Gemuruh sorak para mahasiswa memenuhi taman dibelakang gedung FISIP, seolah mereka sedang menyaksikan kemenangan tim sepak bola kesayangan mereka. (Visca Barca, Visca Catalonia)
Seorang laki-laki terlihat memberikan sekuntum bunga pada gadis yang ia sukai.
Dari kejauhan, terdengar derap langkah kaki cepat, seakan tak mau ketinggalan momen bersejarah itu.
Mahasiswa itu terengah-engah kala tiba ditengah kerumunan, "Lex!" serunya.
Orang yang sebelumnya memberi bunga itu mencari sumber suara, sebelum akhirnya menangkap sosok yang kembang kempis di tengah kerumunan.
"Genan! Gue jadian sama Sarah, Nan!"
Ia berteriak kegirangan, dengan raut bangga yang terpancar di wajahnya.
Genan tersenyum bahagia, tak menyangka temannya berhasil mendapatkan hati wanita pujaan hatinya. Ia mengangkat tangan, memberikan pose jempol sebagai apresiasi tertinggi yang bisa ia berikan.
"Hmmm... jam segini baru dateng! Pasti abis begadang nonton Barcelona!"
Suara itu, Genan kenal.
Olivia Abigail. Sahabatnya.
Gadis itu berdiri tepat di belakang Genan. Tangan disilangkan di depan dada, lirikan maut yang selalu membuat Genan kicep.
"Hehe... iya, Bi." Genan menggaruk tengkuknya.
Semua mata yang sebelumnya tertuju pada Alex dan Sarah, kini beralih pada Genan dan Abigail.
Bisikan kecil terdengar, "Yang ono udah, tuh... yang ini kapan, ya?" salah satu mahasiswa menunjuk Genan dan Abigail dengan dagunya.
"Iya, nih. Couple-... eh, sahabat favorit Ilkom deng." sahut yang lainnya.
Mereka berdua saling pandang, hampir muak dengan godaan teman-teman mereka setiap harinya. Genan hanya mengangkat bahunya, sedangkan Abigail terlihat pasrah.
Abigail menghela nafas panjang, "Denger, ya, semua. Gue sama Genan tuh, sahabat! Stop ngecengin kita!"
Ya, alasan klasik yang selalu menjadi benteng pertahanan Genan dan Abigail.
Tak ada lagi yang membalas, seolah kata-kata itu adalah kunci jawaban.
Mungkin itulah yang Abigail pikir, sementara Genan...
Entahlah, mungkin nanti, atau tidak sama sekali.
•••
Kelas telah usai, namun isi pikiran masih terbayang materi yang sama sekali tak masuk di kepala.
Hanya satu yang terlintas, kuah mie ayam yang selalu menjadi pilihan paling tepat kala ubun-ubun mulai sesak.
"Ekhm... boleh, kali pajak jadian." celetuk salah seorang mahasiswa di barisan paling belakang.
Alex tersentak, menoleh singkat ke bangku Sarah, lalu mendapat anggukan.
Ia mendengus kesal, "Gas ke warung mang Cecep! Gue yang bayar."
Semua bersorak, bergegas mengemasi barang-barang ke dalam tas. Berbaris satu persatu keluar dari ruang kelas.
Satu tujuan, warung mie ayam Mang Cecep.
Abigail terlihat fokus dengan ponselnya sendiri, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Jari-jarinya sibuk menekan keyboard, seperti sedang saling berbalas pesan dengan seseorang.
Genan menangkap kejadian itu, "Bi... ikut, nggak?"
Ia berdiri tepat dibelakang Abigail, namun tak berani untuk sekedar mengintip pesan tersebut.
"Duluan aja, Nan. Aku mau ke toilet, bentar."
Alex tahu, sesuatu sedang terjadi di antara Genan dan Abigail.
Sesuatu yang cukup rumit, oleh karena itu Alex diam. Memberikan tempat untuk dua sahabat itu menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Alex menyambar pundak Genan, membawanya bersama gerombolan keluar dari ruang kelas.
Dari lorong Genan masih melihat Abigail, fokus dengan ponselnya dalam setiap langkah. Hanya punggung yang terlihat, semakin menjauh dari pandangannya.
