...
Tidak ada yang lebih berbahaya di Ballantyne Park daripada musim gugur, ketika seluruh keluarga besar Winslett berkumpul untuk perayaan ulang tahun Bibi Georgette dan semua orang merasa memiliki hak untuk mengomentari kehidupan pribadi orang lain.
Theodora Winslett yang biasanya menghadapi musim seperti ini dengan kombinasi senyum sopan, berdiri dekat pintu. Pada tahun ini menghadapinya dengan masalah tambahan: ia berusia dua puluh tiga tahun, belum bertunangan, dan Bibi Georgette baru saja mengumumkan kedatangan Tuan Percival Drent, seorang pria berusia empat puluh dua tahun yang, menurut Bibi Georgette, sangat cocok untukmu, Thea, karena ia pendiam sehingga tidak terlalu banyak bicara dan kau pun begitu.
Theodora tidak merasa masalahnya adalah kurang bicara. Masalahnya adalah ia terlalu banyak berpikir, dan pikiran pertamanya sewaktu mendengar nama Tuan Drent adalah bahwa umur empat puluh dua tahun merupakan usia yang sangat jauh dari dua puluh tiga tahun, dan menganggap bahwa sifat pendiam bukanlah kualitas yang selama ini ia cari dalam diri calon suami.
Maka, ketika Callum Ferrith, seorang tamu lain yang datang bersama rombongan dari Desa Ashverne menawarkan solusinya di sudut ruang makan besar Ballantyne Park, pada malam pertama kedatangan semua orang, Theodora mendengarkannya dengan lebih serius dari yang seharusnya ia akui.
"Saya butuh alasan untuk tidak berbicara dengan Nyonya Birchfield sepanjang minggu ini," kata Callum Ferrith, berbisik. "Beliau adalah teman lama ibu saya dan bermaksud menjodohkan saya dengan putrinya yang keempat. Saya telah bertemu putrinya yang keempat. Kami tidak cocok dalam satu pun hal yang bisa saya pikirkan."
"Dan apa hubungannya dengan saya?" tanya Theodora, meski sudah menebak ke mana arah pembicaraan ini.
"Jika Anda bersedia tampak seolah-olah kami sedang… dekat," kata Callum, dengan pilihan kata yang hati-hati seperti seseorang yang tahu ia sedang berjalan di atas es yang tipis, "maka Nyonya Birchfield akan merelakan rencananya. Dan sebagai imbalannya, kehadiran saya di sisi Anda akan membuat Tuan Drent berpaling ke pilihan lain yang lebih bersemangat."
Theodora memandangnya selama beberapa detik. Callum Ferrith adalah pria yang ia kenal samar-samar sebagai adik dari seorang kenalan kakaknya, datang ke perayaan ini mungkin karena sopan santun tidak mengizinkannya menolak undangan. Rambutnya sedikit berantakan karena perjalanan, dan meskipun tawarannya tidak didasari niat yang tulus, ekspresi kesulitannya terlihat sangat meyakinkan.
"Baiklaj, kita lakukan itu," kata Theodora.
...
Hari pertama berjalan lebih lancar dari yang Theodora bayangkan. Callum adalah pasangan yang menyenangkan dalam hal-hal yang penting: ia tidak membuat pernyataan yang berlebihan, tidak menyentuh tangannya kecuali ketika memandu melewati tangga yang licin, dan berbicara kepadanya seolah percakapan sungguhan daripada pertunjukan. Tuan Drent memandang mereka dengan ekspresi yang tidak terbaca, lalu mengalihkan perhatiannya kepada seorang janda muda dari Crestfield yang tampaknya jauh lebih antusias dengan kunjungan ini.
Nyonya Birchfield, di sisi lain, memandang mereka dengan ekspresi yang sangat terbaca.
"Anda berdua tampak sudah sangat mengenal satu sama lain," kata Nyonya Birchfield, pada malam kedua, di sudut ruang musik, dengan nada seseorang yang sedang mengumpulkan bukti.
"Kami sudah berkenalan cukup lama," kata Callum dengan tenang, tidak ada yang menyadari maksud aslinya. Theodora mengagumi ketepatan itu dari sudut matanya.
Yang tidak Theodora bayangkan adalah bahwa Callum Ferrith ternyata orang yang menarik untuk diajak bicara sungguhan. Memang ia bukan pria yang membuat semua orang di ruangan berpaling ketika ia masuk, dan ia tidak mengatakan hal-hal yang mengubah cara seseorang memandang dunia. Tetapi ia mendengarkan orang lain dengan baik, dan ia punya kebiasaan memiringkan kepala sedikit ketika berpikir, serta tertawa dengan mudah tanpa terasa seperti sedang berusaha terlihat mudah tertawa.
