelat kusam.
"Jangan dekat-dekat Rima. Dia itu... agak kurang waras," bisik sekelompok siswi di barisan depan saat Rima berjalan melewati mereka.
Rima tidak menoleh. Ia sudah kebal. Dianggap aneh, dikucilkan, dan ditertawakan adalah menu sarapannya setiap hari sejak ia berusia tujuh tahun. Sejak hari di mana ia berteriak histeris menunjuk ke arah kursi kosong di sebelah ibunya, bersikeras bahwa ada seorang wanita tanpa wajah yang sedang ikut makan malam bersama mereka.
Mereka menyebutnya gila. Mereka menyebutnya cari perhatian.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka ketahui. Kamera mekanis tua di tangan Rima bukan sekadar alat pemuas hobi. Kamera itu adalah tamengnya. Kristal lensa kaca murni dan mekanisme shutter besi cor memiliki cara unik untuk menangkap apa yang gagal disaring oleh kornea mata manusia biasa. Ketika Rima merasa udara di sekitarnya mendadak anjlok menjadi sedingin es, ia akan mengangkat kameranya, membidik ke ruang kosong, dan... CEKREK!
"Rima! Kamu mendengarkan saya tidak?!"
Suara melengking Bu Widya, guru Geografi, memecahkan lamunan Rima. Seluruh mata di kelas kini tertuju padanya. Seringai ejekan mulai bermunculan di wajah teman-teman sekelasnya.
"Iya, Bu. Mendengar," jawab Rima lirih, suaranya nyaris tenggelam.
"Kalau mendengar, kenapa mata kamu melotot ke arah pojok lemari itu dari tadi? Ada apa di sana? Hantu?!" bentak Bu Widya, kesal karena merasa diabaikan.
Kelas pecah dalam tawa riuh. Seseorang berteriak, "Ada pacarnya Rima, Bu! Genderuwo!"
Rima hanya menunduk. Jemarinya meremas tali kulit kameranya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Bahwa tepat di atas lemari kayu tua di pojok kelas itu, sesosok tubuh kurus kering dengan leher patah sembilan puluh derajat sedang bergelantungan, menatap Bu Widya dengan mata yang seluruhnya berwarna hitam, memuntahkan cairan pekat dari mulutnya yang menganga.
Ketahuilah, wahai manusia-manusia malang, pikir Rima dalam hati, *ketidaktahuan terkadang adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kalian.
---
Satu-satunya tempat di mana Rima diizinkan "hidup" adalah di lab fotografi lama di basemen sekolah. Itu adalah sebuah ruangan sempit, pengap, tanpa jendela, yang diubah menjadi ruang gelap (darkroom) untuk mencuci film analog. Ruangan itu berbau menyengat karena campuran zat kimia: cairan developer, stop bath, dan fixer.
Di sanalah Rima menghabiskan waktu sepulang sekolah, di bawah pendar lampu neon berwarna merah darah yang temaram. Di dalam ruang gelap, semua perbedaan visual lenyap. Hanya ada warna merah dan bayangan.
"Kamu masih pakai kamera purbakala ini, Rim?"
Suara itu milik Adrian. Ketua ekskul fotografi, anak emas sekolah, tampan, dan—tidak seperti yang lain—Adrian adalah satu-satunya orang yang mau berbicara pada Rima tanpa nada sinis. Adrian menggunakan kamera DSLR mutakhir, selalu bangga dengan ketajaman megapikselnya.
"Grains dari film analog punya jiwa, Dri. Mereka jujur. Tidak bisa dimanipulasi oleh algoritma komputer," jawab Rima sambil menjepit selembar kertas foto yang masih basah di tali jemuran ruang gelap.
Adrian terkekeh, menggelengkan kepala. "Terserah kamu lah. Tapi omong-omong, kamu tahu tidak tentang desas-desus ruang gelap ini? Katanya, dulu tahun sembilan puluhan, ada seorang siswi yang mengunci diri di sini dan... tidak pernah keluar lagi."
Tangan Rima yang sedang memegang pinset mendadak kaku. Cairan kimia di dalam bak plastik bergelombang pelan.
"Jangan bercanda, Dri," bisik Rima.
