*
Gema takbir masih terdengar dari masjid-masjid di sekitar desaku siang itu. Aku dan si bungsu sedang sibuk membersihkan kepala kambing kala terdengar suara sepeda motor masuk ke dalam rumahku.
“Bu, Kakak pulang,” celetuk si bungsu.
“Iya, biarin dulu. Tangan Ibu masih kotor,” jawabku santai dengan tangan masih bergerak dengan apa yang aku kerjakan.
Biasanya jika tidak melihatku di depan, si sulung pasti akan mencariku ke belakang. Tapi, hingga beberapa menit kemudian tak juga ada suara panggilan membuatku hatiku sedikit heran. Hingga celetukan si bungsu kembali terdengar.
“Bu, sepeda motor Kakak ganti, ya?” ucapnya dengan tangan yang juga sibuk mengerok kaki kambing yang baru saja dibakar.
Sejenak gerakan tanganku terhenti. Pantas saja si sulung tidak segera mencariku. Hanya saja aku sedikit heran. Tadi berangkat bawa tas ransel, seperti yang biasa dia lakukan jika ada urusan dengan pekerjaan yang mengharuskan dia pergi ke daerah kabupaten. Aku pikir dia pergi buat urusan pekerjaan seperti biasanya. Kenapa malah pulang sudah ganti motor? Bukankah yang kemarin mau tukar dengan CB gak jadi, karena dia yang kurang sreg?
Segera setelah aku selesai membersihkan kepala kambing, aku mencuci bersih tanganku dan berpesan pada si bungsu untuk memasukkan kepala kambing yang sudah bersih itu ke dalam panci yang airnya sudah mendidih.
Sampai di depan aku lihat si sulung sedang membersihkan pelek sepeda motornya menggunakan kanebo. Bukan sepeda motor CB yang aku lihat kemarin, melainkan sepeda motor Ninja Kawasaki yang kondisinya lebih mulus.
Aku mendekat untuk melihatnya lebih jelas. “Itu tadi tambah berapa, Nak?” tanyaku dengan suara yang bagai tercekat di tenggorokan.
"Seribu lima ratus," jawab anakku sambil menoleh sekilas kemudian kembali fokus dengan apa yang dia kerjakan.
Aku mengambil tempat duduk di kursi ruang tamu tak jauh darinya dengan posisi masih bisa melihat apa yang dia kerjakan. Baru dua hari lalu dia gajian dan yang lima ratus ribu diberikan padaku. Kalau sekarang dibuat tukar tambah motor yang seribu lima ratus, berarti uangnya tinggal lima ratus ribu. Apa itu nanti cukup sampai dia gajian lagi?
“Kamu sudah gak punya pegangan dong?" tanyaku pelan.
“Ngko rak yo enek neh, (nanti pasti ada lah)," jawabnya tanpa menghentikan pekerjaannya.
Tanpa sadar mataku berkaca-kaca dan sedetik kemudian kaca-kaca itu berubah jadi butiran kristal yang jatuh satu persatu.
“Maafkan Ibu ya, Nak. Ibu tidak bisa bantu kamu wujudkan apa yang kamu inginkan," ucapku pelan.
Anakku diam tak menjawab. Tapi aku tahu dia mendengar apa yang aku ucap.
"Ibu hanya bisa mendoakan, semoga apapun yang kamu inginkan, Allah mempermudah jalanmu,” lanjutku barulah aku mendengar dia menyahut, “Aamiin".
Seketika bayangan-bayangan peristiwa ketika dia masih kecil berkelebat saling berkejaran. Dia yang selalu disalahkan, dia yang selalu jadi sasaran kemarahan. Bahkan jika dalam satu ruangan ada sepuluh anak dan tiba-tiba ada gelas yang pecah, sudah otomatis anakku yang dijadikan tersangka utama.
Bukan sekali dua kali, anakku dimarahi karena ada anak tetangga yang menangis, orang tuanya datang ke rumah dan melabrakku, bahkan hingga dipanggil ke rumah ketua RT. Yang paling menyakitkan, setiap kali dua anak saling dipertemukan, ternyata terbukti bahwa si anak tetangga yang nakal duluan dan anakku hanya membalas.