Pada hari ketiga, Theodora menyadari bahwa ia mulai menikmati sandiwara ini lebih dari yang seharusnya untuk sesuatu yang sandiwara sifatnya.
...
Pagi di Taman Ballantyne Park adalah tempat yang tidak banyak dikunjungi tamu karena embun di rerumputan cukup dingin untuk membuat sebagian besar orang memilih tetap di dalam dengan teh panas. Theodora pergi ke sana justru karena alasan itu, ia butuh setengah jam tanpa harus mempertahankan ekspresi sosialnya.
Callum sudah di sana sebelumnya, duduk di bangku batu dekat pagar rosemary dengan buku di tangannya yang tampaknya tidak ia baca.
"Anda juga menghindari sarapan bersama?" tanya Theodora, duduk di sisi bangku yang lain.
"Saya menghindari Nyonya Birchfield yang sudah mengundang putrinya yang keempat datang hari ini," kata Callum. "Terima kasih atas peringatannya, omong-omong. Saya hampir tidak tahu sampai kakak saya mengirim pesan semalam."
Theodora menoleh. "Lantas sekarang situasinya makin rumit."
"Makin membutuhkan pasangan palsu yang kompeten," kata Callum, dengan sesuatu di sudut bibirnya yang bisa jadi senyum atau bisa jadi penyesalan, dari jauh sulit dibedakan.
Mereka diam sebentar. Dari arah danau kecil di ujung taman, suara bebek dan angin pagi mengisi kesunyian dengan sopan.
"Boleh saya tanya sesuatu?" kata Theodora akhirnya. "Mengapa Anda tidak ingin menikah dengan putri Nyonya Birchfield?"
Callum berpikir. Kebiasaan memiringkan kepala itu muncul lagi. "Karena saya rasa pernikahan seharusnya dimulai dari sesuatu yang nyata. Dan tidak ada yang nyata di antara kami." Ia menatap buku yang tidak ia baca. "Anda sendiri? Mengapa Tuan Drent terasa begitu mustahil?"
"Bukan karena ia tidak baik," kata Theodora pelan. "Ia mungkin sangat baik. Tetapi menikahi seseorang karena Bibi Georgette merasa itu cocok terasa seperti membiarkan orang lain menulis cerita hidup saya, dan saya tidak sepenuhnya setuju dengan selera narasinya."
Callum tertawa. "Itu adalah cara yang sangat tepat untuk mengatakannya."
Setelah itu percakapan mereka mengalir ke arah yang tidak ada hubungannya dengan sandiwara: tentang buku, tentang Ashverne di musim dingin, tentang kebiasaan buruk masing-masing dalam hal ketepatan waktu. Theodora tidak menyadari sudah lewat satu jam sampai suara bel sarapan terdengar dari dalam rumah, dan ketika mereka berdiri dan berjalan kembali bersisian melalui rerumputan yang masih basah, ada sesuatu yang terasa berbeda dari kemarin.
...
Masalahnya datang dari arah yang tidak terduga, sebagaimana masalah yang baik selalu datang. Bukan dari Nyonya Birchfield, yang akhirnya menyerah. Bukan dari Tuan Drent, yang sudah sepenuhnya tersibukkan oleh janda dari Crestfield tadi. Masalahnya datang dari Louisa Winslett, adik perempuan Theodora yang tujuh belas tahun dan punya bakat alami untuk menanyakan pertanyaan yang tidak ingin dijawab siapa pun.
"Kapan kalian mulai bersama?" tanya Louisa, pada suatu sore ketika ia berhasil menjebak Theodora sendirian di perpustakaan. "Karena kakak tidak pernah menyebut nama Tuan Ferrith sekalipun sebelumnya."
Theodora memilih kata-katanya. "Kami tidak selalu perlu membicarakan semua orang kepada orang lain."
"Tapi kakak suka dia, kan?" desak Louisa,"Maksud saya sungguhan, bukan pura-pura suka."
Theodora hendak menyatakan bahwa pertanyaan itu tidak lagi relevan. Relevansi yang sebenarnya adalah apakah sandiwara ini sukses menyelesaikan masalah mereka berdua, dan karena jawabannya adalah ya, maka hal itu sudah cukup. Sayangnya, ada penghalang di antara niat dan ucapannya, hingga kalimat yang akhirnya lolos hanyalah, "Saya tidak tahu."
Louisa mengangguk seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu. "Itu artinya iya," katanya, dan pergi sebelum Theodora sempat membantah.