"Aku serius. Namanya Sania. Lah, namanya hampir sama dengan nama belakangmu, kan? Rima Sania," Adrian mendekatkan wajahnya, mencoba menakut-nakuti Rima dengan senyum jahil. "Katanya, dia frustrasi karena cintanya ditolak atau semacamnya. Jasadnya baru ditemukan tiga hari kemudian, membusuk di pojok dekat tempat penyimpanan zat kimia."
Bukan karena cinta ditolak, Adrian,teriak batin Rima. Dia tidak bunuh diri. Dia dikurung dari luar oleh teman-temannya yang menganggapnya aneh!
Rima tahu karena setiap kali lampu merah di ruang gelap dinyalakan, di sudut paling gelap di bawah meja wastafel, selalu terdengar suara kuku yang mencakar tembok semen. Sret... sret... sret... Suara pilu seorang gadis yang kehabisan oksigen, menangis memanggil ibunya hingga tenggorokannya kering dan pecah.
Namun Rima memilih diam. Ia mematikan lampu merah, mengubah ruangan menjadi gelap gulita sejenak, sebelum berpamitan pada Adrian untuk pulang. Ia tidak ingin Adrian menjadi korban berikutnya dari kemarahan yang membusuk di ruangan itu.
---
Tragedi itu dimulai pada hari Selasa minggu berikutnya. Sekolah digemparkan oleh hilangnya tiga siswa secara misterius dalam waktu yang hampir bersamaan. Mereka adalah orang-orang yang paling sering merundung Rima: Dito, siska, dan pimpinan mereka, seorang siswi kaya bernama Keysha.
Polisi datang ke sekolah. Memeriksa CCTV, menanyai para guru, namun hasilnya nihil. Ketiganya seperti menguap ditelan bumi setelah jam pelajaran terakhir usai.
Di tengah kepanikan itu, Rima menemukan sesuatu di dalam tas sekolahnya. Sebuah gulungan film analog 35mm tanpa selongsong merk, tergeletak begitu saja di antara buku-buku pelajarannya. Tekstur filmnya terasa dingin, seolah-olah baru saja dikeluarkan dari dalam lemari es.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Rima membawa gulungan itu ke ruang gelap basemen setelah sekolah sepi. Situasi sangat mencekam. Garis polisi kuning terpasang di beberapa area sekolah, memberikan kesan ngeri yang pekat.
Rima mengunci pintu dari dalam. Ia menyalakan lampu merah.
Ia mulai memutar film ke dalam reel, memasukkannya ke dalam tangki kedap cahaya, dan menuangkan cairan developer. Tangannya gemetar hebat saat melakukan proses agitasi—memutar tangki film berulang kali. Waktu terasa berjalan lambat seperti tetesan lilin.
Setelah film selesai dicuci dan dikeringkan, Rima memasukkan klise film tersebut ke dalam alat enlarger (pembesar gambar). Cahaya merah memproyeksikan citra negatif ke atas selembar kertas foto putih di dalam bak cairan pengembang.
Rima menahan napas. Perlahan, seperti hantu yang bangkit dari kubur, bayangan hitam mulai terbentuk di atas kertas putih yang terendam cairan kimia tersebut.
Pada lembar foto pertama: Muncul wajah Dito. Ia sedang berada di dalam ruang gelap ini. Matanya melotot lurus ke arah kamera dengan ekspresi teror yang luar biasa. Kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri yang tampak membiru, seolah-olah ada sepasang tangan tak terlihat yang sedang mencekiknya dari belakang.
Rima menjerit kecil, menjatuhkan pinsetnya.
Ia beralih ke klise kedua, mencucinya dengan cepat. Muncul wajah Siska. Gadis itu sedang meringkuk di pojok ruangan yang sama, tepat di bawah meja wastafel. Kulit wajahnya tampak mengelupas, dan dari sela-sela jarinya yang menutupi wajah, keluar belatung-belatung kecil.
Dan yang paling mengerikan adalah foto ketiga. Foto Keysha.
Keysha berdiri di tengah ruang gelap. Namun, kepalanya tidak lagi berada di atas pundak. Kepalanya tergeletak di lantai, menghadap ke atas, sementara tubuhnya yang tanpa kepala berdiri tegak di belakangnya, memegang sebuah papan tulis kecil bertuliskan huruf-huruf darah:
"KAMU BERIKUTNYA, RIMA."