Jawabannya hanya satu, jatuh cinta.
•••
Hembus angin malam ini terasa sedikit bersahabat, tak terlalu dingin... seolah membisikkan semangat untuk mengerjakan tugas di depan kos.
Sebungkus rokok, setengah gelas kopi, tampaknya tak terlalu buruk.
Layar laptop menyala, menunjukkan beberapa tugas dengan deadline yang tersisa dua hari.
Genan hanya sendiri, duduk di teras kos sembari mencari semangat untuk mengerjakannya.
Tak berselang lama, pintu sebelah terbuka— Abigail keluar dengan pakaian yang cukup rapi.
"Kemana, Bi?"
Gadis itu sedikit menata helai rambut yang menutupi mata, "Mau keluar bentar."
"Aku temenin." sahut Genan yang langsung menutup laptopnya.
Abigail menggeleng cepat, "Jangan, Nan! Aku mau ketemu temen."
Kening Genan mengerut, berusaha mencari sesuatu yang sudah jelas disembunyikan oleh Abigail. Dan kata 'teman' itu tak terdengar familiar, lebih seperti seseorang yang istimewa.
"Temen, kan? Kalo gitu, sama aku."
Genan bangkit, mengemas barangnya dan hendak memasukkannya ke dalam kamar kos. Namun, Abigail segera menghalanginya, seakan ia benar-benar tak ingin Genan untuk ikut dengannya.
Tepat saat itu juga, suara motor terdengar mendekat.
Seorang ojek online.
"Benar atas nama kak Olivia Abigail?"
Abigail mengangguk singkat, "Iya, pak. Tunggu sebentar, ya."
"Sama aku aja!" tegas Genan.
Wajah Abigail mulai terlihat kesal, "Apaan, sih, Nan. Aku mau keluar bentar, kok... kamu nggak usah ikut!"
Satu-satunya alasan agar Genan bisa ikut hanya pesan dari orang tua Abigail, yaitu untuk menjaganya selama jauh dari rumah.
Dan biasanya, cara itu selalu berhasil.
Namun, akhir-akhir ini Abigail selalu mempunyai alasan lain agar dapat membantah.
"Apa!? Kamu mau bilang, "Aku dikasih amanat sama tante Rina buat jagain kamu!", gitu!?" nada bicara Abigail mulai meninggi.
Genan terdiam, lalu ponsel Abigail berdering...
Dari layar, terpampang nama Andra.
"Kamu mau ketemu sama dia, kan? Kamu yakin dia cowok baik-baik?" telunjuk Genan mengarah pada layar, "Aku cuma nggak mau, kamu kenapa-napa, Bi."
Wajah Abigail memerah, menahan amarah yang mungkin sudah mencapai batasnya.
"Bisa nggak, sih, Nan... sekali aja kamu nggak usah ikut campur urusan, aku!? Aku muak tau, nggak!?"
Abigail berbalik, setengah berlari masuk kembali ke dalam kamar kosnya.
Pintu dibanting cukup keras, sempat membuat ojol sebelumnya terkejut.
Ya, Genan membuat kesalahan fatal.
Ia mengetuk pintu berulang kali, berusaha menjelaskan apa maksud dari perbuatannya pada Abigail.
"Bi! Buka, Bi. Aku minta maaf, Bi."
Dari dalam pagar pekarangan kos, bapak ojol itu seperti sedang menonton drama. "Mas, ini jadinya gimana, ya?"
Genan menoleh singkat, "Cancel aja, pak."
Meski tak jadi mendapat orderan, setidaknya bapak ojol tersebut mendapatkan sedikit tontonan dracin.
Namun, Genan...
Ia yakin, status *persahabatan*nya akan berubah.
•
•
•
Pagi hari di Universitas Dhurma Jati masih sama. Langit masih cerah, pepohonan taman yang masih membungkuk diterpa angin.
Ada satu yang berbeda, Genan dan Abigail.
Alex menyadari bahwa hubungan mereka berdua akhir-akhir ini semakin runyam, puncaknya adalah hari ini.
Sama sekali tak ada sapa, bertolak belakang dengan apa yang selalu terjadi setiap harinya.
