...
Di distrik Haverwick, di mana musim gugur menyusup lebih awal dari kota-kota lain dan kabut pagi selalu menggantung rendah di atas sungai Eldenmere, terdapat sebuah kantor notariat milik Tuan Aldric Forsythe, seorang pria berperut buncit yang lebih akrab dengan tinta dan arsip daripada dengan percakapan manusia. Di kantor itulah Nona Celestine Morrow bekerja selama dua tahun terakhir sebagai juru tulis, menyalin kontrak, surat kuasa, dan berbagai dokumen hukum dengan tangan yang rapi dan jiwa yang, menurut pengakuannya sendiri kepada sepupunya Harriet, belum pernah sedikit pun merasa bergejolak asmara.
Celestine adalah perempuan dua puluh tiga tahun yang lebih banyak berdiam diri daripada berbicara, lebih suka membaca daripada berdansa, dan lebih memilih duduk di tepi jendela dengan secangkir teh daripada hadir dalam pesta malam di rumah Nyonya Pembridge. Ia tidak cantik dalam pengertian yang biasa dipuji orang, hidungnya sedikit tajam, matanya terlalu dalam, dan senyumnya canggung, kaku dan responsnya agak lambat. Namun ada sesuatu dalam caranya memandang sebuah halaman buku, seakan ia sedang mendengar suara yang tak tertulis di sana, yang membuat siapa pun yang memperhatikannya merasa sedikit terusik.
Pada suatu pagi di awal Oktober, ketika Tuan Forsythe sedang tidak hadir karena penyakit encok yang selalu kambuh di musim peralihan, Celestine diberi tugas merapikan arsip di ruang belakang, sebuah ruangan sempit berbau kertas lama dan lilin tetesan, yang selama bertahun-tahun tak pernah benar-benar disentuh. Di sana berjajar lemari kayu ek tua dengan kunci-kunci yang sebagian telah hilang. Celestine bekerja dengan tertib: membuka, menyortir, mencatat. Hingga ia sampai pada lemari sudut, laci ketiga dari bawah.
Laci itu tidak terkunci. Namun ia keras, seakan enggan dibuka atau mungkin, pikir Celestine dengan sedikit kejenakaan, seakan ia telah lama belajar menyembunyikan diri. Ketika akhirnya terbuka dengan suara berderit kecil, Celestine menemukan tumpukan dokumen kontrak tanah tertanggal sepuluh tahun lalu. Dan di paling bawah, terbungkus kain lap berwarna biru pudar yang dahulunya mungkin biru langit, sebuah surat.
Celestine tahu bahwa seorang juru tulis yang baik tidak membaca surat orang lain. Ia telah diajarkan prinsip itu, dan ia percaya padanya, sampai tangannya terlanjur membuka lipatan kertas itu dan matanya terlanjur membaca baris pertama sebelum nalarnya sempat berprotes.
Kepada Tuan Dorian Ashcroft.
Apabila surat ini sampai ke tanganmu sebelum bulan November berakhir, maka ketahuilah bahwa aku telah memilih untuk pergi bukan karena tidak mencintaimu, melainkan justru karena terlalu mencintaimu untuk membiarkanmu menanggung beban yang bukan hakmu untuk dipikul.
Ayahku tidak akan pernah merestui pernikahan ini. Kau tahu itu lebih baik dari siapa pun. Dan aku terlalu pengecut, atau mungkin terlalu bijaksana, aku tidak lagi yakin mana yang benar untuk melawan kehendak seorang ayah yang sakit parah dan seorang keluarga yang telah mengorbankan begitu banyak demi nama baik yang kini tinggal separuh.
Tetapi inilah yang perlu kau ketahui, yang tidak pernah sempat kukatakan dengan suara: aku mencintaimu sejak malam hujan di beranda rumah Nyonya Ellsworth, ketika kau meminjamkan mantelmu kepadaku dan berpura-pura tidak kedinginan. Aku mencintaimu dalam setiap huruf yang kau kirim, dalam setiap senyum yang kau sembunyikan di balik sikap dinginmu yang dipelajari. Dan aku akan mencintaimu dalam diam, dari jarak yang cukup jauh untuk tidak menyakitimu lebih jauh lagi.