Napas Rima memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Bagaimana mungkin foto-foto ini ada? Siapa yang mengambil gambar mereka? Dan yang paling penting... di mana jasad mereka sekarang? Ruang gelap ini sangat sempit, tidak ada tempat untuk menyembunyikan tiga mayat sekaligus tanpa menimbulkan bau busuk!
Tiba-tiba, lampu merah di ruang gelap berkedip-kedip. Bzzzt... bzzzt...
Suara itu kembali terdengar. Bukan lagi dari bawah wastafel, melainkan tepat di belakang punggung Rima.
Sret... sret... sret... Suara gesekan kain kafan atau baju usang di atas lantai semen yang dingin.
---
Rima membalikkan badannya dengan cepat, mengangkat kamera analognya, bersiap menekan shutter. Namun, ruangan itu kosong. Hanya ada bayangan merah yang memantul di dinding.
"Siapa di sana?!" teriak Rima, suaranya pecah oleh rasa takut yang luar biasa. "Sania?! Kamu mau apa dariku?!"
"Sania tidak ada di sini, Rima."
Sebuah suara berat terdengar dari arah pintu. Rima tersentak. Pintu ruang gelap yang tadinya dikunci dari dalam, kini terbuka sedikit. Adrian berdiri di sana, memegang sebuah lampu kilat eksternal di tangannya. Wajah Adrian yang biasanya ramah kini tampak datar, tanpa emosi, dengan mata yang menatap Rima dengan kekosongan yang mengerikan.
"Adrian? Kamu... bagaimana kamu bisa masuk? Dan apa maksudmu?" tanya Rima, melangkah mundur hingga pinggulnya membentur meja wastafel.
Adrian berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar sangat berat di atas lantai basemen. "Kamu selalu merasa paling menderita, kan, Rima? Dianggap aneh, dikucilkan. Kamu merasa kamera tuamu itu bisa melihat segalanya. Tapi sadarkah kamu, bahwa indera keenammu itu sebenarnya adalah sebuah kutukan yang sengaja diberikan kepadamu?"
"Apa maksudmu, Adrian?! Jangan main-main!" Rima mulai menangis.
Adrian berhenti tepat dua langkah di depan Rima. Ia mengangkat tangan kirinya, menunjukkan sebuah kalung perak dengan liontin foto kuno yang sangat Rima kenal. Itu adalah kalung milik ibunya yang hilang setahun lalu.
"Sania... adalah ibuku, Rima," bisik Adrian. Suaranya mendadak berubah menjadi dingin, sedingin es yang membekukan sumsum tulang. "Dia tidak mati tahun sembilan puluhan. Dia alumni sekolah ini yang kehilangan akal sehatnya karena dirundung habis-habisan oleh teman-temannya. Dia melahirkan aku dalam kondisi gila, dan sebelum dia meninggal di rumah sakit jiwa setahun lalu, dia membisikkan satu nama yang harus bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya."
Jantung Rima rasanya berhenti berdetak. "Tidak... itu tidak mungkin..."
"Nama itu adalah... Sania. Nama belakangmu, Rima Sania. Karena wanita yang mengunci ibuku di ruang gelap ini tiga puluh tahun lalu hingga dia gila adalah Nenekmu! Dan ibumu melanjutkan tradisi itu dengan merundung ibuku saat mereka remaja!" Adrian berteriak, matanya merah menyala penuh dendam yang telah berkarat selama puluhan tahun.
"Aku tidak tahu apa-apa, Adrian! Demi Tuhan, aku tidak tahu!" jerit Rima, air matanya mengalir deras.
"Dito, Siska, dan Keysha... mereka tidak mati karena hantu, Rima," Adrian tersenyum pahit, sebuah senyuman yang lebih mengerikan dari wajah setan mana pun. "Aku yang menjebak mereka ke sini. Aku yang mencampur zat kimia fixer dengan gas beracun sianida saat mereka sedang mencari barang yang kukatakan hilang di sini. Dan tebak siapa yang mengambil foto mereka saat mereka sekarat?"
Adrian mengangkat sebuah kamera analog hitam dari balik jaketnya. "Aku menggunakan kamera. Sama seperti yang kamu lakukan. Aku ingin membuat sebuah mahakarya. Sebuah album foto kematian untuk menebus air mata ibuku."
Rima menggelengkan kepala, mencoba berlari menuju pintu, namun Adrian dengan cepat mencengkeram rambut Rima, membanting tubuh gadis itu ke lantai semen yang dingin. Kepala Rima membentur sudut meja, darah segar mulai mengalir, membasahi lantai ruang gelap, bercampur dengan cairan kimia pencuci film.