Kelas pertama usai, Alex segera menyeret Genan ke kantin pojok yang selalu sepi. Sementara Sarah, ia mengambil alih Abigail untuk diberi petuah versi dirinya.
Genan memberontak, "Apaan, sih Lex! Nggak usah narik-narik gue segala, napa!"
"Kenapa lagi, lo sama Oliv!?" sambarnya.
Pada saat yang sama, Sarah membawa Abigail ke belakang gedung FISIP. Bersandar di tembok toilet untuk menginterogasinya.
Abigail sedikit geram dengan perlakuan Sarah yang begitu tiba-tiba, "Ada apa, Sarah?"
"Lo sama Genan ada masalah apa, sih? Kalian berantem karena apa, sih, Oliv?"
Gadis berambut bondol itu seolah sedang menguak informasi terdalam, tak ingin image couple/bestfriendship Ilkom tercoreng.
Dimana Genan dan Abigail yang selalu bercanda, dimana Genan dan Abigail yang sering bertingkah jahil satu sama lain?.
Pemandangan itu selalu menjadi hiburan, namun entah apa yang membuat semua itu seakan hilang begitu saja.
"Jangan-jangan, ini gara-gara Andra!?"
Mata Abigail membulat, tak menyangka Sarah dapat berhasil dalam sekali menebak.
Abigail gugup setengah mati, "E-eee..."
"Gue tau, Liv. Lo lagi jatuh cinta sama Andra, kan?"
Andra, seorang mahasiswa dari kampus di kota yang sama.
Sarah tahu, karena ia memang beberapa kali mendapati Abigail dan Andra berkencan di sebuah Mall tak jauh dari UDJ.
"Gue, sih nggak masalah, Liv... tapi Genan? Lo nggak ngerti perasaan, dia?"
Abigail memicingkan matanya, "Perasaan Genan? maksud lo gimana, Rah?"
Sarah menepuk keningnya sendiri, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia mengusap wajahnya pelan, masih takut riasannya luntur.
Entah Abigail hanya berpura-pura bodoh, atau memang ia se-cuek itu akan perlakuan seseorang.
"Emangnya kenapa, kalo gue lagi pdkt sama Andra?"
Kedua tangan Sarah mengurung Abigail ditengah, ia benar-benar memojokkannya pada dinding.
Raut wajah Abigail terlihat ketakutan, tak biasanya Sarah melakukan hal seperti ini.
Matanya menatap lekat pada Abigail, "Genan itu, sayang sama lo Liv!"
Rasanya Abigail seperti sedang dalam sidang skripsi, meski ia baru saja menginjak semester 4. Tatapan itu, sama persis seperti Dosen killer yang menagih tugas makalah yang bahkan belum dua hari.
"Iya, gue tau. Gue juga sayang, sama Genan... sebagai sahabat." jawabnya setengah menunduk.
Habis sudah kesabaran Sarah, ia melepaskan kurungan itu. Berjongkok sembari memegangi kepalanya, merasa pusing dengan masalah yang bahkan bukan miliknya.
Abigail masih berdiri dalam diam, ia takut Sarah akan berubah menjadi serigala yang akan menerkamnya.
"Olivia Abigail... Genan, itu... sayang, sama lo lebih dari sekedar sahabat. Dia cinta, sama lo!"
Kalimat itu...
Sempat terlintas di kepala Abigail.
Awalnya ia takut kalau Genan benar-benar memendam perasaan yang lebih, lebih dari sekedar sahabat...
Cinta.
Namun, sampai sekarang Abigail selalu berfikir kalau itu semua hanya ketakutannya saja.
"Nggak mungkin! Gue sama Genan, tuh udah dari kecil... bahkan dari rahim udah sahabatan. Dia itu udah kayak keluarga gue sendiri, Rah."
Sarah akhirnya mengalah, ia bangkit.
Memegang lembut pundak Abigail sebelum melangkah meninggalkannya, "Terserah lo, deh Liv. Gue cuma berharap, lo bisa dapet cowok yang baik... dan Genan punya lebih dari sekedar, baik."
Godaan setiap hari memang sudah biasa, dan Abigail juga selalu menanggapinya dengan seadanya.