Jangan mencari aku.
Jangan bertanya kepada Harriet.
Lupakan surat ini seperti aku melupakan semua hal yang tidak boleh aku kenang.
— C.
Celestine duduk di lantai ruangan sempit itu, lutut tertekuk. Ia membaca surat itu tiga kali. Kemudian ia melipat kembali, menaruhnya di atas lututnya, dan memandang jendela kecil berdebu yang menghadap ke lorong belakang kantor. Di luar, seekor burung pipit sedang mematuk-matuk celah bata. Langit berwarna putih abu-abu, seperti kertas yang belum ditulis.
...
Kebetulan atau mungkin kehendak yang lebih besar dari kebetulan biasa membawa seorang pria muda ke kantor notariat Haverwick keesokan harinya. Ia datang untuk urusan warisan, katanya kepada asisten Tuan Forsythe. Namanya, sebagaimana tertulis di kartu namanya yang diserahkan kepada Celestine karena ia yang kebetulan berada paling dekat dengan pintu, adalah Dorian Ashcroft
Celestine tidak bergerak selama beberapa detik, kemudian ia tersadar dan bergerak terlatih mempersilakan pria itu duduk di kursi tunggu sambil mengatakan bahwa Tuan Forsythe akan hadir sore ini dan urusan dapat diselesaikan pada jam empat. Pria itu mengangguk. Ia tidak terlalu tampan, rahangnya terlalu kaku dan sepasang matanya menyiratkan kelelahan. Kendati demikian, terdapat sesuatu yang ganjil dari caranya memandangi dinding kantor yang dipenuhi tumpukan arsip. Ia tampak seperti seorang pria yang sedang mencari sesuatu, yang wujudnya pun tak mampu ia bayangkan.
"Apakah Anda telah lama berhubungan dengan kantor ini?" tanya Celestine, karena sungguh tidak mungkin ia berdiam diri sementara surat itu terasa seperti bara di laci mejanya.
Tuan Ashcroft memandangnya sejenak. "Sepuluh tahun yang lalu, ayah saya pernah menyimpan beberapa dokumen di sini. Saya datang untuk mengambilnya kembali, jika masih ada."
"Dokumen kontrak tanah?" tanya Celestine.
Ia tidak tahu mengapa ia bertanya begitu. Mungkin karena ia jujur. Mungkin karena ia bodoh. Mungkin karena surat itu sudah mengubah sesuatu dalam cara ia melihat dunia, dan perubahan semacam itu sulit ditahan.
Tuan Ashcroft menatapnya lebih lama. "Ya. Di antaranya."
...
Jam empat tiba dengan lambat seperti air mendidih yang ditunggui. Tuan Forsythe tiba dengan langkah yang masih agak pincang dan raut wajah kurang bersahabat, namun ia tetap bersikap profesional dalam menyambut kliennya. Celestine mengambil alih tugas mencatat, duduk di sudutnya yang biasa, dan berusaha keras tidak memandang ke arah Tuan Ashcroft lebih dari yang diperlukan.
Setelah urusan selesai dengan kontrak ditemukan, ditandatangani, disaksikan dan Tuan Forsythe pamit dengan alasan kakinya kembali nyeri, Dorian Ashcroft berdiri di ambang pintu dengan topi di tangannya. Celestine sedang membereskan kertas-kertas. Ia tidak mengangkat kepala.
"Nona Morrow," kata pria itu.
Celestine mengangkat kepala.
"Apakah ada hal lain yang ditemukan bersama dokumen-dokumen itu? Saya tidak bermaksud tidak sopan dalam bertanya. Hanya saja ada sesuatu yang mungkin terselip, sepuluh tahun yang lalu. Sesuatu yang bukan milik arsip resmi."