Di dalam keremangan cahaya merah, pandangan Rima mulai mengabur. Namun, indera keenamnya mendadak menembus batas tertinggi.
Ia melihat sekeliling ruangan. Tembok-tembok semen ruang gelap itu perlahan meluruh, berubah menjadi tumpukan daging busuk yang berdenyut. Di pojok ruangan, jasad Dito, Siska, dan Keysha ternyata tertanam di dalam dinding semen yang baru dicat ulang oleh Adrian beberapa hari lalu! Wajah-wajah mereka yang membiru menonjol dari balik lapisan semen, menatap Rima dengan pandangan meminta tolong.
Dan di atas mereka semua, sesosok wanita dengan gaun putih usang—Sania, ibu Adrian—sedang tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang tajam, siap menyambut Rima ke dalam keabadian hitam.
---
Ketahuilah, hidup ini sering kali berjalan seperti proses cetak foto.
Kita harus melewati kegelapan yang pekat, direndam dalam cairan yang menyakitkan, agar bayangan diri kita bisa terlihat jelas.
Namun bagi sebagian orang, mereka selamanya terjebak di dalam ruang gelap, menjadi bayangan negatif yang tidak akan pernah menemukan seberkas cahaya pun.
Adrian berjongkok di samping tubuh Rima yang sudah tidak berdaya. Ia mengarahkan lensa kameranya tepat ke wajah Rima yang bersimbah darah, yang matanya masih melotot menatap langit-langit dengan sisa-sisa kesadaran.
"Selamat tinggal, Rima Sania. Sampaikan salamku pada ibuku di sana," bisik Adrian lembut, hampir terdengar seperti sebuah bisikan kasih sayang yang menyimpang.
CEKREK!
Lampu kilat menyala sesaat, membutakan mata Rima untuk terakhir kalinya. Bersamaan dengan suara shutter yang menutup, napas Rima berhenti. Jiwanya ditarik paksa keluar dari raga, langsung dicengkeram oleh bayangan hitam Sania yang menanti di sudut ruangan.
Sebulan kemudian, SMA Mandala kembali berjalan normal. Kasus hilangnya empat siswa—termasuk Rima Sania—ditutup oleh polisi karena tidak menemukan bukti fisik apa pun. Mereka dianggap melarikan diri dari rumah karena stres belajar.
Adrian duduk sendirian di ruang gelap basemen yang kini sudah sepi. Ekskul fotografi telah dibubarkan. Di bawah pendar lampu merah yang sunyi, Adrian menggoyang-goyangkan selembar kertas foto baru di dalam bak cairan pengembang.
Sebuah senyuman puas terukir di wajah tampannya saat bayangan sebuah gambar mulai muncul di atas kertas tersebut.
Foto itu menampilkan Rima Sania. Gadis itu sedang duduk di pojok ruangan, mengenakan seragam sekolah yang berlumuran darah. Namun anehnya, di dalam foto itu, Rima tidak lagi tampak ketakutan. Ia justru sedang menatap lurus ke arah kamera—ke arah Adrian—dengan senyuman yang sangat lebar, seolah-olah bibirnya robek hingga ke telinga.
Dan di atas kertas foto yang masih basah itu, perlahan muncul tulisan cakar ayam yang timbul secara gaib dari dalam serat kertas:
"TERIMA KASIH FOTONYA, ADRIAN. SEKARANG... GILIRANMU YANG MASUK KE DALAM LENSA."
Adrian tertegun. Detik itu juga, ia merasakan udara di ruang gelap mendadak anjlok drastis menjadi sedingin es. Pintu di belakangnya tiba-tiba terkunci dengan bunyi klik yang keras.
Dari dalam bak cairan kimia di depannya, sepasang tangan kurus pucat dengan kuku-kuku hitam yang panjang mendadak melesat keluar, mencengkeram leher Adrian dengan kekuatan yang tidak manusiawi, menarik tubuh pria itu masuk ke dalam kegelapan mutlak yang tak berdasar.
Ruang gelap itu kembali hening. Hanya menyisakan pendar lampu merah yang berkedip pelan, dan sebuah kamera analog yang tergeletak di lantai, siap merekam korban berikutnya dalam keabadian yang tragis.