Namun, hari ini Sarah sepertinya sudah terlalu lelah untuk menahan unek-uneknya. Ia mewakili seluruh mahasiswa FISIP mengenai hubungan 'persahabatan' yang terlalu romantis untuk sekedar sahabat.
Dan Abigail hanya terdiam, tak siap untuk apa yang akan terjadi kedepannya.
Satu hal yang pasti, ia tak ingin hubungan persahabatannya dengan Genan hancur.
•
•
•
Sore itu, lagi-lagi Genan tak pulang bersama Abigail. Sudah beberapa hari setelah kejadian malam itu, keduanya tak pernah berpapasan selain saat berada di kelas.
Namun sore ini berbeda, tepat saat motor Genan terparkir rapi, suara motor lain terdengar mendekat.
Seorang ojek online yang mengantar Abigail.
Hanya satu tujuan Genan, meminta maaf.
Sesaat setelah ojol itu pergi, Genan menghadang langkah Abigail.
"Bi, dengerin aku dulu, Bi."
Gadis itu menghindari kontak mata dengan Genan, seakan tak mau melihat wajah sahabatnya sendiri.
Saat Abigail hendak menghindar, Genan memegang lengannya cukup kencang. "Bentar dulu, Bi."
"Apaan, sih Nan!? Aku mau masuk, capek." sentaknya.
Genan menghela nafas cukup panjang, "Oke. Aku cuma mau minta maaf, mungkin aku udah ganggu acara nge-date kamu sama Andra..."
Kata-kata itu berhasil membuat Abigail berhenti memberontak, terdiam sambil menunduk dengan kedua tangan yang memegang erat tasnya.
Memang benar, malam itu Abigail akan berkencan dengan Andra. Dan Genan membuat rencana itu gagal total.
Nafas Abigail terdengar memburu, "Kamu kenapa, sih Nan!? Setiap aku lagi deket sama cowok, kamu pasti halangin aku."
Abigail menoleh cepat, dan kini mata mereka bertemu, cukup lekat.
"Kamu nggak pengen aku bahagia!?" nada bicara Abigail semakin meninggi, "Kamu mau bilang, kalo dia bukan cowok baik-baik, lagi? Atau apa lagi alasan kamu?"
Mata Genan terpejam, giginya menggerus karena emosi yang tidak stabil. "Aku mau kamu bahagia, Bi... Tapi, bahagia aku?"
"Aku sayang sama kamu, Bi... aku-... aku cinta, sama kamu, Bi."
"Lebih dari sayang dan cinta sebagai, sahabat."
Gadis itu menggeleng cepat, seolah ia menolak semua pernyataan yang baru saja Genan ungkapkan. Shock, tak menyangka, tak mau hari ini tiba... selamanya.
Ketakutannya benar-benar terjadi, dan mungkin Genan juga merasakan ketakutan yang sama.
Bedanya, Genan sudah lama hanyut dalam ketakutan itu.
"Nggak, Nan... kamu nggak boleh. Kamu nggak boleh, cinta sama aku." Bibir Abigail mulai bergetar.
Genan pun sama, dengan mata yang masih terpejam, ia hanya bisa pasrah. Sejak awal, ia tahu perasaan ini salah.
Namun, ia juga tak bisa mengontrol rasa cinta sesuka pikiran, karena cinta datang dari hati.
"Bi, aku minta maaf, Bi... aku minta maaf karena udah jatuh terlalu dalam ke kamu."
Jemari Genan mengelus pelan punggung tangan Abigail, meski ia tahu itu semua tak merubah apapun.
Mata Abigail mulai berlinang, "Kita ini sahabat, Nan. Kamu udah aku anggep keluarga aku sendiri... jadi, kamu nggak boleh, suka- apalagi cinta sama aku."
Tangan Genan disingkap, lalu mulai melangkah perlahan untuk masuk ke dalam kamar kos. Pintu ditutup pelan, tak ada emosi tinggi seperti sebelumnya, hanya ada... pasrah.
Genan duduk di atas motornya, meratapi semua yang telah terjadi.
Sejak awal ia tahu, perasaan ini salah.
Dan mengungkapkannya... mungkin keputusan terburuk yang pernah ia ambil selama hidupnya.
~The End...