Celestine menatapnya. Ia adalah perempuan yang terlatih membaca dokumen, terlatih mengenali kepentingan tersembunyi di balik kata-kata kontrak. Ia membuka laci mejanya. Mengeluarkan surat itu, masih terbungkus kain biru pudar. Menaruhnya di atas meja.
Dorian Ashcroft memandang bungkusan itu. Kemudian ia melangkah ke depan meja dan mengambilnya.
"Anda telah membacanya," katanya. Bukan pertanyaan.
"Ya," jawab Celestine. "Saya minta maaf."
"Jangan." Ia menatapnya sebentar, "Saya senang seseorang akhirnya membacanya."
...
Tidak ada yang terjadi dengan cepat, karena hal-hal yang baik tidak pernah terjadi dengan cepat di Haverwick. Dorian kembali seminggu kemudian, dengan alasan dokumen tambahan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Ia berbicara dengan Celestine tentang hal-hal kecil: cuaca, jembatan baru di sungai Eldenmere, koleksi buku di rak sudut kantor yang ternyata lebih menarik dari yang tampak di permukaan.
Ia tidak pernah menyebut nama perempuan yang menulis surat itu. Celestine tidak bertanya.
Pada kunjungan ketiga, hujan turun deras tepat ketika Dorian hendak pamit. Celestine menawarkan beranda belakang kantor yang menjadi tempat ia biasa minum teh sore. Hal itu karena lebih logis daripada membiarkan seseorang berdiri di bawah hujan tanpa alasan yang baik. Mereka duduk di dua kursi kayu yang tidak terlalu nyaman, memandang hujan yang jatuh ke lorong bata, dan berbicara.
"Apakah Anda pernah menyesal tidak mencarinya?" tanya Celestine.
Dorian terdiam cukup lama. "Setiap hari selama lima tahun," katanya akhirnya. "Kemudian tidak lagi. Saya akhirnya percaya bahwa ia tahu apa yang ia inginkan, dan ia telah memilih. Menghormati pilihan seseorang yang kita cintai adalah bentuk cinta yang paling jujur."
Celestine memandang hujan. "Ia menulis bahwa ia mencintaimu dalam diam."
"Ya."
"Apakah diam cukup?"
Dorian memandangnya. "Tidak," katanya. "Diam tidak pernah cukup. Tapi kadang itu yang tersedia."
...
November tiba. Kantor notariat Haverwick kembali ramai dengan urusan akhir tahun seperti surat wasiat, kontrak sewa, pembaharuan kuasa hukum. Celestine bekerja seperti biasa: teliti, tenang, rapi.
Dorian Ashcroft tidak lagi datang dengan alasan dokumen. Ia datang pada Kamis sore, ketika kantor mulai sepi, dengan dua buku dari toko Haverwick dan pertanyaan tentang pendapat Celestine mengenai karangan filosofis yang ia baca minggu lalu. Celestine mengutarakan isi kepalanya dengan jujur, dingin, dan tanpa basa-basi. Namun, respons itu justru memicu tawa yang berbeda dari Dorian. Untuk pertama kalinya, tawa itu terdengar nyata, bukan lagi tawa hampa dari seseorang yang mati-matian menyembunyikan luka.
Kamis berikutnya, Celestine menyiapkan dua cangkir teh.
Ia tidak tahu apakah ini cinta, ia terlalu cermat dengan kata-kata untuk menyebutnya begitu saja. Namun ia tahu bahwa surat tua di laci ketiga itu telah mengajarkan sesuatu yang tidak dapat ia temukan dalam satu pun kontrak yang pernah ia salin: bahwa jika kata-kata tidak diucapkan tepat waktu akan menjadi beban yang dibawa.
Dan Celestine Morrow, yang selama dua tahun bekerja sebagai juru tulis dan selama dua puluh tiga tahun hidup dengan jiwa yang belum pernah bergejolak asmara, memutuskan untuk tidak lagi terlalu membatasi apa yang ia katakan,teroritas kepada orang-orang yang mau meluangkan waktu bersamanya, mengobrolkan hal-hal yang berarti.
Selesai