Kenapa sih, mereka selalu percaya pada anak orang lain tapi tidak percaya pada anakku? Apa karena kemiskinan kami?
Aku pulang dari rumah pak RT dengan tangan anakku dalam gandengan. Tangisku pecah saat kami sampai di rumah.
“Biarin ya, Nak. Sekarang hidup kita sedang berada di bawah. Semua orang memandang rendah ke arah kita. Ibu doakan kelak kamu bisa hidup enak dan orang-orang yang yang merendahkan kita akan berbalik menghormatimu,* ucapku sambil memeluk dan mengusap punggungnya.
Anakku tidak menjawab tapi aku merasa pundakku basah. Dia yang sejak di rumah pak RT bisa berteriak lantang, membantah semua tuduhan, kini menangis. Hatiku sakit.
Pernah suatu ketika, anakku yang saat itu duduk di bangku kelas dua SMP mengalami kecelakaan. Padahal setiap ada tetangga yang sakit atau apa, aku selalu menjenguk dan mendoakan. Aku tidak mengharapkan mereka membalas dengan mengembalikan apa yang pernah aku bawa, setidaknya ucapan “semoga lekas sembuh" itu sudah cukup bagiku.
Tapi apa yang aku dengar?
“Tibone gak yo ning lemah, o?" (Jatuhnya masih di atas tanah kan?)
“Astaghfirullahaladzim…” sebutku perih.
Tapai tidak apa-apa…
Semua itu sudah berlalu. Anakku sekarang sudah dewasa, sudah berumur 21 tahun, sudah bisa bekerja, cari uang sendiri, tanpa pernah mengharapkan ukuran tangan dari siapapun. Bahkan sekarang sudah bisa beli sepeda motor sendiri. Bukan sepeda motor baru. Hanya bekas, tapi itu membuatku bangga.
Bahkan sepeda motor FIZ-R yang sekarang ditukar dengan Ninja Kawasaki inipun, dulunya juga dia beli sendiri dari hasil menjual akun FF. Aku hanya menambah uang satu juta lima ratus saja waktu itu. Anakku yang sejak dia memiliki HP di kelas 2 SMP kemudian enggan keluar karena bosan menjadi sasaran. Yang dilakukan setiap hari hanya berdiam diri di kamar.
Tapi tidak ada yang tahu, diamnya bukan untuk bermain yang hanya senang-senang. Dia menghasilkan. Bahkan pernah sebagian uang diberikan pada ku untuk berobat saat aku mengalami kecelakaan.
Saat dia lulus SMA, dia bilang uangnya terkumpul enam juta dan ingin beli sepeda motor. Dan yang dia inginkan adalah FIZ-R. Aku sempat bertanya, kenapa harus FIZ-R? Itu kan motor lama? Kenapa tidak MIO atau BEAT?
“Ya karena aku pinginnya FIZ-R."
Itulah jawaban darinya yang begitu teguh pendirian.
Dan setelah berhasil beli FIZ-R dengan harga tujuh juta lima ratus, dia kembali mengumpulkan uang. Semua box dan segala macam dia ganti menjadi seperti motor baru. Sekarang, dua tahun sudah dia menunggangi FIZ-R, rupanya rasa bosan itu datang. Atau mungkin karena memang ingin baru. Hingga dia pulang sudah berganti dengan Ninja.
Apapun itu, aku bangga padanya. Dia bisa mewujudkan keinginannya sendiri. Yang lebih membuatku bangga, di tempat kerja yang baru setahun ini, empat bulan lalu dia dari yang awalnya hanya tukang sortir tanpa sift, kini sudah naik menjadi… apa ya istilahnya? Aku tidak tahu. Mungkin mandor. Yang jelas sudah sift tetap dan gaji bulanan sesuai UMR. Bahkan kalau ada tetangga sekitar yang ingin melamar pekerjaan ke tempat itu, harus lewat anakku.
Satu hal yang aku yakini, Roda itu berputar.