Yang lebih merepotkan adalah situasi malam itu. Ketika Callum menemuinya di ujung lorong dekat ruang biliar, wajah pria itu menunjukkan bahwa ia baru saja melewati percakapan yang sama tidak menyenangkannya. Callum kemudian berkata, "Tadi kakak saya bertanya apakah saya berniat serius dengan Anda."
"Apa yang Anda jawab?" tanya Theodora, dengan nada yang ia usahakan biasa-biasa saja.
"Saya bilang saya belum tahu," kata Callum. Ia sengaja menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang tercipta cukup lama hingga membuat Theodora merasa tegang sampai ke ujung jari. Callum lalu melanjutkan, "Yang artinya, menurut kakak saya, iya."
Theodora menatapnya. Di lorong yang remang-remang itu, ia memang kesulitan membaca raut wajah Callum Ferrith. Namun, cahaya lilin yang seadanya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa pria itu sama sekali tidak menyesali ucapannya.
...
Pada malam terakhir perayaan Bibi Georgette, ada tarian di ruang besar Ballantyne Park. Tarian yang oleh generasi tua dirayakan dengan serius dan oleh generasi muda dimanfaatkan sebagai alasan untuk berbicara dengan orang-orang yang ingin mereka ajak bicara tanpa kelihatan terlalu sengaja.
Theodora menari dengan Callum dua kali, yang satu kali lebih banyak dari yang bisa dianggap sekadar formalitas. Pada putaran yang kedua, ketika musik lebih pelan dan jarak antarpenari lebih dekat dari yang diizinkan oleh aturan tidak tertulis ruang ini, Callum berkata dengan suara yang hanya cukup keras untuk didengarnya saja, "Kesepakatan kita resmi berakhir besok pagi ketika semua orang pulang."
"Ya," kata Theodora.
"Saya ingin tahu," Callum menyambung, bicaranya sangat berhati-hati karena ia tahu kata-katanya tidak bisa ditarik kembali. "Apakah ada kesempatan untuk membangun sesuatu yang baru setelah hal lama ini berakhir? Sesuatu yang bermakna nyata, tanpa memerlukan alasan palsu untuk membuatnya ada."
Theodora tidak menjawab segera. Di sekelilingnya, musik berlanjut dan lilin-lilin di dinding terus berkedip dan Bibi Georgette sedang berbicara keras tentang sesuatu di sudut ruangan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan momen ini. Dan di dalam kepala Theodora ada suara yang terdengar sangat mirip suara Louisa berkata itu artinya iya.
"Anda tinggal di Ashverne," katanya akhirnya.
"Dua jam berkuda dari Ballantyne," ujar Callum. "Jarak seperti itu tidak akan mempersulit kita untuk surat-menyurat. Bahkan tidak terlalu jauh untuk saling mengunjungi, jika memang ada alasan yang cukup baik untuk itu."
"Anda harus memberi saya waktu untuk memikirkannya," kata Theodora.
"Tentu saja," ujar Callum. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Itu bukan tipe senyum pasangan palsu yang sudah dipraktikkannya sepanjang minggu, melainkan senyuman dengan kualitas yang berbeda. Senyum itu terasa lebih jujur karena tidak begitu diatur, sehingga menjadi jauh lebih meyakinkan.
Keesokan paginya, ketika semua orang bersiap pulang dan Ballantyne Park kembali menjadi rumah yang lebih sunyi, Theodora menyerahkan kepada Callum selembar kertas terlipat rapi. Di dalamnya hanya satu kalimat, ditulis dengan tinta biru yang sedikit terburu-buru.
..
Dua jam berkuda bukan jarak yang tidak masuk akal, jika seseorang memang berniat menempuhnya.
..
Callum membaca kertas itu, melipat kembali, dan menyimpannya di saku jasnya dengan cara yang hati-hati seolah tidak ingin hilang. Lalu ia naik ke kudanya dan berkuda ke arah Ashverne, dan Theodora berdiri di depan pintu Ballantyne Park sambil menonton kepergiannya dengan perasaan bahwa sebuah sandiwara baru saja berakhir dan sesuatu yang tidak memiliki nama yang tepat baru saja mulai.
Bibi Georgette, yang mengamati seluruh kejadian itu dari jendela ruang duduk, hanya mendengus pendek. Ia bergumam kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak mengerti mengapa anak-anak muda zaman sekarang selalu membuat segala hal menjadi begitu rumit.
Louisa, yang kebetulan lewat di belakangnya, hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu betul bahwa ada kalanya diam adalah satu-satunya jawaban yang paling tepat, dan di usianya yang baru tujuh belas tahun, ia sudah cukup dewasa untuk mengenali momen seperti itu.
Selesai